12.12.11

Buta arah (edisi : bayar hutang tulisan)

Nah kalau ini, saya masih ingat mau menulis tentang apa. Judul yang menyelamatkan saya memungut serpihan ingatan saya.


Buta Arah


Jangan pernah tanya saya soal jalan atau nama tempat. Saya pasti tidak bisa membantu. Tapi.. kalau disuruh untuk menunjukkan jalan, saya bisa. Saya hapal dan biasanya ingat beberapa tempat dan jalan dengan cara mengingat sesuatu yang aneh yang saya lihat atau temukan saat itu. Misalnya ada plang gambar lucu, atau ada patung yang ga biasa. Nah, biasanya saya bisa ingat tuh tempat2 seperti itu. Tapi kalau ditanya namanya, Saya pasti memberikan jawaban yang ngaco.

Waktu itu pernah ketika saya muda, masih duduk manis di bangku kuliah semester 4 atau 5, dalam perjalanan ke suatu tempat bersama teman-teman seperjuangan. Dalam otak saya tau, saya sedang di MAMPANG, tapi ketika seorang teman bertanya "Nda, coba gw tes lo kalo lo udah apal jalanan di Jakarta. Emang sekarang kita di mana?" di dalam busway yang berisi teman-teman saya dan beberapa orang, saya dengan lantang menjawab "ya elaaah, semua orang juga tau ini MATRAMAN!"
Booooo... ngakak-ngakak lah perempuan-perempuan kurang ajar itu di depan muka saya dengan puas. Seakan berkata .... ORANG SERAAAANG!!! Ga tau bedanya MAMPANG dan MATRAMAN.
Deeeem!


Nah, selama saya tinggal di Bali. Saya baru apal jalan dan tau beberapa tempat (itu pun sedikit) setelah setiap hari bolak-balik Ubud-Seminyak atau Ubud-Jimbaran 3 bulan non-stop. Itu pun bukan saya yang nyupir, secara saya belum diajarin nyetir sama kekasih hati saat baru masuk-masuk kerja. Ya eyaallaaah, wong ketemunya aja baru 2 bulan setelah kerja di Bali!
Jadilah bos saya yang merangkap jadi atasan sekaligus supir pribadi  saya (sounds wrong ya). Ditambah lagi, si bos mengajarkan saya untuk selalu mengantungkan hidup di jalanan pada teknologi GPS. Hahaha, ajaran yang sungguh sesat dari sang bos. Bagus kalo sinyal di hp lagi cakep, kalo lagi kampret, bisa nyasar ane ke Sumbawa.


Kalau waktu di Jakarta, Saya ga pernah khawatir kalo nyasar. Karena saya selalu ingat pesan teman saya yang bilang "Kalo lo nyasar di Jakarta, jangan khawatir Nda. Apa pun yang terjadi. Pergi dan carilah terminal BLOK M. Kalo lo udah di situ. Aman deh idup lo." Dan dengan kerasnya kehidupan jalanan ibu kota, ku pegang teguh wejangan si teman.

Di Bali lain ceritanya. Di sini tak ada angkot, cyiiin. Jadi kalo lo nyasar dan ga tau jalan balik ; ya nasib lo deh harus cari mobil charter/travel atau ojek (mending kalo lo nyasarnya ga jauh, kalau nyasar di Jimbaran dan mau balik ke Ubud kan lumanyun tuh perjalanan. Ongkos ojek bisa sampe 500rb.  Bisa buat beli tiket balik ke Jakarta). Jadi Saya selalu berusaha untuk stick like glue with the boss. Bodo amat dibilang buntut juga. Ga mau jauh2 kalo lagi ada acara ke luar kantor. Duh amit-amit deh kalo sampe saya tertinggal di jalan sehabis meeting di Denpasar atau Seminyak. Taruhannya berat, mamen. Siapa bilang Jakarta kejam? Bali lebih sadis!
pic from FreeFoto.com


Udah gitu. Ditambah ya.. hadeeeeh... Orang Bali itu bener2 deh rasa cintanya sama ilmu geografi besarnya minta ampun. Kalau saya tanya arah ke mereka, bukannya saya jadi tahu arah saya malah buta sebutanya stevie wonder!

Contoh kasus :
Anda Cantik   : Permisi Belih, Jalan Tukad Balian di mana ya? (Posisi saya sedang ada di Pantai Sanur)
Si Belih            : Oh, Tukad Balian. Deket, Ge. Ke timur... lurus, nanti belok dah ke barat lagi sedikit. 
Anda Cantik  : *dalam hati, TIMUR DI MANA, CUY?* Mmmm.. kalo dari jalan sini lurus terus ya, trus  belok ke kiri yah?
Si Belih            : Pokonya lurus ke timur, trus belok ke barat dah.
Anda Cantik : *masih dalam hati, Sabar Nda.. sabar. Mungkin dia pikir semua orang suka pelajaran geografi* Iya Belih, tapi saya ga ngerti timur, tenggara, selatan, barat, barat daya, timur, timur laut, dan utara Belih. Saya taunya cuma kanan, kiri, belok dan lurus aja. 

