13.10.16

Bali again!

Hallooo, 

Yak, lagi-lagi nonggol setelah sebulan menghilang. Dan kali ini datang dengan "rumah" baru. Beberapa hari yang lalu, saya kepikiran untuk mendandani blog ini lagi setelah bertahun-tahun ga dijamah. 

Setelah lihat-lihat dan coba-coba ini itu, saya akhirnya milih theme yang agak feminim dengan memilih warna pinky untuk theme blogspot saya kali ini. Mudah-mudahan saya ga labil dan ganti theme dalam waktu beberapa bulan ke depan :P

Anyway, APA KABAAAR?!?!? Mudah-mudahan kalian sehat wal afiat ya, senang-senang dan bahagia selalu ya. Kabar saya pun alhamdulillah baik. Status masih pengangguran tapi bahagia karena sedang sibuk belajar dan traveling. Sebel sih ga kerja, tapi setelah dipikir-pikir, enak juga jadi part time traveler (walaupun ga dibayar). 

Dari terakhir saya nulis di blog ini, saya lumayan loncat sana sini dengan suami dalam rangka memperkaya diri dengan pengalaman berjalan-jalan kami. 

Saat saya menuliskan ini, saya sedang menikmati makan siang vegetarian saya di Warung Kecil, Seminyak, Bali. Yes, saya lagi di tanah air dan Bali lebih tepatnya. Saya tiba di pulau dewata kemarin siang. Agak aneh rasanya datang sendiri (lagi). Jadi sedikit melow kemarin sore. Tapi sekarang sudah tidak. 

Kepulangan kali ini ke tanah air adalah dalam rangka merayakan hari pernikahan adik bungsu saya minggu lalu di tempat yang sama ketika saya menikah setahun yang lalu. Kali ini saya pulang sendiri karena suami sudah tidak punya cukup banyak hari libur dari kantornya. Saya pun memanfaatkan waktu kali ini untuk bertemu teman-teman di Serang, Jakarta dan Bali. 

Selama di Bali ini dan nanti, saya tinggal di rumah teman dekat saya. Senang sekali bisa sekali lagi merasakan tinggal sebagai orang lokal, bukan sebagai turis. Rasanya seperti dulu lagi.

Iin, teman saya itu, datang menjemput di bandara dengan mobil kantornya. Saya berceloteh betapa lucunya tahap kehidupan kami. Dulu waktu Bali belum punya bandara sebesar dan semodern ini, kami selalu jemput menjemput satu sama lain dengan sepeda motor. Mau sebesar dan seberat apa pun bawaan/koper kami. Kami akan bersusah payah menembus jalanan sampai sampai kosan dengan selamat dengan bawaan kami itu. Lalu kini, dia datang dengan menenteng laptop, berpakaian casual dan dengan muka bermake up tipis. Yang lebih bikin saya terkekeh adalah dia menjemput saya dengan mobil dari perusahaan dia bekerja sekarang. Kami berdua tertawa mengenang masa-masa kami dulu sering berpanas-panasan naik motor kemana-mana. Dan sekarang si wanita karier, yang selalu dia pelintir jadi wanita kurir, ini menjemput saya dengan santai dan nyamannya menuju rumah yang akan jadi tempat tidur saya selama seminggu ke depan.


my B***h

Setelah menaruh koper dan sedikit duduk-duduk sesampainnya kami di rumah Iin, kami langsung menuju Legian untuk menikmati kepala muda di tepi pantai sambil catching up -yang saya yakin akan berseri sampai minggu depan-, kami melanjutkan ke Warung Bebek Gober, tempat kami bertemu teman lain yang saya kenal di Liga Tari UI. Iko namanya. Setelah merantau di Thailand dan Malaysia selama kurang lebih 2 tahun, sekarang dia bertanggung jawab sebagai Costume Designer-nya Club Med di Bali. Saya senangnya minta ampun. Sudah lama saya ga ngomong bebencongan. Jadilah tadi malam saya kebanyakan ketawa daripada ceritanya. 

Good food, good friends, good place.

Saya tidak punya rencana khusus berkunjung ke Bali kali ini. Sederhana karena ingin bertemu teman baik, mengingat dan mendatangi tempat-tempat favorite, dan mengexplore sesuatu yang baru. Dan entah untuk keberapa kali Bali selalu mengejutkan! 

Pagi ini saya bangun agak siang, sekitar 8 pagi. Saya tidak langsung bangun, karena ingin menikmati pemandangan di luar jendela kamar yang langsung ke arah sawah hijau. Saya nikmati benar setiap menit yang saya lewati. Sungguh.

Pemandangan di depan rumah Iin

Lalu saya mandi dan siap-siap menuju satu tempat yang Iin sarankan untuk sarapan dan santai-santai menunggu jam makan siang. (Yes, if you are notice later all i talk about is food, food, food. Terrible). 
Tempat itu bernama Milk and Madu. Sebuah restoran dengan konsep cozy, untuk semua umur (very family friendly), dan dengan menu makanan yang sehat dan enak tentunya. Saya mencoba menu Breakfast mereka yang sungguh membuat senyum-senyum sendiri. Bukan, bukan karena mangkoknya bisa ngelawak, tapi karena ada anak kecil liatin saya makan dengan merem melek saking enaknya. Saya jadi malu dan mesem-mesem sendiri, tengsin. 
Biar ada gambaran seperti apa sarapan yang saya pesan, kira-kira penampakannya seperti ini : 

YUUUMM!!! 
 Di Milk and Madu ini saya menghabiskan waktu kira-kira 2,5 jam. Awalnya saya mau ngeblog di sana, tapi internet-nya lagi gangguan. Jadi 2,5 jam saya habiskan untuk lihat-lihat orang datang dan pergi, nguping pembicaraan tetangga yang pake bahasa Prancis (mayaan latihan biar ga syok bulan depan masuk kelas lagi), dan membaca buku Bumi Manusia. 

