27.7.10

My Ndut.


Cavin Rubenstein Manuputty. Pria berbadan besar, berdarah Ambon ini resmi menjadi “lelakiku” sejak kurang lebih 5 tahun yang lalu. Saya kenal dia karena kami sama-sama tinggal di asrama kampus. Waktu itu saya juga baru ngeh kalau dia ternyata adalah senior saya di jurusan Sastra Belanda, satu tingkat di atas. Ketika kami masih tinggal di asrama, dia memacari sahabat saya. Gadis Bali bernama Inge. 
So, hubungan dia dan sahabat saya tidak berjalan lancar. Mereka putus setelah satu tahun menjalin cinta  karena alasan klise : perbedaan agama.
Putusnya hubungan mereka sama sekali ga membuat hubungan saya dan Cavin merenggang. Kami justru menjadi semakin dekat. Pernah, seorang teman curiga kalau saya ada hubungan special dengan Cavin dan bahkan ada beberapa yang menyangka kami pacaran. Hihi, kalau ingat itu, saya geli sendiri. Saya memang kadang-kadang nakal. Suka menggoda laki-laki, tapi tidak dengan mantan sahabat.? It’s a big N to the O! NO WAY,man.
Kami tidak tertarik untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih jauh. Dia berpacaran dengan wanita lain, saya pun menjalin hubungan “tidak resmi” dengan banyak pria. Tidak pernah berpikir untuk menjadikan status menjadi pacar. Iiieeuuwwh!! Lagipula, Cavin selalu bilang, “You are not my type, Da.”  (-_-“) yeah, yeah, yeah, Ndut.. whatever!

Singkat cerita, kami terus menjaga kedekatan kami. Saya yang selalu drama ini, tentu saja jatuh cinta padanya. Sebagai teman. Teman di waktu senang dan susah. Sebagai sahabat dan sebagai kakak uhmm..  atau sebagai adik? (sebenarnya  dia lebih muda) Well.. guess I will always be his “little sister”, karena dia adalah orang yang sabar dan mau menerima sifat manja saya yang *ehem* kadang-kadang menjengkelkan. Pembelaan diri : aku ga manja ko. Aku hanya kadang-kadang butuh banyak bantuan. 
Walapun saya lebih tua satu tahun, dia selalu saja bisa membuat saya merasa 5 tahun di bawahnya. Sial. Saya mulai berhenti memanggil dia Cavin, semenjak dua atau tiga tahun belakangan ini. Entah kenapa, saya lebih suka memanggil dia dengan sebutan Ndut. Ya, diambil dari kata GENDUT. Hehehehe.. Cavin GENDUUUUT!! Perut buncit, pipi tembem. My Nduuuut.
Si Ndut ini yang menginspirasi saya memakai nama PudingMocca. Dulu, suatu hari, dia pernah bercerita dia sedang suka seorang perempuan. Saya lupa namanya, tapi dia bilang, dia memanggil perempuan itu Pudding, karena dia chubby dan putih. Berbeda dengan saya yang diberkati kulit eksotis (baca : gelap), dia berinisiatif memberi saya nama PudingMocca. Mocca karena  kulit saya coklat dan seperti rasa Mocca, saya manis (haha yes, once you said that, Ndut. Admit it!). Waktu itu saya masih gendut, kenyal-kenyal persis seperti pudding.  Sekarang aku udah ga gendut. *Pamer body sexy*. Saya memakai nama PudingMoca kebanyakan untuk internet things. Friendster, Twitter, Facebook (dulu), Skype, email, dll.
Dia juga yang dari dulu sampe sekarang tetep manggil saya dengan nama NANDA!! Arrggghh.. awalnya saya benci dipanggil Nanda, karena itu bukan nama saya. Tapi sekarang saya udah terbiasa.
Ceritanya, waktu saya masih kuliah, seorang dosen linguistik, Mevrouw Andrea-namanya, selalu salah memanggil nama saya.
Mv. Andrea     : Ya, coba Nanda.. tolong baca halaman 149.
Saya                 : Anda, mevrouw.
Mv. Andrea     : Oh, ya. Anda. Maaf. Silahkan dibaca..
Saya                 : (membaca… sampai selesai). Sudah, Mevrouw.
Mv. Andrea     : Ya. Terima kasih, Nanda.   
                           Jadi…bla bla bla bla..
Saya                 : (-_-“)  *saya frustrasi. Ambil kamus dan mukul-mukulin ke kepala sendiri*

