22.6.10

It's raining in love..

Dia datang lagi. Kali ini bukan sebagai kekasih, tapi sebagai seorang teman. 
Dan dia tidak datang sendiri. Dia membawa berita tentang seseorang. Seorang wanita pengganti saya.

"Saya menemukan penggantimu" Katanya.



Tersenyum senang saya mendengarnya. Dia menemukan pengganti saya. 
Kami lalu bernostalgia sejenak. Tentang kami dulu. Ketika saling mencinta. Saya masih ingat rasanya.  Indah.

Dia lalu mengirimkan ini :

 Richard Brautigan - It's Raining In Love


  I don't know what it is,
  but I distrust myself
  when I start to like a girl
  a lot.
 
  It makes me nervous.
  I don't say the right things
  or perhaps I start
  to examine,
  evaluate,
compute
  what I am saying.
 
  If I say, "Do you think it's going to rain?"
  and she says, "I don't know,"
  I start thinking : Does she really like me? 
 
  In other words
  I get a little creepy. 
 
  A friend of mine once said,
  "It's twenty times better to be friends
  with someone
  than it is to be in love with them." 
 
  I think he's right and besides,
  it's raining somewhere, programming flowers
  and keeping snails happy.
  That's all taken care of.
 
  BUT 
 
  if a girl likes me a lot
  and starts getting real nervous
  and suddenly begins asking me funny questions
  and looks sad if I give the wrong answers
  and she says things like,
  "Do you think it's going to rain?"
  and I say, "It beats me,"
  and she says, "Oh,"
  and looks a little sad
  at the clear blue California sky,
  I think : Thank God, it's you, baby, this time
  instead of me.




Saya bisa merasakan apa yang dia rasakan. 
Dan saya yakin dia akan baik-baik saja bersama penganti saya. 
Sayang, saya pun akan baik-baik saja. Percayalah.
 
 
from Jakarta to Cambodia.
Be good, J.
love, A. 
  

14.6.10

Sex is NOT a crime!

Cukup!

Saya gerah. 
Saya kesal. 
Saya tidak bisa berdiam diri.
*Sabar, Anda... Tarik napas panjang, keluarkan pelan-pelan. Ulangi lagi...*


Arrggghhh... saya ga bisa diam! saya harus ngomong. Paling ga di sini, di blog saya. Di dunia yang saya ciptakan sendiri.

Okey.. So, Indonesia dihebohkan dengan munculnya video sex Ariel-Luna (Dan entah ada berapa wanita lagi) yang tersebar bebas di internet. SO WHAT?!?!????

Tunggu. 
Saya ga mau marah soal itu. Bukan.

Jangan tanya pendapat saya tentang video itu karena bukan itu inti kekesalan saya.
Saya kesal dan jengkel sekali pada orang-orang itu. Orang-orang yang berkoar-koar, ribut-ribut teriak di tivi, mempermasalahkan moral artis yang membuat video sex ini.

Aduh, Bapak-bapak, Ibu-ibu, maaf.. saya memang masih kecil dan belum berpengalaman banyak tentang menjadi bijaksana dalam menanggapi issue sosial seperti ini. Tapi, sikap kalian yang meledak-ledak dan cenderung menuju provokasi membuat saya muak!


Bagaimana saya bisa menghormati kalian, orang-orang yang katanya mau "menyelamatkan" moral bangsa dengan membereskan moral -yang menurut mereka sudah dirusak oleh kehadiran video sex itu- rusak HANYA karena video sex?!?!?

Saya ga abis pikir, kenapa mereka menjadi marah sekali. Kenapa mereka sibuk mengajak orang-orang membenci Ariel dan Luna? Kenapa mereka "berbaik hati" sekali ingin membenarkan moral setiap orang di negeri ini??


Tolong saya! Didik saya yang tidak mengerti tentang moral. Berikan saya contoh yang baik menjadi orang yang bijak dan tidak menghakimi, menjadi orang yang memberikan jalan keluar, dan bukan orang yang menambah masalah. Ajari saya menjadi orang yang positif, dan tidak mengarah ke negatif.


Sungguh kasian nasib sex di negeri ajaib ini. Tempatmu terbatas. Kau dijadikan nista dan hina, oleh mereka yang tidak (atau belum) bisa menerima bahwa sex adalah sesuatu yang bisa saja indah, dan bukannya sesuatu yang kotor, dosa dan tabu.
Oh.. saya tidak mau berbicara tentang dosa. Karena mungkin untuk beberapa orang, dengan menulis tentang sex saja, saya sudah berdosa. Kotor. Tapi, kemudian biarkan saya bertanya, siapa yang menentukan dosa seseorang?

Menurut saya, semua hal punya konsekuensi sendiri. APA PUN itu. Tidak usah berbicara tentang dosa dan moral kalau tidak tau konsekuensi apa yang nanti harus ditanggung.
Tanggung jawab. Itu hal yang paling penting buat saya. Bertanggung jawab terhadap sikap kita menanggapi sex, bertanggung jawab ketika harus menghormati banyak orang, yang mempunyai berbagai macam latar belakang agama, kebudayaan, dan kebiasaan dalam berhubungan dengan sex.
Tanggung jawab.


Kasihanilah saya, adik-adik saya, anak-anak bangsa yang lebih kecil. Yang belum mengerti banyak tentang sesuatu yang "menggoda" untuk kami ketahui ini. Tolong jangan buat kami menjadi anak-anak yang kelaparan pengetahuan dan membiarkan kami salah jalan. Beri tahu kami dengan benar. Ajari kami, dengan cara yang semestinya. Dan tidak dengan kebencian, kejijikan, kehinaan atas nama sex.


Saya percaya ini adalah masa di mana kita bisa belajar untuk lebih dewasa dalam menanggapi masalah yang -oh, sudah lama sekali ada- selalu muncul di masyarakat. Mungkin sudah waktunya untuk tidak menabukan sex. Sex is taboo, mungkin akan lebih baik digantikan dengan sex is normal to talk about.


Sigh.

Baiklah. Saya sudah merasa lebih baik.
Semoga kita adalah orang-orang yang selalu belajar dari apa yang sedang terjadi di sekeliling kita. Dan, sekali lagi.. tolong jangan menghakimi siapa pun. Karena kita bukan hakim. Lagipula, Sex is NOT a crime.








11.6.10

one sweetness at the dentist

.....

"excuse me, what is your name young lady?" Tanya seorang bapak tua tiba-tiba. Membuyarkan konsentrasi saya yang sedang asyik chatting dengan teman-teman di BB. Saya tentu saya heran, kenapa bapak ini berbicara dalam bahasa Inggris pada saya.

Siang itu, saya sedang mengantre di klinik gigi. Periksa rutin bulanan. Tidak seperti biasa, saya datang lebih awal sekali. Karena hari itu saya tidak ada kegiatan apa-apa. Tidak ada kelas dan tidak ada sesuatu yang harus dikerjakan.

Pagi membaca buku di kosan, lalu setelah makan siang, saya langsung pergi ke tempat dokter gigi saya. Dan ketika sampai di sana, saya adalah orang pertama yang duduk di ruang tunggu dan mendaftar. Dokter saya bahkan belum datang. Kira-kira 5 menit kemudian, masuklah si bapak ini ke dalam ruangan dan mengambil tempat duduk di depan saya.


"Anda." jawab saya.

"Hi Anda. Sorry, i didnt mean listening to your conversation, but you spoke very good English" Katanya lagi.

Saya tentu saya kaget. Tersenyum, dan menjawab :"Oh, Thank you, Sir."



10 menit yang lalu...

All the single ladies... all the single ladies....  Ringtone di handpone saya berbunyi. Kantor calling...begitu tertulis di layar handphone saya.

