28.8.10

Tarian jiwa

Malam kedua.

Lagi-lagi ga bisa tidur. Kali ini hanya ada satu perasaan : Senang.

Nemu duit, Nda? Atau dapet pacar? Hmm.. sayang sekali bukan dua-duanya. *eeaaa*

Di malam ke dua ini, saya "berhasil" diculik seorang teman lama yang memang sudah satu tahun lebih tinggal di sini. Awalnya niat kami hanya akan pergi makan malam.

Emang dasar nasib saya bagus. Tiba-tiba dia ngajakin saya nonton tari Bali. Tanpa kata-kata, muka saya yang suka berekspresi ala kadarnya (baca : LEBEY), langsung setuju pergi ke tempat tarian di adakan.

Padahal saya tadi pamit keluarnya cuma buat makan malam aja. Tapi demi melihat tarian Bali yang -oh-sudah-sangat-lama-sangat-ingin-ditonton-langsung, saya ga perduli. Kalau pun saya nanti pulang kemalaman, saya ga masalah kalo harus tidur di penginapan. See, niat abis kan?? Maklum, udah lama ga nari.

Daaaaaaaaaaan.. Ya! Mengangga lah saya melihat pertunjukan yang cukup besar dan ramai malam ini. SUPER COOOOOL. Oh, rasanya menyiksa bukan kepalang ga punya kamera. Hiks. Ga bisa ngerekam. Foto-foto pun harus rela ala kadarnya lewat handphone. :'(
Bulan depan HARUS beli kamera!!!

tuh liat. Saking penuhnya tempat pertunjukan, orang2 ampe nonton di luar.
nah, kira2 begini nih tampilan dari big screen yg bisa ditonton sama orang yg ga bs nonton di dalem.

Lucky bitch! Dasar beruntung. Teman saya ternyata kenal sama salah satu penari kecaknya. Jadilah kami bisa masuk lewat belakang. Jalur khusus undangan. Gratis. Zonder betalen. Hehehe.. mantab.
Udah gitu. Pas nyampe sana, saya berhasil nyempil-nyempil ke depan dan dapet view yang cakep.

sweeeet!!
kangen Liga Tariiiii :'(


after the show..
coolest dancers!!!
Puaaaas banget liat mereka nari. Kira-kira hampir 3,5 jam diselingin 15 menit istirahat. Ah, senangnya hati ini. Bibir saya ga berenti2 senyum dari tadi. Walaupun saya harus pulang kedinginan dan basah2an gara-gara gerimis. Hati saya tetap hangat setelah menonton pertunjukan tari tadi *halah*.

Wah.. udah hampir jam 1. Saya bobo dulu ya. Besok saya akan bercerita lagi.
welterusten, iedereen.
xxxx
Anda

Hitungan dimulai

Hitungan hari sudah dimulai tadi malam.

Dan saya menghitungnya dengan senyuman syukur. Alhamdulillah..

Sekarang, saya belum bisa bercerita banyak. Jangan salah sangka. Bukan karena saya tidak suka menceritakannya. Saya selalu suka bercerita lewat kata-kata, bukan?

Kali ini, saya akan membiarkan foto-foto ini bercerita. Tentang hidup baru saya yang baru saja dimulai kemarin.



kamar baru.



semalam, saya ga bisa tidur. Bercampur perasaan hati ini. Senang. Kangen (already) orang-orang tersayang. Takut. Sedih. Semangat. Yah, campur aduk.

tadi pagi, saya memutuskan untuk jalan2 sendiri.


Sambil mendengarkan lagu2 dari My Dearst : Michael Buble, saya jalan menyusuri jalanan ini, sendiri saja. Hmm. udaranya segar. Ini gambar jalanan sebelum masuk rumah. Kira-kira 10 meter ke luar dari rumah.


look what i found!! Blanco Museum is close to my place. COOL.
So excited pas ngeliat papan ijo bertuliskan Blanco Museum ini. Whaaa... how cool is that! Dengan semangat '45 saya berjalan menuju Museum ini.

yay! ketemu!!!

Saking semangatnya pengen masuk, saya baru sadar kalo ini masih pagi sekali. masih jam 7. Hehehe.. Museum buka jam 8. *sighs* Nanti saja, saya akan kembali. Besok atau lusa. :D

on my way back home..
sudah cukup jalan-jalan paginya hari ini. Saya ga langsung balik. Saya coba-coba jalan baru *sotttooooy, ga inget Nda di Jakarta ratunya nyasar??!?!*

Itu rumahnya.
Iya. Memang. Rumahnya entah kenapa nyangkut di tengah2 sawah gitu. Tapi i like it so much. Pagi2 pas bangun, yang saya liat hamparan hijau di depan mata. Dan.. udaranya super sejuk. Sweet!

sebentar lagi sampai *hosh hosh hosh*



Pas sampai di depan pintu rumah, liat siapa yang menyambut saya?

yes. He wears my shoes :)
 Dengan muka seperti itu, sulit rasanya menolak "ajakan" dia untuk jalan-jalan (lagi). Di temani dua anjing mereka : Tiger dan Camil. Kami pun jalan menyusuri sawah.

he takes my glasses and puts on his small-cute face. he loves it. OH!!
Kata mbanya, dia suka banget pake kaca mata. Ngeliat saya pake kaca mata, matanya berbinar, ngarep saya mau minjemin dia. Alhasil, sepanjang perjalanan, dia ga mau ngelepas dan berhasil menarik perhatian semua orang yang lewat dan ngeliat dia. Bravo, Antonio!!

