28.10.09

Para penguntai kata...




Saya iri.
Iri sekali.
Iri pada orang-orang yang dengan jenius bisa merangkai kata-kata dengan indahnya. Sampai mampu menyihir orang menjadi diam, terpaku dan tenggelam dalam kenikmatan kata-kata yang mereka rangkai.


Saya selalu bertanya, bagaimana bisa mereka menggabungkan kata-kata itu, menyatukan kata demi kata yang sering luput dari perhatian kita tapi tetap bisa dinikmati. Ah.. sungguh, saya iri pada mereka : para perangkai kata.

Iri bukan berarti benci. Iri menurut saya, ungkapan lain atas ketidakmampuan seseorang. Seperti saya misalnya, saya iri pada mereka, para perangkai kata. Saya sepenuhnya menyadari ketidakmampuan saya untuk menjadikan diri seperti mereka.

Lalu, iri bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih buruk : benci dan dengki.
Terdengar negatif sekali ya. Memang. Tapi, coba pikirkan lagi makna kedua kata itu. Lalu, coba pikirkan hal positif dari kata benci dan dengki. Dapat? ketemu? Saya tidak.

Karena seperti kata orang, hidup adalah pilihan. Dan saya memilih untuk menjadi orang yang positif, maka saya tidak akan pergi lebih jauh dari kata iri. Saya tidak mau melanjutkan atau bahkan mendekati kata benci dan dengki itu. Karena, saya tidak berkawan dengan negatif. Maaf.

Walaupun sebenarnya kata iri tetap bermakna negatif dan terdengar tidak baik, saya akan berusaha untuk tetap memeliharanya di jalur kepositifan saya. Semoga saja.

Untuk kalian, para perangkai kata. Saya tidak membenci kalian. Saya justru mengagumi karya-karya kalian. Sungguh. Saya hanya iri. Itu saja masalah saya.





BULE LE BOOO

Gila.. rasanya udah ratusan abad ga ngeblog *lebay abes*. Kangen bercas-cis-cus ria di blog ini.

Tapi justru karena kelamaan ga ngebl
og, jadi bingung mau update dari mana. Sepertinya banyak banget hal-hal baru yang saya alamin dan lewat gitu aja, karena saking tersepona, eh terpesona dengan hal-hal baru dan lupa dibagi di sini.

Mari kita mulai dari "DUNIA MAYA".
Aha, cerita baru memang datang dari dunia bernama DUNIA MAYA* a.k.a Internet!


Beberapa waktu yang lalu, saya dan temen2 saya mengangkat isu hangat yang enak banget buat jadi bahan diskusi (baca : gosip). Isu hangat itu tidak lain dan tidak bukan : "obsesi punya p
acar bule lewat internet". Hahaha!! Menarik bukan? ---> Bukaaaan!

Waktu saya masih duduk di bangku kuliah (kesannya udah lamaaa banget gitu, padahal baru setaun yang lalu), t
emen2 kampus saya, entah dengan alasan apa, memberikan julukan kepada saya dan beberapa temen saya, sebagai "Nederlander zoeker" (dalam bahasa Indonesia : pencari pria belanda). Padahal saya ga pernah nyari loh, beneran deh *muka serius*

Sempet kesel sih sama julukan itu, karena saya ga segitunya NYARI dan pengen dapet pacar londo. FYI, saya emang pernah pacaran sama orang londo, tapi dia londo murtad alias ga asli. Ga bermata biru, ga berkulit putih dan ga berbadan besar. Cuma numpan
g idup aja di Holland.
Anyway, so intinya, Saya dulu pernah dicap sebagai sosok wanita pencari laki-laki kaukasian.


Sebelum meneruskan cerita, mari kita evaluasi diri saya dulu. Kenapa ya saya sampai dapat penghargaan sebagai 'tipe kesukaan bule' ?? Menurut mereka, tentu saja, yang memberikan
penghargaan itu, saya adalah mahluk yang memenuhi kriteria wanita penakluk hati pria asing dilihat dari penampakan luar yang katanya eksotis. Tau kan maksudnya "eksotis" di sini?!? Kalo ga tau, silahkan cari sendiri di KBBI apa makna kata EKSOTIS. Saya males jelasinnya. Bisa panjang kali lebar nanti.

Kalau menurut apa yang saya lihat, dari beberapa orang dan teman dekat saya yang memang punya laki bule, saya ko tidak melihat kriteria eksotis menjadi syarat utama ya? Maksud saya, memang benar ada beberapa bule yang mencari pacar atau istri tanpa niat dan melihat latar belakang si wanita seperti background keluarga, pendidikan, lingkungan sosial dll, dan malah milih cewe mana aja deh yang penting bisa dikawinin. Yang biasanya, justru bule2 ini menjatuhkan pilihan pada Mba2 yang *maaf* berpenampilan menggoda (semok, montok dan kulit sawo matang/eksotis skin),dan ga susah buat didapetin.

Tapi orang2 dan teman saya yang pun
ya hubungan dengan lelaki asing, ga kaya gitu ko. I mean, secara penampakan, mereka jauh dari kata eksotis. Mereka juga ga montok2 amat. Mereka wanita seperti kebanyakan. Sama seperti saya, hanya beda warna saja :P
Mungkin, karena teman2 saya adalah kaum minoritas yang jarang dieksploitasi karena memang ga mau diekspos. Beda dengan orang2 yang dengan bangga memamerkan lelakinya di depan publik. Seperti (aduh, maaf lagi, ini mengambil contoh yang sering saya lihat sendiri) misalnya kalau berjalan di Mall2 besar di Jakarta, kita
bisa liat perempuan2 muda yang berjalan, bergandeng mesra dengan lelaki asingnya dengan pakaian atau penampilan yang ga proper *maaf kalau subjektif*. Lalu, muncullah stereotip bahwa bule itu sukanya model2 kaya gitu : cewe berkulit eksotyees, dengan postur tubuh molek. Kasian kan orang2 yang ga gitu, tapi dicap kaya gitu.
Yes, we're live in such a cruel world named sosial life.

Karena saya ga ngerasa tergila2 sama laki2 bule, saya sih santai. Tidak juga mengingkari suka maen-maen dikit kalo digodain bule lewat internet atau bahkan waktu ada kesempatan ketemu langsung di sebuah acara atau apalah. Tapi yang ga saya suka adalah sikap orang2 bahkan beberapa temen yang suka banget ngeledekin saya sebagai pecinta laki-laki barat, tapi sebenernya mereka juga diem2 mengagumi atau bahkan mungkin ikut MENCARI lelaki asing. DAAAAA?!?! saya bete banget tuh! Munafik!! *maaf emosi*

Ah, saya males ngomongin orang2 munafik itu. Jadi, mari kita berbicara tentang orang2 yang PlAY FAIR saja. Orang2 yang dengan bangga dan berani menyatakan diri mereka : Saya cinta produk luar. Saya cinta bule!

Jadi masuk ke inti cerita 'dunia maya'... belum lama ini, saya menemukan fakta bahwa dalam setiap usaha, pasti ada hasil. Apapun itu. Walaupun kecil, pasti ada.
Nah, dalam kasus yang saya temuin pada oknum2 pecinta lelaki bule ini, mereka termasuk yang berhasil dalam
usahanya mencari produk internasional. *plok, plok, plok*
Walaupun pada awalnya, saya tetep aja pake acara syok : mimik muka terkejut-hati membatin "gila, niat abis
"-mulut terbuka-mata terbelalak, ketika mengetahui hal itu. Saya toh tetep mengakui bahwa mereka memang berhasil. Saya toh tetep menganggap mereka pemenang untuk diri mereka sendiri.


Sementara itu, saya jadi berpikir. Dan
tiba-tiba ngerasa kesel sendiri. SIAL. Mereka yang ga pernah diledek2in sebagai wanita pencari pria internasional, bisa dapet karena usahanya yang adem ayem-underground moving lewat internet atau media lain, tanpa ada tekanan sosial sebagai "pencari bule bla bla bla".
Saya?! Saya yang jelas2 dikasih CAP setebel aspal di jidat sebagai wanita yang konon jadi tipikal incaran bule karena masuk kategori EKSOTIS, malah ga pernah -i mean, secara status
ya- pacaran sama bule! Saya jelas merasa dirugikan! Dapet ga dapet, pacaran ga pacaran, saya tetep akan dibilang "lu kan selera bule". DAMN it!!


Mengetahui kalo saya dirugikan secar
a, um.. secara status sosial, maka saya merasa harus melakukan sesuatu terhadap itu. YA! saya harus melakukan sesuatu.
Mulai sekarang, saya akan mencari laki-laki asing untuk dijadikan pacar. Huahahaha!

pertanyaan :

1.Loh, buat apa??
2.Katanya lo ga segitu sukanya sama bule??
Jawaban :
1. Buat pembuktian diri, apa iya, saya emang gampang dapet laki bule karena penampakan saya yang eksotyee
ees ini?!? Sungguh saya juga penasaran sama hal ini. Dan, sekalian emang lagi cari pacar bow. Kelamaan jomblo kering juga ane. Hiyahahaha, curcol!
2. Well, yang pasti punya pacar bule bukan obsesi dan tujuan akhir hidup saya. Jadi emang bener kalo saya bilang, saya ga segitunya pengen punya laki bule, tapi juga ga nolak kalo dapet
bule ganteng, pintar, seksoy apalagi tajor melintor. Huahahahaha *wink-wink*


Maka, oleh karena itu, dan dengan ini, saya menyatakan diri secara resmi, bahwa saya akan menjadi pencari bule terhitung hari ini dan sampai waktu yang belum ditentukan *kalo udah dapet, ya berenti. Kalo belum dapet2 juga, ya udah deh sama yang lokal aja*


Doakan saya bisa mendapatkan bule yang baik hati, kaya raya, tidak sombong, pintar, lucu, ganteng, seksi, pengertian, suka menabung, dan tidak bau ketek. Hohohohoo...



26.9.09

kue saka

Dua hari sebelum lebaran, saya sibuk berkutat diri bersama sang Mamah di dapur demi melaksanakan ritual taunan : bikin kue.

Taun-taun sebelumnya rencana bikin kue ini biasanya udah dibicarakan seenggaknya seminggu sebelum lebaran. Misalnya, mau bikin jenis kue apa, belanja2 bahannya, kapan bikinnya, dan bla bla things.


Karena taun ini saya *ehem..batuk dulu ah* sangat sibuk dan baru bisa balik 4 hari sebelum lebaran, Mamah sepertinya juga kebawa rasa hoream a.k.a males bikin kue. Entah karena saya ga terlibat atau si Mamah emang ga ada waktu juga dan kecapean. Jadi saya pun s
antai. Mengetahui kalo ga ada geliat atau inisatip apapun dari sang Kapten dapur buat bikin kue, saya ongkang kaki aja sambil nonton tipi seharian.

Si kapten berubah pikiran. Langsung banting setir hari esoknya. Mendadak dapur di rumah jadi penuh aroma kue kering, selai nanas, mentega, dan wangi2 sebangsanya. Wah, excited, saya langsung menerjunkan diri ke dapur.

Kurang lebih, inilah percakapan saya dan Mamah di dapur:

"Bikin kue apaan, Mah" .

"Kue Saka." Jawab Mamah sambil terus membuat adonan.
Kue Saka? tanya saya dalam hati.
Kue apaan tuh?! Baru denger deh.

"Resep baru ya mah? Ko ini kaya Nastar bahan2nya?" tanya saya penasaran.


"Yoi" kata si Mamah sok asik.


"Teteh ko baru denger namanya. Emang kenapa namanya Saka" saya MASIH penasaran dengan nama baru si kue.


"Iya. Ini namanya kue saka. Sakadayana, sakajadina, sakangeunahnya, pokona mah SAKA bae!" tiba2 nyokap nyerocos pake bahasa sunda sambil tentu saja ketawa ketiwi sendiri. Iiiiiiiiiiiih,,, lagi ngelawak toh doi?!?!





Saya yang tadinya mengharapkan dapet penjelasan lengkap dan detail tentang kue baru ini, ternyata ini semuah hanyah nama piktip yang dikarang Mamah sayah.

Haaaaaaaaaaah.
Dan, setiap orang yang berkunjung dan mencoba kue Saka buatan nyokap, pasti bertanya dan tentu aja, si Mamah menjelaskannya dengan cekakak cekikik di akhir kalimat. Dan semua orang pun bereaksi :
zzzziiiiiiiiiiiingg...krik, krik, krik.


*saka artinya SE- dalam bahasa indonesia. Jadi,
Sakadayana, sakajadina, sakangeunahnya artinya seadanya, sejadinya, seenaknya.

Grappig

Nee, ik ben Daboe

Kalo saya lagi bengong dan ga ada kerjaan, biasanya hal yang paling saya suka lakuin adalah menghayal dan mengingat2 kejadian lucu/menggelikan semasa kuliah dulu. Ada beberapa kejadian yang kalau saya bayangkan, saya bisa langsung geli, ketawa2 sendiri.

salah satunya ini :

Waktu itu, kami dapet tamu dosen dari Belanda. Saya lupa siapa dan di semester berapa kejadian ini berlangsung.

Kalau ga salah, saat itu kami lagi ujian spreken *speaking*.

Jadi si dosen tamu akan manggil mahasiswa satu per satu ke dalam kelas dan akan ditanya2in dalam bahasa Belanda, tentunya. Jreng, jreng, jreng! Rasanya langsung mules n lemes kalo inget kejadian waktu itu. Sesiap apapun saya, dan mungkin kami, melatih diri sebelum masuk ke ruangan itu, kalo udah masuk, pasti semua yang dihapal ilang begitu si menneer ngomong. Byaaar.. Bubar semua kata2 yang diinget semalem.

Nah, waktu bagian temen saya, Dabu masuk. Dia seperti biasa masuk dengan cengar-cengir dan berkata pada kami yang duduk di depan ruangan, menunggu nama kami dipanggil, "doakan saya ya teman-teman". serentak kami menganggukkan kepala dan memandangnya masuk ke ruangan itu.

Dari luar ruangan,
Dabu mengetuk2 pintu "knock knock knock.."


Dari dalem ruangan,

Menneer gast docent : Goede morgen, kom binnen alsjeblieft.

Dabu : Goede morgen, Menneer. Dank je wel

Di dalem ruangan :

Menner gast docent : Nou, ga maar lekker zitten.

Dabu : *mengulang kata yang sama, cari aman* dank je wel, Menneer.