"Yes, Miss Sekar." Langsung saya angkat dengan nada ceria.
"Hey Miss Anda." terdengar suara seorang wanita di ujung sebelah sana.
Tentu saja saya sudah tau itu telepon dari Sekar. Seorang teman yang sekarang menggantikan pekerjaan saya semenjak saya resign dari kantor.

Dia menelepon saya untuk menanyakan hal-hal kecil dan memberi tau bahwa akan ada murid baru yang ingin belajar dengan saya. Dia juga meminta jadwal saya, dan bertanya apakah saya bisa mengajar calon murid ini nantinya.
Saya dengan senang hati menjawab semua pertanyaan dia satu per satu. Dengan bahasa campuran : Indonesia, Inggris dan Belanda. Bahasa sehari-hari yang selalu saya campur aduk. Kebiasaan buruk!

Rupanya, tanpa saya sadari, si bapak tua mencuri dengar pembicaraan saya dengan kawan saya ini.
Lalu, entah untuk alasan apa, dia mencoba mencuri perhatian saya. Dia tiba-tiba memainkan harmonika ketika saya sibuk berbicara di telepon. Saya pun melirik ke arahnya yang sedang asyik memainkan sebuah lagu.

Saya adalah orang yang mudah ter-distract. Apalagi jika gangguan itu datang dari sesuatu yang menarik perhatian saya : Musik.
Tentu saja dengan mudah, konsentrasi saya terpecah. Sambil berbicara dengan Sekar di telepon, mata dan telinga saya tertuju jelas pada bapak tua yang sedang memainkan harmonika itu.Oh, nice sounds.

Setelah telepon ditutup. Musik yang tercipta dari harmonika itu pun sudah berhenti lebih dulu. Saya pun langsung menyibukkan diri, kembali chatting dengan teman-teman di BB.


"I was really impressed that you spoke fluently english. I've been talking to many people here in English, but their English was not good as yours." Katanya lagi, menyambung pertanyaan pertama tadi.

"Oh, thank you very much. Im flattered." Jawab saya tulus.

"What should i address you, Mr...?" Tanya saya dengan sopan pada pria yang mungkin berumur sekitar 60 tahun.

"Antonious Johan ...." Namanya panjang sekali. Saya lupa nama lengkapnya. Tapi dia meminta saya memanggilnya Anton saja.

"Nice to meet you, Pak Anton" Kata saya.
"Pleasure to meet you, Anda." Jawabnya.


Tanpa terasa, kami sudah terlibat dalam pembicaraan ringan dua orang asing yang tidak saling mengenal tapi terasa dekat. Dan kami melakukannya dalam bahasa Inggris. Rasanya aneh sekali. Berbicara dengan orang Indonesia dengan bahasa Inggris. Sungguh aneh.

Saya juga terkejut ketika mengetahui dia bisa berbicara dalam bahasa Belanda. Dengan cepat saya menukar bahasa Inggris saya dengan bahasa Belanda saya yang buruk.  
Sigh..
Susah payah saya menjawab dan bertanya dengan bahasa yang sudah saya pelajari selama lebih dari 5 tahun. Rasanya masih tetap sulit. Belanda oh belanda.


Dia seorang pria tua yang hangat sekali, seperti Papah saya. Suka berbagi cerita. Dia adalah seorang pensiunan yang dulu bekerja sebagai insinyur. Sudah berkeliling dunia dan kaya pengalaman menarik. Saya masih belum percaya saya bisa dengan mudah berbicara banyak dengan orang tua ini. Saya lalu langsung memperlihatkan ketertarikan saya pada harmonika yang sempat dia mainkan tadi.

Dia lalu mulai bercerita tentang musik, keluarga dan hidupnya. Saya mendengarkan dengan serius. Dia juga bertanya sedikit tentang kehidupan saya. Kami pun terlibat dalam obrolan ringan yang santai.

Lalu, dengan suara beratnya dia berkata "I think you are a nice girl. Keep be yourself and be good to people. Before the doctor comes, I have a song for you, Anda"

Saya hanya bisa tersenyum mendengar dia berkata seperti itu.


Cos im leaving on the jetplane.. dont know when i'll be back again.. Oh, babe i hate to go....
terdengar melodi indah lagu Leaving on The Jetplane dari harmonikanya.

I was melted.
What's wrong with this song?!?!? Oh.. God only knows why!


Setelah dia selesai memainkannya, saya bertepuk tangan "Well done, Pak Anton. Very nice. Thank you.
Mmm... but, why did you choose this song for me?" Tanya saya penasaran.

"Just because." Jawabnya dengan ringan.


Saya tersenyum. Saya tidak mengerti, memang. Saya tidak perduli. Semesta selalu bekerja dengan cara yang tak terduga. Saya kembali mendengarkan dia memainkan lagu lain yang sengaja dia mainkan untuk saya sebelum dokter datang, dan asistennya memanggil nama saya masuk.


Random sweetness.



Siang itu, ruangan dokter yang masih sepi terasa sangat tenang dan romantis oleh suara harmonika Pak Anton.

7.6.10

They called it Bali, i called it Love (part 1)


Saya tidak tau harus mulai cerita dari mana. Bingung sangat. Mungkin terlalu banyak cerita yang ingin saya bagi. Saya jadi bingung sendiri. Mereka sepertinya berebutan ingin keluar satu demi satu. Seperti antrean panjang yang ingin keluar dari stadion besar. Keluar bebas.

Ok. Biar saya coba.

Hari pertama :

Hmmmmm. Tarik napas dulu. Baiklah.

Kenapa selalu saja, perjalanan saya diawali dengan permainan jantung yang super dahsyat. Bikin jantung rasanya mau jatuh dan dengkul lemas.
Di tiket tertulis jam penerbangan Jakarta-Denpasar jam 14.25 dan saat itu jam 11.20, saya masih duduk di depan pool Damri. Bersama Oneng. Menunggu satu perempuan yang bisa dibilang dewi penyelamat kami. Bunga Nizam.

Ya. Karena satu dan banyak hal. Partner in crime saya, Iboy dan Dabu, ga bisa ikut. Mereka "memaksa" saya untuk tetap pergi dan menikmati liburan kali ini.
Jadilah pengganti mereka Oneng dan Bunga. Berkat bujuk busuk saya, berhasil juga saya mengajak mereka berdua. Dan ternyata memang busuk! Mereka benar-benar partner in crime yang dahsyat dari awal. Mari saya lanjutkan ceritanya.

Kriiing.. Kraaang.. Krriiingg.. Telepon udah berkali-kali bunyi. Nanyain di mana posisi si Bunga ini. Setiap di telepon suara dia lemah, lesu, tak berdaya, seperti habis bercinta. Kami pun jadi serba salah. Mau marah, tapi kami tau dia juga pasti usaha untuk cepat sampai. Tidak marah pun, kami kesal dan takut tertinggal pesawat. Dilema.
Setelah berpikir agak lama, membicarakan hal-hal yang mungkin terjadi kalau kami terlambat, dan hasil diskusi dengan kondektur bus Damri, yang meyakinkan kami kalau bus akan selalu berangkat setiap 25menit sekali, kami akhirnya memutuskan untuk berangkat lebih awal.
Dalam pembicaraan di telepon, Bunga sempet mengeluarkan suara bernada putus asa, katanya kalau pun dia tidak bisa mengejar pesawat, dia akan tetap menitipkan kami ke tangan keluarganya di sana. Kami pun berharap-harap cemas. Berdoa supaya jalanan tidak macet agar kami bisa mengejar waktu check-in dan Bunga bisa sampai tepat waktu.
Di dalam bus, sepanjang jalan kami terdiam. Berdoa. Deg-degan.