Berkat tatapan memelas saya si Belih akhirnya terbujuk untuk menggambarkan jalan di sebuah kertas yang saya berikan untuk digambarinya.
Thanks God!


Sampe saya meninggalkan pulau Dewata, saya ga pernah bisa tau bedanya Timur, Barat, Selatan dan Utara. Saya memang aga bodoh dalam hal membaca peta. Jangan. Jangan pernah andalkan saya. Saya buta arah. Kalau di jalanan, suru saja saya bertanya. Saya lebih baik dalam hal itu. Dan bisa dipastikan orang yang saya tanya akan memberikan jawaban dan arahan jalan yang benar. 'Kan aku nanyanya pake senyuman maut :)

pic from google image


Anda.
Sanur, April 2011

Tak berjudul (edisi : bayar hutang tulisan)

"Hatiku senang.. hatiku riang.


Ahahahay.. kemarin malam pecah juga ni bisul."

pic is from google image


Anda
Ubud,  November 2010


****



Entahlah, Apa yang saya maksud dengan bisul di atas. Tidak ada jejak apapun untuk membantu memori di otak saya mengingat kejadian apa yang terjadi saat saya berniat membuat tulisan ini.
Saya benar-benar tidak ingat.
Maaf...

Mari makan.. buon appetitto!! (edisi : bayar hutang tulisan)

Kalo inget jaman kuliah dulu, saya termasuk gadis (tssaah gadis!) berbadan montok. Aga kurang proporsional sih dengan tinggi badan yang pas-pasan (ada sih satu-dua yang bilang kontet : gw jitak lo!).

Saya sih sebenernya ga masalah sama ukuran badan. Selama saya merasa sehat, saya senang-senang aja. Bahkan buat saya, orang-orang yang memiliki kelebihan berat badan, atau aga ndut dikit, terlihat lebih bahagia dari orang-orang yang bertumbuh selembar atau pas-pasan.

Semenjak pake behel, berat badan saya turun drastis. Bentuk muka saya yang dulunya hampir mirip menyerupai bakpao, perlahan-lahan berubah menjadi tirus dan panjang. Umm.. better be careful, Tyra Banks! Anda is gonna take your sit! *hiyaaak, mulai meracau.*

Kalau semuanya lancar, saya akan melepas behel ini bulan depan. YAY! senangnya. Itu artinya "Hello again, yummy foods!"
Harus diakui, selama pake behel, kenikmatan dunia saya, terutama dalam urusan surga duniawi (baca : makanan) sempat tertahan. Ga bisa makan enak ini dan itu karena sakit yang tak tertahankan dengan kehadiran behel di mulut saya. Butuh waktu kira-kira 1 tahun untuk terbiasa dengan behel dan aktivitas lain (hmmmm, kasih tau ga ya aktivitas yg lainnya...) bisa tetap dilakukan dengan normal. Tapi sebenernya aga bertanya-tanya juga sih nanti rasanya gimana ya tanpa behel ? Maklum, sudah benda ini sudah melekat erat selama dua tahun. Meskipun sakit, rasa sakitnya nagih. (Sakit jiwa, nih anak!)

Dan beruntungnya lagi, Saya tinggal dengan keluarga si bos yang punya koki sendiri di rumah. Kenikmatan tiada tara. Kalau jaman tinggal di Depok, setiap malam jalan ke depan buat cari makan sama temen sekosan, dengan menu utama : Pecel lele, Ayam bakar, atau kalo lagi apes keabisan or kemaleman ga kebagian makanan apa-apa, ya Nasi Goreng dihajar lah. Sekarang ini saya dimanjakan dengan berbagai makanan a la internationale, temans.
Lucky bitch hey.





all pictures from google image




Anda.
Ubud, November 2010

8.12.11

Be not afraid of going slowly, be afraid of being standing still.

Saya suka sekali dengan pepatah yang sengaja saya jadikan judul blog yang hampir seperti blog mati suri ini.

Be not afraid of going slowly; be afraid of being standing still.
-Anonymous-


Well.. sebenernya menemukan pepatah yang berasal dari negeara China ini tidaklah cepat prosesnya. Seperti yang kalian tau, kondisi saya sekarang ini masih labil. Masih belum dibilang sehat, sama seperti nasib kekasih saya yang juga masih betah tidur di seberang bumi belahan sana. Kalau dia masih juga belum bangun, saya juga masih berusaha untuk tidak berhenti di tempat.

Sepulangnya saya dari Singapore, kira2 dua bulan lalu, saya merasa lega dan juga cemas. Lega karena pada akhirnya, perjuangan kami -Saya, keluarga kami, dan kalian, teman2- membuahkan hasil. Dia berhasil dipulangkan ke Inggris. Cemas karena itu berarti kemungkinan saya akan terseok-seok sendiri tanpa dia untuk beberapa saat.