Menneer gast docent : Goed. Lekker zitten?

Dabu : Ja, menneer. Lekker :D

Menneer gast docent : Dus, ben je nervous?

Dabu : Nee, menneer. Ik ben geen nervous. Ik ben Dabu.


DOWEEEEEWWWWEEEEWWW!!!!

12.9.09

In the middle of twenties



Taun ini, di hari jumat, hari yang selalu saya tunggu2 karena waktunya balik ke rumah, bertepatan sama hari ulang taun saya. Hari ini saya resmi berumur seperempat abad. HUaaaaat?!?! Iya, memang, saya sudah mulai tua. Ups, apa kabar temen saya yang umurnya 30an? Mm, kalo gitu, saya tarik lagi ucapan saya. Waaah, saya udah mulai gede ya. Hehehe *cari aman, dari pada dijitak*


Taun ini, ga seperti taun2 sebelumnya. Taun2 sebelumnya selalu penuh sama kejutan, hadiah, dan keberadaan orang2 di sekeliling saya untuk berbagi ciuman, pelukan dan selamat. Ah, saya selalu suka dicium dan dipeluk.


Taun ini, di malam pergantian umur menjadi perak, saya tidur lebih awal. Karena kemaren beraktivitas berlebihan. Jadi kecapean. Tapi sebelum detik berganti menjadi 12.01 dan tanggal berganti dari 10 menjadi 11, telepon saya berbunyi. Tentu aja saya aga males2an ngangkatnya. Saya bahkan lupa kalo saya ulang taun di menit berikutnya. Ternyata dari si Ndut, Cavin sayang. Dengan suara yang dibuat sok seksi, dia ngucapin selamat ulang taun. Hahaha, dasar cowo. Setelah itu, saya jadi ga bisa tidur lagi, sejenak berdiam diri, merenung, dan bersyukur.
Beberapa menit kemudian, datang sms dari beberapa orang tersayang. Ah, tenang dan senangnya hati ini membacanya. Saya terharu dan benar2 bersyukur. Ternyata saya dicintai mereka.


Taun ini, saya ga mengharap banyak. Saya mulai sadar diri bahwa kesibukan masing2 bikin orang2 tersayang ga bisa ada di deket saya untuk sekedar meluk-nyium dan bilang selamat ulang taun. saya mengerti. tidak apa-apa. Hanya saja, saya tentu berharap mereka tetap mengingat dan mencintai saya seperti taun2 sebelumnya dan semakin mengerti dan menyayangi saya tentunya.


Taun ini, saya putuskan untuk menjadi hari ulang taun perenungan, kilas balik selama saya hidup. Semenjak ucapan pertama tadi malam, saya berusaha mengingat dan mensyukuri apa-apa yang udah saya dapet sekarang. semuanya. keluarga yang utuh, persahabatan yang sehat, materi yang cukup, pekerjaan yang saya suka, orang2 baru yang datang dan pergi dengan sejuta pelajaran hidup baru.


Taun ini, saya berhasil menuliskan 25 orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Yang memberikan pelajaran hidup dengan keberadaan mereka. Yang masih mencintai dan menerima saya apa adanya. Yang membuat saya selalu merasa beruntung memiliki mereka dalam hidup saya.


Urutan orang yang saya tuliskan di sini ga ada pengaruh apa-apanya dengan kualitas mereka pada perubahan hidup saya. ke-25 orang pilihan tuhan ini rata membuat saya lebih mencintai dan menghargai hidup saya yang berwarna.

1. Wanita cantik hampir berumur setengah abad ini yang membawa saya ada di dunia ini, dan telah menjadi seorang teman yang luar biasa sabar, penuh rasa sayang tanpa pamrih. Dia adalah orang yang paling saya sayang di dunia ini.


2. Sosok laki-laki yang memperlihatkan kepada saya bahwa mencintai orang dengan ikhlas dan tulus itu adalah cara terbaik menjalani hidup. Dan satu2nya pemilik dengkuran (tukang ngorok) ternyaring yang pernah saya temui seumur hidup.


3. Adik yang lebih berperan sebagai kakak untuk saya. Bertanggung jawab dan lebih memilih berdiam diri di dalam rumah, tapi menjelma seorang yang sangat aktif sekali di luar rumah. Anak aneh!


4. Kembaran no 3. Lelaki paling manja yang pernah saya temui. Ga bisa lepas dari pelukan mamah setiap malam demi kebiasaannya megang2 lengan mamah.


5. Dia adalah orang yang memberi saya nama Puding Mocca. Sosok laki-laki ideal untuk menjadi seorang abang, meski usianya satu taun di bawah saya. Selalu bersedia meminjamkan badannya yang hugable untuk dipeluk dan kupingnya untuk dicurhatin sampe tengah malem atau pagi. Dari dia gw belajar untuk jadi orang dengan sedikit rasa idealisme. My Ndut.


6. Ulang taunnya cuma beda tiga hari, dua tahun dengan saya. Dia salah satu orang yang saya anggap
sebagai "best adviser" dalam hidup. Pemberani, berkarakter, tukang ngocol dan suka sekali tidur.


7. Si doraemon girl. Saya selalu suka memeluk dia. She's just so hugable. Simple and humble, itu yang paling saya suka dari dia, walaupun kadang2 tingkat kejayusannya suka akut, tak tertolong. Dan, dia adalah tante yang sangat baik.


8. Dewa shiwa. Mungkin Tuhan memang menjodohkan kami. Seberapa sering dan parahnya kesalahan yang pernah dia buat, saya tetap menyayangi dia. Kadang2 dia bisa bersikap dan berpikir jauh lebih dewasa dibandingkan saya. Tentu aja saya ga pernah bilang/mengakui itu ke dia. Kami juga punya banyak kesamnaan dalam hal dan mimpi. Sama2 bermimpi mengecap dunia pendidikan di negeri kincir angin.


9. Cewe paling sabar dan rajin yang pernah saya temuin. Dulu, saya sempet ga kebayang kalo dia akan jadi orang yang lumayan mempengaruhi kehidupan pertemanan saya. Ternyata, kami berjodoh. Dia diberi kelebihan sifat rajin, dan pintar walaupun kadang2 lemotnya suka ga ketolongan. Haaah, oneng. saya mencintainya setulus dia mencintai lelaki brengsek yang meninggalkannya demi perempuan sundal!


10. Lucky bastard, orang2 biasa memanggilnya. Mungkin pengaruh namanya yang ga biasa. Buat saya, dia seorang yang konsisten dan menikmati hidup dengan apa yang dia punya. Terobsesi bisa bicara bahasa sunda. Kadang2 suka maksa pake aksen sunda yang untuk telinga saya terdengar aneh. Kami punya mimpi sama : suatu hari bertemu di sebuah cafe di negeri Belanda. Meeting point : Rotterdam of Amsterdam nge??


11. Gadis cantik dari minang. Pujaan setiap laki-laki. Berkali-kali dipinang untuk menjadi istri. Iri sekali aku dibuatnya. Cantik, soleh, pintar, bla bla bla.
Untungnya kami saling mencintai, sampai saat ini. Kalo engga, mungkin saya udah benci, iri, dengki sama dia. Hahaha. Dan dia seorang penyemangat hidup yang luar biasa.


12. My bitch. Sepintas, dia adalah cewe pendiam yang jauh dari kata nakal. Tapi begitu mengenalnya lebih dalam, damn she's totally a bitch!! And i love her so much. Dibalik kenakalannya, kepatuhan dan toleransinya yang besar kepada apa yang diyakininya benar, kadang2 membuat saya gemas. Tapi sungguh dia mengajarkan saya menjadi calon istri yang baik untuk calon suaminya nanti. Dia memanggil dirinya sendiri, si kaki bayi.


13. Buat saya, dia adalah pemain gitar terganteng dan terkharisma setelah idola saya, Ridho, gitaris Slank. Hahaha. Saya mencintainya sebagai kaka, dan teman. Bukan cuma bijak, tenang, dan santai, tapi juga lucu dan selalu sederhana dalam menghadapi masalah hidup.


14. Nama panggilan "NOE" datang pertama kali dari mulut dia dari jaman smp sampai sekarang. Usia pertemanan kami hampir 12 tahun, dan ga ada yang berubah dari dia. Tetep menjadi gadis ceria yang membuat suasana jadi riang dengan kehadirannya. Dengan lesung pipi dan jidat jenongnya, saya akan selalu mengenang dia sebagai gadis periang.


15. Ternyata dia masih ada hubungan saudara. Setelah berteman beberapa taun, saya mengetahui kalo ternyata perempuan kecil, mungil, cantik, ini masih saudara jauh saya. Oh, what a small world. Saya salut sama rasa tanggung jawabnya sama keluarga. Bukan anak pertama, tapi sikap, pemikirannya kaya anak sulung. Salut.


16. Princess freak! Hahaha, si pemilik badan (yang menurut dirinya sendiri) bagai model catwalk ini, suka banget ngegosip! Dan berdiskusi tentang banyak hal, tentunya. Di balik penampakannya yang selalu ceria dan cenderung kegenitan, dia adalah sosok wanita kuat-dengan segala cobaan beratnya- yang saya kagumi.


17. Dulu, waktu saya SD, saya sering dibilang kembaran dia. Hehehe, entah karena kami sering jalan berdua, warna kulit yang sama2 eksotis (baca : item), atau memang kami beneran mirip?!?! Kepolosan dan kejujurannya mungkin yang membuat persahabatan kami bertahan sampai sekarang.


18. Kalau aja pembawaan dia lebih "garang" dan engga berlebay, mungkin akan banyak perempuan mengejar2 dia (ngejar buat nimpuk, maksudnya). Mungkin faktor lingkungan yang bikin dia aga berlebihan menghadapi sesuatu. Kadang2 sifatnya nyebelin ga ketolongan. Tapi rasa sayang saya ke dia juga ga kalah besar. Dari dia saya tentu aja belajar banyak hal. Menerima keaadaan, salah satunya. Walaupun kalau udah zeuren alias mengeluh, nyebelinnya minta ampun.


19. Kalo jalan sama dia, ga mungkin cowo2 ga nengok. Yep, selain dianugrahi muka yang cantik jelita, cewe tinggi berisi ini juga sangat sopan dalam bertutur kata (beda banget ma gw). Suka banget sama Britney Spears. Bungsu dari 5 bersaudara,semuanya laki2. Bikin dia jadi anak yang kenyang banget sama larangan. Paling susah kalo minta izin jalan2 apalagi sampe nginep sama orang tuanya.


20. Miss ribeeeet!! Hahaha, i love her! Perempuan yang selalu berusaha semaksimal mungkin untuk apapun. Kerjaan, keluarga, dan temen tentunya. Saya mencintai dia dengan segala keribetan, kelenjean, kebodohan, dan banyak ke-..-an lainnya. Kisah percintaannya yang dilematik, selalu jadi peringatan saya bahwa cinta itu tidak pernah memilih dan Tuhan itu maha Adil.


21. Ni cewe baiknya amit-amitan deh. Sinting, baiknya ga ketolongan. Ampun-ampunan deh *hahaha deskripasi berlebay*. Beruntung saya kenal dan akhirnya berteman dengan dia. Sejak dia punya pacar orang belanda, saya lebih sering memanggilnya "schaatje". Belajar banyak dari dia, tentu aja. Manusia itu pamrih. Ga terkecuali dia (mungkin). But, even she does it in a beautifull way.


22. Si tomboy yang cantik. Jago banget maen futsal, basket, dan semua olah raga lainnya. Seorang yang perhatian sama keluarga dan temen2nya. Termasuk salah seorang yang selalu ada di deket saya. Bukan kuantitasnya, tapi kualitas!


23. Perempuan berbadan mollig (berbokong besar, tentu) ini adalah salah satu temen favorit saya. Karena, walaupun frekuensi ketemuan ga sesering temen2 lain, selalu aja ada sesuatu yang saya dapat ketika selesai berdiskusi atau bahkan hanya sekedar curhat2an. Pintar dan santai, sifat yang paling pengen saya pelajarin dari dia. Bersyukur saya berteman baik dengannya.


24. Panggilan sayang dia buat saya adalah si bintit. Damn!! Entah bener apa engga, nama panggilan itu seperti kutukan buat saya. Saya heran sendiri, kenapa saya sering banget bintitan. Sampe harus dioperasi dua kali. Saya bisa cerita apa aja ke dia. Begitupun dia kepada saya. Mencintainya apa adanya. Walaupun kadang2 suka sebel karena frekuensi pertemuan yang semakin jarang. Sok sibuk lo, mam!!


25. Keputusannya untuk menikah taun ini, membuat saya sedikit "panik". Temen dari SMP yang selalu bisa dicurhatin tentang apa aja. Cantik dan menyenangkan. Spontan dan loveable. Kerjaannya sebagai pengabdi pemerintah, membuat saya semakin yakin, bahwa im not belong to the goverment. Hehehe..


Taun ini, saya bersyukur sangat. Salah satu permintaan saya taun ini kepada Tuhan, semoga mereka di atas, orang2 yang dikirim Tuhan, tetap menjadi orang2 yang akan menemani sepanjang hidup saya.
Terima kasih untuk kalian, ke 25 orang ini, untuk semua yang kalian berikan. Saya mencintai hidup ini karena warna warni yang kalian berikan dalam setiap beda hari yang saya jalani.
Dan terakhir, saya berharap akan ada orang baru yang akan menjadi kawan sehidup semati saya tahun depan. AMIN ^.^


-Anda-


4.9.09

my first winning





Dulu nyokap saya pernah bilang, kalo Eyang saya pernah secara ga langsung "mengutuk" anak cucunya, tujuh turunan teritung dari nyokap, ga akan pernah dapet hadiah APA PUN dari undian. GA AKAN!!! Triiing!!

Hiiiy, kutukan yang menyeramkan! Lagian Eyang saya sadis amat sih. Maen kutuk2 aja anak cucunya ga akan dapet hadiah apa pun. Kan kesian saya yang selalu ngarep berlebihan setiap kali saya ikut undian2 gitu. Ngarep bener walaupun hadiahnya payung ato kaos. Dan kayaknya kutukan Eyang saya beneran terjadi deh.

Buktinya, seumur2 saya ga pernah dapet hadiah apa pun dari undian, doorprize, ato apa lah namanya. Sungguh, saya ga boong.