Perkiraan macet ternyata salah. Alhamdulillah lancar. Sampai di bandara, kami langsung masuk. Ini lagi hal yang bikin kami (saya lebih tepatnya) deg-degan. Perlu saya ceritakan, kenapa jantung kami masih aja berolahraga setelah lewat permainan kejar-kejaran waktu dari pool Damri ke bandara.

Perjalanan kami ke Bali ini bisa dibilang ilegal. Karena kami beli tiket orang lain. Yang artinya, kami harus pake identitas palsu. KTP mereka-si pemegang tiket-yang sudah sejak dua hari sebelum keberangkatan ada di tangan saya, sekarang udah berpindah tempat ke tangan Oneng. Kenapa saya deg-degan? Karena menurut cerita beberapa orang, kalau ketauan, kami harus bayar tiket dua kali lipat, atau bahkan bisa-bisa ga diberangkatkan.
Haduuuuh. Amit-amit.
Di antara kami bertiga, ga ada satu pun yang mukanya nyerempet apalagi mirip. Tapi selalu ada keajaiban dalam setiap mimpi. Kalau diliat dari (agak) jauh, ada satu KTP yang potonya agak-agak terlihat seperti oneng. Poninya. Ya, saya ulang PONINYA.
Waaaah, penyelamat sekali, bukan?
Jadilah si Oneng yang bertugas buat check in. Lutut saya kembali lemas. Saya akhirnya disuruh duduk saja. Sementara Oneng  check-in.

Lolos.
Phew.. rasanya. Seperti bisul pecah.
Beres. Sekarang tinggal nunggu Bunga. Saya sms dia. Dia menenangkan saya dengan memberitahu bahwa dia sudah hampir sampai. Tidak macet.
Saya bernapas lega, sedikit.

20 menit kemudian, saya berlari-lari kecil ke depan menjemput Bunga. Ya tuhan.. Melihat wajah dia seperti melihat oasis di padang pasir *lebeeey*.
Kami pun berpelukan seperti teletubies. Dasar wanita-wanita labil!



Kalau kalian pikir jantung saya sudah bekerja dengan normal, kalian salah. Jantung saya masih aja doyan olah raga. Kali ini, pas boarding. Booooo.. Rasanya beneran kaya mau copot. Maklum, pertama kali naik pesawat. Yeah.. Yeah.. Silahkan tertawa!
Tapi sungguh, waktu boarding, tangan saya beneran gemeteran. Mata saya ga berani saya buka. Takuuuut.
Baru bisa narik napas pas bener-bener udah di atas dan posisi pesawat stabil. Phew.
Eits. Tunggu.. Gym jantung belum selesai.
Landing.
Kurang lebih sama deh kaya boarding deg-degannya.
  




Sampai akhirnya menginjakkan kaki di pulau dewata. Saya merasa benar-benar baru bisa bernapas seperti orang normal.

Bali oh Bali. Akhirnya saya sampai juga di pulau yang diidolakan banyak orang. Pulau dewata. Pulau yang menawarkan sejuta imipan dan pengalaman.
Saya memeluk udara panas Bali dengan senyum kering Jakarta. Saya punya firasat baik. :)


Setengah Hari Pertama di Bali :

Keluar dari bandara, tujuan pertama : Discovery Mall-kejar sunset. Langsung kami telepon Blue Bird Bali. PENTING! Jangan pernah naek taxi dari dalem bandara kecuali lagi buru-buru banget. pesen Blue Bird pun ga bisa dari dalem bandara. Kita harus keluar bandara dulu, dan tunggu di sekitar luar bandara. Soalnya semua taxi di dalam matok harga yang lumayan mahal. Bisa buat makan seafood enak banget tuh harganya.
Kebodohan pertama : LUPA nyatet no tlp Blue Bird Bali. Panik dan bingung, bebe lemot banget. Ga bisa diandelin. Saya pun teringat Dabu nun jauh di HK sana. Cepat-cepat saya buzz dan tanya no tlp Blue Bird. Begitu dapet, langsung tlp dan jalan keluar bandara. Kami jalan dengan kecepatan maksimal (sampe lupa bilang makasih ke Dabu. Maaf ya dab..) karena para tukang taxi di dalem “nyerang” kami dengan tawaran2 mereka. Kami pun menolak halus dengan berjalan lurus tanpa memperdulikan mereka *itu termasuk “halus” ga?*.

Beberapa saat kemudian. Taxi datang. Saya dan Oneng masuk. Bunga langsung balik ke rumah karena dijemput kakaknya yang naik motor. Ga mungkin dong, kami ber4 naek motor bareng. Mau sirkus, mba??
Lagian saya penasaran banget sama si Discovery Mall ini. Konon katanya kewreen gitu deh.
Ah, ternyata. Emang kalo soal mall, jakarta tak tertandingi. Ini mall cuma tai kukunya PS atau Sency kali. B banget. Biasa, maksudnya.





Kelaperan. Kami makan sampe kenyang. Abis itu jalan-jalan sampe gila di sepanjang jalan kuta. Ga tau arah. Yang penting jalan aja. Kalo ada objek foto yang bagus, tentu saja kami berhenti dan berfoto.

Oh iya.. Saya mau cerita sedikit.
Waktu keluar discovery mall, kami jalan ke arah kiri. Oneng yang waktu itu alert sama keadaan, nanya : "Nda.. Ada yang baru nikah. Tuh ada janur kuning"
Saya langsung melihat ke arah Oneng menunjuk.
"Oh, iya!" kata saya.
Tapi, saya ga sengaja liat ke arah depan dan seberang. Loh kok banyak banget janur kuning yang lain??
"Neng.. Ini orang Bali lagi ada kawin masal ya? Ko di sana sini ada janur kuning juga?" tanya saya.
Oneng : "mmmm..." bingung dia mau jawab apa.
Ternyata oh ternyata. Selidik punya selidik, janur2 itu emang ada di semua tempat. Sisa ngerayain Galungan kemarin. Bukan karena lagi ada kawin masal di Bali. Hahaha..

Setelah kami keabisan tenaga, keliling sana sini, dari ujung ke ujung tanpa tau arah, kami menyerah. Kecapean dan pengen cepet-cepet balik ke rumah Bunga buat istirahat dan simpen tenaga, karena besok pagi-pagi buta harus udah berangkat ke Singaraja. Yes. We're going to Lovina to see the dolphins!! YAY.

Sesampainya di rumah Bunga, kami disambut dengan keramahan keluarganya. Dan tentu saja kami juga dikejutkan dengan beberapa fakta yang baru terungkap JELAS tentang junior kami ini.
Saya merasa déjà vu.
Rumah dan keluarga Bunga sangat.. Umm, bagaimana ya mendeskripsikannya, sangat kaya akan cita rasa.. INDIA. Yes. India, baby. *godek-godek-pala*
Nanti. Saya belum mau ceritakan semuanya di awal. Pelan-pelan. *huahahaha,,, rasakan kau, Bunga! Akan ku buka pelan-pelan semua rahasiamu di sini*.

Makan malam dan perkenalan singkat dengan anggota keluarga sudah selesai. Beres-beresin barang juga sudah. Tinggal istirahat dan bangun pagi-pagi buta.
Zzzzz…zzz..





Hari kedua :

Kriiiiiinggg… jam menunjukkan 2.30 pagi. Kami bergegas, menyiapkan barang-barang yang harus dibawa. Agenda kami hari ini :
·         Lovina = Liat lumba-lumba
·         Tanjung Benoa = water sports : Flying fish, dll.
·         Ke mana aja = ngabisin waktu sampai makan malem di rumah Bunga.