"I love walking" he says.

Semanget bener ni bocah!!

home again!

Setelah cape muter2 setengah jam di pinggir, sampe ke tengah sawah. Kami pulang. Oya.. please meet the dogs : Tiger (yang warna item) dan Camil (yang putih). Si Tiger doyan banget jilat2 borok gw *iieeeuuuwwwh*. Hahaha..



That was it.

first day of ..... to go.

.Anda.

24.8.10

Di setengah perjalanan




Juni dan juli sudah berlalu. Agustus datang lagi. dan September akan segera menyusul.




Sudah setengah perjalanan.




Di setengah perjalanan, aku sekali jatuh hati.  Pada dia, si jelek-pencuri hati nun jauh di negeri sana. Diam-diam  aku coba sembunyikan rasa cinta, tapi toh aku tetap  tak kuasa untuk tak berbicara.  Rupanya cintaku tak sebesar cintanya. Kami tak berkesinambungan. Tak sejalan secara visi dan mimpi. Lalu berakhir kami dengan kata pisah, tanpa pertemuan.Walau (kami) masih menyimpan rasa.




Di setengah perjalanan, aku berani mencoba hal-hal gila ini :

Dengan pertimbangan yang sangat berat, aku memberanikan berhenti dari tempat kerja yang sudah terasa (sangat) nyaman seperti keluarga.

Dengan kepercayaan diri yang tidak pernah besar, aku berani  menjadikan salah satu mimpi lama yang hampir mati, hidup kembali. Mencoba menjadi penari.

Dengan keinginan menggebu-gebu, aku menyakinkan diri  bahwa aku bisa berkompetisi bersama orang-orang pintar se Indonesia untuk mendaftarkan diri sebagai penerima beasiswa S2.




Lalu di sini lah aku.




Di bulan Agustus yang khusyuk.. disambut dengan aura Ramadhan yang menenangkan hati.  Damainya hati ini mendengarkan sayup-sayup suara yang terdengar dari surau di dekat rumah. Tenangnya jiwa ini ketika berada dekat dengan orang-orang tersayang : mamah, papah, abang, dede, dan kalian, teman-teman.

Dan di kepalaku, sudah banyak rencana yang ingin ku jalani setengah perjalanan di masa depan.




Di setengah perjalanan ke depan, aku harus lebih berani. Aku ingin meninggalkan ibu kota. Jakarta yang sangat ku cinta. Jakarta yang membuatku kuat. Jakarta yang memberiku banyak cerita. Ah, Jakarta.  Sudah waktunya aku mengucapkan selamat tinggal.






Di setengah perjalanan ke depan, aku harus bisa mengubah status ku menjadi mahasiswa lagi. Ya. Aku tidak sabar ingin kembali ke kampus. Kembali ke perpus. Kembali menulis. Belajar.




Di setengah perjalanan ke depan, aku akan siap berkomitmen. Menyiapkan diri untuk menjadi satu dalam dua. Karena di setengah perjalanan selanjutnya, aku sudah akan siap. Aku harus siap. Karena aku sudah memantapkan niat. Insyaallah...




Maka, di setengah perjalanan ini, aku menuliskan apa yang sudah dan akan aku lakukan.




Di setengah perjalanan.







-Anda-



19.8.10

Black part of life

Selasa, 17 agustus 2010 jam 21.10 wib


Saya keluar dari Caffee Kedai. Tempat saya buka puasa ditemani Treen hari itu. Keluar dari Kedai, cuaca dingin dan sepanjang jalan Benda Raya di kemang selatan sepi sekali. Saya berdiri tepat di depan Kedai menunggu taxi atau kendaraan lain lewat.

Hmm.. Sepi banget.

Beberapa menit ga ada apa pun yang lewat, saya memutuskan untuk jalan pelan-pelan. Siapa tau di depan pertigaan Habibie Centre ada taxi, atau bajaj.

Sampe pertigaan, saya ga juga liat taxi, bajaj or ojek. Benar-benar sepi malam itu. Mungkin orang-orang masih pada taraweh dan kebeneran abis ujan juga. Jadi pasti orang-orang memilih tinggal di rumah.

Ya sudah lah. Saya jalan kaki saja ke kosan. Toh masih jam 9, pikir saya.

....

Di gang masuk Kemang XI, saya melongok jauh ke ujung. Hiii.. Sepi sekali. Kabut menutupi setengah pandangan ke depan. Ga seperti biasa, saya bergidik. Sambil mengeluarkan handphone, sebagai teman jalan di jalanan sepi ini, saya terus berjalan.

Karena pernah mengalami peristiwa yang ga enak, saya terbiasa berjalan di sebelah kanan jalan. Maksudnya, supaya saya bisa melihat apa-apa (mobil,motor, atau orang) yang datang dari arah depan. Malam itu, seperti biasa saya jalan di kanan jalan.

Melewati dua rumah besar, saya ko aga deg2an akan melewati rumah di depannya. Rumah besar yang entah berpenghuni atau tidak. Di depan rumah besar itu, tidak ada rumah. Yang ada sebuah lapangan yang cukup besar dipagari pohon2an kecil sepanjang lapangan dan dua pohon besar di pintu masuknya. Di siang hari, lapangan ini suka dipakai sebagai tempat berjemur anjing-anjing kompleks. Dan di malam hari, lapangan ini terlihat lebih seperti, hmm.. Kuburan. Hiii, iya. Serem, memang.