Sebenernya sisi positif dari kutukan Eyang saya ada benernya juga sih. Bahwa sebaiknya orang tuh harus selalu berusaha. Jangan ngarepin sesuatu datang dengan mudah tanpa usaha. Macam ikut undian berhadiah, apalagi judi. Tapi kan kalo orang usaha buat menang undian mobil jaguar, dengan misalnya rajin ngirimin tutup botol, sampe nyari2 di tempat sampah ato jalan-jalan, itu juga kan usaha namanya ya?!? *iya dong, biar ada yang belain opini sayah*


Sampe saat ini, saya pun sebenernya ga pernah sampe benci Eyang karena udah ngasih kutukan itu. saya mah santai aja. Secara emang ga pernah niat buat ikut2an yang kaya gitu juga. Selain akan kecewa, nantinya. Saya juga aga males ngelakuin usaha2 untuk dapetin sesuatu dari undian berhadiah. Entah udah terdoktrin kutukan itu atau emang ga pernah tertarik.


Jadi kalo setiap ada acara apa pun yang selalu ada kupon atau nomor undian yang berhadiah bla bla bla. Saya selalu santai ngadepinnya. Ah, ini mah ujung2nya Saya kaga dapet. Pasti. Hehehe, sudahlah.


Beberapa minggu yang lalu, Saya pergi ke sebuah tempat ajeb-ajeb kelas atas sama temen. Niatnya pengen liat performance DJ dari negeri temen Saya itu. Saya secara belum pernah ke tempat itu, mau-mau aja diajakin. Sekalian pengen tau juga.

Wuiediiih.. tempatnya emang canggih, teman. Yang dateng bukan ABG-ABG labil macam yang sering dateng ke club di daerah kemang. Yang dateng ke sini, rata2 orang pada balik ngantor. Terlihat dari outfitnya. Terutama cowo2nya ya. Kalo cewe2nya mah, buset dah.. emang niat banget tuh kayanya clubbing. Totaaaal abes dandannya!

Saya dan temen Saya yang niatnya lurus mau liat DJ itu maen, dan bukan buat begaol, jedak-jeduk, ajeb-ajeb- dateng dengan pakean apa adanya. *cenderung ke gembel lebih tepanya* Kami sungguh ga kebayang kalo orang2 di situ ternyata keren2. apalagi cewe2nya. DAMN! Minta dipatah2in tu badan. They're extreamly gourgeous!

so aniwey, setelah kami beli tiket masuk yang lumayan mehong. Kami ternyata dapet dua buah amplop doorprize gitu.
Kami ga gitu tertarik sama amplop itu. Treen -nama temen Saya- langung masukin amplop itu ke tas dan kami langsung ngacir masuk ke dalem, nyari tempat duduk yang pewe, pesen minum dan menikmati musik sambil nungguin Cut Copy main.


Di depan bar, waktu kami mau pesen minuman, seseorang di samping kami tanya : Hey, what did you get from the envelope? Treen dengan bodohnya menjawab : What envelope??. Trus si lelaki asing ini menunjukkan amplop yang sama yang kami dapet di resepsionis tadi, dengan tulisan "Sorry you should try it next visiting"
Aaah. Amplop doorprize, kata saya dalam hati : forget it! Hahaha.

Masih menunggu dan penasaran, si lelaki asing itu tetep berdiri di deket kami dan "memaksa" kami ngebuka dan ngeliat isi amplop itu.
Pertama, Treen buka amplop dan di amplop itu tulisannya bukan "sorry, you should try it next visiting" tapi "Enjoy you free shoot B52"
Wah. Hebat. Treen dapet minuman gratis. Wiehiiiiy. Kami pun berteriak kegirangan. Si lelaki itu pun menyelamati kami, "Cool. You won something tonight!". Treen cengar cengir. Lalu, mata mereka menuju saya. Rupanya mereka penasaran juga sama amplop saya.

Saya dengan percaya diri bilang "FOrget it, mine will be the same as yours" ke lelaki asing itu. "Well, you better check first. open it". Saya buka amplop itu pelan2, sambil tersenyum masih bilang "OH, believe me! I wont win anything. I've been cursed"

Look!! Treen tiba2 teriak. You won too!! Saya dengan cepat ngeliat tulisan di amplop yang awalnya juga berbunyi "Enjoy your....." belum sempat saya baca semua tulisan itu, saya loncat2 kegirangan. Teriak2 "i won, i won, i won!!" *padahal 10 dari 50 orang di situ dapet amplop yang sama kaya saya, dan bersikap santai, biasa aja*
Saya ga perduli sama orang2 di situ. Saya juga ga perduli saya dapet apa. Saya terlalu senang untuk hal ini.

Ternyata kutukan itu berakhir hari ini. Di sini di tempat ajeb-ajeb *Oh, grandpa.. im sorry* dan ternyata setelah saya tenang dan benar2 membaca keseluruhan kalimat itu. Saya mendapatkan sebotol penuh minuman apapun yang sama mau! How cool is that!! Hahahaha.. so happy.

Jadi, begitulah. Sepertinya kutukan Eyang saya sudah hilang. Di hancurkan oleh amplop yang berisi hadiah doorprize di tempat anak muda bersenang-senang ini. Saya ga bisa berhenti tersenyum sepanjang malam itu. Terlalu senang dan excited dengan apa yang baru aja saya dapet. Well, bukan masalah dapet apa-nya, tapi lebih ke masalah "kutukan" itu sendiri.

Saya menukar amplop itu dengan sebotol Vodka. Oh, seandainya hadiah ini bukan minuman keras, saya pasti udah tlp mamah dan akan dengan semangatnya cerita tentang kemenangan saya di doorprize ini. Hahaha.. of course i wont tell her that i just won a vodka!! She'll cry! lol

"Eyang, Neng menang doorprize akhirnya. Tapi Neng ga usaha apa2 ko buat dapet ini. Ini cuma kebeneran, eh keberuntungan. Jadi, boleh dong ya. Trus, maaf lagi, Eyang.. Ternyata Neng menangnya minuman alkohol :P bukan Neng juga yang mau. Jadi ga papa lagi ya..? Hehehe.. i love you, Yang."
May Allah blesses you, grandpa.

Saya masih tersenyum ketika saya menulis tulisan ini. Sambil memandang sebotol vodka yang berdiri cantik di atas lemari saya, dengan segel yang masih rapi tentunya.
Oh, saya bahkan ga tega buat "ngerusak" my first prize ever!!!

Kemang, August 2009

1.9.09

puasa oh puasa

hari ini puasa hari ke-6. Terasa sedikit berat karena gw beraktifitas full. mulai dari pagi-pagi ngantor, trus langsung ngajar ke dua tempat yang berbeda dalam waktu yang berdekatan.

Kebeneran hari ini engga begitu panas. Eh, apa perasaan gw aja? Hehehe, ga tau lah, yang pasti gw ga ngerasa bermasalah sama cuaca. Gw cuma bermasalah sama ketepatan waktu ajah.

kayaknya semua hal yang gw lakuin hari ini kecepetan semua deh. Jadi mau ga mau gw harus nunggu sampai waktunya tiba.

misalnya, bangun kepagian. Yang harusnya alarm bangunin gw, eh malah gw yang bangunin alarm (@#$%^& ??). Trus, sampe kantor, gw juga kepagian, walhasil bos gw yang kebeneran lagi ada di sini (dia cuma dateng ke kantor 6 bulan sekali, karena dia tinggal di Ausie) pagi-pagi udah ngetok2, masuk ke ruangan gw dan mulai ngoceh sana sini tentang kerjaan. Lalu, setelah kira2 setengah jam ngeladenin omongan si bos, gw memutuskan untuk cabut dari kantor lebih awal dan langsung ke tempat ngajar.

Eh, jalanan lancar betul. Mulus semulus paha sophia latjuba.. Gw nyampe setengah jam lebih awal. Daripada tengsin kedatengan (kesannya gw semanget banget ngajar dia) gw akhirnya menghabiskan waktu 10 menit di kamar mandi, buat touch up, 10 menit berbasa-basi dengan sekertaris murid gw, dan sisanya 10 menit berbasa-basi sama sekuriti. Hehehe..

harusnya waktu yang gw habiskan sama murid gw ini satu setengah jam. Tapi emang dasar ni murid gw yang satu ini kepinteran banget. Bahan materi yang udah gw siapin buat 1,5 jam dihajar hanya dalam waktu 1 jam. Haaah, masih ada setengah jam. Kami pun menghabiskan 20 menit ngobrol ngalor ngidul, dan gw dipersilahkan pulang 10 menit lebih awal. "Bonus buat kamu", kata murid gw.

Biasanya, gw jalan kaki dari gedung Standard Chartered ke gedung seberang, Wisma Dharmapala, tempat gw ngajar orang Uni Eropa. Tapi secara ini puasa dan tengah hari pula, gw memutuskan untuk ngangkot aja. Perjalanan yang seharusnya setengah jam dengan jalan kaki, diganti dengan hanya 5 menit saja naik angkot. Ya.. hasilnya, lagi2 gw dateng kecepetan di kantor murid gw yang lain. Gw dikasih tau kalo dia sekarang masih rapat dan baru akan selesai setengah jam lagi. Jadilah gw harus menunggu setengah jam.

OKe.. enaknya ngapain ya? pikir gw dalem hati. Aha, jalan-jalan aja deh. Lalu gw dengan cerdasnya memilih naik-turun *dan bukan jalan-jalan* lift. Jadi, dari lantai dasar, gw naik ampe lantai paling tinggi, trus turun lagi ke bawah. Trus bingung mau ngapain lagi, karena ternyata naik-turun lantai dasar sampe puncak hanya makan waktu 5 menit saja (yaaa iya laaah.. lo pikir ujungnya langit,bisa ampe setengah jam?!)

Mondar-mandir di loby gedung bikin gw keliatan kaya orang linglung. Mungkin karena curiga, mas sekuriti di situ nyamperin gw en nanya "Mba, bukannya tadi mau ke Uni Eropa?" Ditembak gitu, gw ngeles aja "Iya mas, tapi saya tadi lupa mau ambil uang dulu. Di sekitar sini ada ATM Mandiri ga ya?" jawab gw seenaknya. Pdahal ga butuh2 narik uang amat. Hehehe

Eh, ternyata di samping gedung, ga cuma ada ATMnya. Ada cabang Mandiri, kumplit sama teller, cs, dan kantornya. Yaaah, yaudah deh gw jalan ke sana. Daripada gw mondar mandir ga jelas di loby dan gw masih punya waktu 25 menit lagi. Gw ke bank Mandiri aja deh. Iseng sok sok mau nanya ke CSnya tentang tabungan rencana mandiri. Hehehe.. sungguh ga jelas banget idup gw.


Awalnya, gw emang niat iseng maen ke bank Mandiri ini. Secara gw sebenernya ga tau mau nanya apa, dan cuma mau numpang dudukin pantat di sofa nyaman ini. Eh, ternyata kunjungan gw ke CS ini harus berakhir dengan kegalauan hati. Masa ya, data di tabungan gw ga sama. Kaya, misalnya, Nomor ktp gw beda satu angka.Trus no tlp gw ga sama, alamat juga beda. Dan yang paling parah nama nyokap yang gw sebutin ga cocok sama data yang mereka punya. WhAAAT?!?! Sejak kapan gw nulis nama emak gw beda?!?! Waaah, ini memancing penasaran gw. Ampe maksa2 gw pengen liat data gw, si Mba CS malah ga ngasih karena gw ga bawa tabungan dan dia kayaknya curiga gw bukan NURUL HANDAYANI yang punya rekening tabungan itu deh. Haduuuh,,, baru kali ini gw ngerasa dicurigai sebagai BUKAN diri gw sendiri.

Lelah berdebat, gw baru ngeh kalo ternyata gw udah lebih dari setengah jam ngobrol sama si Mba CS. Waduh... sialan. Harusnya tepat waktu, malah ngaret gw.
Hiyaa.. setelah pamit, gw langsung ngacir ke lantai 16 bertemu murid gw.

Syukur, ternyata dia juga baru aja selesai rapat. Dia bahkan belum sempet makan siang karena gw keburu dateng. Hehehe.. you poor thing, Persie :P
Pelajaran berjalan sedikit tersendat karena Persie sepertinya keabisan energi buat belajar setelah meeting panjang hari ini. Ga tega liat dia kecapen, akhirnya gw memutuskan untuk menghentikan kelas 15 menit lebih awal. Dia pun kegirangan. Lalu, kami turun bareng. Gw balik, dia ke kantin, beli makan siang.

Di jalan, gw dapet sms dari Iboy, nawarin mau ikut dia ga ke acara syukuran film Merah-Putih. Tentu aja, pake iming2 ada Zumi Zola (which is gw ga tau itu siapa) dan Darius (nah kalo yg ini sayah tau :D ). Mengingat belum ada kabar dari Katrina buat pergi malem ini, jadi gw putusin buat ikut Iboy aja.
Tanpa berpikir panjang, gw langsung meluncur ke Blok M. Tempat Iboy menentukan meeting point.

Secara ini janjian dengan Iboy, pasti dong dia datang telat. Kali ini ga tanggung2 juga. Satu setengah jam ngaretnya. MANTAB boy!
Satu yang selalu ga pernah bisa gw ngerti dari diri gw sendiri. Padahal gw udah bertaun2 temenan sama Iboy, dan gw TAU dengan pasti kebiasaannya. Tapi rasanya gw selalu (entah kenapa) bisa mentolerir ketelatan dia. Ck ck ck.. must be something wrong with me!!


So anyway, instead of ngambek sama dia pas dia (akhirnya) nongol. Gw menyakinkan dan menghibur diri kalo dia mungkin memang kesulitan nyampe ke Blok M. Gw menghemat tenaga dengan ga marah-marah, atau ngambek. Cape ah. Ga guna juga. Ga ngebalikin waktu 1,5 jam tadi. Jadi ya sudahlah..

acara syukuran film Merah Putih ternyata ga sampe malem2 amat. Sekitar jam 8, kami udah di jalan pulang. Kecapean, gw ga bisa mikirin hal lain kecuali kasur. Iboy pun yang biasanya setiap rabu, nginep di kosan gw, kali ini pamit langsung ke rumahnya saja.


Sampai di kamar, gw langsung mandi dan beres2. Sebelum tidur, gw seperti biasa diam sejenak buat flashback semua kejadian hari ini. Fiuh.. panjang dan melelahkan sekali hari ini. Dan gw masih punya 3 jam untuk istirahat sebelum gw harus bangun makan saur dan kembali beraktivitas besok paginya.