***
Peristiwa perpisahan kami bisa dibilang sangat dramatis. Waktu itu dia dalam keadaan (bisa dikatakan sepenuhnya) sadar. Dokter dan suster yang khusus diterbangkan dari Inggris untuk menemani dia pulang bersiap-siap membereskan semua yg diperlukan ; mengganti slang obat, melepas boots, dll.
Saya menemani dan melihat proses itu di dalam kamar bersama tim medis. Berdiri di samping tempat tidurnya sambil menggenggam erat tangan dia. Sementara mereka melakukan tugasnya, saya tetap bicara pada lelakiku. Memberitahu dia bahwa orang-orang yang berada di ruangan itu akan memindahkan dia ke ambulance untuk dibawa ke airport. Sehari sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa mereka akan menerbangkan dia pulang ke Inggris. Waktu saya mengatakan itu. Dia meneteskan air mata. Walau pun dia belum bisa membuka mata dan belum bisa berbicara, saya tau dia sedang menangis sedih ketika saya memberi kabar itu.
Saya berusaha untuk tidak menangis dan menahan agar suara saya tidak bergetar. Tapi tangan saya jadi gemetaran diremas dia saking kuatnya. Dia tau saya sedang menahan tangis, dan dia ingin saya kuat.
Mulut dia bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu. Saya bilang, tidak usah berkata-kata. Aku mengerti. Dia pun meremas tangan saya lebih kencang.
Setelah semuanya selesai dibereskan, mereka siap memindahkan dia ke tempat tidur lain menuju ambulance. Ketika si dokter meminta kami melepaskan tangan. Dan di saat itu lah titik kekuatan saya hancur berantakan. Saya tidak kuat. Saya hancur berkeping2 menangis tak bersuara ketika dia tidak mau melepaskan tangan saya, dan dokter juga suster sampai harus melepaskan pegangan tangan dia dengan paksa. Demi Allah, saya ga tau kekuatan apa yang merasuki Mat. Tapi genggaman tangannya ga bisa dilepasin. Saya tau, Mat sedang berkeras hati tidak mau melepaskan tangan saya. Semua tenaga medis satu demi satu membujuk Mat untuk melepaskan tangan saya, bahkan Mama dan kakaknya ikut masuk dan berusaha meminta Mat melepaskan tangan saya.
Saya membenamkan wajah basah saya di dadanya. Berusaha menenangkan dia. Dada saya sendiri sesak karena sakit menahan tangis. Gusti pangeran.. belum pernah dada saya sesakit ini menahan tangis.
Lalu, setelah beberapa menit mengumpulkan kekuatan untuk bicara, saya mencoba membujuknya.
"Sayangku.. You need to let my hand go. They just gonna move you other bed to take you to ambulance and We cant move you with our hands holding like this. I will hold your hand again soon they moved you to other bed. I'll go with you to ambulance. I promise."

Suara saya ga karuan. Bergetar menahan sakit dan tangis. Bukannya dilepas dia semakin kencang menggenggam saya. Saya sendiri heran, tangan saya tidak remuk dibuatnya. Saya memberikan isyarat, tunggu sebentar, kepada tim medis. Saya yakin Mat mengerti, dia hanya butuh waktu sedikit saja. Lalu perlahan genggaman itu pun mengendur. Saya pelan-pelan menarik tangan saya dari telapak tangannya. Segera bersiap2 berdiri di samping tempat tidur lain yang akan membawa dia ke ambulance. Peristiwa ini membuat semua orang di dalam dan luar ruangan yang transparan oleh kaca (saat itu banyak teman2 dari gereja St. George’s datang untuk ikut mengantarkan kami ke bandara) ikut menangis. Kebanyakan memang sudah ibu2. Bahkan suster dan tim medis pun ikut berkaca-kaca.

(Kalau saya ingat2 sekarang kejadian itu. Saya merasa persis film India.)

Sesampainya kami di depan ambulance, saya berbisik di telinga dia bahwa saya akan bertemu dengannya lagi di airport. Tim medis dari Inggris tidak memperbolehkan seorang pun ikut dalam ambulance. Berbeda sekali ketika saya menemani Mat di ambulance dari Sanglah (rumah sakit di Bali) ke Ngurah Rai waktu kami terbang ke Singapore. Dan dari rumah sakit Gleneagles ke NUH. Saya selalu ada di dalam ambulance bersama dia dan dia selalu tau itu.
Ketika kami bersiap menuju mobil yang akan membawa kami ke airport, tiba2 si dokter memanggil Mama Mat dan berkata, membolehkan satu orang ikut di dalam ambulance ke airport. Kami pun menggiring Mama Mat dengan senyum gembira. Tapi Mama Mat berhenti dan berkata ke saya "You go with him, Anda. He wants you to be there"
Saya langsung memeluk dan mencium Mamanya Mat. Tidak ada kata-kata. Beliau tau betapa berartinya ini buat saya.
Saya langsung berhamburan masuk ke dalam ambulance dan menggenggam tangannya.
Dia balik meremas tangan saya. Pelan saya berbisik "You just won’t let yourself go from me that easy, would you"

