Dulu saya begitu mencintai pagi. Di pagi hari saya dilimpahi dan disirami kasih sayang dia, lelakiku. Ucapan, kecupan, dan pelukan cinta.
Dulu saya begitu mencintai pagi. Kami lebih tepatnya. Bukan hanya saya. Di pagi hari kami menyapa angin pagi di balik kemudi dan mengagumi buncahan warna orange si matahari di ujung langit sambil berkata "It's so beautiful".
Dulu saya begitu mencintai pagi. Di pagi hari saya tahu saya akan menerima banyak dari semesta. Bersama dia, tentu saja.
Sekarang betapa saya membenci pagi.
Pagi sekarang berubah menjadi masa yang paling saya hindari. Rasanya pahit sekali. Tidak ada dia, tidak ada cinta, tidak ada warna. Tidak ada apa-apa di pagi-pagi saya belakangan ini.
Pagi sekarang hanya memberi saya tetesan air mata. Pagi sekarang hanya memberi saya ingatan-ingatan yang menyiksa. Pagi sekarang benar-benar menyiksa dan menyobek2 saya.
Saya bisa apa?
Dulu, saya menerima pagi sebagai sesuatu yang cantik - penuh cinta karena dia begitu memanjakan saya dengan keindahannya
Sekarang, saya (harus-mau tidak mau) menerima pagi sebagai sesuatu yang pahit - penuh duka karena dia begitu kejam dengan kesunyiannya.
Bolehkah saya berharap, hey universe?
Nanti, saya (berharap akan) menerima pagi yang normal. Pagi yang menenangkan. Bukan pagi yang semu. Bukan pagi yang hanya menawarkan manis dan pahit, tapi pagi yang memberikan rasa tentram dan damai.
Pagi yang memberikan saya rasa syukur ketika saya terbangun dan ada dia di samping saya sebagai pemimpin masa depan. Pagi yang akan membiarkan saya berkata "Selamat pagi, suamiku".
Bolehkah saya berharap?