Saya suka sekali dengan pepatah yang sengaja saya jadikan judul blog yang hampir seperti blog mati suri ini.
Be not afraid of going slowly; be afraid of being standing still.
-Anonymous-
Well.. sebenernya menemukan pepatah yang berasal dari negeara China ini tidaklah cepat prosesnya. Seperti yang kalian tau, kondisi saya sekarang ini masih labil. Masih belum dibilang sehat, sama seperti nasib kekasih saya yang juga masih betah tidur di seberang bumi belahan sana. Kalau dia masih juga belum bangun, saya juga masih berusaha untuk tidak berhenti di tempat.
Sepulangnya saya dari Singapore, kira2 dua bulan lalu, saya merasa lega dan juga cemas. Lega karena pada akhirnya, perjuangan kami -Saya, keluarga kami, dan kalian, teman2- membuahkan hasil. Dia berhasil dipulangkan ke Inggris. Cemas karena itu berarti kemungkinan saya akan terseok-seok sendiri tanpa dia untuk beberapa saat.
***
Peristiwa perpisahan kami bisa dibilang sangat dramatis. Waktu itu dia dalam keadaan (bisa dikatakan sepenuhnya) sadar. Dokter dan suster yang khusus diterbangkan dari Inggris untuk menemani dia pulang bersiap-siap membereskan semua yg diperlukan ; mengganti slang obat, melepas boots, dll.
Saya menemani dan melihat proses itu di dalam kamar bersama tim medis. Berdiri di samping tempat tidurnya sambil menggenggam erat tangan dia. Sementara mereka melakukan tugasnya, saya tetap bicara pada lelakiku. Memberitahu dia bahwa orang-orang yang berada di ruangan itu akan memindahkan dia ke ambulance untuk dibawa ke airport. Sehari sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa mereka akan menerbangkan dia pulang ke Inggris. Waktu saya mengatakan itu. Dia meneteskan air mata. Walau pun dia belum bisa membuka mata dan belum bisa berbicara, saya tau dia sedang menangis sedih ketika saya memberi kabar itu.
Saya berusaha untuk tidak menangis dan menahan agar suara saya tidak bergetar. Tapi tangan saya jadi gemetaran diremas dia saking kuatnya. Dia tau saya sedang menahan tangis, dan dia ingin saya kuat.
Mulut dia bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu. Saya bilang, tidak usah berkata-kata. Aku mengerti. Dia pun meremas tangan saya lebih kencang.
Setelah semuanya selesai dibereskan, mereka siap memindahkan dia ke tempat tidur lain menuju ambulance. Ketika si dokter meminta kami melepaskan tangan. Dan di saat itu lah titik kekuatan saya hancur berantakan. Saya tidak kuat. Saya hancur berkeping2 menangis tak bersuara ketika dia tidak mau melepaskan tangan saya, dan dokter juga suster sampai harus melepaskan pegangan tangan dia dengan paksa. Demi Allah, saya ga tau kekuatan apa yang merasuki Mat. Tapi genggaman tangannya ga bisa dilepasin. Saya tau, Mat sedang berkeras hati tidak mau melepaskan tangan saya. Semua tenaga medis satu demi satu membujuk Mat untuk melepaskan tangan saya, bahkan Mama dan kakaknya ikut masuk dan berusaha meminta Mat melepaskan tangan saya.
Saya membenamkan wajah basah saya di dadanya. Berusaha menenangkan dia. Dada saya sendiri sesak karena sakit menahan tangis. Gusti pangeran.. belum pernah dada saya sesakit ini menahan tangis.
Lalu, setelah beberapa menit mengumpulkan kekuatan untuk bicara, saya mencoba membujuknya.
"Sayangku.. You need to let my hand go. They just gonna move you other bed to take you to ambulance and We cant move you with our hands holding like this. I will hold your hand again soon they moved you to other bed. I'll go with you to ambulance. I promise."
Suara saya ga karuan. Bergetar menahan sakit dan tangis. Bukannya dilepas dia semakin kencang menggenggam saya. Saya sendiri heran, tangan saya tidak remuk dibuatnya. Saya memberikan isyarat, tunggu sebentar, kepada tim medis. Saya yakin Mat mengerti, dia hanya butuh waktu sedikit saja. Lalu perlahan genggaman itu pun mengendur. Saya pelan-pelan menarik tangan saya dari telapak tangannya. Segera bersiap2 berdiri di samping tempat tidur lain yang akan membawa dia ke ambulance. Peristiwa ini membuat semua orang di dalam dan luar ruangan yang transparan oleh kaca (saat itu banyak teman2 dari gereja St. George’s datang untuk ikut mengantarkan kami ke bandara) ikut menangis. Kebanyakan memang sudah ibu2. Bahkan suster dan tim medis pun ikut berkaca-kaca.