Tadinya saya pikir, saya tidak akan sanggup untuk melepaskan lelaki yang sedang menggenggam saya ini di airport. Saya pikir, saya pasti pingsan atau lepas kendali berteriak2 tidak mau dia pergi. Ketika ambulance sampai di bandara dan dokter mengatakan bahwa saya harus turun di sana karena ambulance ini akan langsung masuk ke bagian pesawat, mereka memberikan saya waktu berdua saja di dalam ambulance untuk saling mengucapkan selamat jalan.
Saya tidak percaya dengan apa yang saya rasakan saat it. Saya merasa tenang yang luar biasa. Suara saya tidak bergetar sedikit pun. Saya memegang tangannya dan meletakkannya di dada saya. Pas di jantung saya. Saya ingin dia dengar suara jantung saya yang tenang. Yang menandakan saya kuat dan saya bisa melanjutkan perjalanan ini sementara sampai kami bersatu lagi. Dia menggeser kepalanya ke arah saya. Saya mendekat ke wajahnya, berbisik tenang di telinganya. "You know this is not a goodbye, Sayang. Have a safe flight and I will see you soon, my love."
Dari matanya yang terpejam, meleleh sebulir air mata di sebelah kanan dia. Saya mencium bulir air mata itu. Tenang sambil berkata "I love you too"
 ***



Saya tiba di Jakarta keesokan harinya. Hari yang sama ketika Mat juga mendarat di Inggris. Baik Mama dan keluarganya di Inggris langsung mengupdate bagaimana kondisi dia. Saya merasa semakin tenang.

Sesampainya di rumah, Mamah saya menyambut saya dengan tangisan bahagia, lega dan syukur. Bertubi2 ciuman mendarat di muka saya. Papah dan kedua adik saya ikut bercengeng2an sejenak, memeluk dan menciumi saya . Mereka kangen saya sama seperti saya merindu mereka.
Mamah, seperti biasa mengecek saya dari ubun-ubun ke telapak kaki. "Kamu kurus banget, Neng... " Begitu katanya.
Saya cuma tersenyum dan membalas dengan becanda "Mamah kali yang tambah 'ndut."
Mamah saya tidak tertawa mendengar candaan saya. Beliau tau saya banyak menangis dan tidak tidur bermalam-malam di Singapore. Beliau tau, saya tetap berusaha kuat menemani Mat siang dan malam. Beliau tau rasa cinta saya ke Mat sudah menyamai rasa cinta saya terhadap beliau, papah dan kedua adik saya. Tingkatan cinta yang paling tinggi manusia, kata beliau ketika rasa cinta itu sudah sejajar dan menyamai rasa cinta kepada keluarganya.


Beberapa hari di rumah, saya ambruk. Sakit. Pertahanan tubuh saya selama 3 bulan di rumah sakit Bali dan Singapore rupanya bertahan sampai di situ saja. Badan saya lemas sekali rasanya tak bertulang. Saya sendiri heran, dari mana kekuatan itu ada ketika setiap hari saya harus bangun pagi2 - bahkan kadang2 harus berlari2 ke rumah sakit mengejar dokter jaga pagi, dan biasanya baru kembali dari rumah sakit malam hari. Belum lagi harus tetap mengudpate berita ke keluarga di Inggris yang berbeda waktu 6 jam. Terkadang sampai larut pagi kami berbicara via skype. Waktu tidur kami waktu itu hanya berkisar 3-4 jam. Tapi kami masih saja tetap kuat berlari ke sana ke sini, mengurusi ini itu. The power of love, teman.

Saya kemudian menyadari kondisi saya jatuh sakit ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena jauh dari Mat. Rasanya kosong. Aneh sekali. Pernah suatu pagi saya terbangun dan segera mandi, saya lalu bersiap2 pergi. Ketika ditanya Mamah yang mau bersiap berangkat ke sekolah, saya mau ke mana, Saya terdiam, masuk kamar dan menangis.
Saya sudah di rumah. Dia sudah di rumah. Kami sudah terpisah tempat.

Hari berikutnya saya semakin lemah. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain menangis, menangis dan menangis.
Teman, kalian tau ‘kan saya adalah wanita paling cengeng sedunia. Kalau kata seorang teman saya, liat film yang happy ending aja saya mewek, apalagi pas nonton Hachiko. Semaleman saya ga tidur, nangis sesenggrukan. Pagi-pagi saya ke kantor dengan mata sembab.
Kalian bisa bayangin gimana muka saya melewati hari-hari itu. Hari-hari di mana saya merasa tidak punya apa-apa lagi. Hari-hari di mana saya berpikir untuk berhenti sampai di sini saja. Hari-hari yang semakin membuat saya hancur lebur melihat kondisi Mamah yang kurang baik karena diagnosis dokter yang membuat kami sekeluarga bersedih. Saya merasa nista sekali. Sudah jatuh, tertimpa tangga, genteng, kayu, dan semua barang yang ada di atas. Sekarat tak terkira.