Welterusten...

Kemang, 26.08.09

Punya anak



Saya suka banget anak kecil.
*ini foto sepupu saya, Khansa*


Beberapa taun yang lalu, saya sempet kepengen cepet-cepet punya anak. Itu otomatis artinya sama dengan pengen cepet-cepet nikah juga. Keinginan itu hampir sempet jadi obsesi kira2 dua taun lalu.

Entah harus disyukuri atau disesali, dalam kurun waktu itu ternyata saya belum dipertemukan dengan pasangan jiwa saya. Wallahualam.
sebelum saya cerita tentang pengen punya anak, saya mundur sedikit dulu ke cerita pengen cepet-cepet nikah.

Setelah akhirnya menyerahkan diri untuk berpasrah, dan menyerahkan masalah perjodohan dan keinginan punya anak cepet ke yang maha pemegang hidup, saya menjadi gadis yang bebas. Dulu saya selalu memikirkan pikiran-pikiran atau prasangka orang tentang saya yang belum juga punya kekasih yang settle, yang bener, yang komitmen menuju jenjang pernikahan. Dan itu menyiksa saya.

Kurun waktu setahun ini, saya berdamai dengan diri sendiri. Menyatakan kepada diri saya sendiri, bahwa saya saat ini tidak punya seorang kekasih hati. which is not easy to addmit it!

Ternyata saya baik-baik aja sekarang. dan kalau boleh jujur, saya ngerasa biasa-biasa aja. Ga ada keinginan buat cepet-cepet nikah lagi. Perasaan biasa-biasa aja itu, tentu aja bukan berarti saya ga mau punya pacar lagi. Saya tetap membuka hati untuk yang satu itu. Toh saya juga gadis normal yang kadang-kadang butuh "sentuhan"


Ditambah lagi, saya bertemu dengan beberapa orang baru yang secara ga langsung ngasih saya another point of view of thoughts. Tentang banyak hal. Dan itu membuka pikiran saya lebih luas lagi tentang segala sesuatu. Mungkin bisa dibilang, saya menjadi skeptis tentang beberapa hal. Termasuk pernikahan dan mempunyai anak.


**kembali ke cerita pengen cepet punya anak**

Kemarin, saya pergi ke rumah sakit anak. Mau nengok keponakan, anak sepupu dekat saya, yang lagi dirawat. Dulu kami, saya dan sepupu saya itu, deket banget. Kami udah kaya adik-kaka, selalu berbagi semua cerita dan benda. Semua. sebelum dia akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran laki-laki yang tidak dicintai,tapi disayangi atau mungkin dikasihani karena perjuangannya yang keras untuk menikahi sepupu saya itu. Sejak itu, saya kembali sendiri lagi. Tidak punya saudara perempuan lagi. Waktu itu saya sempat menangis diam-diam. Mengutuki pilihan dia untuk segera menikah. Tapi saya ga mau sepupu saya sedih. Dia cuma mau cepet nikah dan punya anak. Jadi saya berpura-pura senang.

sekarang udah lebih dari 5 tahun usia pernikahan mereka. Dari perjalanan panjang untuk memperoleh seorang anak, sepupu saya ini harus melewati 2 kali keguguran. Dia dulu sempat hancur. Tapi tidak putus asa. Kemudian Tuhan berbaik hati memberikan dia seorang bayi perempuan yang cantik bernama Khansa. Itu keponakan saya.


Tadinya saya pikir saya hanya akan menengok dan berkangen-kangenan aja sama sepupu dan keponakan saya itu, ternyata hari itu pas ketika mereka mau meninggalkan rumah sakit. Jadi saya sekalian saja membantu "pindahan" itu. Sebenarnya, Khansa belum begitu fit. Tapi dia terus2an merengek. udah ga betah sepertinya ada di rumah sakit. dia pengen pulang. Maka sepupu saya meminta dokter untuk memberikan perawatan jalan saja. Berobat di rumah. Dokter pun setuju.

Di jalan, Khansa terus merengek. Nangis tanpa air mata. Kami menyebutnya "rungsing". Anak kecil, kalau abis sakit biasanya rungsing banget. Ngerengek-rengek ga jelas. Ga mau makan, ga mau minum, ga mau diajak ngomong, maunya cuma satu : merengek. Itu kurang lebih definisi rungsing.
Hari udah hampir siang, ketika sampai waktunya buat Khansa minum obat. Sepupu saya lalu membujuk dia untuk makan sesuap dua suap bubur. Dia menolak. Malah memuntahkan apa yang dimasukkan bundanya.

Sepupuku despret. Dia ga tega liat buah hatinya nangis terus. Ga mau makan, ga mau bobo. Kasian. Dengan sabar, sepupuku tetap berusaha menyuapi makanan untuk Khansa. Tapi bayi kecil ini justru tambah rungsing. Sementara obat harus segera masuk, tapi Khansa tetap ga mau makan apa pun.

Tampaknya kesabaran sepupu saya udah abis. Dia kesal. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia menyerah. Lalu dia pergi, menyerahkan putrinya ke Ua (panggilan saya ke ibunya sepupu saya).

Sekitar 10menit kemudian, saya lalu mencari2 kemana sepupu saya pergi. Ga ada di kamar atau dapur. Karena saya pikir dia pasti pergi ke sana. Lalu, tanpa sengaja, saya mendengar suara tangisan dari kamar mandi dapur. Itu suara tangis sepupu saya. Suaranya sendu sekali. Pelan tapi dalam. Saya terdiam mematung di depan pintu kamar mandi itu. Tiba-tiba hati saya diliputi rasa sedih yang entah dari mana. Suara tangis seorang ibu...

saya mengetok pintu dengan pelan dan memanggil nama sepupu saya. Tiba-tiba dia terdiam. Ga ada suara. Lalu beberapa menit kemudian, suara tanggis itu pecah lagi. Dan saya kembali mematung.
Saya tempelkan kuping ini di daun pintu, agar bisa mendengar lebih jelas. Ingin memastikan sepupu saya hanya menangis dan tidak melakukan hal yang tidak-tidak. Saya khawatir..


setelah saya berhasil membujuknya untuk membuka pintu, dia muncul dengan muka merah, penuh air mata. Matanya terlihat lelah. Sambil tetap menangis, saya memeluknya. Berkata, semuanya akan baik-baik saja. Dia tidak berkata apa-apa kecuali menangis.

Saya merasakan kesedihan yang sangat di dirinya. Kesedihan dan kekecewaan atas rasa putus asanya menjadi seorang ibu yang baik. Yang tidak menginginkan apa pun di dunia ini selain melihat putrinya kembali sehat dan tersenyum lagi.

Rupanya sepupuku ini merasa beban menjadi ibu tidak semudah yang seperti ia bayangkan. Dia ingin marah pada putri cantiknya, tapi itu tidak mungkin dilakukannya. Lalu perasaan marah itu berubah menjadi perasaan kesal pada diri sendiri dan pada sang suami yang juga tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi yang paling besar adalah perasaan bersalah tidak menjadi ibu yang baik..


Butuh waktu beberapa jam untuk akhirnya sepupu saya kembali menggendong Khansa dan "berdamai" dengan dirinya sendiri. Selama beberapa jam itu pula pikiran saya pergi ke mana-mana. Saya masih terjebak dengan perasaan bersalah dan putus asa yang baru saja diperlihatkan sepupu saya dengan tidak sengaja itu. Otak saya dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan saya alami seandainya saya ada di posisi sepupu saya.


Kemudian saya teringat dengan keinginan saya beberapa tahun lalu tentang cepat menikah dan punya anak. Dan saya terdiam. Rasanya Tuhan baru saja menjawab keinginan saya.
Tuhan... Sungguh Engkau Maha Tahu kemampuan setiap umatMu.


Serang 23.08.09

19.8.09

poerty...

Malam ini hujan adalah gerimis pertamaku,
Setelah jeda waktu yang lama tertunda.

Ku dengarkan syahdu rintikannya. Merdu sekali.
Aku tersenyum simpul. Mengenang masa itu.

Ah, entah kenapa.. Hujan selalu saja punya sesuatu untukku.
Sakit, senang, sedih, pilu, cinta : semua rasa itu.

Lalu diam-diam hati ini mengadu pada hujan : sudah, cukup!
Mungkin sudah saatnya kau berhenti jalan sendiri.

Waktu ini terus berjalan. Jangan biarkan egomu menang! Bisik sang hati kepada diri.
Nasib tidak akan mengasihani. Dia hanya akan mempermainkanmu.
Ayo lawan!

Biarkan hujan ini muncul dan bernyanyi lagi
untukmu dan kekasihmu, segera.

My (very) first spa day ^.^

Coba saya tanya, kapan pertama kali kamu pergi ke salon untuk lulur? Kalau saya, saya baru aja melakukannya. Ya! Seumur hidup, saya baru ke salon untuk lulur+pikat+sauna untuk pertama kalinya, dua minggu yang lalu.
Dan, kamu tau bagaimana rasanya? Hiuwhuhuhu.. campur aduk. Enak, malu, seneng, relax, canggung, dan nagih!


Pertama, saya ga pernah tau dan ngebayangin kalo ternyata saya HARUS telanjang bulat! Saya menolak dengan halus, dengan tetep mengenakan sehelai penutup di daerah segitiga Bermuda dan pegunungan emas saya.

Itu aja udah bikin saya risih dan malu sama si Mba yang akan memijat dan melulur saya. Lalu, saya dengan posisi tengkurap, pasrah ketika si Mbanya mulai memijit seluruh badan saya. SELURUH BAGIAN BADAN!! Haah, saya benar-benar pasrah. Mau protes, karena malu diri ini ditelanjangi, tapi malah ga bisa ngomong apa-apa karena juga terlena oleh pijitan si Mba yang uenaknya bikin merem melek. DAMN!

Jadilah saya hari itu menyerahkan seluruh tubuh saya kepada si Mba. Penutup di daerah segitiga Bermuda dan pegunungan emas itu sudah entah kemana. Seluruh tubuh saya tiba2 sudah dalam keadaan terbalut lulur green tea yang aromanya menenangkan sekali.

Lalu sementara saya sibuk memikirkan rasa malu yang didera saat itu, saya menengok ke samping kanan dan melihat mamah yang terlihat menikmati pijitan si Mba lain yang memijitnya. Tentu saja mamah saya juga dalam keadaan telanjang sebulat-bulatnya. Dan ga terlihat tuh muka risih atau malu di wajah cantik mamahku. “Maaaah, ppssst… ga malu?! “ tanya saya sambil berbisik. Beliau tidak mengeluarkan suara. Hanya mendongak, tersenyum, menggelengkan kepala kemudian kembali menutup mata lagi menikmati pijitan. Doh! Saya jadi tambah malu. Mamahku murahan sekali. Ga heran anaknya jadi gini.

Yasudahlah, batin saya dalam hati. Toh dia (si Mba yang mijit saya) juga mungkin udah ngeliat banyak badan2 telanjang lainnya. Mungkin udah bosen juga dia ngeliatnya. Tapi tiba2 saya bergidik, hiiiy, si Mba hebat ya bisa tahan liat badan orang (asing) tanpa sehelai benang pun lama-lama. Mijit dan lulur pula! Kalau saya jadi si Mbanya, mungkin saya udah cekakak cekikik atau ilfil liat badan orang yang mau dipijit atau dilulur. Hiyaaa.. Tuhan emang maha adil.

Badan rasanya enaaaaaaaak banget setelah proses peluluran, pemijatan, sauna dan terakhir mandi selesai. Senyum mengembang. Badan terasa segar sekali. Saya dan mamah merasa dipuaskan. Aaaah.. mantab. Kemudian, saya berkata dalam hati, minggu depan ke sini lagi aaah.. mau setor badan ke Mbanya. Hehehe..
Serang, 2 agustus 2009

My new room

*….“Me and Mrs. Jones.. we’ve got thing going on”….

Malam ini saya duduk di depan kamar baru saya ditemani netbook yang memutar lagu2 Michael Buble. Nikmat sekali rasanya. Menenangkan. Untuk pertama kalinya dalam waktu hampir setahun ini, saya akhirnya benar-benar baru mensyukuri nikmatnya punya kosan yang nyaman. Saya ga bilang kalo kosan yang lama ga enak. Hanya saja, kamar baru ini lebih membuat saya tenang dan nyaman berada di perantauan.
Saya percaya, semua udah ada jalannya. Begitu juga dengan kosan ini. Mungkin memang udah jalan saya buat tinggal di kamar ini. Kamar yang cukup luas dengan bonus balkon di depannya. Yes, it’s in second floor. Dan dengan keadaan yang hampir serasa di rumah, juga cuma kurang orang2 rumah aja, bikin saya dua hari ini pengen cepet-cepet pulang terus.


Jadi, proses kepindahan saya ke kamar baru ini bisa dibilang proses paling cepet dalam sejarah hidup nomaden saya.

Saya “menemukan” kosan ini kosong, malam hari waktu saya iseng jalan-jalan lewat kompleks menuju kamar Treen. Waktu itu saya mau ngambil laptop yang ketinggalan di sana. Sebenarnya saya emang udah lama banget pengen kos di sini. Engga obsesi sih. Cuma keinginan keras aja *apa bedanya ya?!* Jadi kalau saya pulang dari kantor, jalan kaki motong jalan lewat kompleks elite ini, saya selalu basa-basi nanyain apa masih ada kamar kosong di kosan ini. Dan jawabanya udah pasti selalu “Maaf Mba, udah penuh”. Tapi entah kenapa, malem itu saya tergoda buat nanya lagi, padahal saya inget banget saya baru nanya hal yang sama ke kosan itu 2 hari yang lalu, tapi dengan orang yang berbeda. Beruntung saya waktu itu bertemu langsung dengan orang yang punya rumahnya. Bukan dengan penghuni kosan yang selalu saya tanya kemarin dulu.

“ada satu kamar kosong, Mba. Di atas. Tapi itu nyatu sama rumah saya. Jadi, mau ga mau harus lewat rumah saya kalo keluar masuk.” Begitu kata si bapak dengan muka ga excited melihat saya. Mungkin dia belum siap nerima saya sebagai salah satu penghuni kosannya karena penampakan saya yang imut, manis, lagi menggoda ini :P
“Mau liat dulu?” tanya dia. saya mengangguk, lalu langsung mengikutinya masuk ke dalam rumah dan naik ke tangga lantai 2. Kamar itu terletak di pojok. Di lantai dua hanya ada 3 ruangan. Dua ruangan besar dan satu kamar mandi. Selebihnya ruangan yang sengaja dikosongkan. Mungkin biar keliatan lebih bersih dan lega. Bapak itu membuka salah satu kamar, menyuruh saya masuk dan melihat ke dalamnya. Ah! Batin saya dalam hati. Ini kamarnya?? Saya masih celingak celinguk melihat keadaan kamar. Oke juga. Lumayan besar.