Setelah bosan dan kaki mulai gatel, saya mengepak barang-barang dan siap-siap berangkat ke tempat selanjutnya. Tujuan saya adalah makan siang di Warung Kecil. Tempat makan kesukaan saya sejak 2 tahun lalu, Nadine memperkenalkannya kepada saya. Tapi kali ini mereka sudah punya cabang di Seminyak. Kebetulan saya dari Canggu, tidak terlalu jauh. Jadi saya mau mencoba cabang yang baru itu. Sebelum menuju ke sana, saya membiarkan diri tersasar-sasar beberapa kali. Tak apa, memang sengaja. Barangkali saya menemukan sesuatu yang menarik along the way.

Kira-kira 1 jam perjalanan santai saya dari Canggu ke Seminyak termasuk acara nyasar-nyasaran, saya sampai di Warung Kecil Seminyak. Saya langsung mencari tempat duduk yang pewe dan memesan menu vegetarian yang sudah saya idam-idamkan dari setahun yang lalu, terakhir saya makan bersama suami dan keluarga di Warung Kecil Sanur. 

Taddaaa.. ini makan siang saya.

Kenyang makan enak dan sehat, saya memesan jus mangga dan mulai bercerita tentang hari saya di Bali. Internetnya juga lumayan cepet. 

Dalam waktu setengah jam lagi saya harus sudah bergerak menuju tempat selanjutnya. Serenity Eco Guesthouse- Yoga place. Sore ini saya daftar untuk coba Fly high yoga, yang instrukturnya adalah teman dari teman saya. Saya penasaran seperti apa. 

Saya akan ceritakan bagaimana High Fly Yoga itu besok ya. Sekian dulu untuk hari ini. Besok saya bercerita lebih banyak lagi. 

Mari.....




Bali, 13 Okt 2016
Anda

13.9.16

MIMA - Museum of contemporary arts in Brussel

Sudah dari dulu keinginan untuk pergi mengunjungi museum ini, tapi baru kesampaian minggu lalu pas saya merayakan ulang tahun. Itu pun juga karena saya sudah keduluan teman baik dari Jakarta yang jauh-jauh berkunjung ke Brussel dan mengunjunggi museum ini (kompetitif banget kan anaknya ga mau kalah. hehehe). Maka semakin menjadi-jadilah keinginan saya untuk datang dan melihat langsung. 

Museum ini terletak di samping kanal Molenbeek, Brussels. Daerah yang punya reputasi unik. Apalagi semenjak kejadian ga enak terkait bom dan teroris di Paris dan Brussel sendiri. Nama daerah ini jadi semakin tenar karena dipercaya ini adalah tempat berkumpulnya para otak dari teroris yang ada di Eropa. Bener apa engga? Saya ga tau pasti. Kalau bahasannya itu bisa panjang. Jadi mending kita konsentrasi sama museum MIMA aja.

photo from http://www.mimamuseum.eu/visit/


Cerita tentang keberadaan museum MIMA sendiri tergolong unik untuk saya pribadi. Mungkin tidak untuk orang-orang yang tinggal di sini karena ternyata ada beberapa tempat yang punya konsep yang sama. Konsep apa itu? Jadi museum seni ini dibuat dari ide beberapa seniman kontemporer dengan menggunakan bangunan tua yang sudah tidak terpakai. Dulunya bangunan ini adalah tempat pembuatan bir. Karena produksi sudah berpindah tempat, maka mereka tidak lagi memakai gedung ini dan saat itu muncullah untuk tetap menggunakan bangunan ini sebagai sarana para seniman mempertunjukkan karya-karyanya. Untuk kalian yang mau lebih tau soal sejarahnya, silahkan baca di sini.  Saya mau menceritakan pengalaman saya mengunjungi museum saja. 

Kalau boleh jujur, saya bukan pecinta museum. Tapi semenjak tinggal di Brussel, angka mengunjungi museum setiap tahun semakin mengingkat. Hampir semua museum sudah pernah saya masuki, dari museum seni, sejarah, komik, perang, bir, musik, pokonya yang ada kata museum-nya hampir bisa dibilang sudah pernah saya datangi. Kenapa? karena : suami saya, para pembaca yang budiman. Si suami doyan sekali pergi ke museum. Museum seni (lukisan, seni kontemporer, abstrak, dll) dan museum perang adalah favorite dia. Yess, kebayang kan gimana muka saya begitu ditawarin mau masuk museum perang?! Bahkan ketika saya menggelengkan kepala pun, saya akan berakhir masuk ke dalam dengan tarikan tangan si suami sambil bilang "it's gonna be fun inside
Zzzzzz.


Lalu, semakin banyak saya mengunjungi museum, semakin terbiasa lah saya dengan keingintahuan soal isi museum itu. Inilah kenapa sekarang saya jadi (eheem) lumayan suka dengan museum sekarang. Selain alasan lain; saya jadi merasa sedikit pintar setiap kali keluar dari museum karena dapat informasi baru dari museum tersebut. 

MIMA mungkin salah satu museum yang paling saya suka dari beberapa museum di Brussel yang pernah saya datangi. Bukan karena arsitektur bangunannya yang berbeda, tapi karena perasaan yang timbul ketika saya memasuki setiap ruangan yang berisi koleksi karya seniman dengan penjelasan-penjelasannya. Sederhana dan mudah dimengerti dan dinikmati. Setidaknya untuk saya. 

























Meskipun koleksinya terhitung minimalis (mungkin dikarenakan keterbatasan ruang dan tempat pameran), saya merasa semuanya pas. Cukup. Tidak terlalu banyak atau sedikit. 