Saya juga pernah mengalami masa-masa gelap ketika saya bisa mendengar suara-suara aneh yang menyuruh saya untuk berhenti saja. Untuk melepaskan semua rasa sakit dan pergi ke tempat yang lebih baik (Entah tempat macam apa itu). Ya, saya hampir putus harapan hidup. Rasanya ingin mati saja. Bagaimana tidak, saya terpisahkan dari lelaki yang amat saya cintai dan saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Mamah karena beliau tidak juga mau saya bawa ke rumah sakit untuk berobat. Saya merasa tidak berguna. Untuk apa saya hidup kalau orang2 yang saya cintai tidak bisa dan mau saya tolong?!? Marah saya pada diri sendiri. Kesal dan merasa benar-benar tidak bergunanya saya sebagai manusia.
Saat saya sedang hancur-hancurnya, teman-teman saya memeluk saya dengan kasih sayang dan perhatian mereka yang tidak pernah berhenti meski terkadang saya keras kepala menolak disayangi. Mereka dengan sabar memberikan semangat dan dukungan. Bergantian. Saling mengisi. Saya akhirnya sadar, ada mereka yang menginginkan saya tetap menlanjutkan hidup.

Seorang teman baik. Friska Asta Desintia, nama lengkapnya. Saya memanggil dia Adis. Memaksa saya untuk menemuinya. Sebentar saja. Dia bilang, dia ingin sekali menolong saya. Dia dan suaminya ingin mengobati saya yang menurut mereka sudah semakin parah sakitnya. Atau setidaknya, dia ingin sekedar menemui saya, memeluk dan bertukar kabar.
Hhhh. Saya mengiyakan setelah lama berpikir dan menimbang-nimbang. Saya sudah pasrah. Terserah lah apa yang akan terjadi lagi dengan saya. Mereka yang berniat baik ingin membantu dan mengobati saya tidak pernah berhenti usahanya menyirami saya dengan kasih sayang mereka.
Singkat cerita, saya mau diobati dan menjalani terapi yang diberikan oleh suami Adis, Ganes. Terapi pertama tentu saja berjalan tidak mulus. Setelah menerapi saya kurang lebih 3 jam, Ganes bercerita bahwa saat itu, saya benar-benar terbungkus aura hitam negative yang sangat besar. Saking besarnya, energy negative itu tertransfer ke Ganes. Membuat tangan kanannya sakit. (Maaf ya, Nes. Gw masih merasa bersalah sampe sekarang.)

Iya. Sampe separah itu. Saya sampe harus pergi ke psikiater dan menjalani terapi. Saya juga dibantu dengan asupan buku-buku dan keberadaan teman-teman yang silih berganti menemui saya. Merelakan waktu istirahat mereka setelah selesai berkerja untuk bertemu sebentar. Keinginan saya untuk sembuh semakin besar.
Melihat saya sudah mau makan dan ada sedikit cahaya di mata saya, Mamah saya memutuskan untuk memberanikan diri pergi ke dokter. Mamah juga pengen sembuh. Begitu kata beliau. Saya (lagi-lagi) menangis mendengar beliau berkata seperti itu. Saya ciumi muka dan tangannya. Saya bangga punya Mamah seperti beliau. Saya tau beliau ketakutan dan kesakitan. Tapi demi melihat anaknya yang cengeng dan rapuh ini kembali seperti semula, beliau mau maju meneruskan hidup. Allah memberkati Mamah…
Lalu, alhamdulilah. Puji tuhan. Satu demi satu, hari demi hari saya semakin membaik. Begitu juga dengan Mamah. Dan walaupun belum banyak perubahan, Saya tau dan yakin Mat juga baik-baik saja di sana. Tidak pernah berhenti keluarganya meyakinkan saya bahwa dia berada ditangan para ahli. Bahwa dia baik-baik saja. Dan masih tertidur lelap.

Sampe sekarang pun saya belum sembuh sepenuhnya. Saya masih harus melakukan banyak pengobatan dan perjalanan saya tentu saja masih panjang. Ini baru awal, dan saya berkata dalam hati, saya ingin sampai selamat sampai tujuan.
Bohong kalau saya bilang saya sekarang tidak merasa lebih baik. Saya merasakan perubahan meskipun lagi-lagi ketika saya sedang sendiri, godaan untuk menyerah dan berhenti selalu ada. Tentu saja, perasaan bersalah pun kadang menghampiri ketika saya tertawa dan merasa nyaman berada di dekat orang2 tercinta. Dulu kami pernah berbicara sampe pagi buta, tentang cinta. Dan saya mematenkan cinta saya padanya dengan statement “Love is when you can share what you feel, what you have, and what you’re dreaming of in your life with your loved ones”.