Jam 3 pagi pas, mobil beserta supir yang sudah kami sewa dari Jakarta datang. Kami berkenalan dengan sang supir. Bapak Ngurah, namanya. Bunga sendiri yang mengecek apakah si bapak ini kira-kira bisa dipercaya atau tidak membawa kami ke Singaraja. Begitu dengar logatnya, Bunga pun langsung memberikan kode : AMAN! Dia orang Bali beneur!! Asli ga pake campuran. 100% murni Bali, cyiin.


Pas banget kami jalan, ujan tiba-tiba mengguyur Denpasar. Yaaah.. Kami berdua harap-harap cemas. Berdoa mudah2an di Singaraja, cuaca ga ujan. Biar kami bisa liat lumba-lumba di tengah laut.
Setengah perjalanan, hujan semakin marah. Lebat ke arah badai. Saya pun hampir lemas. Tuhan, tolong dengarkan doa dua anak ngarep ini. Tujuan utama kami ke pulau dewata adalah melihat lumba-lumba. Sungguh. Setelah itu kami pasrah, akan menerima apa saja yang akan Engkau beri. Apa pun, kami siap. Tapi jangan beri kami kekecewaan karena tidak bisa melihat lumba-lumba. Tolong…

Saking cemasnya, kami pun tertidur di jalan. Entah karena masih capek atau memang udara dingin yang membius mata kami.
Mesin mobil tiba-tiba berhenti dan Pak Ngurah keluar dari mobil. Oneng membangunkan saya, "Nda, udah sampe". Saya celingukan melihat ke luar jendela kaca mobil. Di mana ini?? Kok gelap sekali.

Saya melihat jam di handphone. Masih jam 4.15 waktu Jakarta. Berarti sekarang jam 5.15 waktu Bali. Wah, perjalanannya cepat sekali. Ga sampe 3 jam. Dan hal yang paling melegakan, di sini ternyata tidak hujan. Senangnya. Kami pun memutuskan untuk kembali tidur di mobil menunggu matahari muncul sedikit.
Setengah jam kemudian, kami keluar mobil. Brrr.. Dingin. Dan sepi. Ga ada orang sama sekali kecuali kami bertiga dan beberapa nelayan yang mulai mau mengeluarkan jukungnya untuk kami sewa ke tengah laut agar bisa melihat lumba-lumba.

Satu demi satu bule-bule lain bermunculan. Entah dari mana. Tanpa adegan tawar menawar, mereka langsung naek ke jukung(perahu kecil yang hanya muat 4 orang) yang sudah disiapkan. Saya dan Oneng celingak-celinguk. Waduh, nasib kami gimana nih?! Harus tanya/tawar menawar pada siapa tentang penyewaan jukung ini? Setelah menemukan seorang bapak yang sedang bersiap2 mengeluarkan jukungnya, saya pun bertanya dan memberanikan untuk bernegosiasi dengan si empunya jukung.

Betapa siyoooknya saya mendengar harga yang diberikan oleh bapak itu. 100ribu untuk 1 orang, berarti kami harus membayar 200ribu untuk sekali perjalanan. Wah, mahal sekali. Huhuhu padahal kami mengira biayanya hanya 30ribu per orang. Menurut informasi di internet yang kami cari dalam perjalanan, harganya memang sekitar itu. Makanya saya terkaget-kaget. Kok mahal sekali. Saya sampe ga tega mau nawarnya. Lalu, demi, sekali lagi DEMI tujuan utama kami melihat si lumba-lumba liar cantik itu, kami pun berhasil menawar dengan harga yang alhamdulilah ga bikin bangkrut. Setelah setuju dengan harganya, kami langsung naek ke atas jukung. Hiiiiiy.. Pas pertama naik, saya masih parno. Takut tiba-tiba di tengah laut kenapa-kenapa. Tapi kan DEMI niat, kami pun berbismillah dan berangkuts.

Suasana waktu itu masih gelap gulita. Jukung dengan kecepatan sedang membelah pantai menuju lautan. Saya masih bisa merasakan bau dan angin laut yang menerpa wajah saya. Dingin dan menyegarkan. Bau laut. Saya selalu suka.
Betapa kagetnya kami begitu sampai di tengah laut, ternyata bukan hanya kami yang ada di situ. Bukan 5 atau 10 jukung, tapi mungkin sekitar 30an jukung sudah berkumpul di tengah-tengah lautan. Entah datang dari mana. Menurut si bapak, mereka diangkut dari hotel-hotel sepanjang pantai dan akan berkumpul di tengah sini untuk menanti lumba-lumba beraksi. “Oooo…” jawab saya dan Oneng.

FYI. Hari ini, di antara semua orang yang datang mau melihat lumba-lumba, hanya saya dan Oneng yang berambut hitam alias pribumi. Selebihnya buleleng. Bule.

Jantung saya kembali berdag-dig-dug ria. Menunggu dengan tidak sabar, kedatangan si lumba-lumba pujaan hati. Rasanya seperti ingin bertemu dengan Brad Pitt :)
Dengan harap-harap cemas, sambil memegang kamera yang sudah saya siapkan dalam posisi stand by, saya celingak celinguk liat kanan kiri. Tidak terlihat seekor pun.
Tiba-tiba.. Seseorang, entah siapa berteriak, "there..!". Saya langsung berdiri. Berlari ke depan jukung, berpegangan pada tiang dan memandang ke arah yang dituju. Oooh… itu dia!! Lumba-lumba yang saya, kami, tunggu!!


Saya berteriak-teriak kesenangan. "Oneeeeng… liat ga?? Liat ga? Liat ga??"
Belum selesai girang saya, tiba-tiba ada suara orang lagi sambil menunjuk arah yang berbeda. Oooh, saya tambah kalap. Girang tak terkira. Lompat-lompat di jukung yang cuma cukup buat duduk manis 4 orang. Oneng pun ikut terbawa dalam euforia ini. Sibuk mengabadikan moment itu dengan kamera kami.

Saya baru tau, ternyata lumba-lumbanya banyak sekali. Bukan Cuma satu, dua, atau lima. Tapi puluhan. Tersebar di segala arah. Masalahnya kami tidak pernah tau kapan dan di mana lumba-lumba itu akan muncul ke permukaan dan loncat untuk menyapa kami.
Oooh.. Suaranya lucu sekali. Saya mau gila dengernya. Kalau ga inget bawa kamera orang, saya udah nyemplung ke laut. Pengen langsung berenang. Siapa tau malah dideketin. Huaaaa…

Heboh foto sana-sini, rekam depan-belakang, saya tiba-tiba punya ide. Saya inget dulu saya pernah nonton film tentang lumba-lumba. Di film itu, salah satu pemain menepuk2kan air laut dan bersugesti seolah-olah bisa berkomunikasi dengan lumba-lumba di bawah sana untuk datang mendekat ke perahu.
Saya pun dengan sugesti tingkat tinggi, mulai melakukan adegan di film tersebut, sambil duduk dan menjatuhkan diri ke sisi kanan perahu, saya menepuk-nepukkan jari ke air dan sesekali ke kayu perahu dan memanggil-manggil si lumba-lumba. Berharap mereka mendengar sugesti saya.

DAN!! Ga beberapa lama kemudian. Mereka tiba-tiba muncul di samping kanan perahu kami. PAS dan DEKAT sekali. Saya yang biasanya heboh ngeliat lumba-lumba lagi loncat di kejauhan beberapa meter, tiba-tiba terdiam dan ternganga. Masih setengah ga percaya, saya langsung "memasukkan" mereka ke dalam kamera. Menyimpannya baik-baik.
Mereka seperti sedang melambai kepada saya dan bilang "kami mendengar kamu"
Oh.. It was unreal!