Pernah, waktu saya jalan berdua dengan Fe, tiba-tiba dia lari meninggalkan saya. Ketika saya tanya kenapa, dia ga mau bilang. Saya pun ga maksa. Saya cuma liat muka Fe ketakutan. Hmm. Mungkin Fe "melihat" sesuatu yang ga bisa saya lihat. Entahlah. Saya toh juga ga mau tau. Saya tau kemampuan saya.

Sebelum saya melewati rumah itu, ada motor yang beberapa kali lewat. 3 kali kalau ga salah. Lalu ada juga mobil dari arah dalam, hendak keluar kompleks. Alhamdulilah.. kata saya dalam hati, saya ga sendiri-sendiri amat.

Pas di depan rumah itu, saya merinding. Aduh, saya lalu memusatkan perhatian ke handphone, dengan maksud menyibukkan diri ; membuka twitter, FB, atau mengajak orang ngobrol di YM,MSN,atau BBM. Entahlah, saya cuma ga pengen sendiri dan dihantui pikiran yang engga-engga. Langkah pun saya percepat. Ketika saya merasa sendiri, dari arah depan, ada sorot lampu motor. Ah, untunglah.. Saya bisa melewati rumah ini pas berbarengan dengan motor ini.

Beberapa meter setelah lewat, saya menghela napas. Lega. Motor yang tadi berpapasan pun sudah lewat. Mungkin motor berpenumpang dua orang itu sudah keluar kompleks. Saya berpikir untuk menoleh dan melihat apakah motor tadi sudah hilang, tapi niat saya urungkan. Saya kembali melangkahkan kaki.

Tiba-tiba...

Suara motor dari belakang. Aneh. Kenapa suaranya dekat sekali. Seperti persis di belakang saya. Padahal saya jalan di sebelah kanan jalanan. Belum sempat saya menoleh untuk melihat.

Sreeeeeeeeeettt... Tas yang saya pegang dipundak kanan tiba-tiba ditarik dengan paksa. Saya menjerit. Refleks memegang erat tas. Keras sekali. Lalu..DUK. Saya terjatuh. Kepala saya terbentuk lalu saya terseret beberapa meter di aspal mengikuti laju motor. Semuanya terjadi cepat sekali. Saya kaget dan ketakutan luar biasa.

Saya ingat, badan saya ditarik keras sekali. Membuat saya merasakan perih luar biasa di tangan dan kaki telanjang saya. Malam itu saya memang hanya memakai celana pendek dan baju tanpa lengan. Detik itu, saya merasa seperti ada di film. Ah, mungkin ini mimpi, kata saya dalam hati. Tapi kenapa rasanya nyata sekali. Sakit. Dan oh, rasa takut yang mencekam itu. Ya Tuhan.. Ini nyata. Saya sedang dirampok.

Saya ingat, suara saya hampir habis karena berteriak keras sekali. Berharap bapak-bapak satpam di rumah ujung sana akan mendengar suara saya. Tapi, oh.. Ketika saya mengintip dari ujung mata yg terpejam, tidak ada siapa pun di jalan itu. Kosong. Gelap. Berkabut setelah hujan. Dan saya sendiri bersama mereka.

Saya ingat, saya memegang erat tas itu. Membuat saya tertarik ke sana-sini. Saya tidak tau dan tidak ingat kenapa saya memegang tas itu dengan erat. Saya berasumsi mungkin karena ketakutan yang sangat. Atau mungkin sisi defensif diri yang menyuruh saya untuk tetap bertahan tidak melepaskan tas itu. Entahlah.

Saya ingat, salah satu dari mereka turun dari motor sementara yang satu lagi tetap siaga di atas motor. Saya tidak berani mendongak ke atas. Seluruh muka saya tertutup rambut. Tapi di sela-sela rambut, saya bisa melihat orang itu menghampiri saya, menarik tas dengan kuat. Dan lagi, yang tidak saya mengerti, saya tidak (bisa) melepaskan tas itu. Kami saling menarik. Sekuat tenaga saya menjerit dan menarik dengan tangan kiri saya. Sementara di tangan kanan saya, tergenggam kuat handphone yang tadinya berperan sebagai teman pembunuh sepi di perjalanan. Sepertinya perampok ini hanya menginginkan tas saya, yang tidak berisi apapun yang penting kecuali dompet berisi uang 250rb. Dia bahkan tidak melirik hanphone yang tergenggam di tangan kanan saya, or simply because he didn't see it.I don't know..

Saya ingat, ketika itu saya merasa lemah,takut, dan kuat at the same time. Di otak saya, saya berpikir dia akan mengeluarkan pisau, atau bahkan pistol dan membunuh saya. Saya menangis ketakutan juga dengan beraninya tetap berteriak kencang. Seperti menempel di badan, tas ini tidak mau lepas. Seperti tersangkut sesuatu pada baju saya. Menempel.

Saya ingat, saya lalu berkata "okey..okey..ambil. Ambil. Ambil tasnya" sambil menangis. Saya terus-terusan menjerit sambil membayangkan jika perampok itu kapal dan membunuh saya. Terbesit sejenak, bagaimana kalau saya mati terbunuh saat itu. Seperti slide show, terbayang-bayang wajah orang2 tersayang ; Mamah-Papah-Abang-Dede dan teman2. Saya benar-benar berpikir saya akan mati malam itu.