Sudah berkali-kali saya ingatkan, tetap saja dia memanggil saya dengan nama Nanda. Kalau sekali dua kali salah, wajar. Masalahnya hal ini terus terjadi selama 4 tahun!! Ya tuhaaan, dosa apa saya kepada Mv. Andrea itu. Dan entah kenapa, menurut Ndut, itu lucu sekali. Jadilah dia memanggil saya dengan Nanda, sampai sekarang. Dan beberapa teman saya juga sering ikut-ikutan memanggil Nanda, untuk ngeledek saja. Dem yu, guys!
Pertemanan saya dengan si Ndut ini ga selalu mulus dan seneng-seneng aja. Kadang-kadang kami juga ngambek *mmm, actually gw sih yang kebanyakan ngambeknya* atau sebel-sebelan. Soalnya, jelas. Menurut dia saya labil, cengeng, emosian, meluap-luap, centil, genit, suka ketawa-ketiwi ga jelas, kalau ngakak ga liat-liat tempat, manja minta ampun, suka ngambek, cranky,  dan lain-lain. Menurut saya dia juga suka menyebalkan, sok sibuk, tinggi hati, jayus akut, suka ngerokok deket-deket saya, dan banyak deh pokonya.
Walaupun begitu,
Cuma si Ndut ini, yang bikin saya ketawa terbahak-bahak di mana pun, menceritakan sesuatu yang bodoh atau sekedar nyampah ga jelas.
Cuma si Ndut ini, yang bisa bikin saya nangis sesenggrukan di Oh Lala Cafe, suatu sore karena harus nunggu dia yang datang terlambat hampir 3 jam!