(Kalau saya ingat2 sekarang kejadian itu. Saya merasa persis film India.)
Sesampainya kami di depan ambulance, saya berbisik di telinga dia bahwa saya akan bertemu dengannya lagi di airport. Tim medis dari Inggris tidak memperbolehkan seorang pun ikut dalam ambulance. Berbeda sekali ketika saya menemani Mat di ambulance dari Sanglah (rumah sakit di Bali) ke Ngurah Rai waktu kami terbang ke Singapore. Dan dari rumah sakit Gleneagles ke NUH. Saya selalu ada di dalam ambulance bersama dia dan dia selalu tau itu.
Ketika kami bersiap menuju mobil yang akan membawa kami ke airport, tiba2 si dokter memanggil Mama Mat dan berkata, membolehkan satu orang ikut di dalam ambulance ke airport. Kami pun menggiring Mama Mat dengan senyum gembira. Tapi Mama Mat berhenti dan berkata ke saya "You go with him, Anda. He wants you to be there"
Saya langsung memeluk dan mencium Mamanya Mat. Tidak ada kata-kata. Beliau tau betapa berartinya ini buat saya.
Saya langsung berhamburan masuk ke dalam ambulance dan menggenggam tangannya.
Dia balik meremas tangan saya. Pelan saya berbisik "You just won’t let yourself go from me that easy, would you"
Tadinya saya pikir, saya tidak akan sanggup untuk melepaskan lelaki yang sedang menggenggam saya ini di airport. Saya pikir, saya pasti pingsan atau lepas kendali berteriak2 tidak mau dia pergi. Ketika ambulance sampai di bandara dan dokter mengatakan bahwa saya harus turun di sana karena ambulance ini akan langsung masuk ke bagian pesawat, mereka memberikan saya waktu berdua saja di dalam ambulance untuk saling mengucapkan selamat jalan.
Saya tidak percaya dengan apa yang saya rasakan saat it. Saya merasa tenang yang luar biasa. Suara saya tidak bergetar sedikit pun. Saya memegang tangannya dan meletakkannya di dada saya. Pas di jantung saya. Saya ingin dia dengar suara jantung saya yang tenang. Yang menandakan saya kuat dan saya bisa melanjutkan perjalanan ini sementara sampai kami bersatu lagi. Dia menggeser kepalanya ke arah saya. Saya mendekat ke wajahnya, berbisik tenang di telinganya. "You know this is not a goodbye, Sayang. Have a safe flight and I will see you soon, my love."
Dari matanya yang terpejam, meleleh sebulir air mata di sebelah kanan dia. Saya mencium bulir air mata itu. Tenang sambil berkata "I love you too"
***
Saya tiba di Jakarta keesokan harinya. Hari yang sama ketika Mat juga mendarat di Inggris. Baik Mama dan keluarganya di Inggris langsung mengupdate bagaimana kondisi dia. Saya merasa semakin tenang.
Sesampainya di rumah, Mamah saya menyambut saya dengan tangisan bahagia, lega dan syukur. Bertubi2 ciuman mendarat di muka saya. Papah dan kedua adik saya ikut bercengeng2an sejenak, memeluk dan menciumi saya . Mereka kangen saya sama seperti saya merindu mereka.
Mamah, seperti biasa mengecek saya dari ubun-ubun ke telapak kaki. "Kamu kurus banget, Neng... " Begitu katanya.
Saya cuma tersenyum dan membalas dengan becanda "Mamah kali yang tambah 'ndut."
Mamah saya tidak tertawa mendengar candaan saya. Beliau tau saya banyak menangis dan tidak tidur bermalam-malam di Singapore. Beliau tau, saya tetap berusaha kuat menemani Mat siang dan malam. Beliau tau rasa cinta saya ke Mat sudah menyamai rasa cinta saya terhadap beliau, papah dan kedua adik saya. Tingkatan cinta yang paling tinggi manusia, kata beliau ketika rasa cinta itu sudah sejajar dan menyamai rasa cinta kepada keluarganya.