Saya ingin memperlihatkan videonya, tapi sepertinya ga bisa diposting di sini ya?
Kalau bertemu dengan saya, minta saya menunjukkan videonya ya. Pasti saya kasih liat.


Awalnya, saya mengira bermain petak umpet dengan lumba-lumba ini hanya akan makan waktu beberapa puluh menit saja, tidak sampai satu jam. Ternyata lebih dari dua jam sudah kami terombang ambing di tengah laut. Udara pagi yang dingin tadi sudah tergantikan panas teriknya matahari Singasari.
Karena lumba-lumba sudah mulai masuk ke rumah mereka masing-masing, kami pun harus bergegas kembali ke daratan. Lagipula panasnya ga kuat. Bikin kulit terbakar.


PUAS rasanya hati ini. Beribu kata syukur saya ucapkan diam-diam dalam hati pada Tuhan dan semesta yang menjadikan ini semua nyata. Tidak lupa saya juga berterima kasih banyak kepada the dolphin chaser : Mr. Bloyo a.k.a Belih Bloyo. Pengemudi jukung paling top markotop seantero Singaraja deh pokonya. Sebelum pergi, tidak lupa saya berfoto dulu dengan beliau. Huuu.. Intermezzo, walaupun sudah berumur, body bapak Bloyo ini masih oks banget loh. Seksoy. Sayang mukanya kurang napsuin. Hahaha.. becanda pak
.


Next destination : Tanjung Benoa.

Seharusnya sebelum sampai di Tanjung Benoa, kami bisa singgah sebentar di Danau Batur buat sekedar foto-foto dan melihat pemandangan hijau pulau bali dari atas. Tapi sayang, waktu kami keluar daerah Singaraja, hujan kembali mengguyur. Kabut pun menutupi pandangan. Pak Ngurah harus berhati-hati menyetir karena jarak pandang yang pendek bisa berbahaya buat mobil kecil seperti yang kami pakai ini. Harapan pupus sudah ketika sampai di Danau Batur. Semua tertutup rapat oleh kabut. Tidak berlama-lama, karena bisa menghabiskan waktu, kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke Tanjung Benoa. Di perjalanan, kami tertidur dan baru terbangun ketika hampir sampai. Kami sempat terkena macet juga. Hehehe.. ga di Bali ga di Jakarta. Macet cyiiin.


Begitu sampe di Tanjung Benoa, Oneng langsung kalap. Memesan dua permainan. Flying fish dan balon raksasa mirip donat yang maennya di tarik pake speed boat ke tengah laut. Namanya lupa. Donuts apa gitu deh.

Saya? Hehe saya ga berani naek apapun. Saya duduk manis aja di pinggir pantai, sibuk memoto Oneng dan jerit-jeritan waktu Oneng dibawa melayang-layang di tengah laut. Booo.. HERI banget gw. Heboh Sendiri. Bule-bule yang ada di samping saya sampe ngeliatin saya dengan tatapan takjub (baca : aneh).
Eh, intermezzo lagi. Masa ya.. di samping saya ada bule yang mirip banget sama Ayang. Sungguh!! Tapi ini versi ceking-nya. Hahaha.. tapi mirip banget. well, gantengan Ayang aku sih. Hehehehe.. *nyengir kuda*

Selesai bermain watersports, kami baru ngeh, kalo kami belum makan dari tadi pagi. Buset. Kuat amat ni perut kalo lagi seneng. Saking senengnya ga kerasa kalo cacing-cacing udah hampir mati kelaperan. Maka kami sepakat untuk menutup perjalanan kali ini dengan makan seafood di daerah Jimbaran. YUM!!
Capcus, cyooong.

Oh iya, setelah dikecewakan oleh pantai kuta, tanjung benoa dan legian yang menurut saya BIASA banget. Ga ada cakep-cakep apalagi indah-nya sama sekali. Begitu liat pantai Jimbaran yang panjang dan sepi. Saya terpukau. Wah, ini baru lumayan cantik. Saya pun jatuh hati pada Jimbaran sore itu.

Makanan tiba. Kalap makan. Diiringi pengamen romantis pula. Oh.. so sweet. Sayang samping saya Oneng. Bukan cowo, kalo cowo udah saya cipok! *seeet, bahasa Nda!*
Makan beres, pantai yang puanas terik mulai meredup. Pemandanganya bagus. Sebelah kanan kami Bandara Ngurah Rai dan sebelah kiri, daratan yang menjorok ke laut, berwarna hijau. Saya bisa membayangkan cantiknya pantai ini kalau malam hari. Pasti kelap kelip oleh lampu-lampu hotel sepanjang pantai. Oh.. lagi-lagi romantisnya. Saya ga mau menengok ke Oneng. Bisa membuyarkan khayalan saya.

Saya memutuskan untuk mencelupkan diri di pantai Jimbaran ini. Sementara Oneng hanya mau berperan sebagai photographer saya saja :)


Cuma sekitar 15menitan saya bermain air. Ga berani ke tengah, karena ombaknya gede banget. Di sepanjang pantai kami menemukan beberapa pasangan sedang memadu kasih. Duuh, cemburunya hati kami. Mupeng dot com. Kami cuma cengar cengir ngenes liat sebuah pasangan sedang asik bercumbu di bibir pantai. Asoy. Bikin iri dengki. Hiks. Nasib jomblowati. Ah sudahlah. Kami pun bergegas pulang ke rumah Bunga dengan perasaan puas. Lovina, checked. Water sports, checked. Makan seafood, checked.



Di depan rumah, Bunga sudah menyambut kami dengan pertanyaan “Gimana?” kami pun hanya menjawab dengan senyum lebar dan dia pun mengerti, artinya kami berhasil melewatkan hari dengan sakses!

Sebelum makan malem, kami beres2 diri dulu. Mandi dan saya langsung asik mindah2in semua hasil jepretan kamera hari ini. Sambil tentu saja senyum-senyum puas.

Makanan tiba. Kami kalap. Makan nasi goreng Malaysia. Eh apa nasi goreng india ya? Pokonya nasi goreng enak deh rasanya. Hehe emang dasar lagi laper.
Kami pun berbincang-bincang sambil menghabiskan makan malam. Hangat sekali. Saya merasa betah. Keluarga Bunga benar-benar tuan rumah yang baik.

Perut kenyang, badan bersih, tinggal mata yang ga kuat melek. Ngantuk banget karena saya semalem cuma tidur 2  jam. Malam ini saya mau bales dendam. 
Kali ini saya sengaja mematikan handphone dan laptop. Karena kalo tetep nyala, saya pasti tergoda buat sekedar chating sama beberapa orang dan liat-liat foto yang beratus-ratus jumlahnya. Yang ini saya ga hiperbol.
Jadi, saya langsung membunuh diri sendiri. Zzzzzzzzzzzzzzzz….


Sepertinya kalau saya lanjutkan ceritanya, akan terlalu panjang untuk satu posting.. saya sambung di posting berikutnya ya...



They called it Bali, i called it Love


Hari ketiga :

Pagi-pagi, mobil tante Bunga sudah nangkring di garasi. Mantaf. Seharian ini kami mau keliling Bali (umm, Cuma daerah Bali selatan sih. Ga semua daerah) bersama Bunga dan sepupunya, bernama Tommy. *Uhuk. Batuk dulu ah.*
Semalem sosok ini belum ada. Dia baru dateng tadi pagi. Sempet curi-curi pandang. Hm. Mayan.

Sebelum kami berangkat, kami sempet mampir ke tetangga Bunga yang notabene punya pabrik yang bikin baju-baju khas Bali gitu. Wiieeh.. senangnya bagai di pabrik coklat. Kalap buuu!!
Melihat kekalapan kami yang mulai tidak sehat dan bisa menghancurkan rencana seharian, kami buru2 meninggalkan tempat itu. Nanti saja kami akan kembali setelah selesai reli pantai. Pikir kami.