Cuma sama si Ndut, saya bisa cerita apaaaa aja. Tanpa merasa malu atau terhakimi.
Cuma si Ndut ini, yang bisa bikin saya bela-belain manjat pager kosan pagi-pagi buta setelah kami menghabiskan waktu keliling kampus tengah malam.
Cuma sama si Ndut, kami bisa menghabiskan hari sabtu yang bosan jadi menyenangkan dengan memasak indomie rebus dan menonton dvd sambil makan tiramisu dari Starbucks, di kamar dia. Sampai kami jatuh tertidur.
Cuma si Ndut ini, yang bikin saya merasa selalu ada seseorang yang perduli ketika saya merasa sendiri dan sepi.
Cuma si Ndut ini, yang tau hampir semua detail apa yang (sudah) pernah saya lakukan dengan semua laki-laki itu. Hehehe.. saya tidak pernah bisa bohong di depan si Ndut ini untuk hal “kenakalan” seorang Anda.
Cuma si Ndut ini, yang biasa menelepon tengah malam atau bahkan pagi, menggangu tidurku hanya untuk sekedar bercerita. Mengeluarkan isi hati dan akhirnya berkata : Welterusten *selamat tidur*
Cuma si Ndut ini, yang dulu, ketika dia masih berkelana keiling pulau Jawa sebagai backpacker dan menetap di Bali selama 6 bulan, rela menelepon saya dengan sisa pulsa yang sekarat hanya untuk berbagi cerita dan bilang.. “langit Bali bagus banget, Nda..” Membuat saya iri setengah mati.
Cuma si Ndut ini, yang bisa membuat saya merasa bersyukur bahwa saya selalu punya bahu untuk bersandar. Dan selalu memberikan pelukan aman seorang teman waktu saya ingin menangis tanpa sebab.
Cuma si Ndut ini, yang selalu bikin saya kesel kalau dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai wartawan handal sebuah majalah ternama itu. Dan lupa bahwa saya merindukan sosoknya.
Cuma si Ndut ini, yang bisa dengan mudah  dan tidak malu menangis di depan saya seperti anak kecil. Lalu saya akan memeluknya dan bilang.. “Ndut, everything will be fine.”
Cuma si Ndut ini, yang bikin saya uring-uringan kalau dia keasyikan pacaran dengan pacar baru yang sangat dicintainya. Iya, saya cemburu. Oh, bukan karena pacarnya. Tapi karena waktunya untuk saya harus dibagi bersama kekasih hatinya. See, im such a spoil girl!!
Cuma si Ndut ini, yang buat saya merasa sangat bersalah karena saya melupakan ulang tahunnya. Ooooh, I’m a BAD FRIEND!!!
Iya, saya mengaku. Teman tidak bagus! --harus dibaca gaya Tarzan ngomong--
Tahun ini, saya melewatkan (uhmm.. okey, melupakan. Puas?!) hari ulang tahunnya. Lebih parahnya lagi, dia lah yang memberitahu bahwa saya melupakan ulang tahunnya!! Perfect!
Padahal, waktu saya ulang tahun, dia orang pertama yang menelepon saya, TEPAT jam 12 malam. Membangunkan saya dari tidur dan mengucapkan selamat ulang tahun lengkap dengan harapan-harapannya. Great, now I feel even worse!! :'(
Malem itu, dia menelepon saya. Dengan suara riang dan tanpa merasa bersalah, saya berbicara seperti biasanya. Menceritakan ini dan itu. Becanda dan ketawa-ketawa.
Tapi tiba-tiba dia diam dan bertanya, “Nanda.. gw boleh nanya ga?”
“Kenapa, Ndut?” tanya saya polos.
“Lo beneran temen gw , ’kan?” tanya dia dengan suara datar.
SHIIIIIIIIIIIIT! Ada apa ini, dalam hati saya langsung berkata dengan keras. Saya udah hafal di luar kepala, kalau ada sesuatu yang salah, atau saya lupa, pertanyaan macam ini lah yang selalu Ndut ucapkan. Otak saya berusaha keras mengingat dan menanyakan : okey Anda, what have you done lately?? What did you miss? Cmon, think! Think!!
Dan waktu itu, mata saya pas sekali melihat kalender bulan Juli. FAAAK!!! Bulan ini Ndut ulang tahun! Cepat-cepat saya melihat tanggal hari ini. Oh, sial! Saya melewatkan ulang tahun dia!
“Nduuuuut…” jawab saya memelas.
“Ya?” Balas dia.
“Maaf….” Suara saya benar-benar lemas.
“Kenapa?” jawab dia pura-pura bego.
“Nduuut…. “ Saya pun pelan-pelan menahan tangis. Merasa bersalah sekali. Ingin pergi ke kantornya saat itu juga tapi ga mungkin karena sudah jam setengah satu malam. Saya menyerah. Saya tau saya salah. :(
Begitulah. Saya malam itu sukses menjadi seorang sahabat yang buruk.
“Ga papa, Da.” Dia bilang.
Saya diem aja. Di kaca, saya meliat muka saya udah ga berbentuk. Merengut sedih, nyesel, marah sama diri sendiri, kesel, semua campur jadi satu!
“Maafin gw ya, Ndut.. im such a bitch” kata saya ke dia.
“It’s OK, Da..” denger suara dia bikin saya merasa semakin berdosa.
Malam itu, total pembicaraan kami di telepon kira-kira dua jam. Saya berulang kali bilang maaf ke dia. Dan dia berkali-kali bilang ga papa. Yang tentu saja membuat saya merasa tidak lebih baik.
Saya berjanji padanya untuk menebus dosa ini. Kapan, saya belum tau. Tapi pasti akan saya lakukan secepatnya. Lagi-lagi alasan saya tidak punya waktu. Klise.  Beberapa hari setelah itu, saya memaksanya untuk bertemu. Sekedar ngopi-ngopi menebus dosa sedikit demi sedikit. *bribing is always work* haha.
Jadi, lewat blog ini, saya ingin mengakui dosa. Saya mengaku salah, saya bukan sahabat yang baik. Dan saya berjanji akan menebus dosa kepadanya dalam waktu dekat ini. Aku janji, Ndut.
I know.. this is so lame. Maar ik will je echt nog een keer zeggen : Happy (very) belated birthday, My Ndut. I love you, you always know that. Wish you nothing but happiness and always success with everything you’re dreaming of. You’re my best, Ndut!!


 

21.7.10

laat het maar..

I don't like to say this, but..

F I N E.

Maybe I have to let you go. Maybe you need to let me go. Maybe both of us have and need to let ourself go.



This is not what I want.Ask the stars. Ask the wind. Ask the waves. Ask yourself. You knew it.
But again, I will say this out loud :
F I N E.