Saya ingat, ketika si perampok itu hampir saja akan berhasil memisahkan tas dengan badan saya, saya melihat ada sebuah sinar dari arah depan. Ya Tuhan.. Apakah itu malaikat utusanMu? Bisikku dalam hati. Seketika si perampok yang berada di motor menyuruh si perampok yang (hampir) berhasil mengambil tas saya untuk kabur.

Saya ingat, perampok itu meninggalkan saya tergeletak di tengah jalanan yang basah. Saya terbaring kesakitan. Di ujung mata, saya bisa melihat sandal saya tergeletak di pinggir jalan. Di tangan kanan, saya masih menggengam handphone dengan kuat. Kepala saya sakit sekali karena benturan beberapa kali di aspal. Kulit-kulit di lengan dan kaki saya perih. Saya ga ingat apakah si perampok memukul saya atau tidak. Saya hanya ingat, ya saya ingat jelas, saya melihat gelap yang pekat sesaat setelah si pengendara motor menghampiri saya dan berkata "Mba, mbaa.. Kenapa, mba??!??"

...

Saya ingat, ketika saya membuka mata, orang-orang ini sudah berkumpul mengerubungi saya. Kira-kira ada 8 orang. Ada mas-mas dan 3 orang satpam yang datang dari rumah di ujung jalan. Bersama-sama mereka memapah saya ke salah satu rumah. Rumah yang sudah sejak lama saya tau, adalah rumah salah satu orang kedutaan Belanda. Saya tau itu dari plat mobil yang diparkir di garasinya. Sepertinya sedang tidak ada orang. Mereka meletakkan saya di halaman depan.

Setelah diberikan minum, saya mencoba mengingat2 lagi apa yang baru saja terjadi. Gusti Allah.. Apa yang baru saja terjadi padaku? Saya lalu menangis ditemani celotehan dan nasihat2 bapak-bapak di depan saya. Saya tidak begitu ingat apa yang mereka bilang, saya hanya menangis, tidak percaya dengan apa yang baru saja saya alami. Sementara mereka sibuk berspekulasi dan merencanakan penangkapan perampok itu, saya pelan-pelan meneliti dan memeriksa tubuh saya. Sakit sekali rasanya seluruh badan ini.

Lima menit kemudian, saya sudah berada di kamar saya. Fe yang saya telepon, langsung menjemput saya ke rumah orang kedutaan Belanda itu. Di kamar, setelah mandi, Fe mengobati luka-luka saya dan menyuruh saya langsung istirahat. Lucky I have her...

Tentu saya saya ga bisa tidur. Setiap mendengar motor lewat di depan kosan, saya menarik selimut dan ketakutan. Saya menangis sepanjang malam sampai waktu saur. Kehilangan selera makan, saya hanya saur minuman. Saya hanya memberi tahu beberapa orang malam itu. Memberi tahu Mamah-Papah bukan pilihan yang bagus. Saya hanya mengsms kedua adik saya, mereka langsung beraksi panik. Menelepon saya dengan suara cemas. Saya yang memang dasarnya cengeng, tidak bisa berkata banyak selain menangis sesenggrukan mendengar pertanyaan2 adik tersayang..

Saya ga bisa tidur karena masih terbayang2 peristiwa penarikan itu, teringat setiap detail kejadiannya, dan baru menyadari bahwa motor yang beberapa kali saya lihat melewati saya sebelumnya adalah motor yang sama! Mereka sudah mengincar saya dari awal. Ditambah sakit di sekujur tubuh dan kepala saya yang benjol (untungnya ga bocor) membuat saya ga bisa memejamkan mata. Sepanjang malam mata ini bocor. Tak tertahankan.

Memikirkan rasa takut dan sakit ini saja sudah bisa membuat saya menangis semalam. Belum lagi besok ada test TOEFL. Dan hal penting lain : besok Dain berangkat!

Tambah berlinanglah air mata ini. Menangisi hal-hal yang ga bisa saya lakukan esok hari. Sampai akhirnya saya kelelahan. Tertidur dalam air mata.

Besoknya, saya memaksakan untuk tetap ikut test TOEFL. Saya berangkat dengan badan memar dan kaki yang susah digerakkan karena lecet di lutut dan ujung kaki. Test TOEFL berjalan 2,5 jam sampai jam 4 sore. Setelah selesai, saya langsung menelepon Dain untuk mengabarkan apa yang terjadi pada saya tadi malam. Dia tentu saja kaget. Lalu saya bertanya bagaimana saya bisa sampai di bandara dari tempat ini (waktu itu saya tes di AMINEF, Balai Pustaka-Senen). Saya (yang memang) buta arah, ga pernah apal jalan dan selalu ga tau harus naek apa kalau ke mana-mana.Dan waktu itu sudah jam 4. Jakarta pasti sudah didera kemecetan tingkat tinggi. Di ujung sana, Dain berkata dengan suara sok wise : "Ga papa, Nda.. Lo langsung aja balik ke Serang. Istirahat.Tenangin diri. Gw ngerti ko. Lagian kan kita akan ketemu di Schipol!". Dain brengsek!!! Saya yang tadinya sudah basah air mata, menangis tersedu-sedu di moment khusyuk-melepas-kepergiannya-lewat-telepon-ini, tiba-tiba dibuat tertawa dengan pernyataan dia yang membuat saya tersenyum lega. Ah, she will be fine...

