Tulisan ini dibuat di hari kedua di 2013. Dan walaupun di posting ini saya mau bercerita mengenai pengalaman hari-hari terakhir menjelang 2013, saya juga akan kilas balik di 2012 peristiwa2 yang terjadi dalam setaun kemarin.
Di awal taun 2012, bulan Februari, di hari Valentine lebih tepatnya, saya menapakkan kaki di negara asal lelaki saya. Inggris. Selama 3 bulan saya nemenin dia ngelewatin hari-hari berat. Selama 3 bulan juga saya menyadari saya ga bisa jauh dari keluarga. Kangen yang nyampe ubun-ubun bikin badan drop dan sakit. Kangen rumah, kangen Mamah-Papah, kangen Abang-Dede, kangen temen-temen, kangen makanannya, kangan orang-orangnya. Kangen Indonesia.
Setiba di tanah air, saya langsung disibukkan dengan rencana-rencana jangka pendek ; menemukan pekerjaan baru dan melanjutkan hidup tanda dia di sisi saya.
Kurang lebih 2 bulan kemudian, saya dipanggil lagi oleh tempat kerja lama saya di Bali. Awalnya saya dengan tegas menolak dan ga abis pikir, kenapa dan bagaimana bisa saya kembali ke Bali setelah apa yang terjadi?!?!?
Lama saya berpikir dan berdiskusi dengan orang-orang tersayang ; keluarga dan teman. Dan tentu saja dengan Sang Maha Pemberi Kehidupan. Akhirnya hati saya melunak, pikiran rasional saya mengambil alih dari perasaan yang tidak rasional saat itu. Saya harus tetap jalan ke depan. Saya masih berharap ada perusahaan atau tempat di Jakarta yang manggil saya setelah saya menyebar CV ke sana-sini. Tapi hari itu tak kunjung datang juga. Saya, tentu saja punya pilihan untuk menolak tawaran di Bali ini dan menunggu kesempatan lain (yang entah kapan datangnya) di Jakarta, tapi lagi-lagi saya ucapkan ini berjuta-juta kali. Tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini. Kenapa tawaran untuk bekerja di tempat lama di Bali kembali lagi kepada saya? Tentu sudah ada rencana dari langit.
Jadilah saya berangkat ke pulau dewata dengan mengumpulkan sejuta keberanian dan niat baik untuk tetap berjalan ke depan.
Sebelum saya setuju untuk menandatangani kontrak kerja, saya mengajukan beberapa persyaratan dengan kondisi saya saat itu. Kalau dalam menjalani ini, tiba-tiba saya tidak sanggup dan menyerah di tengah jalan, saya boleh kapan pun menginggalkan Bali dan kembali ke Jakarta. Mereka setuju.
Sebulan berjalan baik. Rasa takut dan trauma berat saya lawan dan hadapi. Saya datangi setiap sudut tempat yang membuat saya mengingatkan dengan lelaki saya. Dan mencoba berdamai dengan setiap kenangan manis dan pahit di dalamnya.
Ga kerasa, saya sampai juga di penghujung tahun 2012 dan masih berada di pulau ini.
Unbelievable.
Kadang, saya suka ga percaya sama apa yang bisa saya lakukan sendiri. Kadang saya menganggap remeh sesuatu yang sebenarnya besar : Niat.
Dalam sebulan di ini, saya bolak balik Jakarta-Bali hampir setiap minggu. Dan semakin saya menjauh dari Bali, semakin saya merasa rindu dengan pulau ini. Lalu diam-diam saya membatin. I think i have found my second home.
Bukan berarti saya tidak cinta Jakarta dan Serang, saya hanya merasa hati saya lebih damai dan tenang di sini. Saya merasa.. berbeda.
Selama saya tinggal (lagi) di sini, hari-hari saya disibukkan dengan bekerja dan bekerja. Lalu weekend yang kalau dulu selalu kami (saya dan si dia) isi dengan roadtrip bedua, sekarang saya tetep menjalani roadtrip kok. Bedanya sekarang saya melakukannya dengan my partner(s) in crime. Iin dan Tiwi, dan kadang2 beberapa teman lain yang kebetulan ikut.
Nah, kan udah tuh sekilas tentang 2012-nya, sekarang lanjut ke cerita roadtrip minggu kemarin ya.