Belum selesai saya celingak celingukan, si bapak tiba2 ngebuka pintu kamar dan jalan ke luar kamar. Damn! It has a little balcony in front! Cool. Hati saya langsung
tersenyum dan jejingkrakan. Tapi saya berusaha untuk tetep keliatan cool di depan si bapak itu. Wiedih, canggih juga ni kamar. Selain bersih, luas, ditambah ada balkonnya juga. Chakep!

Hmm, oke. Boleh juga. Lalu saya mulai menaksir-naksir berapa kira-kira harga kamar itu. Perkiraan saya pasti lebih mahal seratus atau dua ratus ribu dari kamar saya yang dulu. Kalau emang iya, worthed juga sih. “Kamar mandinya yang itu ya, pak?” tanya saya sambil nunjuk ruangan kecil di sebelah kanan kamar. Dia mengiyakan. Dua kamar dan satu kamar mandi. Not bad. Lagian tempat ini bersih banget. suka saya. Jadi, langsung aja saya tanya berapa harganya. Begitu dia kasih tau harganya. Saya sungguh ga bisa menyembunyikan ekspresi muka saya yang pengen nyium si bapak di depan saya itu. Waaaah, ternyata harganya sama dengan kosan lama saya. Sama. Huaaa, senangnya bukan main saya waktu itu. Rasanya pengen langsung tidur di kamar itu (ahahaha, kelebayan dimulai).

Karena saya tujuannya hanya iseng, meliat-liat saja. Jadi saya ga lama-lama. Satu yang pasti, saya harus memikirkan kesempatan untuk punya kamar ini. Setelah nomor si bapak di tangan, saya pamit dan langsung meluncur dengan langkah super duper ringan ke kamar Treen. Yeeepeee! Besok pindah aaaah, kata saya pada diri sendiri.
Malamnya, saya langsung mengabarkan berita ini ke Iboy n Dabu. Saya bilang kalo saya mau pindah besok. Padahal saat itu, saya belum memutuskan apa-apa. Belum bilang ke ibu kosan yang lama, belum bilang kepastian “iya” ke bapak kosan yang baru, belum bilang sama nyokap *which is sampe sekarang belum tau tentang kepindahan anaknya*, dan belum sempet bilang sama temen2 yang lain. Pokonya saya minta bantuan mereka berdua untuk membantu saya memindahkan barang ke kosan baru besok, karena kalau harus nunggu sampe minggu depan atau lusa, saya ga enak sama ibu kosan yang lama, karena udah masuk itungan bulan baru. Jadi, pilihannya : kalo mau pindah harus besok atau bulan depan. Saya ga mau dan ga rela ngelepasin kamar berbalkon itu buat orang lain atau harus nunggu sebulan lagi. Semalam saya mikirin, gimana ya caranya besok saya bisa pindah?!?!

Saya memandangi kamar saya. Besok beneran mau pindah nih? Bisa apa? Tanya saya pada diri sendiri. Saya ga bisa tidur sampe jam 2 karena mikirin ini. Sampe akhirnya saya sadar kalau saya harus tidur karena besok pagi udah janji mau jogging pagi sama Iboy n Dabu, sebelum pindahan. Okey. Sebelum akhirnya saya tidur, saya memantapkan diri untuk pindah besok sore. Pagi-pagi saya akan telepon bapak kosan, untuk mengiyakan. Trus, beres2in barang dan minta izin sama ibu kos kalo saya pindah sore ini. Sip! Sekarang waktunya tidur.
Singkat cerita, besok paginya setelah kami bertiga selesai jogging dan jalan2 di Melawai, kami pulang ke kosan lama saya. Kami sempet istirahat, tidur2an siang dan nonton dvd dulu.

Sorenya setelah packing kilat (hanya setengah jam ajah) kami berhasil memboyong semua barang2 saya ke dalam satu bajaj. Mantap. Dabu dan Iboy harus duduk di bajaj lain karena bajaj satu udah penuh dengan barang2.
Proses pemindahan ternyata lebih cepet dari proses packing tadi. Dalam kurun waktu belasan menit, semua barang udah ada di kamar baru saya. Awalnya saya masih dalam perasaan sadar-ga sadar kalo saya beneran pindah. Prosesnya cepet banget. Tau2 sekarang semua barang saya udah bergeletakan di kamar baru ini. Saya juga masih belum yakin dengan keputusan saya. Tapi begitu liat ekspresi dan pendapat dua sahabat saya tentang kamar ini (terutama Boyke yang tampaknya suka banget sama balkonnya) saya langsung ngerasa yakin dengan keputusan yang saya ambil. Maybe this is it.

Jadilah saya sekarang di sini. Sendiri. Di balkon kamar baru saya. Menulis cerita tentang proses perpindahan yang super duper cepat. Dan sepertinya saya akan betah berlama-lama duduk di malam hari di balkon ini 

*…. “same place… same time.. everyday at the same café..”….
*Me and Mrs. Jones : Michale Buble
Kemang

6.8.09

Holland, im coming!!!




Hari ini aku janjian ketemu sama seorang temen di Fx buat ngopi2. Awalnya aku pikir ini pertemuan kami cuma akan berakhir dengan ketawa-ketiwi dan biasa aja. Tapi ternyata engga. Kami sebenernya ga ngomongin sesuatu yang penting juga sih. Obrolan ringan aja. Tapi, dia tanpa sengaja mengangkat isu ini ke permukaan, dan aku sangat excited begitu tau hal itu.

Jadi, kami tadi ngomongin tentang pergi ke Belanda. Aku sebenernya ga terlalu mikirin obrolan kami. sampe pas di kosan, Aku tiba2 kepikiran kata temen aku tadi.

“ongkos ke Belanda ga mahal2 amat ko kalo lo lagi lucky” terus, karena aku ga percaya dia ngomong gitu, dia dengan semangat memperlihatkan daftar harga tiket dari sebuah perusahan penerbangan ternama dari Belanda. Damn! Ternyata bener. Aku tetep masih ga percaya. Oh, ini harga sekali jalah yah? Tanya aku ke dia. “ini udah tiket pulang-pergi, nda” Whaaaaaaaaaaaaaaat?!?!? Aku ga percaya. Sungguh! Bukannya aku ga percaya dengan harga tiket yang murah. Tapi, aku ga nyangka kalo tiket PP Jakarta Belanda bisa segitu, karena aku pikir harga tiketnya dua kali lipat dari harga yang dibilang temen aku itu.

Buat aku pribadi, harga segitu masih termasuk mahal. Gile, kerja rodi berapa bulan dulu tuh biar bisa dapet tiket PP Jakara-Belanda?!?!

Aku masih belum bisa berhenti mikirin harga yang tercantum di layar laptop itu. Masih terlihat jelas di depan mata ini. Bahkan ketika aku menutup mata. Damn! Dalam hati aku ngoceh sendiri, “Masa lo ga bisa pergi ke Belanda sih?!?! Lo pasti bisa! Coba deh” terus, masih dalam keadaan mata tertutup, aku mulai menghitung2. Mmmm.. bukan ga mungkin aku pergi ke Belanda awal taun depan kalo aku konsisten nabung dari sekarang, batin aku sambil tersenyum.

Lalu, dengan spontan tanganku mencari2 handphone di dalam tas dan langsung menelepon ke sebuah nomor. Ya, aku langsung menelepon mamah. Aku harus bilang dari sekarang. Untuk meminta izinnya. Kalau dari sekarang ga diizinin, pasti nanti ga akan terjadi. Segimana pun aku banyak uangnya. Jadi, dengan semangat dan penuh harapan, aku menceritakan detail tentang keinginan tiba2 ini. Ga tiba2 sih. Dari dulu emang pengen ke Belanda, tapi Cuma di bibir saja, ga ada usaha buat make it real. Nah kalo sekarang, beda. Entah dari mana, keinginan itu saking kuatnya sampe aku bisa merasakan energy positif yang sangat besar. Sinting!

Awalnya mamahku seperti biasa, “melarang” dengan bahasa doi. Hahaha,, apal banget deh aku tabiat mamahku sayang ini. Tapi dengan semangat yang menggebu2, entah dari mana, aku tetap meyakinkan mamah untuk, setidaknya, memberi respon positif pada mimpiku yang satu ini. Sampai ketika mamah tanya, “emang mau ngapain di Belanda?” aku, dengan enteng jawab “Ya pengen aja ke Belanda.”

Aku tau mamah ga akan ngebiarin aku lepas dari pertanyaan ini. Dia masih tetep memaksa aku buat ngasih alesan yang lebih masuk akal dan berarti dari sekedar “ya, pengen aja”. Untuk selang beberapa menit, aku terdiam. Damn, I couldn’t find another reason beside that “Ya, pengen aja” reason! Aku sebel sama diriku sendiri. Trus, aku minta mamah tunggu sebentar (aku bener2 mikir alesan kenapa aku pengen banget ke belanda).

Dengan sabar, mamahku menunggu. Lalu aku bilang “pokoknya teteh mau aja ke Belanda. Teteh kan belajar Belanda 4 taun. Sarjana sastra Belanda, masa belum pernah ke Belanda. Kan malu kalo ditanya orang! Lagian semua orang yang nanya teteh, udah pernah ke Belanda belum, trus kalo teteh bilang belum, mereka semua pasti bilang teteh aneh. Belajar bahasa Belanda ko ga pernah ke Belanda. Teteh sebel. Pokonya harus ke Belanda. “ jawab aku menggebu2. “oh iya, teteh pengen liat semua gambar2 yang ada di buku teteh langsung. Mau liat universitas2 di sana. Pengen liat langsung!” tambahku dengan mulai keilangan control. Hahaha mulai mengada-ada, aku tau.

Tentu saja, mamahku punya sanggahan2 yang mematikan alesan aku yang ga masuk akal (menurut mamah) itu. Dan damn lagi. Aku jadi sebel sama diriku sendiri, karena membenarkan ucapan mamah. Bahwa ternyata aku emang sebenernya ga jelas punya tujuan apa ke sana.

Tapi akhirnya (seperti biasa) mamahku memberikan izin dan lalu menyemangatiku dengan syarat, aku harus makan banyak dan harus sehat (jaga kesehatan, ga sakit2an) plus ga boleh ngeluh! Hahaha, susah tuh mah kayaknya yang terakhir. Aku juga berjanji buat menyerahkan diri sepenuhnya (harfiah, bener2 seluruh tubuh) kepada mamah, boleh nyuruh aku apaaaaaaaaaaaa aja, setelah keinginan aku pergi ke Belanda terwujud. Sepulangnya dari Belanda, mamah bebas menentukan hidupku. Aku pun berjanji dan mamah mengiyakan. Afgesproken dus!

Waktu aku mandi, aku masih kepikiran. Sialan. Masa aku ga tau sih tujuan aku pengen ke Belanda apa?!? Damn it! I’ve should know it, right!!?! Dan begitu selesai mandi, badan segar dan pikiran jadi fresh juga, aku nemuin beberapa alesan konkrit kenapa aku mau pergi ke Belanda!

· Aku pengen liat kincir angin yang asli

· Aku pengen liat tulip

· Aku pengen makan patat di pinggir kanal

· Aku pengen naek sepeda dari ujung utara Belanda sampe ujung selatan Belanda

· Aku pengen liat universitas2 terbaik yang ada di Belanda

· Aku pengen ketemu semua orang2 yang sudah aku janjiin akan bertemu

· Aku pengen foto2 dengan background Kincir angin, dan

· Aku ingin berbicara dan mendengar SEMUA orang dalam bahasa belanda!!

Hmmm.. alasan yang cukup banyak juga, ternyata. Walaupun sebenernya ada beberapa hal yang bisa didapet di sini *kecuali no 3, 4, 5,7 dan 8*

Aku pasti bisa mewujudkan ini semua. Aku yakin!! Passport udah di tangan, dan izin nyokap (dan ini yang paling penting) udah dapet. Yang harus aku lakuin sekarang adalah F.O.K.U.S dalam mewujudkan impian ini. Lalu percaya bahwa universe akan bekerja dengan sistemnya sendiri.

So, Holland be ready for cos im coming to you, soon!!

Anda

2.8.09

Mau bikin wish list aaaaah.. biar kaya Iboy and Mr.O
Waduh,mulai dari mana ya? Ngaruh ga letak harapan gw sama prioritas terwujudnya? Mudah2an engga ya. Hehehe…

Okey, let’s see :
1. Aku mau ke Belanda taun depan. Untuk belajar (short course) di salah satu universitas di salah satu kota (mmm, di kota apa ya? Belum nemuin yang cocok. Nanti aku survey dulu, kalo udah aku tulis ulang lagi)

2. Punya tabungan yang cukup buat hidup di Belanda taun depan

3. Ikut test toefl dan dapet nilai di atas 550.

4. Punya usaha bareng temen-temen deket. Apapun itu. Sebenernya lebih pengen usaha makanan gitu. Jual2 cemilan atau makanan kecil dan bisa meledak macam Es Pocong, Tempe Mendoan, Ktela Krezz, dll.

5. Pengen beli sepeda lipat (folding bike) kaya punyanya Katrina

6. ipod yang kaya Divi ^.^

7. Belajar nyetir (sebelum punya mobilnya)

8. Bisa ngejait lagi

9. Bikin buku

10. Oh iya, kerja di Majalah Time Out Jakarta!!! Dan pindah kosan di daerah Setia budi yang deket sama Boby

11. Lebih sering balik ke rumah, nyalon atau pijat sama Mamah. Dan nyoba2 makanan baru sama orang rumah.

12. Punya pacar yang serius (tapi bukan berarti harus cepet-cepet nikah ya. NO)

13. Bertemu dan ngobrol sama pak Rhenald Kasali.

14. Nonton konser music (band fav : Incubus kalo lokal : gigi, Slank, peterpan, the sigit, efek rumah kaca. Dan michael Buble kalo sanggup. Hehehe)

15. Mmm.. apa lagi ya? Kalo gw tulis pengen punya mobil di sini, mungkin gay a?? ini wish list buat waktu tak terbatas kan ya? Soalnya aga susah kayaknya kalo harus diwujudin dalam waktu setaun buat punya mobil, secara gaji masih pas-pasan :P Sorry, pake curcol. Aku mau mobil pegeout tipe apa aja. Huhuhuy.. sllluuurrrp!! Klein maar fijn.

