Saya iri.
Iri sekali.
Iri pada orang-orang yang dengan jenius bisa merangkai kata-kata dengan indahnya. Sampai mampu menyihir orang menjadi diam, terpaku dan tenggelam dalam kenikmatan kata-kata yang mereka rangkai.
Saya selalu bertanya, bagaimana bisa mereka menggabungkan kata-kata itu, menyatukan kata demi kata yang sering luput dari perhatian kita tapi tetap bisa dinikmati. Ah.. sungguh, saya iri pada mereka : para perangkai kata.
Iri bukan berarti benci. Iri menurut saya, ungkapan lain atas ketidakmampuan seseorang. Seperti saya misalnya, saya iri pada mereka, para perangkai kata. Saya sepenuhnya menyadari ketidakmampuan saya untuk menjadikan diri seperti mereka.
Lalu, iri bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih buruk : benci dan dengki.
Terdengar negatif sekali ya. Memang. Tapi, coba pikirkan lagi makna kedua kata itu. Lalu, coba pikirkan hal positif dari kata benci dan dengki. Dapat? ketemu? Saya tidak.
Karena seperti kata orang, hidup adalah pilihan. Dan saya memilih untuk menjadi orang yang positif, maka saya tidak akan pergi lebih jauh dari kata iri. Saya tidak mau melanjutkan atau bahkan mendekati kata benci dan dengki itu. Karena, saya tidak berkawan dengan negatif. Maaf.
Walaupun sebenarnya kata iri tetap bermakna negatif dan terdengar tidak baik, saya akan berusaha untuk tetap memeliharanya di jalur kepositifan saya. Semoga saja.
Untuk kalian, para perangkai kata. Saya tidak membenci kalian. Saya justru mengagumi karya-karya kalian. Sungguh. Saya hanya iri. Itu saja masalah saya.
No comments:
Post a Comment