Di samping museum ini terletak hotel Belle-vue, yang adalah nama perusahaan bir yang dulu diproduksi di bangunan ini. Ketika saya datang, ada banyak anak muda yang duduk-duduk dan santai di teras hotel dan di cafe museum. Saya lalu berasumsi mungkin hotel ini semacam hostel untuk anak muda atau backpack yang berkunjung di Brussel. Interior dalam sekitar resepsionis juga lumayan menarik. Kalau kalian mampir ke museum ini, cobalah main-main ke dalam sebentar :) 

Tiket masuk ke museum ini 9 euro untuk dewasa. Karena saya punya kartu pelajar, saya selalu pake untuk dapet tiket dengan harga student yang bedanya kadang ga seberapa. Paling banyak beda 4 euro. Tapi biasanya hanya beda 1-3 euro. But hey, it's lumayan banget buat pengangguran macem saya :D

Kalian juga bisa menikmati pemandangan sepanjang kanal di Molenbeek dari rooftop bangunan MIMA ini. Kalau cuaca lagi bagus banget, this is really pleasant. Tapi kalau ujan, cukup senyam senyum manggut-manggut dari dalam aja lewat kaca pintu yang transparan.

Nah buat kalian yang ga punya kendaraan pribadi, museum MIMA ini bisa dijangkau dengan transport publik. Ada metro, bus dan tram yang berhenti tidak jauh dari gedung ini. 
Menurut saya, museum ini layak dikunjungi jika kalian tertarik dengan seni kontemporer. Dan di bagian toko souvenir, mereka jual kaos-kaos lucu dengan harga yang lumayan lucu juga (hehehe maklum anak sekolahan, irit liat t-shirt harga 25-35 euro). 

Kalau kalian sempet mampir dan masuk, bisa sharing pengalaman di comment :)

Selamat menikmati museum MIMA. 


Anda, 
Brussel, 13 Sept 2016

11.1.16

Ada yang baru tahun baru ini

Sebenernya, ini sudah dan dimaksudkan untuk diposting di blog baru saya, www.andasuranda.com, tapi barusan website itu crashed dan saya freaked out. Jadi saya back up di sini juga deh tulisan ini. Udah nulis gini kan sayang kalau ilang. Ujung-ujungnya saya ga jadi pindah rumah ini judulnya. Jadi kayak punya 2 rumah. Hhhh... maap yak. Tapi yaudahlah, emang saya banyak maunya kok anaknya :P

Silahkeun dibaca manteman.

SELAMAT TAHUN BARU 2016!! 
Apa yang berubah tahun ini? Ada beberapa hal yang baru.
Sekarang saya adalah seorang istri dari lelaki asal Polandia yang saya kagumi dan cintai luar-dalam. Kami menikah Agustus 2015 di Warsawa, Polandia dan Oktober 2015 di Cilegon, Indonesia.
Saya terima lamaran dia summer lalu untuk menjadi suami saya setelah menjalin hubungan percintaan yang cukup singkat hanya dalam 1 tahun. Walaupun dia lupa bawa cincin pas ngelamar saya di saat sunset cantik di sebuah pulau paling indah yang pernah saya kunjungi di timur Indonesia bernama Kenawa, saya ga sedih. Saya tetep bilang "Iya, I do" sambil mewek. (Dia akhirnya kasih cincin lamaran pas kami udah balik ke Brussel, hehehe, penting abis dijelasin!!).
IMG_1685
IMG_1794
IMG_6541
Selain ada 2 cincin (1 cincin lamaran, 1 cincin kawin) melingkar di jari manis tangan kiri saya, saya resmi menjadi pengangguran sejak kira-kira 4 bulan lalu. Dengan berbagai alasan dan cerita drama yang memenuhi perjalanan karier saya (tssaaah) sebagai abdi negara di KBRI Brussel, saya melepaskan pekerjaan dengan perasaan campur aduk. Intinya saya sekarang sedang belajar menerima bahwa menjadi pengangguran di negara orang itu TIDAK ENAK SODARA-SODARAAA!! Engga nyesel banget sih ngelepasin pekerjaan itu, tapi agak sebel aja karena belum nemu kerjaan baru. Itu pun karena saya belum mulai cari yang baru dan ga tau kenapa masih males untuk memulai.
Jadi sekarang, status saya sebagai pegawai berubah menjadi pelajar. Karena semenjak datang kembali ke Brussel bulan November 2015 lalu, saya mengambil sekolah bahasa prancis intensif setiap hari selama 5 jam! Nah, makan tuh bahasa paling romantis di dunia. SUSYEEE MAAAK!
Sempat kepikiran untuk merubah status menjadi vegetarian juga belakangan ini, tapi setiap mencium bau udang bakar atau ngebayangin aroma cumi asam manis, iman saya ternyata belum kuat. Maybe next time :P
Lalu, lalu, saya sedang sangat bersemangat mengerjakan ini itu terkait dengan rencana Euro Trip saya dan teman dekat yang akan datang jauh-jauh dari Jakarta bulan Februari depan. Oh, mudah-mudahan dalam event ini saya jadi lebih bisa banyak cas cis cus di sini. Udah lama dan kayaknya sekarang waktu yang tepat buat menulis lebih banyak.
Semoga!

28.3.15

Pindah rumah

Jadi ceritanya, karena saya berniat melanjutkan aktivitas menulis di blog ini, pacar saya dengan baik hati membuatkan account baru yang lebih fresh dan tentu saja menandakan bahwa ini awal baru dari tahapan kehidupan saya.

Tsaaah.


Buat temen-temen yang mau baca-baca dan mampir, silahkan. Rumah baru saya sekarang namanya www.andasuranda.com terinspirasi dari nama panggilan kesayangan saya sewaktu masa perkuliahan. Terima kasih teman-teman Belanda 2004. I love that nick name.

Sempat ada pembicaraan apakah isi dari tulisan-tulisan di rumah baru si Anda akan dimulai dan diteruskan dengan Bahasa Inggris? Sepertinya saya akan terus menulis dengan bahasa Indonesia saja. Tak apalah ga dibaca teman-teman yang tak berbahasa Indonesia. Toh sekarang ada google translate. Dan lagipula memang niat saya menjadikan Bahasa Indonesia mendunia. 

Tsaaaah.