16. Pergi naek haji sama Mamah-Papah-Abang-Dede

17. Liburan ke luar negeri sama temen2 deket.

18. Diving di Bunaken

19. Berenang sama lumba-lumba di lautan lepas

Okey, untuk sekarang itu dulu deh. Gw yakin sebenernya masih banyak keinginan gw, tapi sekarang ini Cuma itu dulu yang gw inget.

Goed. Sekarang yang harus gw lakuin adalah PERCAYA dan YAKIN bahwa list yang udah gw bikin di atas akan jadi kenyataan. Berpikir positif dan biarkan universe yang berkerja dengan sistemnya sendiri. MANTAFF, gan! Selamat berpositif-ria dan tetep berusaha tentunya!


Positieve Anda

July 31, 2009

minggu pagi di rumah

Yeahaaa… nulis nulis nulis terus. Gw lagi ga bisa berenti nulis nih. Bagoooos. Itu artinya gw produkip. Eh, produktif, maksudnya. Maaf, aksen sunda sayah.
Ini hari sabtu, dan aku lagi bersantai di rumah, di kamar nyokap lebih tepatnya.

Sambil ngetik-ngetik dengerin lagunya The Ting Things. Mangstab deh. Tumben hari ini aku bangun pagi. Biasanya baru bisa bangun jam 10 atau 11 baru mandi dan beraktivitas : makan dan nonton tv. Hehe..

Jam 6 tadi aku udah bangun karena (seperti biasa) dibangunin buat solat subuh. Duh kalo dikosan pasti udah bablas. Yaudah deh, gw bangun dengan mata masih ketutup dan begitu kena air wudhu, sssssshhh… dinginnya bikin melek. Jadilah setelah selesai solat, yang biasanya dengan mudah gw balik lagi ke alam mimpi, ini malah ga bisa lagi.

Yaudin deh, gw jalan ke dapur yang wanginya menggoda di pagi hari.
Mamah udah berangkat ke sekolah waktu gw makan pisang goreng yang masih anget ini. Lekker. Terus, bantuin bokap bentar ngurusin cucian baju, hehehe sebenernya ga bantuin apa-apa sih, Cuma basa basi pegang2 baju kotor doang, selebihnya bokap yang ngelanjutin nyuci. Gw ke depan buat nonton tv. Aaah, pagi2 acaranya basi. Jadi gw buka YM dan ternyata ada bokinnya si Dain. Chatting lah gw sama dia. Cuma sejam, gw pamit udahan chattingnya karena ade gw makan sop ayam buatan nyokap yang wanginya menggoda iman. Langsung gw ngibrit ke dapur buat ambil semangkok sop ayam. Hmmm.. lekker!!! My mom is the best chef in the world!!!

Selesai makan sop super nikmat itu, gw balik lagi ke ranjang nyokap. Nyalain netbook dan mulai menulis. Hohohoho..
Hari ini rencananya mau ke salon. Mau luluran bareng nyokap. Abis itu mungkin mampir ke KFC buat numpang internetan gretong sambil makan es krim. Sekalian mau ngerjain kerjaan yang kemaren ga sempet dikerjain, trus kirim surat lamaran ke Shangri-la Hotel, trus, mau cek2 email juga. Dan blogging lagi tentunya. Huhuuuy!!

Eh, ngemeng-ngemeng, ini tanggal 1 agustus ya? Waaah selamat bulan agustus, teman. Semoga ini menjadi bulan yang baik untuk kita semua. Pertengahan bulan, puasa ya? Duh,belum bayar utang euy. Hehehe bisa kebayar ga ya??

Serang,
01/08/09

Tidur di Kopaja

Untuk pertama kalinya dalam hidup, gw tertidur di kopaja! Seumur-umur gw ga pernah tidur di kopaja atau angkutan umum lainya. NOOIT. Tapi kemaren gw tertidur, tanpa disadari lumayan lama. Sampe pas akhirnya gw kebangun udah deket pejaten. Pas gw bangun, jantung gw dag dig dug der.. deg-degan ga tau kenapa. Mungkin ketakutan karena baru sadar kalo ternyata gw ketiduran.

Dari dulu, nyokap selalu wanti-wanti “Jangan tidur di bus atau angkot!!”. Itu selalu diulang2 terus selama bertaun2 dari gw kecil. Jadinya itu udah kaya doktrin, nempel di kepala gw sebagai suatu perintah yang tanpa disadari selalu gw lakuin. Entah karena takut ngelanggar perintah nyokap atau emang terbiasa ga tidur di angkutan umum.

Tapi dua hari yang lalu dan kemaren, gw bener2 ketiduran di kopaja. Walaupun tidurnya Cuma, kira-kira, 5 atau 10 menitan, tapi tetep aja namanya ketiduran. Gw jadi inget temen2 gw yang bisa banget tidur di bus patas, angkot ato kopaja. Sebut saya namanya Dahlia (nama asli, Hehehe) dan beberapa teman lain yang bisa dengan nyenyak bahkan sampe mangap-mangap (mungkin saking enaknya and feels like home kali yaa).

Hihihi, jadi inget Martha, salah satu temen gila gw di kampus, yang beberapa kali tidur di bus patas AC jurusan Depok-Kota 86. Waktu itu kami lagi ada zomer kursus di Erasmus yang mengharuskan kami berangkat pagi2 buta dari Depok ke Kuningan naek bus yang kaya kaleng itu. AC tapi ga dingin. Bau dan selalu penuh pula. Aaah bikin bête deh pokoknya.

So anyway, jadi si Martha ini kalo lagi beruntung dapet tempat duduk (sementara yang lain selalu berdiri dan gelantungan kaya anak monyet), dia selalu ketiduran di bus itu. No matter what situation was. Parahnya lagi, ni cewe total banget dah kalo udah tidur. Ampe mangap-mangap pula. Geli deh pokoknya kalo gw ngebayangin lagi. Bikin cekakak cekikik. Sayang waktu itu gw belum punya kamera. Kalau udah, pasti gambar dia pas mangap2 tidur di bus udah menghiasi blog gw ini. Heheheeh, pisss taaaa!

Walaupun gw ga sampe tidur mangap-mangap, karena selain itu di kopaja, yang sepertinya aga sulit juga dengan posisi ga sePEWE bus AC, tapi gw sempet merasakan enaknya tidur di angkutan umum. Man, kalo emak gw tau, ga kebayang deh lebaynya nanti.

Percaya atau engga, gw nulis ini di dalem bus Primajasa jurusan Kp. Rambutan-Merak menuju Serang, rumah tercinta. Kebeneran busnya ga penuh. Nyaman dengan tempat duduk lega dan AC pula. Di luar lagi macet, bosen liatin mobil, gw ngeblog aja deh. Hehehe..

Sebenernya lebih ke alasan ga mau ketiduran lagi sih. Karena perjalanan Jakarta-Serang kira-kira akan memakan waktu 2 jam (tapi secara sekarang pake macet, jadi mungkin 2,5 jam). Kalo gw Cuma bengong, gw pasti ketiduran secara gw kurang tidur belakangan ini. Ga mau dan menghindari tidur di bus, jadi membunuh waktu dengan menulis.

Anda,

Jalan tol MT. Haryono

31th July 31, 2009

Kembar

In my life, saya selalu -tanpa sengaja- berada di lingkungan yang berhubungan dengan kembar. Ya. Percaya atau tidak. Keadaan kaya gini saya sebut dengan lingkaran kembar. The circle of twins. Dimulai dari lingkungan terdekat : keluarga.

Saya cuma punya adik cowo satu, tapi kembar *Jadi saya ralat, saya punya dua adik cowo. Kemudian, saudara jauh saya (bisa dibilang seperti tante) yang baru menikah beberapa tahun lalu, sekarang punya anak kembar cewe. Waktu di kampus, dua orang temen deket saya juga kembar. Dosen saya, kembar. Lalu setelah bekerja sebagai guru, saya punya satu murid cowo kembar (dua-duanya murid saya), dan satu orang murid yang punya anak kembar cewe. Jadi, total orang kembar yang ada di sekeliling saya saat ini ada : 14 orang a.k.a 7 pasang. Yes. That many, people!

Let me write them all here :

* Adik saya : I used to call them Abang and Dede ( real nama are Benbella and Febri)
* Keponakan saya : Sinta dan Santi
* Teman dekat : Icha and Dino
* Temen kampus : Meida and Meida
* Dosen : Mv. Arie and her twin sister *saya ga tau namanya siapa
* Murid saya : Matthew and Stuart
* Anak murid saya : Diana dan Sofia

Dari tujuh pasang kembar itu, cuma satu pasang yang kembar cowo-cewe : Icha and Dino

Beberapa bulan yang lalu, saya berkenalan dengan seorang yang ternyata kembar juga. Mereka adalah teman dari senior saya waktu kuliah. Mereka orang belanda. Namanya Niels dan Erik. Saya kenal mereka hanya dari obrolan di YM messenger dan FB. Ga pernah kepikiran kalau suatu saat akan bertemu dengan mereka.

Ternyata, mereka sedang melakukan long traveling ke sebelah bagian dunia : mulai dari Belanda, Inggris, Jepang, Korea, Vietnam, Kambodja, Thailand, Indonesia, Singapore, Malaysia dan akan balik lagi ke Belanda. Fiuh.. kinda cool trip huh?! *iri mode : ON

Sebulan yang lalu, kami ga sengaja online dan ngobrol. Dari obrolan itu saya tau kalau mereka akan dateng ke Indonesia dalam rangka tur panjang mereka. Saya sih seneng2 aja mereka mau nengokin Negara saya ini. Secara keliatannya mereka aga2 freak sama segala sesuatu yang berbau Indonesia. Jadi sebagai teman yang baik saya bilang “you’re always welcome in my country” . kemudian si kembar berkata “Thanks, we’ll see if we maybe could meet someday in your city”. Oke, jawab saya singkat.

Waktu sebulan ga terasa, tau2 mereka udah ada di Indonesia, Jakarta lebih tepatnya. Mereka memberi kabar bahwa mereka akan tinggal kurang lebih 3 minggu di Jakarta dan bertanya apakah ada kemungkinan kami untuk bertemu.

Mulanya saya aga males-malesan buat bener-bener ketemuan. Mmm, selain karena aga susah ngatur jadwal kerja saya dan waktu luang mereka, saya juga sebenarnya ga deket2 amat sama mereka. So I wasn’t really excited at that time. Tapi setelah dipikir-pikir, sayang juga kalau sampai ga ketemu. Lagian, lumayan juga untuk menambah jumlah angkat di list “orang kembar yang saya kenal” hehehe..

So yeah, akhirnya kami bertemu juga. We had a good time. Dan saya merasa puas dan senang bisa bertemu langsung dengan mereka. They are such a good person. Truely. I almost felt in love with them. Dari tujuh pasangan kembar di atas, termasuk adik2 saya. Jenis kembar satu ini menarik sekali. Baru kali ini saya bertemu dengan kembar yang bangga dengan kekembarannya. Sungguh! Adik saya?? Naaah, I don’t even sure if they’re born as a twin brother. They’re totally different! Sedangkan mereka? Mereka seperti mensyukuri dan bisa dibilang bangga sekali dengan status mereka : anak kembar. *plok plok plok, saya harus bertepuk tangan untuk hal yang satu ini.

Awalnya saya cuma terkejut dengan kesamaan atribut luar mereka macam, baju yang SELALU sama. Sepatu dengan warna, model dan ukuran yang sama. Bahkan gelang kecil yang dipake mereka juga sama-sama di sebelah kanan. Beruntung hari itu mereka memakai celana dengan warna yang berbeda. Kalau ga, matilah saya berusaha sekuat tenaga membedakan mereka. Tapi kemudian, setelah mendengar cerita lengkap mereka tentang kehidupan yang mereka jalanin selama ini. Saya bahkan tambah terkejut dibuat mereka. Boooooo, mereka beneran sama dalam semua hal!! I mean SEMUA. Saya ampe keabisan pertanyaan menanyakan apakah mereka sama dalam satu hal, dan jawabannya selalu “yes, we have that thing same.” Hmmm… now im really speechless

.

Bertemu dengan mereka dan akhirnya kenal lebih jauh dengan mereka membuat saya selalu bertanya-tanya. Kalau semua yang mereka pakai sama, misalnya dalam hal pakaian, lalu siapa ya yang menentukan mau pakai baju apa hari ini atau besok ya? terus, kalau misalnya salah satu di antara mereka nemuin cewe duluan, gimana ya sama yang satu laginya? Ga kebayang. Pasti bakal dilematik *sotoy berat, Anda.