I'm not gonna cry. Maybe sad for a while, but I will definitely, F I N E.

14.7.10

Dan bahkan, ketika rasa rindu ini tak terucap, dia bisa mendengarnya dengan jelas.

Sebut aku gila. Tapi aku selalu merasa dia tidak bahagia bersamanya. Akalku mungkin bisa berdamai, tapi hatiku menolak untuk dibohongi.

Perlahan, dia masuk lagi ke dalam sela hati. Mencari ruang kosong untuk sekedar bersandar. Berteduh ketika hatinya melepuh, terluka oleh cinta.

Sebut aku bodoh. Tapi aku selalu tidak bisa menolaknya. Sudah aku coba. Selalu gagal.

Mungkin kami (masih) saling mencinta. Entahlah. Aku tidak tahu, dia tidak tahu. Kami tidak tahu.

Kami hanya tahu, kami bodoh dan gila.
Selamat datang kembali di jebakan hati yang membutakan rasa.

8.7.10

Morning Package

tok tok tok...
Pintu kamar saya diketuk.

"Anda," Suara bapak kosan memanggil saya.
"Ya. Tunggu sebentar, Pak." Jawab saya sambil bergegas membuka pintu.
"Ada kiriman paket buat kamu." Kata si bapak.
"Oh. Iya, makasih Pak." jawab saya sambil menerima bungkusan kecil berwarna coklat.

Pintu saya tutup, saya lalu melihat alamat si pengirim :
Evan Sandzaja
Na Lazih 34
1351 BREZOVICA
SLOVENIJA

Aaaaaaah!!! It's from him!!

Dengan semangat, saya membuka amplop coklat ini dan mengeluarkan isinya. Sebuah CD.
saya lalu segera menyalakan laptop dan melihat isi CD ini. Whaaaah, isinya lagu-lagu dalam bahasa slovenia. Plus sebuah foto dan pesan singkat dari dia. SWEET!!



Saya lupa bagaimana kami saling mengenal. Yang saya tau, Evan adalah seorang indonesia yang lahir dan besar di negeri yang tidak familiar dengan telinga saya : Slovenia. Orang tuanya bekerja untuk PBB (UN). Dan dia harus menghabiskan hampir seluruh hidupnya tinggal di sana. Kalau tidak salah setahun yang lalu, saya bertemu dengannya di Yahoo Messsenger chat room. Ketika saya sedang sibuk mencari informasi tentang beasiswa di negara-negara kecil di Eropa.

Sejak saat itu, kami rajin mengobrol lewat YM. Kami berbicara banyak hal. Tentang apa saja. Tentang sekolahnya, tentang orang-orang slovenia, tentang musik, dll. Kebanyakan tentang ketertarikannya pada bahasa Indonesia yang ingin dia pahami dengan baik. Saya pelan-pelan juga ikut membantunya belajar bahasa Indonesia.

Kemarin, dia tiba di Jakarta. Ya, dia akhirnya datang ke Indonesia. Dia langsung mengabari saya dan menceritakan perasaan senangnya waktu sampai di Jakarta. Dia kelihatannya senang sekali.
Tidak banyak waktu yang dia punya di sini. Dia hanya akan tinggal 3 hari di Jakarta, besok lusa dia akan langsung terbang ke Bali dan menghabiskan kira-kira 10 hari di sana. Oh.. i wish i could go to Bali too :(
Masih banyak sekali pekerjaan yang tidak bisa saya tinggal di sini sampai akhir bulan ini.

Ah, sudahlah. Intinya, saya senang sekali.
Walaupun kami belum bisa bertemu muka langsung. Saya tidak merasa kecewa. Tidak apa-apa. Karena saya percaya nanti kami akan bertemu. Mungkin di sini, di Jakarta. Atau di Slovenia. Mungkin.

Yes, i'm talking about you, Evan. And i bet you wont understand what i've wrote above. Dont worry, it's not something bad about you. Ask your cousin to translate it!
Thanks for the package and your funny message. I love it.
Have fun in Bali. Dont forget to buy lots of cute things for your girlfriend. She'll love it. ;)
once again, Terima kasih!!




Anda.