Nah, saya cukupkan saja kalimat perpisahan saya di semuasayanganda.blogspot.com ini. Terima kasih blogspot. Kamu sudah menemani hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun yang naik turun. Dari senang banget, sampai sedih banget. Kamu tetep sabar walaupun sering saya cuekin. Tapi saya benar-benar berterima kasih.  
Dan untuk kalian, sampai bertemu di rumah baru saya. 



Picture from Google 




Dadah,
Anda
xxx



5.3.15

Hallo, Apa Kabar?


Seorang teman baik di kantor ini, Pak Made, namanya, terus-terusan bertanya kepada saya "Kapan menulis lagi?" 
Itu-itu saja pertanyaan yang dia lempar setiap kami bertemu di lorong hall kantor, di tempat makan, di pintu masuk/keluar.

Saya sampai malu sendiri jawabnya. 

Maka, diam-diam, saya hari ini membuka blog saya kembali. Membaca-baca posting terakhir, 2 tahun lalu dan tersenyum sendiri. Lalu malu-malu saya mulai menggerakkan jemari di keyboard dan mencoba menulis lagi.

Dari mana ya enaknya? Saya bingung sendiri. 
Mungkin dari lokasi di mana sekarang saya berada ya. Iya.

Brussel. Ibukota negara kecil di Eropa Barat bernama Belgia sekaligus sebagai headquarter dari Uni Eropa. 
Saya pindah ke Brussel dari pertengahan tahun 2013 lalu. Betapa waktu tidak pernah permisi untuk sekedar berjalan pelan-pelan. 
Saya masih berjuang untuk bisa mengerti dan memesan makanan/minuman dan membeli barang dalam bahasa Prancis. Sayangnya, bahasa Belanda saya yang malang juga hampir tidak pernah terpakai walaupun di negara ini salah satu bahasa resminya adalah bahasa Belanda, selain Prancis dan Jerman. 
Tinggal di Brussel rasanya kayak tinggal di dalam lingkaran Internasional dengan berbagai macam perbedaan latar belakang ras, suku bangsa, agama, gender, dan semua keunikan yang dunia tawarkan. Semua ada di sini. Tumplek jadi satu. Mulai dari para diplomat, para eurokrat, para imigrant, para pelajar dan mahasiswa, dan para turis. 



European Union - Foto taken from Google



Tidak pernah saya bayangkan dalam hidup saya, Brussel menjadi pilihan tempat tinggal atau bekerja. Dulu, waktu saya kecil memang saya pernah punya, sebut saja, angan-angan kalau bukan mimpi, pergi ke suatu negara kecil di Eropa, yang punya bahasa yang ga saya mengerti, yang punya budaya semacam di buku dongeng, yang punya sejarah dan bangunan dari masa para raja berkuasa. Mungkin ini jawabannya. 

                        





Brussels in Summer - Foto taken from Google
Seperti yang sudah saya bilang, pindah ke sini dari Bali yang cantik, damai, dan mempesona dalam segala hal bukan pilihan saya. Semesta yang membawa saya ke sini. Saya sih ikut aja. Walaupun sempat terbersit keraguan dan tergoda untuk menolak, toh saya putuskan untuk mencoba juga. Ga kerasa udah hampir 2 tahun sejak keragu-raguan itu mengetuk hati saya.                         


Rumah Nicole di Bali. Foto diambil dari koleksi Iin. Bikin TAMBAH kangen Bali.

Klise. Setiap kali saya pindah ke tempat baru, homesick bikin saya ga betah. Rasanya pengen pulang terus. Kangen tanah air beserta isinya. Oh betapa saya (semakin) menyadari saya cinta tanah air dengan sepenuh hati. Bulan ketiga di Brussel adalah bulan terpahit dalam perjalanan ini. Saya mulai depresi karena kangen rumah, kangen keluaga, teman dan pantai. Saya berdoa untuk dikuatkan. Tuhan, tentu saja selalu berbaik hati menjawab doa saya yang cengeng ini. 
DikirimNya seorang wanita sepantaran saya yang sekarang menjadi salah satu teman terbaik di sini. Caroline namanya, Saya dan teman-teman lain biasa panggil Caro. Mari saya ceritakan mengenai pertemuan "masa kini" saya dengan dia. Saya sebut masa kini karena apalagi kalau bukan karena jasa internet.


Suatu hari, saya sedang mencari tempat tinggal baru. Seorang teman menyarankan saya masuk dalam grup FB yang khusus mencari dan menyewakan apartemen di kawasan Brussel. Saya dengan semangat dan teliti melihat satu demi satu iklan di grup tersebut mesti tidak mengerti apa pun yang mereka tulis karena hampir semua dalam bahasa Prancis. Terima kasih google translate!
Ada satu apartemen yang menarik hati, saya klik profile si pembuat iklan dan mengirimkan dia email pendek dengan pertanyaan "Is the place still available?" 


Satu-dua hari inbox saya sepi. Ga ada jawaban dari pesan yang saya kirim. Waduh, ketat juga persaingan mencari tempat tinggal di Brussel ini, jangan-jangan tempatnya sudah diambil orang, bisik saya dalam hati. 
Sampai akhirnya malam ketiga, saya mendapat balasan. Betapa saya kaget ketika melihat balasan yang panjang dan ditulis dalam bahasa Indonesia. 
Mata saya sampai tidak berkedip lama. Sampai akhirnya bibir saya senyum-senyum sendiri dan mengucap Alhamdulillah... Saya akan dapat teman baru.


Caroline Przybylla. Saya baru bisa menyebutkan nama terakhir dia belakangan ini. Sebelumnya, jangan harap saya bisa mengucapkannya. 7 konsonan dalam 1 kata? Pfffhh.. selamat mencoba deh.
Ternyata Caro pernah tinggal di Semarang selama 1 tahun. Setelah menyelesaikan masternya di Notthingham, UK, dia mencoba keberuntungannya di Asia Tenggara. Dia dapat tawaran bekerja di sebuah LSM Jerman, tempat dia berasal, di sebuah desa di Semarang, bekerja dengan perempuan-perempuan lokal untuk memberikan pengetahuan mengenai reproduksi wanita yang benar dan lebih baik.