Sip. Tas sudah. Kaca mata sudah. Topi sudah. Air minum sudah. Cemilan sudah. Kamera sudah.
Berangkuuuuuts!

Tujuan pertama : Pantai Padang-padang.
Buat yang belum tau, seperti saya, pantai ini adalah pantai yang dipakai Mba Julia Roberts untuk syuting film Eat, Pray and Love itu loh. Film-nya emang belum keluar. Saya juga belum sempat baca bukunya. Nanti saya harus beli kalau sudah balik ke Jakarta.
Di perjalanan, kami berhaha-hihi dan menyanyi. Sambil tentu saja berkenalan dan ngobrol-ngobrol sedikit sama sepupunya Bunga yang bertugas sebagai supir kami hari ini. *Uhuk. Batuk lagi ah.*

Selain penampilannya yang GAOL banget, ternyata selera musiknya Tommy juga menggambarkan anak muda Bali sekali. Jedak jeduk sepanjang jalan. Sampe akhirnya si Bunga protes-protes minta ganti CD. Dan coba tebak dia menggantinya dengan CD apa? Ya. CD lagu-lagu India!
Ya tuhaaaaan.
Belum abis penderitaan kami dengan harus mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang karena si Bunga saking sukanya sama lagu yang berjudul Suche Suche ini. Tiba-tiba tanpa diduga Tommy juga memutar lagu yang ga kalah dahsyat dari Suche Suche-nya Bunga. Dasar emang darah India yang sudah mengendap di keluarga mereka, Tommy yang gaul pun tetap tidak bisa melepaskan kecintaannya pada music indiahe. Diputarlah sebuah lagu india berjudul Aisha, yang punya beat macam lagu-lagu hip hop barat. Haduh, ampun DJ Tommy. Saya ampe jeduk-jedukin pala saking menikmatinya. Hahahaha.. *batuk-batuk yang banyak ah. Uhuk uhuk uhuk.*


Jadilah sepanjang jalan dari Denpasar ke daerah Bukit, Padang-padang kami diracuni oleh keINDIAan mereka. Damn! I enjoyed it so much. Hahaha baru kali ini mersakan pleasure tanpa guilty. Mantaffff.


Sesampainya di Padang-padang, saya disambut oleh pemandangan super dahsyat dari pantai cantik itu. O em jay! SUPER KEWL!! Kereeeeen. Huhuhuhu, ga punya kata-kata yang bisa mewakili cantiknya pantai ini. Kalap!! Langsung foto-foto walaupun panasnya minta ampun. Di titik ini, saya udah ga perduli kalaupun kulit saya terbakar apalagi Cuma gosong-gosong doang. Lah wong saya udah gosong dari sananya kok. Jadi perduli setan lah.
Yang penting foto!!

Saking bagusnya ni pantai, si Oneng sampe bilang, “Wah, enak banget nih kalo bercinta di sini bersama kekasih hati.” Huahahaha.. Oneng biaaatch!! Damn agreed!

Tadinya saya udah mau lepas baju dan langsung nyelup ke laut yang berwarna hijau dan biru itu. Tapi berhubung cuma saya yang bersemangat berenang, yang lainnya cuma adem-ayem aja ga ada keinginan buat nyelup, saya jadi ragu. Trus di tambah lagi, Tommy bilang “Kalo berenang, enakan di Dreamland. Lebih luas dan lebih enak deh pokonya”. Uhuk.. uhuk.. *entah udah berapa kali saya batuk yah?*

Mendengar suggestion dari doi, saya manggut2 aja. Percaya penuh pada dia yang memang sudah kenal daerah sini.
Sebelum capcus, kami memuaskan diri buat foto-foto. Dari foto sendiri-sendiri, foto berdua, foto bertiga, foto berempat, foto preweding, sampe foto2 model kalender, sudah semua dicoba, kami pun meninggalkan Padang-Padang dan langsung menuju Dreamland.

Wiediih.. baru masuk pelatarannya aja, saya udah berdecak kagum. Gila nih si Tommy. Um.. maksud saya Tommy Suharto ya, bukan Tommy yang itu tuh*EHEM-UHUK, keselek dikit. Gara-gara kebanyakan batuk*, oke banget mengelola tempat ini.  Berasa di San Fransisco. Yeah. San Fransisco in my dream. That why they called it DREAMLAND.

Sampai akhirnya masuk ke dalam dan melihat pantainya langsung. Saya terpana.
Ombaknya gede banget!! Mana mungkin saya bisa berenang di sini?? Kampreto!!
Waktu itu panasnya melebihi panas di Padang-Padang. Terik sekali. Ditambah angin kencang yang menciptakan ombak besar mengulung-gulung. Hiiiy.. ngeri deh.


Lama saya dan Oneng duduk terpesona melihat pantai ini. Cantik tapi menyakitkan. Itulah kata-kata yang kira-kira bisa saya gambarkan. Warna yang bercampur dari putihnya ombak, hijau di tengah-tengah dan biru di ujung laut. Hijau di samping kanan kiri pantai. Dan biru langit yang mencerahkan siang itu. Cantik. Juga menyakitkan melihat ombak besar yang tidak membiarkan seorang surfer pun menyentuhnya. Terlalu bahaya. Ombak itu bisa dengan mudahnya melumat apa pun yang ikut terbawa gelombang di bibir pantai. Hiiiy.. saya diam-diam bergidik. Merinding membayangkan kalau tiba-tiba tsunami datang. Serem. Tapi tetap cantik dengan birunya yang menenangkan mata.

Kecewa karena ga bisa berenang, saya merengek minta kembali ke Padang-Padang. Tapi 1 lawan 3, tidak berhasil. Mereka lebih memilih melanjutkan perjalanan ke pantai selanjutnya. Nusa Dua.
*menghela napas*
Saya pun pasrah. sambil melirik tajam ke arah Tommy, memicingkan mata, saya  berkata, menirukan dia “Kalo berenang, enakan di Dreamland. Lebih luas dan lebih enak deh pokonya”
Bukannya merasa bersalah, dia malah ketawa ngakak. Heeeeuuh! Kesel tapi tetep pengen batuk!! *UHUK2!!*

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Nusa Dua. Tujuan utama di sana : Water Blow. Hmmm penasaran. Menurut cerita Bunga, tempat ini bisa blowing my mind. Really?? Hmm. Let’s see.
Di jalan, saya udah wanti-wanti Tommy buat cari tempat makan dulu. Mampir di mana dulu gitu, buat isi perut, laper. Udah waktu makan siang juga. Tapi di sepanjang jalan, yang kami temui hanya makanan sampah a.k.a junkfood. Ah, di Jakarta juga banyak makanan sampah mah.
Saya maunya makanan khas bali. Nasi campur kek, ayam betutu kek, apa lah yang berbau-bau Bali. Hmm.. susahnya minta ampun, karena kalau mau cari makanan gitu, harus ke arah yang berlawanan. Sementara jalan ke arah Nusa Dua ga ada tempat makanan khas Bali yang ok.
Jadi kami harus menahan lapar sampai kami selesai di Water Blow.

Ternyata benar!! Water blow ini memang berhasil mem-blow my mind!! Gilaaaa.. keren ben-jet!!
Jadi, water blow adalah sebuah tempat yang penuh sama karang-karang tajam yang terletak di pinggir laut. Nah, ombak yang menghantam karang-karang itu saking besar dan kuatnya sampe bisa membuat sebuah letusan (blowing) setinggi 5 meter! Keren banget deh pokoknya. Lagi-lagi, cantik tapi menyakitkan.