5.7.10

Tour the Jakarta

Mengingat bahwa saya belum juga mendapatkan pekerjaan baru, untuk sementara saya harus rela menerima diri sebagai pengangguran terselubung. Ga punya kerjaan tetap, tapi masih bisa hidup dan bertahan di kota sebesar Jakarta ini. BRAVO, Anda! *giggling*

Untuk membunuh rasa bosan (baca : nganggur), saya memutuskan untuk melakukan Tour the Jakarta. Karena semua teman saya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing (baca: Kerja). Partner satu-satunya yang paling bisa diandalkan siapa lagi kalau bukan Pratiwi Dayang Buana a.k.a Daboe!

Ya. Mumpung dia lagi “mampir” berlibur di Jakarta, dan akan balik ke Hong Kong minggu ini, saya sudah pasti mengajak dia menemani Tour the Jakarta ini. Sebenarnya ga tour-tour amat sih. Cuma pengen maen ke beberapa tempat di Jakarta yang belum pernah saya kunjungi aja.

Jadi, tujuan utama Tour the Jakarta ini adalah Monumen Nasional atau lebih ngetop dengan sebutan Monas. Saya harus menanggung rasa malu karena seumur hidup saya belum pernah menginjakkan kaki di atas monumen itu. NEVAH!*jeduk2in pala, malu*

Setelah tinggal di Depok selama 4,5 tahun dan merasa betah sekali dengan kota belimbing itu, saya akhirnya memutuskan untuk tinggal di Jakarta 1,5 tahun yang lalu. Benar. 1,5 tahun dan belum pernah naik ke atas Monas. Mmm.. ada kata lain selain MEMALUKAN?? Ah, KASIAN DEH LO mungkin lebih tepat. (Heh, ga usah ketawa2 lo bacanya!)

Tunggu, tunggu.. saya bukannya ga pernah usaha, tidak pernah mencoba untuk naik ke atas Monas loh. Oh, oh, oh.. percayalah, saya sudah mencobanya (well, cuma satu kali sih). Entah kenapa, usaha saya itu selalu saja gagal.
Dan kali ini, saya bertekad! Saya HARUS bisa naik ke atas Monas!!

Sehabis mengajar, saya dan Dabu sepakat untuk bertemu di Plasa Senayan dan langsung pergi ke Monas. Takut kesorean.
Kami pun segera menuju Halte Transjakarta di depan Ratu Plasa (Maaf, lupa nama haltenya).






Uhuy! Sampe Monas. Wah.. keliatannya mau ujan. Mendung. Padahal tadi pagi panasnya kaya di Arab (Kayak yang udah pernah ke sana aja!) sekarang jadi mendung deh.
Ga pikir lama-lama, Daboe langsung mengeluarkan tripod-nya. NIAT banget, dab!! Hahaha.. bagooos!!



Yah.. kami cuma sebentar dan sedikit foto2nya karena tiba-tiba ujan turun. Untung Daboe cewe yang selalu mengutamakan keselamatan : bawalah kondom ke mana pun kamu pergi! Err.. maksud saya, bawalah payung ke mana pun kamu pergi, karena ini sudah mulai musim hujan.


Sementara menunggu hujan reda, kami terus berjalan menuju pintu masuk Monas, menuju ke atasnya. OH NOOOOO!!! Ternyata saya memang belum diizinkan untuk menginjakkan kaki di atas Monas itu. Lagi-lagi nasib saya tidak beruntung. Loket tiket menuju ke atas Monas sudah ditutup. *menangis-lari sambil ujan2an-teriak2 gaya film India*. Gagal lagi usaha saya untuk menghilangkan predikat KASIAN DEH LO. Hiks.. :’(

Tidak mau berlama-lama bersedih, kami pun bertekad untuk melanjutkan Tour the Jakarta ini. Tak apa, lain kali saya akan datang pagi-pagi. Sebelum melanjutkan ke tujuan selanjutnya, kami sempat berdiam diri dulu di pelataran Monas. Melihat dan memoto semua hal yang menarik. Ada keluarga yang sedang berlibur, ada tukang jualan makanan, ada yang bermain bola,
ada kereta mobil buat keliling Monas, dll.



Setelah puas ceprat-cepret foto, kami beranjak menuju tempat selanjutnya. Langit Jakarta masih saja murung. Kami tidak berkeluh kesah. Tak apa lah.
Demi merasakan sensasi asli Tour the Jakarta, kami memutuskan untuk naik Bajaj ke tempat selanjutnya. Di depan kami sudah berjajar dengan rapih bajaj2 yang siap mengantarkan penumpang ke mana pun tujuannya. 