Buku-buku dan teman-teman benar-benar membuat saya berdiri lebih tegak. Oneng yang memberikan saya buku, Iboy-Dabu-Acit-yang menemani saya keluar dari gua suram saya. Belum lagi Kinan, Shanti, Meida, Anggi, Dista, Sekar, Cavin-My Ndut, Sinta, Hani, ah masih banyak teman-teman lain yang berestafet ingin melihat saya sembuh. Sungguh tak tau diri saya kalau tidak bersyukur. Saya tau saya masih babak belur. Apalagi sekarang. Rasa kangen yang tak bisa ditahan, kadang2 benar2 menyesakkan dada, meruntuhkan semangat hidup. Walaupun desah napasnya lewat telepon setiap malam selalu sedikit menenangkan saya, toh ingin sekali rasanya saya cepat-cepat pergi ke sana. Melihatnya, menyentuhnya, menciumnya.


Saya ingat pertanyaan Ganes waktu pertama kali saya diterapi. Apa yang saya rasakan, tanyanya. Takut, jawab saya. Ya, saya takut. Benar-benar takut. Saya takut kehilangan dia. Saya takut saya tidak berhasil melewati cobaan ini. Saya takut dia pergi meninggalkan saya. Saya ketakutan.
Dalam ketakutan, saya berkubang. Mungkin terperangkap. Lama. Mungkin sudah sekitar 2 bulan ini. Lalu saya menemukan pepatah di atas. Dan saya tau apa  yang harus saya lakukan. Saya tidak usah lagi melawan rasa takut. Saya hanya memilih rasa takut yang seperti apa. Takut yang benar. Takut yang sewajarnya. Karena, bahkan seorang pemimpi pun merasa ketakutan dalam mimpi-mimpinya. Tapi bukan berarti takut menghentikan si pemimpi untuk terus bermimpi, 'kan?

foto diambil dari google image


Anda.







                                                                                              

7.12.11

Banyak hutang


Hari ini hidup saya dimulai jam 11 pagi. Sebenarnya saya sudah bangun sejak jam 8 tapi masih gegoleran (bahasa sunda-tidur,bermalas-malasan) sampe akhirnya selesai mengumpulkan nyawa dan beranjak dari tempat tidur jam 11an.

Saya langsung mengecek email dan hp. Belum ada kabar apa-apa. Hmm.
Kemudian, teman baik saya mengirim sms ketika saya sedang menggelataki dapur mencari sesuatu untuk dimasukkan ke mulut saya.

"Jadi beli harmonika*?" begitu isi pesan singkatnya.

Saya tidak langsung menjawab. Alih-alih menuju kamar mandi dan baru keluar setengah jam kemudian. Mandi dan melakukan ritual lainnya.

"Jadi dong. Jemput gw sejam lagi ya, neng." Message sent.

Menunggu dia datang, saya kembali berkutat di depan komputer. Sebenarnya saya lagi sebel sama komputer saya. Udah beberapa hari ini dia diam saja. Dari ketiga alamat email saya, semuanya anteng. Diam sunyi senyap tak bersuara. Betek!!!

Jadi saya ngomel2 dan sebel deh sama si komputer. Sebenernya sih bukan salah si komputer ya, cuma saya ga tau mau sebel ke siapa lagi. Abisnya setiap hari begitu bangun tidur, di rumah ga ada orang. Yang ada ya si komputer ini. Habis lah dia saya maki-maki dan dzolimi.

Karena tidak ada apa2 di email saya, saya lalu iseng membuka dasbor blog saya. Ya tuhan. Saya menyusuri tulisan demi tulisan saya dua tahun silam. Saya menghela napas panjang. Anda, anda.. kamu memang suka menulis ya... (dulu!).



Di bagian edit entri, saya melihat ada beberapa draft tulisan yang sudah setengah jalan, tapi belum selesai. Terbengkalai begitu saja. Kasian sekali. Saya sampe ga tega liatnya. Draft paling tua, tertanggal 8 november 2010. Setahun lebih yang lalu. Saya bahkan sudah memberi judul tulisan itu "Mari makan.. Buon Appetitto!!". Lalu semakin ke atas, saya melihat beberapa draft lagi. Ada sekitar 5 draft tulisan terhitung dari November 2010 sampai April 2011. Lagi2 saya menghela napas.

Entah ada energi atau dorongan apa, saya tiba2 saja langsung meletakkan jari saya di keyboard dan menulis ini. Mungkin karena merasa bersalah (pada diri sendiri) atau sekedar membunuh waktu menunggu sang sahabat datang menjemput. Entahlah.
Yang pasti nanti setelah saya pulang, saya ingin menyicil hutang saya.
Mungkin tidak akan sistematis dan berurutan. Saya tidak berani janji. Tapi yang pasti saya INGIN mulai menulis lagi.