Sebenernya ga direncana-rencanain banget sih road trip minggu lalu yang kami lakukan. Iin awalnya cuma ngajakin ke Bangli, ke desa Panglipuran lebih tepatnya. Tapi seperti biasa, roadtrip kami pasti berakhir dengan mendatangi dan menemukan beberapa tempat lainnya. Mengenai Desa Panglipuran, saya yang baru denger namanya langsung google dan liat sekilas. Wah, bagus.
Tanpa banyak pikir saya langsung mengiyakan untuk jalan ke sana weekend ini. Yang awalnya cuma rencana bertiga jadi nambah berempat. Roommate baru saya mau ikutan juga roadtrip kali ini.
Jadilah 3 motor siap membelah Bali tengah dari Denpasar menuju Bangli.
Btw, untuk yang ga familiar dengan nama Bangli, di sini begitu orang denger nama Bangli, biasanya langsung dibully dengan kalimat2 "nengokin siapa?" atau "masih berobat jalan?"
Yes, Bangli dikenal sebagai tempat orang yang mentalnya terganggu. Di Bangli ada rumah sakit jiwa yang cukup terkenal. Setaraf dengan rumah sakit jiwa yang di Grogol kalo di Jakarta.
Singkat cerita, begitu memasuki daerah Bangli, saya jadi ngerti kenapa ini tempat cocok buat orang-orang yang terganggu kesehatan mentalnya. Tempatnya damai dan tentram sekali. Pas lah buat menenangkan diri dan jiwa.
Tujuan pertama dan utama kami adalah
Desa Penglipuran. Tempatnya ga susah buat dicari. Tinggal liat petunjuk jalan dan tanya satu dua warga lokal, sampe deh.
Untuk masuk ke desa ini, kami harus bayar di depan desanya uang administrasi, atau mungkin untuk kas banjar setempat. Ga mahal kok, cuma 5000 per orang.
Kesan pertama saya begitu masuk desa ini ; BERSIH. Enak banget dalemnya, rapih tertata. Rumah-rumah berhadap-hadapan sejajar. Taman-taman di setiap rumah dirawat. Orang-orang yang sungguh masih terjaga adat dan istiadatnya. Ramah dan menyambut setiap tamu yang datang dengan senyum. Walaupun teteup dengan embel-embel menjual souvenir dan oleh-oleh/makanan/minuman lokal khas Penglipuran. Tapi kalau ga mau beli, tinggal bilang aja kok. Mereka ga akan langsung ngambek atau berubah jadi jutek. Tetap ramah dan mempersilahkan kita liat-liat dan "masuk" ke rumah-rumah mereka.
 |
| Selamat datang di Desa Penglipuran |
 |
| This is the village. Adeeeem! |
 |
| Foto duluuuu |
Selain hal-hal yang tadi saya jelaskan, ga terlalu banyak hal yang bisa dilakukan di desa kecil yang asri ini, jadi kami memutuskan untuk menginggalkan desa ini setelah khatam menelusuri setiap rumah dan sudut desa hanya dalam setengah jam.
Awalnya kami hendak berlanjut menuju tempat lain yang menarik yang kami temui di perjalanan menuju desa ini. Di sebelum desa ini kami melewati Geopark Kaldera Gunung Batur. Hm. Menarik. Tapi entah kenapa setelah berdiskusi kami tiba-tiba membelot dan memutuskan untuk ke Pura Besakih saja. Gubrak! Niat mau roadtrip tapi malah jadi ke tempat wisata yang komersil gila. Haha yaudahlah ya. Lagian saya belum pernah ke sana juga. Malu sama bokin yang udah pernah ke sana.
Dan betul saja sodara-sodara, ternyata hanya kecewa yang kami dapatkan di Besakih. Hih. Udah bayarnya mahal, orang-orangnya agresif, ujan, dan tempatnya B banget! Hadeeeh.
 |
| Di depan Pura Besakih. Foto macam turis aja. |
Ga berlama-lama, setelah makan dan foto-foto ala kadarnya kami langsung turun gunung. Masih belum tau dan belum memutuskan mau ke mana setelah Besakih ini. Ah, jalan saja dulu. Nanti juga ketemu tempat OK, begitu batin saya.
Dan kami pun meluncur ke selatan. Di sepanjang perjalanan banyak pedagang duren dadakan yang aromanya bisa membuat kami tiba-tiba ngerem mendadak dan mengadakan rapat di pinggir jalan hanya untuk memutuskan apakah kami mau makan duren atau pas aja dan makan duren di deket kosan saya saja. Haha we're so undecisive!