 
5 menit perjalanan dari Monas, dan sampailah kami di tempat ini :


 
Yes. Sekarang kami ada di Katedral. Sudah lama sekali saya ingin datang dan melihat dari dekat gereja yang punya bangunan super keren macam di Roma sana. Awalnya kami ragu masuk ke sana, karena sepertinya sedang ada acara Misa sore atau apalah. Tapi saya tetep berkeras hati kali ini harus bisa masuk dan melihat ke dalamnya. Sore itu, kami berhasil melihat keindahannya.



Puas mengelilingi gereja dan mengabadikannya dalam kamera, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini tidak perlu naik bajaj atau taxi. Cukup jalan kaki, karena tempat selanjutnya yang akan kami kunjungi berada tepat di depan Gereja Katedral.
Yes, it’s Masjid Istiqlal Jakarta .

Ini bukan pertama kalinya saya masuk ke dalam Masjid yang terbesar di Asia Tenggara. Saya sudah beberapa kali datang ke tempat ini. Terakhir, beberapa bulan yang lalu, ketika saya menjadi pendamping pengantin teman saya yang menikah di Masjid ini.
Kebetulan, waktu kami sampai, kami belum sholat Ashar. Jadi kami pikir, kami akan sekalian istirahat sebentar dan menikmati setiap detail tempat ini. From church to mosque, these places have been taught us the beauty of God’s colors.

Hari sudah mulai gelap ketika kami keluar dari halaman depan Masjid Istiqlal. Sebelum kami meninggalkan dua tempat yang berdekatan ini, kami menyempatkan waktu untuk memfoto mereka dalam cahaya.
 
Lapar!! Sudah waktunya memanjakan perut. Kami memutuskan untuk pergi ke tempat yang enak buat duduk-duduk santai sambil menikmati makanan ringan. Sebenarnya saya ngidam baso, teman-teman. Tapi dari tadi saya ga liat tempat baso L
Yasudah. Kami pun berjalan menyusuri trotoar. Hujan sudah berhenti, tapi jalanan masih basah. Kami menikmati basahnya Jakarta. Di jalan, kami sempat berhenti waktu melihat ada beberapa orang yang berdiri di sepanjang jalan, sambil menyodorkan tangan mereka ke mobil-mobil yang lewat. Benar sekali. Mereka adalah joki-joki 3 in 1. Saya tentu saja langsung membuka lensa kamera dan memoto mereka. Dan pastinya, sang model Daboe, ga mau kalah ikutan bergaya juga seperti mereka. Para joki.

Tempat “dadakan” yang akan kami tuju adalah sebuah tempat yang menjual es krim khas Italia. Yes. It’s Ragusa.
Wah.. banyak banget pilihan es krim-nya. Kami jadi bingung.

Akhirnya pilihan saya jatuh pada Rum Raisin Ice Cream, dan Daboe memilih Stawberry Ice Cream. Dan untuk cemilannya, kami memesan otak-otak yang ada pas di depan Ragusa, satu porsi dengan harga yang sempet bikin saya ketawa ngenes. Mahal booo!! *20rb untuk 10 biji otak2 seukuran jari kelingking L *
Menunggu pesanan tiba, saya dan Daboe membunuh waktu dengan foto-foto. Saking hebohnya foto-foto, orang-orang yang ada di situ sampe geleng-geleng kepala liat kelakuan kami. Hehehe..

YAY!! Es krim dan otak-otak sudah datang. Woo hooo… eet smakelijk!
Waaah… ternyata sudah malam!! Kami harus segera pulang. Sudah cape juga seharian jalan dan berburu foto. Seru!
Tapi.. err.. umm.. sebenarnya kami masih lapar. Pengen makan yang lebih berat. Tapi ga tau harus ke mana. Di perjalanan menuju halte Transjakarta, kami melihat ada warung kecil di samping stasiun Cikini. Wah.. ada Soto Ayam. Kami pun tersenyum sambil melangkah ke sana. Cakep! Perjalanan ini ditutup manis dengan hangatnya soto ayam pinggir jalan stasiun cikini. Mantaf!!
End of tour.