Rasanya seperti kencan pertama kali  waktu kami sepakat untuk "kopi darat" setelah bertukar pesan beberapa kali via FB. Walaupun pada akhirnya kami tidak jadi tinggal dalam 1 apartemen karena saya kalah cepat dengan yang orang lain, tapi kami tetep memutuskan untuk bertemu and i'm glad we made that decisionKesan pertama kali waktu bertemu dia benar-benar campur aduk. Dari mulai kagum dengan bahasa Indonesia dia yang masih bagus meski sudah hampir 1 tahun tidak pernah dipakai, lalu terpesona dengan mata birunya yang besar dan terang, sampai seneng banget karena dia ternyata punya banyak kesamaan hobi dengan saya.   

Ah.. Gusti Allah memang maha tau apa yang saya butuhkan. Dari Caro lah saya sekarang punya banyak teman dan bikin saya merasa nyaman tinggal di kota ini. 




Elise, Anda and Caro


Jadi, secara keseluruhan, beginilah kabar saya sekarang. Setelah 2 tahun menghilang dan lenyap dari diary sendiri. Mudah-mudahan tahun ini bisa lebih banyak bercerita. Untuk diri sendiri, untuk anak-anak saya nanti, dan untuk kalian teman-teman yang perduli.


Anda

2.1.13

2012 to 2013

Tulisan ini dibuat di hari kedua di 2013. Dan walaupun di posting ini saya mau bercerita mengenai pengalaman hari-hari terakhir menjelang 2013, saya juga akan kilas balik di 2012 peristiwa2 yang terjadi dalam setaun kemarin.


Di awal taun 2012, bulan Februari, di hari Valentine lebih tepatnya, saya menapakkan kaki di negara asal lelaki saya. Inggris. Selama 3 bulan saya nemenin dia ngelewatin hari-hari berat. Selama 3 bulan juga saya menyadari saya ga bisa jauh dari keluarga. Kangen yang nyampe ubun-ubun bikin badan drop dan sakit. Kangen rumah, kangen Mamah-Papah, kangen Abang-Dede, kangen temen-temen, kangen makanannya, kangan orang-orangnya. Kangen Indonesia.

Setiba di tanah air, saya langsung disibukkan dengan rencana-rencana jangka pendek ; menemukan pekerjaan baru dan melanjutkan hidup tanda dia di sisi saya.

Kurang lebih 2 bulan kemudian, saya dipanggil lagi oleh tempat kerja lama saya di Bali. Awalnya saya dengan tegas menolak dan ga abis pikir, kenapa dan bagaimana bisa saya kembali ke Bali setelah apa yang terjadi?!?!?

Lama saya berpikir dan berdiskusi dengan orang-orang tersayang ; keluarga dan teman. Dan tentu saja dengan Sang Maha Pemberi Kehidupan. Akhirnya hati saya melunak, pikiran rasional saya mengambil alih dari perasaan yang tidak rasional saat itu. Saya harus tetap jalan ke depan.  Saya masih berharap ada perusahaan atau tempat di Jakarta yang manggil saya setelah saya menyebar CV ke sana-sini. Tapi hari itu tak kunjung datang juga. Saya, tentu saja punya pilihan untuk menolak tawaran di Bali ini dan menunggu kesempatan lain (yang entah kapan datangnya) di Jakarta, tapi lagi-lagi saya ucapkan ini berjuta-juta kali. Tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini. Kenapa tawaran untuk bekerja di tempat lama di Bali kembali lagi kepada saya? Tentu sudah ada rencana dari langit. 

Jadilah saya berangkat ke pulau dewata dengan mengumpulkan sejuta keberanian dan niat baik untuk tetap berjalan ke depan. 
Sebelum saya setuju untuk menandatangani kontrak kerja, saya mengajukan beberapa persyaratan dengan kondisi saya saat itu. Kalau dalam menjalani ini, tiba-tiba saya tidak sanggup dan menyerah di tengah jalan, saya boleh kapan pun menginggalkan Bali dan kembali ke Jakarta. Mereka setuju.

Sebulan berjalan baik. Rasa takut dan trauma berat saya lawan dan hadapi. Saya datangi setiap sudut tempat yang membuat saya mengingatkan dengan lelaki saya. Dan mencoba berdamai dengan setiap kenangan manis dan pahit di dalamnya. 


Ga kerasa, saya sampai juga di penghujung tahun 2012 dan masih berada di pulau ini.
Unbelievable.

Kadang, saya suka ga percaya sama apa yang bisa saya lakukan sendiri. Kadang saya menganggap remeh sesuatu yang sebenarnya besar : Niat. 

Dalam sebulan di ini, saya bolak balik Jakarta-Bali hampir setiap minggu. Dan semakin saya menjauh dari Bali, semakin saya merasa rindu dengan pulau ini. Lalu diam-diam saya membatin. I think i have found my second home.

Bukan berarti saya tidak cinta Jakarta dan Serang, saya hanya merasa hati saya lebih damai dan tenang di sini. Saya merasa.. berbeda.

Selama saya tinggal (lagi) di sini, hari-hari saya disibukkan dengan bekerja dan bekerja. Lalu weekend yang kalau dulu selalu kami (saya dan si dia) isi dengan roadtrip bedua, sekarang saya tetep menjalani roadtrip kok. Bedanya sekarang saya melakukannya dengan my partner(s) in crime. Iin dan Tiwi, dan kadang2 beberapa teman lain yang kebetulan ikut.


Nah, kan udah tuh sekilas tentang 2012-nya, sekarang lanjut ke cerita roadtrip minggu kemarin ya.