Sesampainya di rumah, saya berusaha menahan diri untuk tidak menangis dan (MAAFKAN AKU..) berbohong pada Mamah dan Papah, menjelaskan apa yang terjadi. Tidak bisa! Ini tidak mungkin. Tidak akan pernah saya ceritakan cerita yang sebenarnya pada mereka. Percayalah, saya tau apa yang saya lakukan. Dan ini semua DEMI kebaikan mereka.

Saya bilang, saya jatuh dari motor, naek ojek dan jatuh berguling2 di jalan. White lie. I hate when I have to do this. Tapi sekali lagi, ini demi kebaikan mereka. Sudah cukup saya saja yang menderita mengingat kejadian super horror itu. Saya ga mau ngeliat mereka membayangkan hal yang tidak2. Lebih buruk lagi, saya takut mereka akan kehilangan kepercayaan pada Jakarta. Walaupun saya (sedikit) sudah.

Seperti biasa, Mamah parno. Sibuk memeriksa SELURUH bagian tubuh saya dan menempelkan berbagai macam obat-obatan. Betadine, salep, minyak2an, sampe sibuk meminta daun sereh dan jamu beras kencur untuk dilumuri di badan saya. Pelan-pelan saya menolak dengan alasan, "udah malem, mah.. Teteh mau bobo aja ya". Melihat saya memelas, mamah pun mengalah (Yess!!). Hasilnya semalaman saya diciumi, dielus2 dan dipeluk sampai jatuh tertidur. Saya tau, mamah pasti sembunyi2 menangisi saya.
Ngerti kan, kenapa saya boong?!? Apa kabar kalo saya bilang cerita yang sesungguhnya?!?!?!! Goodbye deh jakarta!

Bokap menanggapinya lebih santai. Beliau bilang, "Ah, kamu payah Neng.. Masa jatoh dari ojek. Ga bonapit la yau!!"
(-___-") duuuh, Papaaah.
Dia kaga tau anak gadisnya dijambret di jalan.


Besok paginya, mamah sibuk menelepon saya dari sekolah. Meminta saya pergi ke dokter dengan si Dede. Tapi saya malas sekali. Saya hanya ingin tidur-tiduran. Mengistirahatkan badan yang rasanya seperti habis digebukin satu kampung. Mamah tetap memaksa. Saya menyerah. Saya berjanji akan pergi ke rumah sakit besok untuk memeriksa luka dan mungkin ronsen kepala, karena sampai sekarang masih terasa sakit walaupun benjolnya sudah kempes.

Dari hari pertama, kalau ada orang yang menelepon saya dan bertanya "Anda, kenapaaa???" Saya pasti nangis. Saya pasti ingat kejadian itu lagi. Malam gelap dan mengerikan. Hampir ga bisa nahan tangis walaupun bercerita lewat YM atau BBM. Apalagi ditelepon.

Hari ini misalnya, sudah dua kali saya menangis karena salah satu murid dan Icha yang ada di Medan, menelepon. Padahal saya sudah bilang di BBM pada mereka, saya ga bisa ngomong dulu saat ini. Saya pasti akan nangis. Tapi mereka tetap saja menelepon. Mereka hanya ingin memastikan saya baik-baik saja.

Ketika saya harus berjuang melawan ketakutan dan trauma dari segala macam rasa, saya merasa beruntung dan bersyukur bahwa saya memiliki kalian. Keluarga dan teman.
Ketika saya menyalahkan diri dan merasa mungkin ada sesuatu yang salah pada diri saya sehingga Tuhan "menghukum" saya, kalian lah yang mengingatkan bahwa saya hanya sedang dicoba. Diingatkan. Dan diberi pelajaran berharga tentang hidup.

Sungguh saya hanya manusia biasa. Saya tidak pernah membayangkan hal-hal luar biasa, seperti ini, akan mampir dalam garis hidup saya. Satu warna lagi yang membuat hidupku semakin kaya warna.

Hitam pekat.

Semoga saya menjadi orang yang selalu belajar dan menerima apa yang Tuhan dan semesta berikan dengan lapang dada dan melihatnya dari segi positif.

Untuk sementara, saya belum tau kapan akan kembali ke Jakarta. Jujur, saya trauma. Saya kecewa pada Jakarta. Saya belum bisa mengerti. Mungkin saya butuh waktu untuk menarik kesimpulan, sebuah garis merah dari ini semua. Mungkin saya harus berada jauh dari Jakarta untuk sesaat agar saya jadi mengerti. Atau, mungkin Jakarta memang tidak pernah menginginkan saya di sana. Entahlah. Saya harus mencari jawabannya sendiri.

Tapi, saya ingin berterima kasih pada kalian, teman-teman.. Sungguh.
Because of this accident, I feel loved even more. And I do really love you all.
Doakan saya... Semoga saya bisa lebih kuat.


_Anda_


PS : Abang, Dede.. INGAT! Kita harus bekerja sama demi kerukunan keluarga. Jangan bilang Mamah-Papah yg sebenernya. Awas yah!
I love you both, by the way. Xxxx

And, sorry.. No picture added. Too scary! Someday, I'll post it. But not now and today.

17.8.10

Rinduku pada Ramadhan itu..

Hari ini adalah hari kedua saya (baru) menjalankan ibadah puasa.

Rasanya berat. Bukan hanya karena alasan ; baru-selesai-haid-dan masih juga -ga.kebangun.pas.saur- aja, saya juga suka ga ngerasa bener-bener Ramadhan kalau ga puasa di rumah.