Teeet, teeeet...!!! Itu suara klakson teman saya. Saya pamit dulu sebentar. Nanti saya kembali. Mudah2an si energi positif menulis itu masih betah dekat2 saya.


Anda



*soal Harmonika, nanti saya posting cerita ini secara terpisah.

18.10.11

Betapa sekarang aku membenci pagi

Dulu saya begitu mencintai pagi. Di pagi hari saya dilimpahi dan disirami kasih sayang dia, lelakiku. Ucapan, kecupan, dan pelukan cinta.

Dulu saya begitu mencintai pagi. Kami lebih tepatnya. Bukan hanya saya. Di pagi hari kami menyapa angin pagi di balik kemudi dan mengagumi buncahan warna orange si matahari di ujung langit sambil berkata "It's so beautiful".

Dulu saya begitu mencintai pagi. Di pagi hari saya tahu saya akan menerima banyak dari semesta. Bersama dia, tentu saja.

Sekarang betapa saya membenci pagi.

Pagi sekarang berubah menjadi masa yang paling saya hindari. Rasanya pahit sekali. Tidak ada dia, tidak ada cinta, tidak ada warna. Tidak ada apa-apa di pagi-pagi saya belakangan ini.

Pagi sekarang hanya memberi saya tetesan air mata. Pagi sekarang hanya memberi saya ingatan-ingatan yang menyiksa. Pagi sekarang benar-benar menyiksa dan menyobek2 saya.

Saya bisa apa?

Dulu, saya menerima pagi sebagai sesuatu yang cantik - penuh cinta karena dia begitu memanjakan saya dengan keindahannya
Sekarang, saya (harus-mau tidak mau) menerima pagi sebagai sesuatu yang pahit - penuh duka karena dia begitu kejam dengan kesunyiannya.


Bolehkah saya berharap, hey universe?
Nanti, saya (berharap akan) menerima pagi yang normal. Pagi yang menenangkan. Bukan pagi yang semu. Bukan pagi yang hanya menawarkan manis dan pahit, tapi pagi yang memberikan rasa tentram dan damai.
Pagi yang memberikan saya rasa syukur  ketika saya terbangun dan ada dia di samping saya sebagai pemimpin masa depan. Pagi yang akan membiarkan saya berkata "Selamat pagi, suamiku".


Bolehkah saya berharap?

29.8.11

HELP MY LOVE!

Tolong...

Entah sudah berapa juta kali kata itu saya ucapkan. Kepada Tuhan, kepada dokter, kepada suster, kepada keluarga, kepada teman-teman, kepada diriku sendiri, dan kepada dirinya.

Tolong..

He deserves to live this beautiful life.

Tolong..

Sebarkan dan katakan pada dunia, HE NEEDS HELP!







Tolong..

Tolong dia.. Tolong bawa cintaku pulang ke tempat di mana semua bisa memeluk dan menciumnya dengan penuh cinta.



I love you, Mathew Taylor.
-your wife soon to be-


16.6.11

Juni

Juni datang lagi.

Selalu saja.
Ada banyak cerita yang Juni berikan dan sediakan. Seperti tahun kemarin, sebelumnya, dan yang lalu.
Dan seperti tahun ini, kemudian tahun mendatang, dan tahun selanjutnya.

Aku merindu banyak kata.
Apalah daya aku sekarang terbata.


Mungkin aku ketakutan
Mungkin aku kesenangan
Mungkin aku keduanya.



Oh, Juni. Usiamu tinggal separuh. Cepat, torehkan satu dua warna pada hidupku sebelum kau berlalu dan aku harus menyambutmu lagi satu tahun nanti.




photo from here



Anda

6.6.11

Sanur pagi hari


Olllaaaaa….

Anda datang, semua senang. 

Ahahay, saya lagi senang. Saya lagi semangat. Saya lagi bergairah.
Banyak hal yang membuat saya senang belakangan ini, tapi yang paling fresh adalah saya baru saja pindah ke “rumah” baru yang letaknya dekat sekali dengan pantai. Hanya butuh waktu 2-3 menit jalan kaki. One of my dream à tinggal dekat pantai.


Kalau dihitung-hitung, sudah hampir 9 bulan saya tinggal di Bali dan saya tidak pernah benar-benar tinggal di dekat pantai. Kira-kira 6 bulan di Ubud, dan yang paling dekat waktu saya tinggal di daerah Jl. Danau Tempe-Sanur, yang masih butuh waktu sekitar 5-10 menit naik motor ke pantai. Sekarang  saya ga perlu repot-repot bawa motor ke pantai. Tinggal lenggang kaki, nyampe deh. Mantap.