Saya sendiri tidak pernah berharap (kalau bisa, jangan sampai) mendapatkan pacar atau suami yang kembar. Duh, saya benar-benar sudah merasa tercukupi dengan orang-orang kembar di sekeliling saya. Saya sebenernya sedikit cemas kalau-kalau nanti ternyata saya akan punya anak kembar (please God, you know my capacity and ability) secara saya memang mempunyai gen kembar yang cukup besar dilihat dari sejarah keluarga. Jadi, mudah-mudahan Tuhan berbaik hati memilihkan saya seseorang yang bukan kembar atau ada keturunan kembarnya. Saya mau yang normal saja ^.^

Kemang, 29th July 29, 20009

27.7.09

Aha! Ternyata *bajaj itu…^.^

Pernah naek bajaj? Dulu, kira-kira empat taun yang lalu, waktu saya masih jadi anak baru di depok, saya ga bisa ngerasain gimana rasanya naik bajaj. Bajaj ga ada di daerah Depok. Jadi saya harus pergi ke daerah-daerah di Jakarta untuk merasakan naik bajaj. Saya lupa di mana tepatnya saya naek bajaj untuk pertama kalinya. Yang pasti saya senang waktu itu. Excited.
Empat tahun sudah saya jadi lebih dekat dengan kendaraan beroda 3 ini. Apalagi semenjak saya bekerja dan tinggal di kemang. Bajaj adalah kendaraan favorite saya untuk mobilisasi ke tempat2 ngajar, selain ojek di saat2 darurat tentuny. Selain karena murah meriah, naek bajaj juga kurang lebih rasanya kaya naik becak. Cuma, bajaj goncangannya lebih dahsyat. Kalo diibaratin gempa, bajaj kira-kira 5 skala richter lah..
Intinya saya suka naek bajaj. Selain rambut ga jadi berantakan seperti yang selalu terjadi kalau saya naik ojek, saya juga bisa bertouch-up ria di dalam bajaj sebelum sampai tempat tujuan. Terus naik bajaj menghindari (setidaknya) bau atau aroma tidak sedap seperti kalau saya naik kopaja. Walaupun kadang2 saya juga suka sebelnya setengah mati kalo diasepin bajaj di tengah jalan or lagi di trotoar. Duh asepnya bikin engap-engapan kaya difogging. Maar goed. Nah si bajaj ini bener2 jadi penyelamat saya ketika saya harus melewati daerah blok M yang luar biasa dahsyat polusinya. Saya sebel banget deh kalo harus turun dari transjakarta di Blok M dan harus nunggu bus 605a ke arah kemang. Selain nunggunya yang butuh waktu luamaaa, saya juga ga suka sama aura Blok M. kotor. Duh. Ujung2nya saya nanti pasti menyesali diri dan mengeluh macam “kenapa ya gw ada di sini. Kenapa gw harus ngalamin ini. Kenapa gw bla bla bla..” saya paling malas kalau saya udah ngeluh sama diri sendiri. Jadinya ga asik. Hehe.. oke, kembali ke bajaj. Kemaren waktu saya baru pulang jalan sama Iboy, kami memutuskan buat naek bajaj dari blok M ke kosan saya.
Lalu di dalam bajaj kami seperti biasa tetep ngobrol dengan volume ditinggikan satu oktaf, tentunya. Di tengah perjalanan, pas bajaj lagi di lampu merah, saya tiba-tiba terdiam. Mikir. Terlintas satu pertanyaan tentang bajaj, padahal kami sedang tidak berbicara tentang bajaj. Saya kemudian bertanya ke Iboy “Boy, bajaj kalo isi bensin di pom bensin juga ya?” Iboy yang ditanya jawab “mmm.. di mana ya? Ga tau gw. Iya ya. Di mana ya?” lalu saya melanjutkan lagi “seumur-umur gw di sini, belum pernah gw liat ada bajaj di pom bensin. Bajaj bahan bakarnya bensin apa minyak tanah sih?” tanya saya dengan bego. “Bensin, nda. Tapi mungkin mereka emang ga isi di pom bensin. Beli di pinggir jalan kali. Yang di dirigen2 itu loh. Gw juga belum pernah liat bajaj di pom bensin sih.” Kata Iboy yang kemudian diem, membenarkan pertanyaaan saya lalu terlihat berusaha mengingat apakah dia pernah melihat bajaj di dalam pom bensin mengisi bahan bakar. Saya juga jadi ikutan diem. Mencoba mencari jawaban sendiri pertanyaan saya itu. Hmm.. isi bensin di mana ya si bajaj2 sayang ini??
Tau ga sih?!?! Hari ini, waktu Divi nganterin saya pulang dari rumah Dista, sebelum sampai ke kosan saya, kami mampir dulu ke pom bensin kemang selatan buat isi bensin. Pom bensin di kemang emang ga sekeren pom bensin yang ada di Mampang , Tendean atau pom bensin besar lainnya. Tempatnya kecil dan petugasnya sudah lumayan berumur. Cuma ada satu mesin pengisi. Jadi kalaupun mengantri, cuma ada dua sisi. Di kiri atau kanan mesin pengisi bensin. Mobil Divi langsung belok ke sebelah kanan karena di sebelah kiri ada motor. Setelah motor selesai saya meminta si bapak petugas pertamina buat isiin sejumlah puluhan ribu. Pas udah selesai dan mau bayar, saya sempet nengok ke sebelah kiri mesin pengisi bensin. Dan tebak apa yang saya liat??




“Diviiii.. ada BAJAJ!!!” teriak saya di dalam mobil. Divi yang ga tau apa-apa, kebingungan. Saya ga sempet merhatiin dia karena sibuk nyari kamera saya di dalam tas dan langsung mengabadikan gambar yang langka ini sebelum semuanya terlambat dan lewat begitu saja (Nda, overdrijven deeeh!).
Gila, senengnya bukan main saya melihat bajaj tadi. Walaupun saya ga liat langsung proses pengisian bensin ke tangki bensin bajaj (yang saya juga ga tau ada di mana, dan masih PR buat saya buat nyari tau lokasi tangki bensin bajaj), tapi saya cukup puas sudah melihat dengan mata kepala sendiri bajaj isi bensin di pom bensin seperti sewajarnya kendaraan beroda lainnya. Senyum saya mengembang begitu melihat dua foto yang berhasil saya ambil ini. Terjawab sudah pertanyaan saya. Tidak dari mulut orang. Tidak dari buku, bacaan atau informasi tertulis lainnya, tapi langsung dijawab dengan bajaj di depan mata sendiri mengisi bahan bakar di pom bensin. Huhuhuy, mangstab cuy!
“Boy, ternyata mereka ke pom bensin ko. Ga beli di pinggiran jalan pake dirigen. Kalo ga percaya, lo tongkrongin aja pom bensin yang di depan Amor, kemang. Kalo lo beruntung, lo akan melihat satu atau bahkan dua bajaj yang keausan minta minum bensin di situ. Jangan nungguin di pom bensin tengah kota yang tempatnya keren. Kayaknya bajaj punya sifat low profile (baca : malu) untuk muncul di depan public, apalagi di tempat2 keren macam SPBU Shell, Total, dan dll. Hehehe.. “
Dan buat kalian yang juga pengen liat dan penasaran. Coba tengokkan kepala ke SPBU kalau sedang melewatinya. Siapa tau kalian liat bajaj yang lagi ngisi bensin. Kalau melihat, mari berbagi cerita dan jangan lupa foto!! Selamat menengok, mencari dan menunggu bajaj di SPBU2 terdekat kalian.
Eh, tapi sekarang saya punya pertanyaan baru. Kenapa sih bajaj tulisannya B.A.J.A.J ? bukan B.A.J.A.Y ?? kalo mau dibaca dengan cara baca alphabet Belanda, yang merubah bunyi J menjadi Y, harusnya kan jadi dibaca BAYAY ya? Lah ini?! Belakangnya doang yang dibaca Y. Ada yang tau kenapa? Atau mungkin biar keren aja bunyinya. Kan kata2 yang berakhiran Y lucu aja gitu. Misalnya lebaY, malaY, jijaY dan bajaY, alaY (hahaha.. untuk alaY). Gitu ga sih?!?! *muka serius, mode on :
*Karena saya baru sadar. Saya menulis kata bajay dengan bajaj dari awal tulisan dan baru menyadari hal ini ketika sudah mau selesai nulis. Hehehe..


Anda
Kemang 26th July 26, 2009





Try to be backpacker (part 2, finish)
Sampe di mana cerita gw bagian pertama? Ah, ya sampe di rumah keluarga Ganes.
Malam itu kami langsung tertidur nyenyak di sebuah ruangan yang biasanya dipake sebagai Musholla untuk keluarga Ganes sehari-hari. Selama kami tinggal di situ, ruangan itu udah disulap jadi kamar pribadi kami berempat. Cukup nyaman (secara gretongan juga!)


Besoknya, kami kebangun sama suara2 rame dari luar. Saat itu sekitar jam 10. Duh, siapa sih berisik banget pagi2 buta?! Kami semua malah narik selimut lebih dalem lagi. Ga sadar dan tau diri kalo kami sebenernya lagi numpang di rumah orang. Hehe. Ternyata itu suara Gilang, adik ipar Adis. Membangunkan kami dengan logat jawanya yang kentel banget. “Mbae… ayo pada bangun. Guadis2 ko mbangune pada siang to’…?!” kami di dalem cuma ber-aduh aja ngedenger dia ngomong gitu. Setelah 5 menit ga ada reaksi dari kamar kami, akhirnya Adis beneran dateng en ngetok2 kamar kami, nyuruh mandi, beres2 dan langsung sarapan. Mamahnya Ganes dari pagi udah mesenin sarapan. Kami jadi ga enak. Beneran ga tau diri banget deh kami. Udah numpang, bangun siang, nyerepotin pula. Hehehe..
Beres mandi dan sarapan, kami ga langsung pergi. Kami minta izin sama Adis buat make mesin cuci buat nyuci baju2 kotor yang kami pake di kereta. Hiiiiy, baunya ga tahan. Gilingan padi. Iyalah, secara hampir 12 jam di kereta ekonomi. Udah beres semua.. kami akhirnya baru bisa keluar rumah jam 2 siang. Tujuan pertama kami ke Candi Jabung, terus ke Pantai putih situbondo yang adanya di ujung timur jawa. Wieh, jauh aja perjalannya. Hampir 2 jam. Untung fasilitas oks banget. Mobil lega, serta supir yang baik hati dan pemandangan yang lumayan bagus bikin kami betah lama2 di jalan.
Candi jabung ternyata kecil banget. seuprit bow! Ga keurus juga. Sayang banget. mmm, tapi masuk akal juga sih. Selain karena tempatnya misterius alias susah dijangkau, candi ini juga ga jelas sejarah dan keberadaaannya. Tapi karena ini jawa timur, jadi candi yang ada di sini emang beda dengan apa yang kita bisa liat di daerah jawa tengah pada umumnya. Candi Jabung ini selain terbuat dari batu bata (bukan dari batu item yang biasa kita liat di candi2 macam Borobudur or Prambanan), warnanya juga merah. Karena ga ada warga lokal yang bisa ditanya2in soal keberadaan candi ini, akhirnya kami Cuma foto2 aja dan langsung cabut ke tujuan selanjutnya : pantai pasir putih situbondo. Cabut gaaaan!!
Perjalanan ke Pantai Putih Situbondo juga ga terlalu lama. Seru karena pemandangan kiri-kanan yang dahsyat. Kiri pantai, kanan gunung. Pokoke mangstab. Sejam kemudian, kami sampai di sana. Wah, cuaca lagi puanas2nya nih. Kira-kira jam 4an. Tapi matahari teriknya bukan main saat itu. Kami jalan2 di sepanjang pantai sambil foto2. Trus, tergoda sama aroma sate Madura yang ada di samping pantai. Kami pun memesan 6 bungkus. Ada penjual kelapa muda juga, jadi menu komplit sudah tersedia. Sate madure dan kelapa muda ta iye!
Beres makan, cuaca mulai bersahabat. Kami mulai main2 air di permukaan pantai. Wiieh, air lautnya bening. Oh iya, ga lupa gw dan Dabu menuliskan nama anggota backpack kami yang ga bisa ikut taun ini karena kesibukannya sebagai kuli tinta. “Boy, semoga nama lo di pasir pantai putih ini bisa mewakili kehadiran lo. Hehehe”









Lagi asik2nya foto2 sambil nunggu sunset, salah seorang dari kami ditawarin buat naek perahu ke tengah laut (ga tengah2 amat sih) buat liat ikan dari perahu nelayannya. Bapak itu menawarkan harga yang murah meriah menggoda. Waah, bole juga tuh. Kapan lagi?! Lagian, udah nyampe sini ada “tantangan” masa iya dicuekin. Tantangan?!?! Doeng!! (Tetep ya obsesi jadi backpacker) Tawaran turis macam ini aja masih kami anggap tantangan. Hahaha.. yaudah siiih!


Kami sempet ngerayu Adis buat ikutan kami ke tengah laut buat liat ikan2 dan terumbu karang, tapi Ganes kayaknya keberatan, takut kenapa2 kandungannya. Kami juga ga maksa. Selain karena emang takut kenapa2, ga ada rumah sakit di deket2 sini, kalo ada apa2 bisa berabe. Akhirnya kami berempat naek perahu itu dengan mental sok berani. Dalam hati gw deg2annya minta ampun. Secara gw emang belum pernah naek perahu nelayan yang sangat tidak meyakinkan penampilannya, juga karena gw ga kebayang kalo tiba2 perahu jatoh ato oleng, trus gw harus berenang di tengah laut (lebaaay!). Si bapak itu menyakinkan kami kalau ini safe 100%. Dia akan menjamin kami akan tetep kering dari awal sampe akhir nanti. Yasudah, kami kembali tersenyum. Layar segera di buka. Angin bertiup keras sekali. Perahu mulai bergerak ke tengah lautan. Sesekali perahu bergoyang ke kanan dan kiri mengikuti arah angin. Dan setiap perahu bergerak frontal ke kanan-kiri, saat itu juga kami berteriak sekeras2nya. Aaaaaaaaaaa… Aaaaa.. tidaaaaaaaaa… Aaaaaaaa.. awaaaaaaaaas.. Huaaaaaaaaa… begitulah kira2 teriakan kami. Sedangkan si bapak hanya tersenyum geli liat kami teriak2 sambil ga berenti moto. HUahahaha..








Dari jauh gw liat Adis en Ganes mencoba melihat kami. Tapi gw baru sadar, ternyata kami sudah jauh sekali dari tepi pantai tadi. Mereka terlihat kecil sekali dari perahu ini. Setelah perahu mulai tenang, karena udah ada di bagian laut yang cukup dalam dan melewati ombak2 di pinggiran pantai tadi, si bapak mengeluarkan sebuah alat. Kotak kecil dengan kaca transparan di bawahnya. Oh ternyata ini alat untuk melihat terumbu karang dan ikan dari atas perahu toh. Ada 2 alat di perahu itu, jadi kami segera memakainya untuk melihat ke dalam laut apa yang bisa kami lihat. Dan wieeeeh.. teman2, percayalah it was COOOOOOOOOOL view down there!! Pas pertama kali ngeliat itu, rasanya gw pengen langsung nyebur. Hahaha, kalo ga karena dibilangin bahwa di daerah sini banyak bintang bulu babi yang bikin gatel2 kalo kena kulit kita, gw pasti udah loncat ke laut saat itu juga. Ditambah lagi, si bapak itu bilang kalo kami bisa snorkeling dan diving di situ pagi hari, karena ikan2 kecil warna warni itu lebih banyak di pagi hari dan pemandangan laut emang lebih cantik di pagi hari. Kami tambah kegirangan pas liat banyak terumbu karang yang warna-warni dengan ikan2 kecil di sekelilingnya. Sumpah, kalo gw ga mikirin si bulu babi itu, pasti gw udah terjun! Duuuh, pengen banget diving. Hm, nanti. Pasti. Next holiday mungkin. Batin gw dalem hati.
Jadi begitulah. Hari ini ditutup dengan manis oleh tantangan tiba2 yang menyenangkan. Kami segera balik ke rumah dan mempersiapkan diri untuk perjalanan selanjutnya. Bromo! Rencananya kami akan berangkat jam 3 pagi besok pagi, jadi kami harus tidur lebih cepat biar cukup istirahat dan fit nanjak Bromo nantinya.
Jam 3 pagi kami udah siap. Kami pun berangkat jam 3 lewat 10.