Rasanya ber-Ramadhan di Jakarta itu seperti sayur tanpa bumbu (tidak hanya kurang garam).

Di Serang, kota kelahiran saya, setiap sore, malam, dan bahkan siang hari, saya bisa mendengar suara orang mengaji dari pengeras suara masjid2, surau2 atau mushola2 yg tersebar si seluruh tempat. Rasanya menenangkan sekali.

Di Serang, tempat saya tumbuh, setiap sore hampir bisa dipastikan orang-orang keluar rumah dengan sepeda motor mereka untuk berkeliling kota sekedar ngabuburit atau membeli cemilan untuk buka puasa. Rasanya khas "Serang" sekali.

Di Serang, yang punya slogan "Bertaqwa" ini, setiap malam setelah Isya berkumandang, orang-orang berduyun-duyun pergi ke masjid untuk sholat tarawih bersama. Saling menyapa dan bercakap-cakap ketika bertemu tetangga di perjalanan menuju masjid. Rasanya akrab-kekeluargaan sekali.

Di Jakarta, saya tidak bisa merasakan itu.
Di Jakarta, saya harus terbiasa dengan suara klakson dan deru kendaraan, di waktu menjelang magrib.
Di Jakarta, saya harus mencari dan berjalan sendiri menuju masjid untuk bertaraweh.
Di Jakarta, tidak ada suara-suara surau yang ribut membangunkan orang-orang dari lelap tidurnya untuk makan saur dan mengingatkan kami untuk membaca kitab suci.
Di Jakarta, saya merasa sepi di tengah keramaian yang luar biasa.

Ah, betapa rindunya aku pada Ramadhan itu.. Bukannya kembali untuk mengenang dan menjalaninya, saya justru punya rencana untuk menjauhinya bahkan lebih jauh.
Suatu hari nanti.. Saya akan kembali.

Untuk Ramadhan yang dulu. Ramadhan yang selalu saya rindu.


Insyaallah..


-Anda-

4.8.10

Aku (tidak) mau jadi cantik...

NIH,
PERHATIAN BUAT CEWE-CEWE :

Kalo kalian pikir cowo-cowo suka cewe-cewe yang kulitnya putih bersih bak buah bengkoang. Dan kalian berusaha berbagai macam cara buat bikin muka atau badan buat jadi lebih putih, dengerin cerita saya baik-baik tentang masa kecil saya.

DAN,
PERHATIAN BUAT COWO-COWO :

Kalo kalian selalu mengidam-idamkan sosok cewe cantik berkulit putih mulus sebagai cewe idaman, silahkan renungkan akibat dari apa kalian idam-idamkan berdasarkan cerita tragis saya. 

DUS...
Semua orang tau, saya ga akan pernah bisa jadi putih. Saya sadar itu. Walaupun kadang-kadang saya suka tergoda untuk nyobain beberapa produk yang menawarkan wajah menjadi cerah (baca : PUTIH). Toh produk-produk itu tetap saja ga pernah ngubah kulit saya menjadi putih. ok, menjadi lebih cerah atau bersih, memang. Tapi tidak menjadi putih sekali ya. Saya belum pernah tuh pake kosmetik yang bilang akan mencerahkan muka dalam 3 minggu pertama, dan berhasil.

Setelah 3 minggu pemakaian, kayaknya ga ada perubahan deh di muka saya yang memang sudah cantik ini *JANGAN PROTES! Terserah gue mau bilang gw cantik, ini blog gw!*. Muka saya masih saya berwarna coklat (baca : hitam). Oh iya, ngomong-ngomong tenang pendeskripsian orang Indonesia tentang warna kulit, saya jadi inget omongan dosen saya, Mba Lina. Dia benci banget kalau ada orang yang bilang/mendeskripsikan seseorang berkulit hitam.
“Hitam itu ban! Kita, orang Indonesia itu berkulit coklat. Bukan hitam!” begitu katanya suatu hari di kelas luisteren.

Saya, yang merasa berkulit hitam, um.. maksud saya coklat, tentu saja menyambut statement Mba Lina dengan senyum lebar dan sumringah. YES, aku tidak hitam, aku coklat. Aku coklat. Aku coklat. Terus2an saya ulang kata itu demi menghibur diri. Yang, walaupun dalam kenyataannya orang-orang kebanyakan masih saja suka bilang “hitam”. Alhamdulilah dalam kasus saya, biasanya orang akan menambahkan kata manis di belakang kata hitam. Hehe, misalnya :

“Eh, lo kenal sama Anda ga?” kata X,
“Anda? Anda mana?” jawab Y,
“Itu loh, Anda, Belanda 04. Yang item manis.” Kata X,
“oooh.. Anda yang itu. Iya, gw tau.” Jawab Y.

HE HE HE HE *cengar cengir sendiri*



Kembali ke cerita.
Selama ini saya sudah terbiasa menjadi orang yang berbeda dengan kawan-kawan saya yang rata-rata berkulit putih. Dulu, waktu saya kecil, saya selalu sedih kalau ada yang ngeledekin saya di sekolah : “Neng item.. neng jelek.. neng pesek” SIALAAAN tu anak-anak kampung!! Mereka ga tau aja sekarang gue udah cantik. *walaupun itemnya ga ilang, mmm coklat maksudnya*.