Beberapa hari di rumah, saya ambruk. Sakit. Pertahanan tubuh saya selama 3 bulan di rumah sakit Bali dan Singapore rupanya bertahan sampai di situ saja. Badan saya lemas sekali rasanya tak bertulang. Saya sendiri heran, dari mana kekuatan itu ada ketika setiap hari saya harus bangun pagi2 - bahkan kadang2 harus berlari2 ke rumah sakit mengejar dokter jaga pagi, dan biasanya baru kembali dari rumah sakit malam hari. Belum lagi harus tetap mengudpate berita ke keluarga di Inggris yang berbeda waktu 6 jam. Terkadang sampai larut pagi kami berbicara via skype. Waktu tidur kami waktu itu hanya berkisar 3-4 jam. Tapi kami masih saja tetap kuat berlari ke sana ke sini, mengurusi ini itu. The power of love, teman.
Saya kemudian menyadari kondisi saya jatuh sakit ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena jauh dari Mat. Rasanya kosong. Aneh sekali. Pernah suatu pagi saya terbangun dan segera mandi, saya lalu bersiap2 pergi. Ketika ditanya Mamah yang mau bersiap berangkat ke sekolah, saya mau ke mana, Saya terdiam, masuk kamar dan menangis.
Saya sudah di rumah. Dia sudah di rumah. Kami sudah terpisah tempat.
Hari berikutnya saya semakin lemah. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain menangis, menangis dan menangis.
Teman, kalian tau ‘kan saya adalah wanita paling cengeng sedunia. Kalau kata seorang teman saya, liat film yang happy ending aja saya mewek, apalagi pas nonton Hachiko. Semaleman saya ga tidur, nangis sesenggrukan. Pagi-pagi saya ke kantor dengan mata sembab.
Kalian bisa bayangin gimana muka saya melewati hari-hari itu. Hari-hari di mana saya merasa tidak punya apa-apa lagi. Hari-hari di mana saya berpikir untuk berhenti sampai di sini saja. Hari-hari yang semakin membuat saya hancur lebur melihat kondisi Mamah yang kurang baik karena diagnosis dokter yang membuat kami sekeluarga bersedih. Saya merasa nista sekali. Sudah jatuh, tertimpa tangga, genteng, kayu, dan semua barang yang ada di atas. Sekarat tak terkira.
Saya juga pernah mengalami masa-masa gelap ketika saya bisa mendengar suara-suara aneh yang menyuruh saya untuk berhenti saja. Untuk melepaskan semua rasa sakit dan pergi ke tempat yang lebih baik (Entah tempat macam apa itu). Ya, saya hampir putus harapan hidup. Rasanya ingin mati saja. Bagaimana tidak, saya terpisahkan dari lelaki yang amat saya cintai dan saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Mamah karena beliau tidak juga mau saya bawa ke rumah sakit untuk berobat. Saya merasa tidak berguna. Untuk apa saya hidup kalau orang2 yang saya cintai tidak bisa dan mau saya tolong?!? Marah saya pada diri sendiri. Kesal dan merasa benar-benar tidak bergunanya saya sebagai manusia.
Saat saya sedang hancur-hancurnya, teman-teman saya memeluk saya dengan kasih sayang dan perhatian mereka yang tidak pernah berhenti meski terkadang saya keras kepala menolak disayangi. Mereka dengan sabar memberikan semangat dan dukungan. Bergantian. Saling mengisi. Saya akhirnya sadar, ada mereka yang menginginkan saya tetap menlanjutkan hidup.
Seorang teman baik. Friska Asta Desintia, nama lengkapnya. Saya memanggil dia Adis. Memaksa saya untuk menemuinya. Sebentar saja. Dia bilang, dia ingin sekali menolong saya. Dia dan suaminya ingin mengobati saya yang menurut mereka sudah semakin parah sakitnya. Atau setidaknya, dia ingin sekedar menemui saya, memeluk dan bertukar kabar.
Hhhh. Saya mengiyakan setelah lama berpikir dan menimbang-nimbang. Saya sudah pasrah. Terserah lah apa yang akan terjadi lagi dengan saya. Mereka yang berniat baik ingin membantu dan mengobati saya tidak pernah berhenti usahanya menyirami saya dengan kasih sayang mereka.