Melewati desa-desa dan jalan-jalan yang belum pernah kami lewati, saya menikmati setiap detail pemandangan dari balik helm. Cantik banget sih, Bali!
Setelah melewati desa Tampak Siring, kami (seperti biasa) rapat dadakan lagi di samping jalan, memutuskan hendak ke mana kami selanjutnya. Tiba-tiba Iin dan saya kepikiran untuk melihat tempat yang sempat kami lewati waku itu di daerah Tegalalang menuju Ubud.
Telaga Waja namanya. Kami waktu itu sempat melewati dan membaca plang dengan tulisan "Wisata Air Telaga Waja". Dan kami penasaran. Waktu itu kami tidak sempat melihat karena sudah gelap dan kami sedang buru-buru menuju Tampak Siring untuk menghadiri pernikahan anak raja. Boook make up bs luntur dong ntar!
Nah, ini adalah saat yang tepat. Kami pun langsung menuju ke sana.
Begitu sampe di sana, waktu menunjukkan pukul 3 sore. Bali lagi puanas-puanasnya tuh.
Ini tempat rada membelot secara aturan perpariwisataan. Anti mainstream sepertinya. Kalo tempat2 wisata lainnya, jalanan bagus, trus biasanya di deket-deket situ warganya udah pada nyamperin atau heboh liat tamu dateng. Nah ini, kami masuk aja jalannya off road banget. Ampe teriak-teriak saking takutnya jatoh ke sawah. Trus ga ada petunjuk jalannya, jadi kami harus nanya ke orang yang ada di situ. Ga jauh dari jalan besar, kami berhenti di depan sawah yang jalannya buntu. Nah. Kemana nih??
Tiba-tiba dari arah sawah ada seorang Ibu yang sedang bekerja di sawah teriak2 nanya ke kami. Berikut perbincangan aneh kami.
Ibu Petani : "Mau ke mana, ge?"
Iin : Mau ke Telaja Waja, Bu. Itu di mana ya?
Ibu Petani : Mau berenang?
Iin : Engga, mau liat aja.
Ibu Petani : Ndak boleh pake celana dalem ya kalo berenang.
Iin : Hah?!? (mimik muka bercampur antara terkejut, nahan ketawa, dan penasaran). Ga boleh pake celana dalem, Bu?
Ibu Petani : Iya, harus telanjang dah.
Iin : Umm.. kami ga berenang kok, Bu. Cuma mau liat aja. Kalau foto2 boleh?
Ibu Petani : Oh, ya boleh dah. Tapi inget kalo mau berenang, harus telanjang ya, ge. Jangan pake apa-apa.
Kami : *ngangguk2* Sungainya di sebelah mana ya, Bu?
Ibu Petani : Ini dah, tinggal turun ke bawah. *sambil menunjuk jalan yang anak tangganya lebih dari 300an.
Saya langsung excited yet lemes liat anak tangga yang menurun tajam ke bawah. Boook, masuk dan dalem aja tuh kayaknya Telaja Waja.
Yaudahlah ya. Udah nyampe sini juga. Lagian kami SANGAT penasaran dengan perkataan si Ibu. Ga boleh mandi kalau ga telanjang atau pakai baju. Ada apakah?
Jujur, di pikiran saya sempat menerka-nerka ada banyak orangkah di bawah, akan melihat apakah saya di sana, bagaimana kalau ternyata nanti yang kami lihat orang-orang bugil semua? Kyaaaa!!!
Kami cekikikan dan penasaran sambil ngegerumel gara2 anak tangga yang banyaaak bgt di bawah kami. Di perjalanan menyusuri anak tangga itu, kami tiba2 dikagetkan lagi oleh suara yang datangnya dari atas. Seorang Ibu/Bapak, kami ga yakin. Suaranya sih kayak ibu-ibu, tapi penampakannya kaya bapak-bapak. Aduh jadi bingung mendeskripsikannya. Ya pokonya orang lah.
Beliau jg menanyakan hal yang sama, apakah tujuan kami mau berenang? Kalau iya, beliau mewanti2 hal yang sama seperti si Ibu pertama yang kami temui ; Kalau mau berenang ga boleh pake apa-apa! Begitu katanya.
Saya langsung menyatakan bahwa kami ga akan berenang. Kami hanya ingin lihat tempatnya seperti apa dan foto-foto saja. Seperti si Ibu itu, beliau mengiyakan dan mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan dengan pesan "Hati-hati ya, Ge!"
