Selasa, 17 agustus 2010 jam 21.10 wib
Saya keluar dari Caffee Kedai. Tempat saya buka puasa ditemani Treen hari itu. Keluar dari Kedai, cuaca dingin dan sepanjang jalan Benda Raya di kemang selatan sepi sekali. Saya berdiri tepat di depan Kedai menunggu taxi atau kendaraan lain lewat.
Hmm.. Sepi banget.
Beberapa menit ga ada apa pun yang lewat, saya memutuskan untuk jalan pelan-pelan. Siapa tau di depan pertigaan Habibie Centre ada taxi, atau bajaj.
Sampe pertigaan, saya ga juga liat taxi, bajaj or ojek. Benar-benar sepi malam itu. Mungkin orang-orang masih pada taraweh dan kebeneran abis ujan juga. Jadi pasti orang-orang memilih tinggal di rumah.
Ya sudah lah. Saya jalan kaki saja ke kosan. Toh masih jam 9, pikir saya.
....
Di gang masuk Kemang XI, saya melongok jauh ke ujung. Hiii.. Sepi sekali. Kabut menutupi setengah pandangan ke depan. Ga seperti biasa, saya bergidik. Sambil mengeluarkan handphone, sebagai teman jalan di jalanan sepi ini, saya terus berjalan.
Karena pernah mengalami peristiwa yang ga enak, saya terbiasa berjalan di sebelah kanan jalan. Maksudnya, supaya saya bisa melihat apa-apa (mobil,motor, atau orang) yang datang dari arah depan. Malam itu, seperti biasa saya jalan di kanan jalan.
Melewati dua rumah besar, saya ko aga deg2an akan melewati rumah di depannya. Rumah besar yang entah berpenghuni atau tidak. Di depan rumah besar itu, tidak ada rumah. Yang ada sebuah lapangan yang cukup besar dipagari pohon2an kecil sepanjang lapangan dan dua pohon besar di pintu masuknya. Di siang hari, lapangan ini suka dipakai sebagai tempat berjemur anjing-anjing kompleks. Dan di malam hari, lapangan ini terlihat lebih seperti, hmm.. Kuburan. Hiii, iya. Serem, memang.
Pernah, waktu saya jalan berdua dengan Fe, tiba-tiba dia lari meninggalkan saya. Ketika saya tanya kenapa, dia ga mau bilang. Saya pun ga maksa. Saya cuma liat muka Fe ketakutan. Hmm. Mungkin Fe "melihat" sesuatu yang ga bisa saya lihat. Entahlah. Saya toh juga ga mau tau. Saya tau kemampuan saya.
Sebelum saya melewati rumah itu, ada motor yang beberapa kali lewat. 3 kali kalau ga salah. Lalu ada juga mobil dari arah dalam, hendak keluar kompleks. Alhamdulilah.. kata saya dalam hati, saya ga sendiri-sendiri amat.
Pas di depan rumah itu, saya merinding. Aduh, saya lalu memusatkan perhatian ke handphone, dengan maksud menyibukkan diri ; membuka twitter, FB, atau mengajak orang ngobrol di YM,MSN,atau BBM. Entahlah, saya cuma ga pengen sendiri dan dihantui pikiran yang engga-engga. Langkah pun saya percepat. Ketika saya merasa sendiri, dari arah depan, ada sorot lampu motor. Ah, untunglah.. Saya bisa melewati rumah ini pas berbarengan dengan motor ini.
Beberapa meter setelah lewat, saya menghela napas. Lega. Motor yang tadi berpapasan pun sudah lewat. Mungkin motor berpenumpang dua orang itu sudah keluar kompleks. Saya berpikir untuk menoleh dan melihat apakah motor tadi sudah hilang, tapi niat saya urungkan. Saya kembali melangkahkan kaki.
Tiba-tiba...
Suara motor dari belakang. Aneh. Kenapa suaranya dekat sekali. Seperti persis di belakang saya. Padahal saya jalan di sebelah kanan jalanan. Belum sempat saya menoleh untuk melihat.
Sreeeeeeeeeettt... Tas yang saya pegang dipundak kanan tiba-tiba ditarik dengan paksa. Saya menjerit. Refleks memegang erat tas. Keras sekali. Lalu..DUK. Saya terjatuh. Kepala saya terbentuk lalu saya terseret beberapa meter di aspal mengikuti laju motor. Semuanya terjadi cepat sekali. Saya kaget dan ketakutan luar biasa.