Agak-agak serem juga soalnya menurut cerita warga, tempat ini udah memakan beberapa korban. Konon ada orang yang lagi berdiri di deket karang untuk liat ombak, kebawa ombak letusannya dan langsung masuk ke karang-karang tajam itu. Terhempas ke sana-sini. Merobek-robek setiap bagian tubuhnya. Huuuhuu serem.

Di sela-sela memandangi tempat ini, handphone saya berbunyi. Ada sms. Ah dari dia, seorang teman  yang memang tinggal di Bali, meminta untuk bertemu malam ini, setelah makan malam. Tentu saja saya bilang iya. Malam terakhir, jadi harus dimaksimalkan.


Kami pun ga berlama-lama. Setelah puas berfoto dan mengagumi ciptaan Tuhan ini, kami lanjut turun ke bawah. Ke pantai yang enak buat berenang. Maklum, bisul saya belum pecah. Pengen berenang dari tadi belum kesampean.
Emang dasar ga beruntung. Begitu sampe tepi pantai Nusa Dua yang lagi-lagi harus saya bilang cantik, hujan tiba-tiba turun. Batal total lah acara berenang saya. Kami berlari-lari menuju mobil sambil kebasahan. :(

Sudahlah. Saya ikhlas ga berenang hari ini. Kemarin kan sudah waktu di Jimbaran. Huh, walaupun agak menyesal kenapa tadi ga kekeuh berenang di Padang-Padang.
Kami melanjutkan perjalanan ke pantai bernama Double Six. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk tattoo!! Wooo hooo.. aku mau tato lumba-lumba J
Sebelumnya, saya dan Oneng memaksa Tommy untuk mencari tempat makan. HARUS! Kami sudah ga tahan. Laper boooo. Bisa mati di jalan nih. Udah sore gini belum makan apa-apa. Semacam lagi puasa lah liburan kami.

Ujan pun tak menghalangi kami pergi ke tempat makan. Sampai di sana, kami langsung melahap nasi campur yang rasanya aduhai lezatos.
Kenyang. Lanjut ke pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Bali : Joger.
Maaaak. Ini tempat penuhnya udah kaya apa tau. Saya ga betah lama-lama di sana. Cuma beli jaket dan kaos untuk adik kembar saya. Langsung ke luar dan masuk mobil. Capcus ke Double Six.

Pantai ini ceritanya pantai favorite si labil Tommy buat berenang.  Sayang, kami sampai terlalu sore. Jadi langit udah agak gelap dan ombak udah semakin ga karuan. Saya yang sudah ikhlas ga bisa berenang hari ini, ga napsu juga untuk berenang lagi. Jadi, saya hanya akan ditato saja. Sementara Oneng sibuk memoto saya, Tommy dan Bunga sibuk curhat-curhatan. Deuh.. curhat apaan sih, kalian? Serius amat. UHUK!! *pura-pura batuk, cari perhatian*.

YAY. I’ve got my dolphins tattoo now!
Mantaff.

Sekarang tinggal pulang ke rumah. Mamah Bunga udah teleponin kami dari tadi, minta balik cepet karena makan malam sudah disiapkan.

Oh, no! kami lupa harus kembali lagi ke tempat baju, tetangganya Bunga. Aduh. Kami pun cepat-cepat menuju sana. Sampai tempat tujuan, kami kalap beli ini itu. Titipan-titipan.
Beres.
Yaah, saya hampir lupa kalau saya masih punya janji ketemuan sama si dia. Waduh. Mana keburu nih, kata saya dalam hati. Sekarang aja udah jam 7. Saya bilang sama dia ketemuan jam 8. Sekarang saya di Denpasar. Kami sepakat buat ketemuan di daerah Jimbaran. 25 menit perjalanan ke sana.
Sekarang aja baru masuk rumah. Belum mandi, belum makan, belum ngobrol-ngobrol. Huaaaa.. mana keburu?!!?!
Saya pun panik. Segera mengsms dia dan bilang kalau saya masih di Denpasar dan kemungkinan harus mengundur jam pertemuan. Itu pun kalau dia tidak keberatan. Kalau dia tidak bisa, ya berarti belum jodoh. Wah, ternyata dia tidak masalah.
Sedikit tenanglah saya.

Mandi, makan, ngobrol-ngobrol dikit, selesai. Langsung tancap gas minta anterin Bunga menuju sebuah warung di daerah Jimbaran. Wusssh…
Walaupun awalnya agak kesulitan menemukan tempat yang disepakati, akhirnya ketemu juga. Campuran antara niat, usaha dan takdir, saya pikir.

Dan di sana lah saya. Bertemu dengan dia. Berjabat tangan. Berbincang-bincang. Berbagi cerita. Tertawa. Selayaknya teman lama yang sudah lama baru bertemu kembali. Awalnya saya pikir Oneng akan merasa “tersisihkan”. Tapi untunglah semuanya berjalan lancar. Oneng sepertinya juga menikmati pertemuan ini, sama seperti dia menikmatinya.
Saya senang.

Berbicara satu setengah jam sepertinya tidak cukup. Warung tempat kami bertemu sudah bersiap-siap menutup tempatnya. Kami pun harus segera pindah. Mencari tempat baru untuk melanjutkan pertemuan ini. Entah saya atau dia yang bersikukuh untuk tetap bersama menghabiskan malam terakhir saya di Bali. Saat itu, saya tidak bisa begitu saja meminta Bunga menjemput dan mengantar saya ke tempat baru. Terlalu merepotkan. Kendaraan yang ada di depan kami saat itu adalah motornya. Dia pun mengajak saya dan Oneng untuk naik motornya saja. Bali style, katanya. Haha.. dan perduli setan, saya pun akhirnya setuju untuk tumpuk 3 dalam 1 motor.

Lucu sekali. Di sepanjang jalan. Kami tertawa karena menurut saya pribadi ini adalah hal bodoh yang biasa saya tertawakan kalau saya lihat di mana pun. Naik motor bertiga??? So alay!! Big No No.
Tapi malam itu, kami tidak perduli. Jimbaran malam hari pun terasa akrab bekerja sama. Sepanjang perjalanan, terngiang-ngiang lagu “I’ve got a feeling. That’s tonight gonna be our good night. That’s tonight gonna be our good good night…

Setelah menemukan tempat parkir motor, dan masih belum tau harus duduk-duduk di mana. Kami nekat untuk tetap jalan. Menyusuri sepanjang pantai Jimbaran di malam hari.
Sebelumnya saya pernah bilang, saya membayangkan pantai Jimbaran akan terlihat cantik sekali pada malam hari. Dan ternyata saya benar. Cantik dan romantis. Dengan suara debauran ombak dan lampu-lampu kerlap kerlip di sepanjang pantai yang berasal dari hotel-hotel dan rumah-rumah penduduk.

Bertiga kami berjalan. Mengobrol apa saja yang muncul di kepala kami. Berbicara tentang hidup. Tentang hal-hal kecil dan impian.

Malam itu saya berharap waktu berjalan pelan. Malam itu saya berharap matahari tidak akan pernah muncul. Malam itu saya senang sekali. Menghabiskan malam terakhir di Bali di tempat favorite bersama dua orang yang menyenangkan. Oneng dan dia.


Kami berhenti dan memutuskan untuk duduk di kursi panjang milik hotel setempat. Berharap tidak akan ada yang menegur kami atau meminta bayaran karena kami memakai kursi hotel mereka. Hihihi.. lucu.
Kami beruntung karena kami bisa duduk-duduk tenang di sana sampai pagi. Kira-kira jam 1. Saya lupa diri. Saya lupa waktu. Saya tidak mau ingat apa-apa.
Saya dan Oneng memutuskan untuk pulang naik taxi saja. Karena akan merepotkan Bunga kalau dia harus menjemput kami kembali. Lagi pula, dia berjanji akan mengantar kami sampai ke tempat yang mudah mendapatkan taxi. Kami merasa tenang.