Kami terus berjalan ke bawah. Menapaki anak tangga yang banyak dan licin karena lembab dan basah. Semakin ke bawah, suasana semakin gelap tertutup pohon-pohon besar. Rasanya kaya lagi masuk ke tengah hutan tiba-tiba. Dari jauh kami sudah bisa mendengar gemericik air dari sungai. Seperti bunyi suara air terjun. Saya tambah penasaran.
Yang aneh, semakin kami turun ke bawah, semakin kami ga merasakan kehadiran manusia lain selain kami berempat. Kok sepi ya? Pikiran saya bahwa di bawah ada banyak orang yang telanjang, jangan2 tidak nyata.
Kami akhirnya berhenti sejenak. Mengatur napas yang mulai tersenggal-senggal. Di dekat kami terlihat ada pura di ujung tangga. Kami udah seneng. Ah, mungkin itu tempatnya!! Tapi ternyata ketika kami mendekat, masih ada anak tangga ke bawah lagi. DOWEWEW!
Sepi banget, meeen! Hiyh. Saya agak merinding sih sebenernya. Tapi saya penasaran banget! Kami pun melanjutkan menuruni anak tangga.
Daaan.. akhirnya inilah yang kami temui!
 |
| Telaga Waja |
Aaaaaakk!!! Saya langsung berbinar-binar ngeliat ada kolam air mandi ala kerajaan majapahit begini. Airnya bening bangeeeetttt!!! Saya bahkan bisa ngeliat ke dasar kolam ikan-ikan kecil yg berenang!
Sementara yang lain mengamati dan melihat-lihat sekeliling : hutan dan sungai di bawah, saya sibuk memikirkan dan menimbang-nimbang keinginan yang tiba-tiba ingin nyemplung ke kolam ini.
Sepertinya pikiran saya terbaca oleh Iin, my partner in crime. Dia pun langsung ngajakin nyemplung dengan tentu saja sesuai wanti-wanti si Ibu : HARUS TELANJANG!
Awalnya saya ogah dan mikir-mikir lagi. Aman ga ya kalo saya berenang di sini? Um, sebenernya lebih ke khawatir ada orang tiba-tiba dateng sih. Haha boook, masalahnya telenji ini telenjiii!! Buseet dah.
Sementara saya masih mikir-mikir si Iin tiba-tiba udah berenang-berenang telanjang bulat tanpa sehelai apapun di dalem kolam yang airnya sungguh menggoda untuk dijamah itu.
Hadeeh (---.---')
Dia lalu memanas2i saya untuk gabung bersamanya. Sementara Tiwi dan Pixie, seperti ga tertarik sedikitpun untuk bahkan mendekat ke kolam itu. Hehehe. Mereka kayaknya cukup mengagumi tempat dari atas tangga dan foto2 dari situ aja.
Di bawah kolam air ini, ternyata ada sungai yang mengalir deras. Nah sungai ini biasa dipakai jalur rafting. Cukup terkenal juga ternyata jalur rafting Telaga Waja ini. Tapi saya ga yakin kalau orang-orang pernah datang dan tau tempat pemandian ini ada. Soalnya ini tempat nyempil dan ga keliatan saking ketutupan pohon-pohon yang lebat dan basah.
Ah, yaudahlah! Saya nyemplung juga. Udah jauh-jauh dan memang lagi panas banget udaranya saat itu. Saya menitipkan baju dan segala macem printilan ke Tiwi. Berpesan untuk jaga-jaga kalau ada tanda-tanda orang datang, kasih tau kami supaya bisa langsung ngacir keluar dan pake baju.
Pas nyelupin diri di kolam ini, sumpah sensasinya dahsyat banget! Antara rasa excited yang memuncak, mistis, dan lega. Percampuran rasa yang aneh. Sensasional though!.
Saya dan Iin berenang2 di kolam yang kecil tapi mejik ini. Sementara Tiwi sibuk foto-foto kami dengan pose-pose bak kalender taunan. Saya ga lama-lama berenang di situ. Kira-kira 15 menitan. Cukup. Saya ga mau lama-lama. Takut juga sih sebenernya. Hiyh. Mudah2an ga papa ya berenang2 cantik sebentar. Tapi saya tadi sebelum nyemplung udah "minta ijin" dulu kok. Bismilah.