Saya juga baru sadar kalo pantai sanur ternyata indah juga. Ga kalah cantik sama pantai favorit saya : Seminyak. Pindah ke sini membuat saya melihat dan memperhatikan hal-hal yang dulu saya lewatkan.
Sebelumnya, saya selalu berpendapat bahwa Sanur itu membosankan. Semua tempat rata-rata berisi turis-turis lanjut usia yang kerjaannya duduk-duduk di pinggir pantai, berjemur, minum, baca, atau santai. So boring.


Tapi hampir seminggu ini saya melihat Sanur jelas dengan pandangan yang berbeda. Seperti pagi kemarin misalnya, saya menyempatkan diri jalan-jalan di pantai di pagi hari. Sekedar ingin melihat pantai dan membeli susu di Circle K yang adanya tepat di pinggir pantai. Wah, saya terpesona sendiri.


Saya ga tau apakah sekarang musimnya air laut pasang atau tidak, yang pasti pantai (dan laut) yang saya liat sekarang jauh lebih indah dari yang biasa saya liat. Air pantainya lebih jernih dan ombaknya lebih besar. Sangat kontras dengan apa yang biasa saya lihat sebelum-sebelumnya saya datang ke pantai Sanur.


Tadi pagi.. saya niat banget liat sunrise (Jd inget Iboy : sun rise boy, bukan sun shine. Hehe). Begitu alarm saya bunyi jam 5.30, saya langsung ganti baju dan jalan ke pantai. Ga lupa bawa kamera dong.


OH IYA.. Intermezo. Saya sempat (merasa) kehilangan kamera selama sebulan. Saya udah sedih banget, saking sedihnya keilangan kamera, saya sampe ga bisa nangis. Hanya bisa menatap nanar chargeran yang selalu tergeletak di meja. Hiks.. sedih. Sampe akhirnya saya mengikhlaskan kamera hilang. Ya sudahlah. Mungkin jodoh saya dengan kamera itu cuma 6 bulan. Saya ikhlas. (IKHLAS?!?!? BO’ONG BANGET!!!). Kalian tau kan, saya cinta mati sama kamera. Selain suka difoto, saya juga suka mengambil/menyimpan banyak kenangan lewat foto. Saya bahkan lebih sedih ketika kamera pertama saya rusak dibandingkan waktu saya kehilangan handphone. Kamera buat saya bagai pakaian dalam. Kehilangan itu membuat saya merasa telanjang (analogi yang aga ga nyambung sebenernya. Tapi kalian ngerti kan maksudnya.) Intinya, kamera sangat penting buat saya. Rasanya beraaaaaaat banget waktu orang-orang nanya, “Ga bawa kamera, Nda?” atau “Tumben ga moto, kamera lo mana?”. Bahkan waktu saya di rumah, Mamah nanya, “Kamera kamu ketinggalan di Bali ya Neng?” Dengan senyum pahit saya jawab “Iya… “ ß Menghibur diri. Dalam hati saya meraung-raung… Engga Maaaah, kamera teteh ilang!! ILANG! Hikss.. :’(
Dan kalian tau, sekembalinya saya ke Bali. Saya lupa persisnya hari ke berapa, tapi waktu itu saya baru saja selesai menunaikan solat Isha. Ga seperti biasanya, saya merebahkan diri dulu di sajadah sambil menatap ke kolong meja tivi di samping kanan saya. Kemudian mata saya menangkap sebuah benda hitam kotak di pojokan kolong meja. Dalam hati saya bertanya, apaan tuh?. Penasaran, saya memanjangkan tangan saya dan meraih benda itu. Ketika tangan saya menyentuh benda itu, jantung saya berdebar kencang sekali. Ya allah. Mimpikah saya?? Saya sangat hafal dan tau benar apa yang sedang saya sentuh, bahkan tanpa melihat. Itu kamera saya!!! Dengan cepat saya menarik tangan saya. Tidak percaya dengan apa yang saya lihat, saya berteriak memanggil kekasih hati yang saat itu ada di luar kosan. “Sayaaaaaaaaaaaaaaaaaang… look what I’ve found!!”
WOW.. magic! Bahagianya hati saya tak bisa diungkapkan dengan teriakan. Saya senang bukan kepalang. Saya loncat-loncat kaya anak kangguru. Saya joget-joget dangdut dan jaipong. Saya ketawa-ketawa sampe terkentut-kentut (masih memakai mukena-->tolong jangan sambil dibayangkan). Aaaah, saya senang pokonya. Bokin sampe geleng-geleng liat kelakuan saya yang menemukan kamera (yang ternyata tidak hilang) di bawah kolong meja. Mungkin dalam hati dia membatin "God, why i have her in my life?!"  Hehe, rasain lo! Terima saja karma baikmu -- > Anda Suranda. Huahahaha...


Anyway..

Ini beberapa foto yang berhasil diambil saya dan bokin pagi ini ketika menantikan matahari muncul di pantai Sanur.
Selamat menikmati











 PS : Sebenernya masih banyak foto yang kami ambil, tapi belum sempat saya pindahkan dari kamera ke laptop. Menyusul deh edisi khusus sunrise ini.
Cheers.