Sebenernya ga direncana-rencanain banget sih road trip minggu lalu  yang kami lakukan. Iin awalnya cuma ngajakin ke Bangli, ke desa Panglipuran lebih tepatnya. Tapi seperti biasa, roadtrip kami pasti berakhir dengan mendatangi dan menemukan beberapa tempat lainnya. Mengenai Desa Panglipuran, saya yang baru denger namanya langsung google dan liat sekilas. Wah, bagus.

Tanpa banyak pikir saya langsung mengiyakan untuk jalan ke sana weekend ini. Yang awalnya cuma rencana bertiga jadi nambah berempat. Roommate baru saya mau ikutan juga roadtrip kali ini.
Jadilah 3 motor siap membelah Bali tengah dari Denpasar menuju Bangli.



Btw, untuk yang ga familiar dengan nama Bangli, di sini begitu orang denger nama Bangli, biasanya langsung dibully dengan kalimat2 "nengokin siapa?" atau "masih berobat jalan?"
Yes, Bangli dikenal sebagai tempat orang yang mentalnya terganggu. Di Bangli ada rumah sakit jiwa yang cukup terkenal. Setaraf dengan rumah sakit jiwa yang di Grogol kalo di Jakarta.

Singkat cerita, begitu memasuki daerah Bangli, saya jadi ngerti kenapa ini tempat cocok buat orang-orang yang terganggu kesehatan mentalnya. Tempatnya damai dan tentram sekali. Pas lah buat menenangkan diri dan jiwa.



Tujuan pertama dan utama kami adalah Desa Penglipuran. Tempatnya ga susah buat dicari. Tinggal liat petunjuk jalan dan tanya satu dua warga lokal, sampe deh. 
Untuk masuk ke desa ini, kami harus bayar di depan desanya uang administrasi, atau mungkin untuk kas banjar setempat. Ga mahal kok, cuma 5000 per orang. 
Kesan pertama saya begitu masuk desa ini ; BERSIH. Enak banget dalemnya, rapih tertata. Rumah-rumah berhadap-hadapan sejajar. Taman-taman di setiap rumah dirawat. Orang-orang yang sungguh masih terjaga adat dan istiadatnya. Ramah dan menyambut setiap tamu yang datang dengan senyum. Walaupun teteup dengan embel-embel menjual souvenir dan oleh-oleh/makanan/minuman lokal khas Penglipuran. Tapi kalau ga mau beli, tinggal bilang aja kok. Mereka ga akan langsung ngambek atau berubah jadi jutek. Tetap ramah dan mempersilahkan kita liat-liat dan "masuk" ke rumah-rumah mereka.


Selamat datang di Desa Penglipuran


This is the village. Adeeeem!

Foto duluuuu


Selain hal-hal yang tadi saya jelaskan, ga terlalu banyak hal yang bisa dilakukan di desa kecil yang asri ini, jadi kami memutuskan untuk menginggalkan desa ini setelah khatam menelusuri setiap rumah dan sudut desa hanya dalam setengah jam. 

Awalnya kami hendak berlanjut menuju tempat lain yang menarik  yang kami temui di perjalanan menuju desa ini. Di sebelum desa ini kami melewati Geopark Kaldera Gunung Batur. Hm. Menarik. Tapi entah kenapa setelah berdiskusi kami tiba-tiba membelot dan memutuskan untuk ke Pura Besakih saja. Gubrak! Niat mau roadtrip tapi malah jadi ke tempat wisata yang komersil gila. Haha yaudahlah ya. Lagian saya belum pernah ke sana juga. Malu sama bokin yang udah pernah ke sana. 

Dan betul saja sodara-sodara, ternyata hanya kecewa yang kami dapatkan di Besakih. Hih. Udah bayarnya mahal, orang-orangnya agresif, ujan, dan tempatnya B banget! Hadeeeh. 

Di depan Pura Besakih. Foto macam turis aja. 

Ga berlama-lama, setelah makan dan foto-foto ala kadarnya kami langsung turun gunung. Masih belum tau dan belum memutuskan mau ke mana setelah Besakih ini. Ah, jalan saja dulu. Nanti juga ketemu tempat OK, begitu batin saya. 
Dan kami pun meluncur ke selatan. Di sepanjang perjalanan banyak pedagang duren dadakan yang aromanya bisa membuat kami tiba-tiba ngerem mendadak dan mengadakan rapat di pinggir jalan hanya untuk memutuskan apakah kami mau makan duren atau pas aja dan makan duren di deket kosan saya saja. Haha we're so undecisive! 

Melewati desa-desa dan jalan-jalan yang belum pernah kami lewati, saya menikmati setiap detail pemandangan dari balik helm. Cantik banget sih, Bali! 
Setelah melewati desa Tampak Siring, kami (seperti biasa) rapat dadakan lagi di samping jalan, memutuskan hendak ke mana kami selanjutnya. Tiba-tiba Iin dan saya kepikiran untuk melihat tempat yang sempat kami lewati waku itu di daerah Tegalalang menuju Ubud. 

Telaga Waja namanya. Kami waktu itu sempat melewati dan membaca plang dengan tulisan "Wisata Air Telaga Waja". Dan kami penasaran. Waktu itu kami tidak sempat melihat karena sudah gelap dan kami sedang buru-buru menuju Tampak Siring untuk menghadiri pernikahan anak raja. Boook make up bs luntur dong ntar!

Nah, ini adalah saat yang tepat. Kami pun langsung menuju ke sana. 

Begitu sampe di sana, waktu menunjukkan pukul 3 sore. Bali lagi puanas-puanasnya tuh. 
Ini tempat rada membelot secara aturan perpariwisataan. Anti mainstream sepertinya. Kalo tempat2 wisata lainnya, jalanan bagus, trus biasanya di deket-deket situ warganya udah pada nyamperin atau heboh liat tamu dateng. Nah ini, kami masuk aja jalannya off road banget. Ampe teriak-teriak saking takutnya jatoh ke sawah. Trus ga ada petunjuk jalannya, jadi kami harus nanya ke orang yang ada di situ. Ga jauh dari jalan besar, kami berhenti di depan sawah yang jalannya buntu. Nah. Kemana nih?? 