Singkat cerita, saya mau diobati dan menjalani terapi yang diberikan oleh suami Adis, Ganes. Terapi pertama tentu saja berjalan tidak mulus. Setelah menerapi saya kurang lebih 3 jam, Ganes bercerita bahwa saat itu, saya benar-benar terbungkus aura hitam negative yang sangat besar. Saking besarnya, energy negative itu tertransfer ke Ganes. Membuat tangan kanannya sakit. (Maaf ya, Nes. Gw masih merasa bersalah sampe sekarang.)
Iya. Sampe separah itu. Saya sampe harus pergi ke psikiater dan menjalani terapi. Saya juga dibantu dengan asupan buku-buku dan keberadaan teman-teman yang silih berganti menemui saya. Merelakan waktu istirahat mereka setelah selesai berkerja untuk bertemu sebentar. Keinginan saya untuk sembuh semakin besar.
Melihat saya sudah mau makan dan ada sedikit cahaya di mata saya, Mamah saya memutuskan untuk memberanikan diri pergi ke dokter. Mamah juga pengen sembuh. Begitu kata beliau. Saya (lagi-lagi) menangis mendengar beliau berkata seperti itu. Saya ciumi muka dan tangannya. Saya bangga punya Mamah seperti beliau. Saya tau beliau ketakutan dan kesakitan. Tapi demi melihat anaknya yang cengeng dan rapuh ini kembali seperti semula, beliau mau maju meneruskan hidup. Allah memberkati Mamah…
Lalu, alhamdulilah. Puji tuhan. Satu demi satu, hari demi hari saya semakin membaik. Begitu juga dengan Mamah. Dan walaupun belum banyak perubahan, Saya tau dan yakin Mat juga baik-baik saja di sana. Tidak pernah berhenti keluarganya meyakinkan saya bahwa dia berada ditangan para ahli. Bahwa dia baik-baik saja. Dan masih tertidur lelap.
Sampe sekarang pun saya belum sembuh sepenuhnya. Saya masih harus melakukan banyak pengobatan dan perjalanan saya tentu saja masih panjang. Ini baru awal, dan saya berkata dalam hati, saya ingin sampai selamat sampai tujuan.
Bohong kalau saya bilang saya sekarang tidak merasa lebih baik. Saya merasakan perubahan meskipun lagi-lagi ketika saya sedang sendiri, godaan untuk menyerah dan berhenti selalu ada. Tentu saja, perasaan bersalah pun kadang menghampiri ketika saya tertawa dan merasa nyaman berada di dekat orang2 tercinta. Dulu kami pernah berbicara sampe pagi buta, tentang cinta. Dan saya mematenkan cinta saya padanya dengan statement “Love is when you can share what you feel, what you have, and what you’re dreaming of in your life with your loved ones”.
Buku-buku dan teman-teman benar-benar membuat saya berdiri lebih tegak. Oneng yang memberikan saya buku, Iboy-Dabu-Acit-yang menemani saya keluar dari gua suram saya. Belum lagi Kinan, Shanti, Meida, Anggi, Dista, Sekar, Cavin-My Ndut, Sinta, Hani, ah masih banyak teman-teman lain yang berestafet ingin melihat saya sembuh. Sungguh tak tau diri saya kalau tidak bersyukur. Saya tau saya masih babak belur. Apalagi sekarang. Rasa kangen yang tak bisa ditahan, kadang2 benar2 menyesakkan dada, meruntuhkan semangat hidup. Walaupun desah napasnya lewat telepon setiap malam selalu sedikit menenangkan saya, toh ingin sekali rasanya saya cepat-cepat pergi ke sana. Melihatnya, menyentuhnya, menciumnya.
Saya ingat pertanyaan Ganes waktu pertama kali saya diterapi. Apa yang saya rasakan, tanyanya. Takut, jawab saya. Ya, saya takut. Benar-benar takut. Saya takut kehilangan dia. Saya takut saya tidak berhasil melewati cobaan ini. Saya takut dia pergi meninggalkan saya. Saya ketakutan.
Dalam ketakutan, saya berkubang. Mungkin terperangkap. Lama. Mungkin sudah sekitar 2 bulan ini. Lalu saya menemukan pepatah di atas. Dan saya tau apa yang harus saya lakukan. Saya tidak usah lagi melawan rasa takut. Saya hanya memilih rasa takut yang seperti apa. Takut yang benar. Takut yang sewajarnya. Karena, bahkan seorang pemimpi pun merasa ketakutan dalam mimpi-mimpinya. Tapi bukan berarti takut menghentikan si pemimpi untuk terus bermimpi, 'kan?
 |
| foto diambil dari google image |
Anda.