Dulu, yang menguatkan dan menjadikan saya terbiasa dengan olok-olokan orang-orang yang ga bisa menerima perbedaan dan keanekaragaman, adalah teman dekat saya. Namanya Nia. Gadis manis yang baik hati sekali. Saya selalu sedih dan marah sekali kalau saya mendengar atau tau ada orang yang mengolok-olok dia. Waktu itu saya adalah gadis kecil yang masih berumur 8 tahun, dan berani melawan sekelompok laki-laki berumuran 10 tahun, karena mereka mengejek Nia. “Wooi.. ada si buntung. Hahahaha…” 
:(  Jahaaaat!!!

Iya, Nia lahir tidak sempurna. Tangan kirinya hanya tumbuh setengah. Hanya sampai siku. Dia tidak punya jari seperti tangan kanannya. Ke mana pun dia pergi, dia selalu memakai lengan panjang dan memasukkan tangan kirinya ke saku, karena dengan begitu, orang-orang tidak bisa melihat kalau dia bertangan setengah.
Selalu saja, saya marah dan feel sorry kepada orang-orang itu. Orang-orang yang entah kenapa menganggap ejekan itu hal yang lucu. 

Nia juga yang selalu menghibur saya dulu, kalau saya diledek: hitam, jelek, pendek, bla bla bla.. Dia selalu bilang “Aku suka kok warna kulit kamu. Bagus, kaya coklat ayam (jajanan zaman SD). Biarin aja kamu jelek sekarang, ntar kalo udah gede, pasti kamu cantik. Lagian kamu kan pinter, ngapain mikirin omongan orang-orang bego kaya mereka.” Oh, kalau ingat omongan yang datang dari mulut seorang gadis cilik yang tidak sempurna secara fisik seperti Nia, saya selalu ga bisa nahan tangis. Sungguh dia adalah orang beruntung karena hati dia yang indah melengkapi kekurangan fisiknya. Masa saya harus mengeluh hanya karna warna kulit saya berbeda sementara dia menerima kekurangannya dengan bersikap positif yang membuatnya bahkan lebih sempurna dari orang yang sempurna secara fisik?!?

Sejak itu, saya berusaha untuk bisa mengontrol diri dan menerima bahwa, saya memang berbeda. Saya dilahirkan dengan warna kulit yang tidak sama seperti orang kebanyakan. Dan saya percaya, Tuhan punya alasan untuk itu. Menjadikan saya, orang yang bisa melihat perbedaan adalah hal yang indah.

Tapi pernah, waktu saya melewati masa-masa paling labil : SMP. Saya mulai mempertanyakan lagi, kenapa saya terlahir berbeda. Kenapa semua warna kulit temanku putih dan aku coklat? Pernah, saya naksir cowo di sekolah. Saya mulai mendekatinya. Mudah saja. Saya cukup populer di SMP, karena pintar dan jago main basket –Hahaha, pamer gila gw-. Dan dia pun mulai merespon saya, tapi akhirnya saya tau bahwa dia sebenernya ga benar2 suka saya, dia cuma mau deket saya biar dia lebih dikenal aja. 
–sinetron banget ga seeeeh?! Tapi ini beneran loh-

Dan kalian tau, apa kata seorang teman yang dulu saya tugaskan sebagai detektif cinta? Dia bilang “Dia ga suka kamu karena kamu item.”
Huuuaaaa… hancur, hancur hatiku. Hancur, hancur hatiku.. *lagu Olga bencong*

Hiks. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya waktu itu, saya sedih. Saya kecewa. Saya marah. Saya kesal. Aaaah, laki-laki macam apa dia?? Menilai saya hanya sebatas warna kulit! PICIK! Tidak pantas sama sekali untuk menjadi lelakiku!

Iya, waktu itu saya rasa marah saya melebihi rasa sedih saya karena memilih cowo yang salah untuk disukai. Tapi ada semacam rasa ingin membuktikan bahwa, saya juga bisa menjadi putih seperti teman-teman saya. Lalu, saya mulai memakai semua produk pemutih kulit. Dari mulai handbody sampai pelembab wajah. Semua saya coba. Dan seperti yang sudah saya bilang, tidak berhasil. Tentu saja! Tapi dulu saya naïf, saya berpikir saya bisa jadi putih setelah memakai semua produk itu untuk menarik perhatian laki-laki.

Pengalaman dan waktu mengajarkan saya banyak hal tentang hidup. Saya belajar melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Saya belajar melihat perbedaan. Dan saya mulai menyukai perbedaan ini. Toh tanpa menjadi putih, saya tetap dicinta, mencintai, saling jatuh cinta dan memadu kasih dengan beberapa laki-laki. Hanya saja, saya memang benar-benar harus memilih dengan baik, laki-laki mana yang pantas saya sukai. Hanya mereka yang mengerti dan menerima indahnya perbedaan. Dan tentu saja yang mengerti jalan pikirin saya.

Sebenernya, saya bukan mau cerita itu aja. Saya mau cerita hal yang aga-aga menyedihkan.
Jadi, beberapa bulan ini, saya menyadari bahwa stuktur muka saya sedikit berubah karena pengaruh behel. Dan saya juga baru sadar, saya kurang memperhatikan muka saya. Saya ga pernah pergi ke salon buat treatment kaya facial, mandi susu, or what so ever. Saya lupa bahwa saya harus bersikap adil dan baik buat si muka ini.