Trus sampai di tempat pendakian sekitar jam 5 kurang. Waktu itu semua masih gelap. Gw masih inget dengan jelas, langit di Bromo cantik banget. ditaburin bintang di setiap sudut langit. Cantik banget! kami mulai berjalan dengan semangat 45. Sambil jalan, kami becanda2 dan tetep usaha foto2 di suasana gelap. Sial. Foto2nya ga berhasil semua. Jelek abis gara2 kurang cahaya. Emang gelap banget sih. Karena ga ada lampu atau penerangan apapun selain handphone kami dan sinar bulan yang nolong banget. kami terus berjalan ke depan di tengah gurun pasir Bromo. Dalam kegelapan itu, gw bisa ngeliat dikit bayangan (ato bentuk) gunung Bromo jauh di depan.

Setelah jalan kira-kira 1 jam, gw mulai ga kuat. Dada gw sesek banget. sementara yang lain masih pada kuat jalan, gw beberapa kali terpaksa berenti buat ngatur napas dan memokuskan pandangan. Sinus gw langsung kambuh, jelas, karena udara jadi tambah dingin dan bau belerang yang mulai tercium. Bikin napas gw ga beraturan dan bikin gw cepet cape. Gw ga akan nyerah! Tekad gw. Tapi, ternyata tekad kuat gw untuk menaklukan puncak Bromo dengan kaki sendiri ternyata tidak terjadi. Gw ambruk, gw ga kuat. Akhirnya gw memutuskan untuk meminta pertolongan sang kuda tua menggotong gw samoe ke anak tangga di bawah Bromo. Harga diri gw dibeli seharga 10.000 di Bromo. Dan yang lebih ngenes lagi, ternyata perjalanan naek kuda gw yang seharga 10.000 itu Cuma berjarak seiprit meter. Karena waktu itu suasana masih gelap, jadi gw emang ga tau kalo jaraknya ternyata deket banget. Tau gitu, gw kan bela2in jalan terus, pelan2. Jadilah gw jadi bahan cengan anak2 (lagi, setelah tragedi Fatimah di kereta) gara2 harga diri tertukar oleh naek kuda 10.000 dengan jarak beberapa meter saja.
Sampe di puncak Bromo mungkin adalah hal terdahsyat di liburan kali ini. Perasaan cape luar biasa itu ilang pas gw liat pemandangan alam dari puncak Bromo. Subhanallah… it’s just BEAUTIFUL, GOURGEOUS, and MARVELOUS!! Kami masih punya beberapa menit sebelum sang surya memunculkan dirinya. Saat itu, kami adalah satu-satunya turis lokal yang ada. Selebihnya turis bule yang juga menanti kedatangan si matahari. Naluri untuk mengabadikan moment itu segera saja membuat kami sibuk sendiri, jeprat sana jepret sini, kemudian terduduk diam memandang kebesaran Tuhan.

Kami ngabisin waktu di sana sampe kira-kira jam 9. Kecapean akut, di perjalanan pulang, kami semua tepar. Tidur sambil mendengkur (hahaha engga deng). Begitu sampe di rumah, kami langsung tewas seketika. Pas bangun, kami udah ditunggu sama nyokap Ganes. Beliau mau ngajakin kami ke restorannya. Katanya baru launching beberapa bulan yang lalu. Sadeees dah emang ni nyokapnya Ganes. Jiwa pengusahanya menggebu2 banget! Begitu sampe di depan restorannya, kami menyempatkan untuk berfoto2 dulu. Restorannya bagus. Dekornya menarik, pelayanannya memuaskan, dan makanannya juga enak. Waktu kami makan, nyokap Ganes ada di teras depan lagi ngobrol sama seorang bapa yang mukanya Madura banget. kumisnya ga nahan bow! Hahaha..

Eh, selidik punya selidik, ternyata si bapak berkumis te sate ala Madura itu ternyata temen deket mamahnya Ganes yang konon kabarnya bisa meramal. Wiediih.. sesuai sekali dengan penampakannya yang mistis. Semistis kumisnya yang japlang. Mas Adam-nya Inul or Pak Asep-Penpop doang mah lewaaat kumisnya. Ni bapak megang banget deh kalo masalah perkumisan. Tau kalo si bapak berkumis itu bisa meramal, kami Cuma cengar cengir aja. Ga ada sedikitpun niat buat diramal sama dia. (males juga liat muka dia penuh kumis. Haha piss Pak!) tapi sepertinya nyokap Ganes semanget banget menawarkan jasa ramal meramal si pak kumis ini kepada kami. Beberapa saat setelah makan, kami pun sudah di bawa mamah Ganes ke rumah si bapak kumis itu. Boooo... kalo liat orangnya aja udah serem, lo akan lebih terserem2 lagi begitu nyampe rumahnya. Duuuh, gw rasa dia obsesi deh sama bulu2, rambut dan hal yang mistis2 deh! Moso ya, rumahnya juga tuh mistis bet dah. Kursinya, pajangannya, perabotannya, barang2nya, macam guci2 segede bagong berbentuk naga, trus lukisan2 muka2 orang yang berjanggut dan berkumis lebat bukan main, terpajang jelas di depan ruang tamu yang kami dudukin. Kami Cuma celingukan sambil tetep berusaha ga ketawa. Si bapak kumis itu kemudian mulai memandang kami satu persatu. Dari Nuis, Dabu, Sinta dan Gw yang duduk di deket dia. Adis en Ganes juga ada di antara kami saat itu. Walaupun Adis berusaha untuk bersikap santai dengan masih senyam senyum ngeladenin si bapak kumis ini, sikap Ganes keliatan banget ga sukanya (baca : males!). Mereka kayaknya aga ga seneng kami dibawa mamahnya Ganes ke rumah si bapak berkumis ini. Tapi kami mah seneng2 ajah. Namanya juga lagi liburan. Jadi hajar lah. Lagian, kapan lagi ngalamin hal2 unik kaya gini? Ga setiap hari kan lo ketemu orang aneh! Hehehe.. aniwei, jadi si bapak itu lalu meminta kami menunjukkan telapak tangan kami satu persatu dan mulai membaca ramalannya.
Teman, secara kejadian ini setaun yang lalu, jadi gw aga2 lupa persisnya ramalan si bapak berkumis itu. Tapi inti dari ramalannya masih bisa gw inget. Jadi ini jabaran lengkap ramalan anak-anak :
Nuis ;
“Waaah, ini dia.. ini!” kata si bapak kumis itu mulai berkata sambil melintir2in kumisnya. “nanti abis ini sampean akan gede!” kata dia lagi. Haah, gede?!? Begitu dengar kata2 itu, kami saling celingukan dengan mimik bertanya2? “Gede apaanya pak?” tanya gw. “Ya rejekinya gede. Badannya juga nanti gede!” jawab dia dengan muka serius. Kikikikikik.. gw ma anak2 yang lain nahan ketawa. Ada2 aja dah..
Daboe :
“Coba saya liat tangan sampean” sambil melihat, dia menghisap rokoknya. Dabu kemudian dengan muka penuh semangat menunjukkan telapak tangannya. Lama. Ga ada reaksi. Si bapak masih menatap tangan dabu. Masih diam. Lalu, “Ndak bisa. Aneh ini. Saya ndak bisa baca apa2 dari tangan sampean!” dia berkata. Kami lalu spontan liat ke tangan dabu. Trus, gw celetuk ala anak Belanda04 ngomentarin orang : bibir sedikit terbuka biar suara dari mulut kedengeran, tapi bibir jangan bergerak ketika ngucap kata biar ga keliatan kalo kita ngomong sesuatu (kalo ga kebayang juga, coba inget2 gaya Manohara ngomong, kan bibir bawahnya doang tuh yang gerak. Nah, kurang lebih seperti itulah “gaya nyela” anak2 belanda04.) “Benerean ga kebaca ya? Pinjemin kaca mata lo apa, dab! Rabun ayam kali doi” Kata gw. Anak-anak pada nunduk semua pas gw ngomong gitu. Si bapak berkumis yang ngeliat kami pada nunduk ketawa ketiwi nahan ketawa, merasa tersinggung. “ada apa?” tanyanya. Mampus. Kami semua langsung diem. Hiiiiy serem!! (tapi dalem ati masih pada ketawa, huahahahhaaha). Kembali ke dabu. Dia kayaknya aga kecewa si peramal kumis ini ga bisa baca apa2 dari telapak tangannya. Yasudahlah dia terima nasib saja.
Sinta :
Nah, nyampe di sinta. Dia sempet berbasa-basi nanya nama dan umur sinta dulu. Sampe akhirnya dia liat telapak tangan sinta dan ngasih analis ramalannya “ini kalo dalam kerjaan ga pernah berhasil. Selalu pindah-pindah. Ga betahan orangnya” sampe di situ, sinta napsu buat motong ramalan dengan bantahan2 dia macam “oya?, masa si pak? Misalnya gmn? Kenapa bisa gt? Engga juga ko? Bapak salah liat kali”. Si bapak yang merasa diragukan kemampuannya sebagai ahli nujum dalam hal ramal meramal, jadi bête ditanya2 gitu. Dia ga jawab. Cuma diem dengan pandangan muka serem dia. Hiiiiy, digituin sinta jadi diem en ga berani nanya2 lagi deh. Hahaha.
Gw :
Akhirnya mata si kumis itu nyampe ke gw juga. “sampean siapa namanya?” tanya dia. “Anda pak.” Jawab gw santai, sambil cengar cengir. Kemudian dia langsung melihat telapak tangan gw terus bilang “Sampean kalo punya keinginan usahanya kuat.” Bagus, dalam hati gw seneng. “tapi sayang, ujung2nya selalu gagal dan ga kesampean keinginan sampean” Doeng!! Sialan ni peramal kumis bermuka mistis, maki gw dalam hati. Seenak2 aja doi ngomong gitu. Selalu gagal en ga berhasil?!?! Lah ini gw bisa nyampe jawa timur, ke Bromo, engga diitung sebagai kesuksesan atau keberhasilan dari keinginan kuat gw?!?! *emosi jiwa. Karena gw orang terakhir yang dia baca garis tangannya. Dan dari semua ramalan dia tentang anak2 ga ada satu pun yang bener, gw jadi males buat ngedengerin dia tentang ramalan selanjutnya. Apalagi sampe percaya sama ramalannya. Jadi selebihnya ga terlalu gw inget. yang gw inget Cuma gw cengar cengir aja ngeliatin dia ngoceh tentang kami. Sotoy bet dah ni orang. Hahaha

Balik dari rumah si peramal kumis ini, kami ga langsung tidur, tapi ngobrol2 dulu sama ganes, adis dan orang rumah. Rencananya kami akan pulang ke Jakarta besok siang dari stasiun Probolinggo. Sebelum tidur, kami ngepack2 barang yang harus dibawa pulang. Dan setelah semuanya beres, kami tidur dengan nyenyak.
Kami bangun lumayan pagi esok harinya, karena ga ada rencana ke mana-mana lagi (tempat pariwisata lain, maksudnya) kami memutuskan untuk jalan-jalan ke pasar tradisional aja sekedar buat nyari2 oleh2 ato sesuatu yang unik yang bisa dibeli. Tapi sayang, di probolinggo ini ga ada barang2 yang bisa kami beli. Ga ada makanan khas atau benda2 khas kota. Niks. Pas kami tanya, apa oleh2 atau yang terkenal dari probolinggo, mereka jawab “Buah Mangga” Yaaah, itu mah di pasar minggu juga banyak. Jadi ya sudah lah, kami hanya berjalan2 saja. Muter2in jalanan. Nah kalo ini, kerasa banget backpacknya. Walaupun ga jalan sambil bawa tas ransel kami, tapi kami beneran jalan2 ngegembel dari rumah ke daerah yang ga dikenal. Masuk2 gang jalan yang mirip Jogja. Mantap. Akhirnya ada bagian “ngegembelnya” juga di liburan kali ini. Hehehe. Pas ngerasa udah jalan lumayan jauh, kami sepakat buat balik ke rumah Ganes naek becak aja. Biar terasa “jawa”nya. Sesampaenya di rumah, kami mulai siap2. Kami sempet makan siang bareng keluarganya dulu sekalian makan terakhir bareng mereka. Abis itu, kami mulai masuk2in semua gembolan tas dan barang2 kami ke mobil. Mamah ganes dan adik2nya hari ini akan ngaterin kami ke stasiun. Duuh.. baik hati sekali keluarga ini. Kami terharu. Sebelum berangkat, kami menyempatkan diri untuk berfoto2 bersama mereka di depan rumah.










Di dalam kereta, kami duduk berhadap2an. Dari probolinggo kami harus ganti kereta di stasiun Balapan, Surabaya. *jangan pada nyanyi lagu didik kempot lo pada! Kami naek kereta jurusan Jakarta yang berangkat malem dan sampe pagi di Gambir. Kali ini kami ga naek eksekutif. Yang kelas bisnis aja. Aga trauma juga sama kereta sebenernya (Cuma sama kelas ekonomi sih) tapi itu satu2nya cara balik ke Jakarta. Daripada harus naik bus or pesawat yang mehong gila. Yuuu kereta aja deh.

Perjalanan pulang terasa sedikit lebih nyaman. Entah karena kami sudah terbiasa dengan keadaan waktu di kereta ekonomi atau bagaimana. Yang pasti semalaman kami tertidur lelap meski dengan posisi tidur yang bikin tulang punggung bengkok. Kami akhirnya sampe di Jakarta dengan selamat juga. Jadi dengan sampainya kami di Jakarta, maka berakhir juga cerita petualangan gw dan teman2 yang mencoba menjadi backpack ini. Lain kali saya akan bercerita lagi tentang perjalanan yang baru gw lakuin 3 minggu yang lalu. Hohoho yang ini juga akan seru kayaknya.
Terimakasih
Anda