Tiba-tiba dari arah sawah ada seorang Ibu yang sedang bekerja di sawah teriak2 nanya ke kami. Berikut perbincangan aneh kami.
Ibu Petani : "Mau ke mana, ge?" 
Iin             : Mau ke Telaja Waja, Bu. Itu di mana ya?
Ibu Petani : Mau berenang?
Iin             : Engga, mau liat aja.
Ibu Petani : Ndak boleh pake celana dalem ya kalo berenang.
Iin          : Hah?!? (mimik muka bercampur antara terkejut, nahan ketawa, dan penasaran). Ga boleh pake celana dalem, Bu? 
Ibu Petani : Iya, harus telanjang dah.
Iin             : Umm.. kami ga berenang kok,  Bu. Cuma mau liat aja. Kalau foto2 boleh?
Ibu Petani : Oh, ya boleh dah. Tapi inget kalo mau berenang, harus telanjang ya, ge. Jangan pake apa-apa.
Kami        : *ngangguk2* Sungainya di sebelah mana ya, Bu?
Ibu Petani : Ini dah, tinggal turun ke bawah. *sambil menunjuk jalan yang anak tangganya lebih dari 300an.

Saya langsung excited yet lemes liat anak tangga yang menurun tajam ke bawah. Boook, masuk dan dalem aja tuh kayaknya Telaja Waja. 
Yaudahlah ya. Udah nyampe sini juga. Lagian kami SANGAT penasaran dengan perkataan si Ibu. Ga boleh mandi kalau ga telanjang atau pakai baju. Ada apakah?
Jujur, di pikiran saya sempat menerka-nerka ada banyak orangkah di bawah, akan melihat apakah saya di sana, bagaimana kalau ternyata nanti yang kami lihat orang-orang bugil semua? Kyaaaa!!! 


Kami cekikikan dan penasaran sambil ngegerumel gara2 anak tangga yang banyaaak bgt di bawah kami. Di perjalanan menyusuri anak tangga itu, kami tiba2 dikagetkan lagi oleh suara yang datangnya dari atas. Seorang Ibu/Bapak, kami ga yakin. Suaranya sih kayak ibu-ibu, tapi penampakannya kaya bapak-bapak. Aduh jadi bingung mendeskripsikannya. Ya pokonya orang lah.

Beliau jg menanyakan hal yang sama, apakah tujuan kami mau berenang? Kalau iya, beliau mewanti2 hal yang sama seperti si Ibu pertama yang kami temui ; Kalau mau berenang ga boleh pake apa-apa! Begitu katanya.

Saya langsung menyatakan bahwa kami ga akan berenang. Kami hanya ingin lihat tempatnya seperti apa dan foto-foto saja. Seperti si Ibu itu, beliau mengiyakan dan mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan dengan pesan "Hati-hati ya, Ge!"

Kami terus berjalan ke bawah. Menapaki anak tangga yang banyak dan licin karena lembab dan basah. Semakin ke bawah, suasana semakin gelap tertutup pohon-pohon besar. Rasanya kaya lagi masuk ke tengah hutan tiba-tiba. Dari jauh kami sudah bisa mendengar gemericik air dari sungai. Seperti bunyi suara air terjun. Saya tambah penasaran. 

Yang aneh, semakin kami turun ke bawah, semakin kami ga merasakan kehadiran manusia lain selain kami berempat. Kok sepi ya? Pikiran saya bahwa di bawah ada banyak orang yang telanjang, jangan2 tidak nyata. 
Kami akhirnya berhenti sejenak. Mengatur napas yang mulai tersenggal-senggal. Di dekat kami terlihat ada pura di ujung tangga. Kami udah seneng. Ah, mungkin itu tempatnya!! Tapi ternyata ketika kami mendekat, masih ada anak tangga ke bawah lagi. DOWEWEW! 

Sepi banget, meeen! Hiyh. Saya agak merinding sih sebenernya. Tapi saya penasaran banget! Kami pun melanjutkan menuruni anak tangga.

Daaan.. akhirnya inilah yang kami temui!

Telaga Waja

Aaaaaakk!!! Saya langsung berbinar-binar ngeliat ada kolam air mandi ala kerajaan majapahit begini. Airnya bening bangeeeetttt!!! Saya bahkan bisa ngeliat ke dasar kolam ikan-ikan kecil yg berenang!

Sementara yang lain mengamati dan melihat-lihat sekeliling : hutan dan sungai di bawah, saya sibuk memikirkan dan menimbang-nimbang keinginan yang tiba-tiba ingin nyemplung ke kolam ini.

Sepertinya pikiran saya terbaca oleh Iin, my partner in crime. Dia pun langsung ngajakin nyemplung dengan tentu saja sesuai wanti-wanti si Ibu : HARUS TELANJANG!

Awalnya saya ogah dan mikir-mikir lagi. Aman ga ya kalo saya berenang di sini? Um, sebenernya lebih ke khawatir ada orang tiba-tiba dateng sih. Haha boook, masalahnya telenji ini telenjiii!! Buseet dah.
Sementara saya masih mikir-mikir si Iin tiba-tiba udah berenang-berenang telanjang bulat tanpa sehelai apapun di dalem kolam yang airnya sungguh menggoda untuk dijamah itu.

Hadeeh (---.---')

Dia lalu memanas2i saya untuk gabung bersamanya. Sementara Tiwi dan Pixie, seperti ga tertarik sedikitpun untuk bahkan mendekat ke kolam itu. Hehehe. Mereka kayaknya cukup mengagumi tempat dari atas tangga dan foto2 dari situ aja.

Di bawah kolam air ini, ternyata ada sungai yang mengalir deras. Nah sungai ini biasa dipakai jalur rafting. Cukup terkenal juga ternyata jalur rafting Telaga Waja ini. Tapi saya ga yakin kalau orang-orang pernah datang dan tau tempat pemandian ini ada. Soalnya ini tempat nyempil dan ga keliatan saking ketutupan pohon-pohon yang lebat dan basah.