Kemudian, datanglah kabar dari seorang teman. Yang bilang bahwa dia sukses mengubah mukanya yang kusam, kotor, dan sudah lama tak terurus menjadi muka yang sehat, segar, kencang dan terlihat lebih putih! AHA. What a coincidence.

Bertemulah saya dengan dia untuk membicarakan mujarabnya obat ini. Saya pun terbujuk rayuannya untuk mencoba obat muka itu. Alasannya jelas bukan buat mutihin muka, karena itu udah ga mungkin. Jadi saya cuma berharap obat ini bisa (setidaknya) membuat muka saya yang sudah lama tak terurus, menjadi lebih segar, kencang, dan sehat.

Singkat cerita, belilah saya obat muka ini.
Hati senang, membayangkan dalam waktu sebulan ke depan, mukaku akan terlihat lebih kinclong. Woo hoo!!

Hari pertama :
• Malem-malem, sebelum tidur, saya pake krim malam sesuai petunjuk pemakaian. Lancaarr..
• Besok paginya, saya pakai krim lagi yang harus dipakai di siang hari, karena mengandung sun block dan pelembab yang berfungsi membantu meremajakan kulit. Lancaarr..
• Malamnya, sebelum tidur, saya kembali bersiap menggunakan krim malam itu lagi. Tapi… HWAAAAAAA.. apa yang terjadi!?!?!?! Waktu saya selesai memakai krim itu, tiba-tiba kulit muka saya rasanya seperti disiram air panas dan terbakar. Perih plus gatel banget.:(

Hari kedua :
• Paginya, saya merasa lebih baik. Tapi ko masih gatel-gatel yah?? Hmm, mungkin ini efek kecil aja, kata saya dalam hati. Lalu saya kembali memakai krim siang hari. OOOOOOOHHH.. lebih sakit, perih dan gatel dari tadi malam.:(
• Malamnya, saya berpikir untuk menghentikan pemakaian obat itu kalau saya masih juga merasa sakit. Pelan-pelan saya usapkan krim malam pada muka saja. Aah.. lumayan, sudah tidak terasa sakit seperti malam sebelumnya.
• Paginya, waktu saya bangun, saya terkejut melihat muka saya di kaca. YA ALLAAAH, kenapa ini muka sayahhhh??? Kulit-kulitnya ngeletek, mengelupas. Huaaa.. saya rasanya ingin menangis.

Hari ketiga sampai hari ke 7 saya jalani dengan rasa silih berganti : sakit, perih, panas, dan gatal.
Tentu saja saya berpikir untuk menghentikan pemakaian obat yang katanya bisa membuat muka saya terlihat lebih bagus ini. Tapi saya juga tidak begitu yakin, karena menurut teman saya, keluhan2 yang saya alami itu adalah reaksi yang normal dari pemakaian obat itu. Hmm.. baiklah. Saya kembali mempercayakan obat ini bekerja di muka saya.

Sampai akhirnya, tadi malam, saya menyerah. Saya ga kuat. Masa bodo dengan menjadi cantik dan putih. Perduli setan dengan krim-krim yang bikin saya merasa di neraka ini. 
IK HEB GENOEG. ENOUGH. CUKUP!!
Sekarang, liat apa yang obat ini buat ke muka saya :


Saya rasanya ingin menangis.
Bukan karena saya ga jadi akan menjadi cantik dan putih, tapi saya merasa bersalah pada kulit muka saya yang sudah saya dzolimi. Yang sudah saya siksa dengan obat keras ini. Dan membiarkan ego saya yang tidak seharusnya muncul. Saya bisa saja menjadi cantik dan sehat dengan cara yang benar. Banyak makan buah-buahan, jus, olah raga yang cukup, dan memakai kosmetik yang benar. Yang cocok dan sesuai dengan ketahanan kulit muka saya.

Mungkin sebenarnya obat ini memang ampuh dan berhasil di beberapa orang. Karena mungkin orang-orang itu mempunyai kulit yang lebih kuat dari kulit saya. Kenyataannya, kulit muka saya sensitive. Tidak bisa menerima sesuatu yang keras atau frontal. Salah saya karena memaksakannya.

Kebetulan, saya lagi ga punya pacar. Jadi saya tidak harus memperlihatkan dan membagi rasa bersalah saya dengan pacar saya. Coba bayangkan, hey kalian laki-laki, kalau pacar kalian melakukan hal yang sama dengan saya, memakai obat yang keras hanya untuk terlihat lebih cantik. Kalian rela melihat kami menderita? Apakah itu sepadan? Cantik tapi tersiksa, atau biasa tapi bahagia. You choose, boys!

Pesan moral apa yang saya dapat dari cerita ini?

SAYA KAPOK!

Jadilah cantik dengan apa yang sudah ada pada dirimu. Syukuri apa yang ada dan jaga supaya tetap atau lebih baik. Saya juga yakin saya akan bertemu dengan laki-laki yang menerima saya apa adanya. Tanpa saya harus menjadi putih dan secantik Dian Sastro. I have a faith.
Dan yang tidak kalah penting : PAKAILAH KOSMETIK YANG SESUAI/COCOK DENGAN KEADAAN KULIT!!

Satu lagi, saya hanya ingin jadi saya sendiri saja. sudah cukup. :)


PS : untuk Kinan, aku sama sekali ga nyalahin kamu ya. Ini semua ga ada hubungannya sama kamu. Beneran deh. Please jangan merasa bersalah *PD gilaaa* hehehe, okey! xoxo