Di sela-sela obrolan kami, saya mengundurkan diri dari pembicaraan bertiga. Maju ke depan, ke bibir pantai. Lalu menengadah ke atas. Memandang langit bali yang berbintang tapi malu-malu tertutup awan. Indahnya.
Lalu saya mengucap syukur. Berterimakasih pada pulau indah ini. Atas semua yang sudah diberikannya pada saya selama 4 hari ke belakang. Sejak awal saya menginjakkan kaki di bandara yang letaknya di ujung mata kanan saya, sampai akan berakhirnya malam ini. Ditutup dengan pertemuan yang singkat tapi manis. Sempurna sekali.

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Oh, sudah terlalu lama rupanya obrolan kami. Saya merasa hanya baru beberapa menit yang lalu. Dengan berat hati, kami harus segera berpisah L
Seperti janjinya, dia akan mengantarkan kami ke tempat di mana kami bisa menemukan taxi dengan mudah.
Sambil berjalan menuju parkiran motor, dia bertanya, “Hal apa yang belum kamu lakukan dan ingin kamu lakukan di Bali?”
Saya menjawab “naik motor”.

Lalu begitulah. Dia membiarkan saya membawa motornya pagi itu. Membonceng dia dan Oneng. Oh, betapa senangnya perasaan ini. Tidak apa lah saya tidak bisa berenang hari ini. Tak apa. Itu terbayar dengan saya mengendarai motor di malam terakhir saya di Bali.
Sempurna.
Hmm, sebenernya ada satu kejadian bodoh dalam perjalanan motor kami. Pertama, kami sempat mau digigit anjing yang lagi asik nongkrong di pinggir jalan Jimbaran. Waktu motor kami melewati anjing itu, tiba-tiba anjing itu menggonggong dan berlari ke arah kami. Oneng panic dan berteriak. Saya setengah mati menahan tawa dan keseimbangan motor. Lucu sekali. Kami tertawa.

Lalu, sampailah kami di sebuah jalan yang hampir mencelakakan kami. Tanjakan.
Ya. Tanjakan yang berliku-liku.
Saya memang jago naek motor, tapi kalau medannya seperti ini. Jalan berliku, tanjakan tajam, ditambah jalanan yang gelap?! Great!. Sebagai pacarnya Valentino Rossi pun, saya belum tentu sanggup melewatinya.

Belokan tanjakan pertama lolos, itupun sudah dibantu dengan petunjuk dia yang meminta saya untuk memindahkan gigi motor. Entah karena saya masih merasa senang sekali, saya santai saja. Merasa bisa melewatinya dengan mudah. Huhuhu ternyata tidak. Motor berpenumpang tiga orang ini rasanya berat sekali. Belum lagi saya harus bisa mengontrol motor dengan gigi manual.
Sampai akhirnya di sebuah tanjakan yang cukup tinggi. Saya tidak sanggup membawa motor ini tetap berjalan. Sudah saya tancap gas paling pol, tapi motor ini tetap tidak mau menanjak. Kami pun berteriak-teriak. Teriakan tawa dan panik.

Dengan sigap dia loncat dari motor dan menahan dari belakang. Saya dengan paniknya tidak bisa menginjak rem, malah sibuk memegang kuat rem tangan, yang sepertinya tidak berfungsi. Damn.
Tenang. Dia bilang. Kami pun diam. Lalu dengan itungan ke tiga, saya mencoba lagi menancapkan gas. Kali ini berhasil. Motor pun menanjak. Rasanya lebih ringan. Mungkin karena dia tadi turun dan hanya Oneng yang saya bonceng. Fyuuh. Selamat.

Saya berhenti beberapa meter di depan. Di jalanan yang sudah rata, bukan tanjakan. Lalu langsung menengok ke bawah, melihat dia berlari-lari kecil menghampiri kami. Saya tersenyum dan kembali tertawa. Duh, saya bodoh sekali. Saya hampir saya mencelakakan Oneng dan dia.
Saya pun meminta maaf, dan menyerahkan kemudi kembali padanya. Hehehe..
Sebelum kami meneruskan perjalanan, kami berniat memesan taxi terlebih dahulu. Dan kebodohan lainnya : LUPA MENYIMPAN NO TLP BLUE BIRD!!! Doooh.
Lagi-lagi saya teringat dan mengandalkan Dabu. Saya yakin dia pasti masih online jam segini. Saya langsung bertanya lewat YM. Setelah dapat, kami langsung menelepon taxi. Aman.
LAGI, saking seneng atau paniknya, saya lupa berterimakasih pada Dabu. Bad friend! :( maaf Dabu sayang.


Kami pun sampai di tempat yang sudah kami tentukan ketika memesan taxi lewat telepon. Dan itu artinya saya harus segera berpisah. Mengucapkan kata selamat tinggal padanya.
:(
Ada rasa sesal sedikit. Seandainya kami bertemu lebih awal. Seandainya dia tidak sibuk. Seandainya.. seandainya.. seandainya.. kami pasti, ah. Sudahlah. Saya cukup bahagia. Saya merasa cukup.
Saya tidak bisa meminta lebih dari ini. Ini sudah cukup sempurna untuk saya.

Saya memandang dia untuk sesaat. Memberikan senyum terbaik dan akhirnya mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih untuk penutupan yang manis ini.

Kami pun berjabat tangan. Berpelukan. Berpisah.


Sesampainya di rumah Bunga. Walaupun capek, saya tidak bisa tidur. Saya menyibukkan diri dengan menge-pack barang dan bersms dengan dia di ujung Bukit sana. Besok pesawat saya boarding jam 9 pagi. Sekarang sudah jam 2 lewat. Hanya tinggal beberapa jam lagi saya di Bali. Rasanya tidak ingin menyia-nyiakan setiap menitnya.
Tidak akan pernah tau, apakah saya akan bisa kembali lagi ke sini. Saya ingin menghabiskan setiap detik, menit, dan jam-nya bersama malam Bali dan bersama dia, walau hanya lewat sms.
Sampai akhirnya saya terjatuh tidur. Zzzz…


Hari keempat :

Pagi-pagi saya mandi dengan perasaan bercampur. Sedih karena harus meninggalkan Bali, lalu ada perasaan senang yang menyembul karena menyadari bahwa saya baru saja mengalami malam yang indah tadi malam. Juga perasaan bingung karena dia meminta saya untuk tetap tinggal lebih lama lagi. Beberapa hari lagi saja. Ah, saya terlalu rapuh untuk menentukan pilihan sekarang. Hati saya sudah terlalu banyak mengalami berbagai macam perasaan belakangan ini. Dan saya tidak bisa lagi mengandalkan hati saya. Saya hanya bertumpu pada akal pikiran sehat saya, dan itu bilang bahwa saya harus pulang ke Jakarta. Back to real life.


Beberapa kali dia mencoba menyakinkan saya untuk tetap tinggal. Tapi saya tau saya tidak bisa berkata iya. Saya harus tetap berjalan. Saya tidak bisa berhenti di sini. Walaupun saya sangat ingin. Sekali.
Akhirnya saya memutuskan untuk berkata “I’ll be back someday.” Pada diri sendiri dan pada dirinya. Dan i wish, i hope universe will meet up us again somehow, somewhere, someway, somehow...

Pagi itu, Bali cantik sekali.
Dan saya pulang dengan perasaan damai.

Terima kasih, Bali.