Ah, yaudahlah! Saya nyemplung juga. Udah jauh-jauh dan memang lagi panas banget udaranya saat itu. Saya menitipkan baju dan segala macem printilan ke Tiwi. Berpesan untuk jaga-jaga kalau ada tanda-tanda orang datang, kasih tau kami supaya bisa langsung ngacir keluar dan pake baju.

Pas nyelupin diri di kolam ini, sumpah sensasinya dahsyat banget! Antara rasa excited yang memuncak, mistis, dan lega. Percampuran rasa yang aneh. Sensasional though!


Saya dan Iin berenang2 di kolam yang kecil tapi mejik ini. Sementara Tiwi sibuk foto-foto kami dengan pose-pose bak kalender taunan. Saya ga lama-lama berenang di situ. Kira-kira 15 menitan. Cukup. Saya ga mau lama-lama. Takut juga sih sebenernya. Hiyh. Mudah2an ga papa ya berenang2 cantik sebentar. Tapi saya tadi sebelum nyemplung udah "minta ijin" dulu kok. Bismilah.


Si Iin nih yang kalap. Dia masih aja berenang2 dan bergaya bak princess yg lagi mandi sambil cekikikan. "Aaaaakk.. aku seneng! Aku seneeeeeng!" Gitu katanya. Hadeh.



Sudah minta ijin sama modelnya untuk dipublish di sini. Ceritanya bidadari lagi mandi. Ahey!



Setelah puas dan kembali berbusana, kami harus menghela napas melihat apa yang ada di depan kami. Anak tangga yang banyaknya minta ampun. Duh, saya harus atur napas nih, biar ga dehidrasi dan keliyengan di tengah jalan. 
Kami pun pelan-pelan menaiki satu demi satu anak tangga menuju ke atas. Ke peradaban manusia.

Sesampainya di atas, kami langsung "melapor" ke Ibu petani tadi, bahwa kami berubah pikiran dan akhirnya jadi berenang sebentar. Tentu saja pertanyaan si Ibu pertama adalah "Pakai baju, Ge?!?!" Kami langsung menjawab, "Engga kok, bu. Kami berenang ga pake apa-apa. Kayak yang Ibu bilang tadi. Ga papa 'kan, Bu?" Si Ibu mengangguk, "Iya, ga papa dah. Asal ga pake apa-apa, ndak papa berenang."
Kami pun tersenyum lega. Soalnya saya sempet sih bertanya-tanya, kenapa ya harus telanjang? Bahkan pakai selembar kain pun ga boleh. Ini peraturan buat cowo dan cewe loh.  Saya pun bertanya ke si Ibu kenapa seperti itu aturannya, dan kenapa kalau pakai baju trus berenang? Si Ibu bilang, memang seperti itu aturannya dari dulu. Katanya itu tempat sakral. Tempat suci. Kalau mau berenang ya harus ikut aturan seperti itu. Dan yang lebih serem kata si Ibu kalau berenang pake baju, nanti ga bisa  jalan or sakit. Hiiiiyh. Untuk kamu nurut dan ngikutin aturan, batin saya dalam hati.


Keluar dari daerah Telaga Waja, wajah kami sumringah. Well, wajah saya sama Iin sih lebih tepatnya. Kami seneng banget karena baru aja nyobain hal yang bikin jantung deg-degan! 
Perut kami pas banget meronta-ronta minta diisi. Jadi kami mampir makan dulu di Ubud. Lagian hari masih belum gelap. Masih ada cukup waktu buat balik ke rumah. 


Selesai makan, kami pulang dan tedor. Zzzzz tepar banget.

*******

Besoknya saya bangun siang sekitar jam 9an, langsung cus ke tempat yoga. Tadinya dari tempat yoga mau langsung ke pantai, mau lenyeh2 dan liat sunset, tapi saya masih ngerasa capek. Jadilah saya pulang lagi ke kosan dan tedor. Zzzzzzzzz 

Lusanya, saya masih harus masuk kerja. Hiks. Sedihnya orang-orang udah libur tanggal 31 saya dan Tiwi masih harus ngantor walaupun setengah hari.
Yaudah, ga papa. Itung-itung pemanasan sebelum malem taun baru nanti.

Di kantor pun kerjaan ga banyak. Ya iyalaah secara orang-orang udah pada libur. Jadi kami cuma haha hihi dan internetan ampe gila. 
Saya pun sesungguhnya masih penasaran sama si Telaga Waja itu. Iseng saya google2, tapi saya ga bisa menemukan informasi yang akurat dan memuaskan. Akhirnya saya coba tanya temen-temen di sini yang siapa tau pernah denger atau tau mengenai Telaga Waja ini.
Seorang teman bilang ke saya seperti ini, "Nda, aku tanya pemangku di sini, dia tau pura telaga waja... katanya itu dulu tempat pemandian bidadari, raja pun ga boleh liat. Trus kalo sakit jiwa bisa sembuh mandi di situ. wkwkwkw"

(-.-')

Pantesan dari Bangli saya langsung 'diarahkan' ke situ. Mungkin untuk sekalian menyembuhkan penyakit jiwa saya! Universe DID work in mysterious way eh!

Sampe sekarang masih penasaran sih buat tau lebih banyak soal sejarah atau cerita tentang tempat yang kami temui  itu, tapi sampe sekarang referensinya masih ga nambah-nambah nih. Mudah-mudahan semua baik-baik saja ya.


Begitulah temans, cerita roadtrip saya dan temen-temen minggu lalu sebelum tahun berganti dari 2012 ke 2013. 
What a great time in our last days in 2012.  And i think 2013 would be a great year! Let's be (more) positive and embrace our life with gratefulness.





Selamat tahun baru.


Anda
x














28.12.12

Too much "sugar" will kill you




Mamah saya selalu bilang "Segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik, teh..."





And it proved!







I'm letting it go. 
Sedikit demi sedikit.




pict from here