Si Iin nih yang kalap. Dia masih aja berenang2 dan bergaya bak princess yg lagi mandi sambil cekikikan. "Aaaaakk.. aku seneng! Aku seneeeeeng!" Gitu katanya. Hadeh.
 |
| Sudah minta ijin sama modelnya untuk dipublish di sini. Ceritanya bidadari lagi mandi. Ahey! |
Setelah puas dan kembali berbusana, kami harus menghela napas melihat apa yang ada di depan kami. Anak tangga yang banyaknya minta ampun. Duh, saya harus atur napas nih, biar ga dehidrasi dan keliyengan di tengah jalan.
Kami pun pelan-pelan menaiki satu demi satu anak tangga menuju ke atas. Ke peradaban manusia.
Sesampainya di atas, kami langsung "melapor" ke Ibu petani tadi, bahwa kami berubah pikiran dan akhirnya jadi berenang sebentar. Tentu saja pertanyaan si Ibu pertama adalah "Pakai baju, Ge?!?!" Kami langsung menjawab, "Engga kok, bu. Kami berenang ga pake apa-apa. Kayak yang Ibu bilang tadi. Ga papa 'kan, Bu?" Si Ibu mengangguk, "Iya, ga papa dah. Asal ga pake apa-apa, ndak papa berenang."
Kami pun tersenyum lega. Soalnya saya sempet sih bertanya-tanya, kenapa ya harus telanjang? Bahkan pakai selembar kain pun ga boleh. Ini peraturan buat cowo dan cewe loh. Saya pun bertanya ke si Ibu kenapa seperti itu aturannya, dan kenapa kalau pakai baju trus berenang? Si Ibu bilang, memang seperti itu aturannya dari dulu. Katanya itu tempat sakral. Tempat suci. Kalau mau berenang ya harus ikut aturan seperti itu. Dan yang lebih serem kata si Ibu kalau berenang pake baju, nanti ga bisa jalan or sakit. Hiiiiyh. Untuk kamu nurut dan ngikutin aturan, batin saya dalam hati.
Keluar dari daerah Telaga Waja, wajah kami sumringah. Well, wajah saya sama Iin sih lebih tepatnya. Kami seneng banget karena baru aja nyobain hal yang bikin jantung deg-degan!
Perut kami pas banget meronta-ronta minta diisi. Jadi kami mampir makan dulu di Ubud. Lagian hari masih belum gelap. Masih ada cukup waktu buat balik ke rumah.
Selesai makan, kami pulang dan tedor. Zzzzz tepar banget.
*******
Besoknya saya bangun siang sekitar jam 9an, langsung cus ke tempat yoga. Tadinya dari tempat yoga mau langsung ke pantai, mau lenyeh2 dan liat sunset, tapi saya masih ngerasa capek. Jadilah saya pulang lagi ke kosan dan tedor. Zzzzzzzzz
Lusanya, saya masih harus masuk kerja. Hiks. Sedihnya orang-orang udah libur tanggal 31 saya dan Tiwi masih harus ngantor walaupun setengah hari.
Yaudah, ga papa. Itung-itung pemanasan sebelum malem taun baru nanti.
Di kantor pun kerjaan ga banyak. Ya iyalaah secara orang-orang udah pada libur. Jadi kami cuma haha hihi dan internetan ampe gila.
Saya pun sesungguhnya masih penasaran sama si Telaga Waja itu. Iseng saya google2, tapi saya ga bisa menemukan informasi yang akurat dan memuaskan. Akhirnya saya coba tanya temen-temen di sini yang siapa tau pernah denger atau tau mengenai Telaga Waja ini.
Seorang teman bilang ke saya seperti ini, "Nda, aku tanya pemangku di sini, dia tau pura telaga waja... katanya itu dulu tempat pemandian bidadari, raja pun ga boleh liat. Trus kalo sakit jiwa bisa sembuh mandi di situ. wkwkwkw"
(-.-')
Pantesan dari Bangli saya langsung 'diarahkan' ke situ. Mungkin untuk sekalian menyembuhkan penyakit jiwa saya! Universe DID work in mysterious way eh!
Sampe sekarang masih penasaran sih buat tau lebih banyak soal sejarah atau cerita tentang tempat yang kami temui itu, tapi sampe sekarang referensinya masih ga nambah-nambah nih. Mudah-mudahan semua baik-baik saja ya.
Begitulah temans, cerita roadtrip saya dan temen-temen minggu lalu sebelum tahun berganti dari 2012 ke 2013.
What a great time in our last days in 2012. And i think 2013 would be a great year! Let's be (more) positive and embrace our life with gratefulness.
Selamat tahun baru.
Anda
x