Saya ingat, badan saya ditarik keras sekali. Membuat saya merasakan perih luar biasa di tangan dan kaki telanjang saya. Malam itu saya memang hanya memakai celana pendek dan baju tanpa lengan. Detik itu, saya merasa seperti ada di film. Ah, mungkin ini mimpi, kata saya dalam hati. Tapi kenapa rasanya nyata sekali. Sakit. Dan oh, rasa takut yang mencekam itu. Ya Tuhan.. Ini nyata. Saya sedang dirampok.
Saya ingat, suara saya hampir habis karena berteriak keras sekali. Berharap bapak-bapak satpam di rumah ujung sana akan mendengar suara saya. Tapi, oh.. Ketika saya mengintip dari ujung mata yg terpejam, tidak ada siapa pun di jalan itu. Kosong. Gelap. Berkabut setelah hujan. Dan saya sendiri bersama mereka.
Saya ingat, saya memegang erat tas itu. Membuat saya tertarik ke sana-sini. Saya tidak tau dan tidak ingat kenapa saya memegang tas itu dengan erat. Saya berasumsi mungkin karena ketakutan yang sangat. Atau mungkin sisi defensif diri yang menyuruh saya untuk tetap bertahan tidak melepaskan tas itu. Entahlah.
Saya ingat, salah satu dari mereka turun dari motor sementara yang satu lagi tetap siaga di atas motor. Saya tidak berani mendongak ke atas. Seluruh muka saya tertutup rambut. Tapi di sela-sela rambut, saya bisa melihat orang itu menghampiri saya, menarik tas dengan kuat. Dan lagi, yang tidak saya mengerti, saya tidak (bisa) melepaskan tas itu. Kami saling menarik. Sekuat tenaga saya menjerit dan menarik dengan tangan kiri saya. Sementara di tangan kanan saya, tergenggam kuat handphone yang tadinya berperan sebagai teman pembunuh sepi di perjalanan. Sepertinya perampok ini hanya menginginkan tas saya, yang tidak berisi apapun yang penting kecuali dompet berisi uang 250rb. Dia bahkan tidak melirik hanphone yang tergenggam di tangan kanan saya, or simply because he didn't see it.I don't know..
Saya ingat, ketika itu saya merasa lemah,takut, dan kuat at the same time. Di otak saya, saya berpikir dia akan mengeluarkan pisau, atau bahkan pistol dan membunuh saya. Saya menangis ketakutan juga dengan beraninya tetap berteriak kencang. Seperti menempel di badan, tas ini tidak mau lepas. Seperti tersangkut sesuatu pada baju saya. Menempel.
Saya ingat, saya lalu berkata "okey..okey..ambil. Ambil. Ambil tasnya" sambil menangis. Saya terus-terusan menjerit sambil membayangkan jika perampok itu kapal dan membunuh saya. Terbesit sejenak, bagaimana kalau saya mati terbunuh saat itu. Seperti slide show, terbayang-bayang wajah orang2 tersayang ; Mamah-Papah-Abang-Dede dan teman2. Saya benar-benar berpikir saya akan mati malam itu.
Saya ingat, ketika si perampok itu hampir saja akan berhasil memisahkan tas dengan badan saya, saya melihat ada sebuah sinar dari arah depan. Ya Tuhan.. Apakah itu malaikat utusanMu? Bisikku dalam hati. Seketika si perampok yang berada di motor menyuruh si perampok yang (hampir) berhasil mengambil tas saya untuk kabur.
Saya ingat, perampok itu meninggalkan saya tergeletak di tengah jalanan yang basah. Saya terbaring kesakitan. Di ujung mata, saya bisa melihat sandal saya tergeletak di pinggir jalan. Di tangan kanan, saya masih menggengam handphone dengan kuat. Kepala saya sakit sekali karena benturan beberapa kali di aspal. Kulit-kulit di lengan dan kaki saya perih. Saya ga ingat apakah si perampok memukul saya atau tidak. Saya hanya ingat, ya saya ingat jelas, saya melihat gelap yang pekat sesaat setelah si pengendara motor menghampiri saya dan berkata "Mba, mbaa.. Kenapa, mba??!??"
...
Saya ingat, ketika saya membuka mata, orang-orang ini sudah berkumpul mengerubungi saya. Kira-kira ada 8 orang. Ada mas-mas dan 3 orang satpam yang datang dari rumah di ujung jalan. Bersama-sama mereka memapah saya ke salah satu rumah. Rumah yang sudah sejak lama saya tau, adalah rumah salah satu orang kedutaan Belanda. Saya tau itu dari plat mobil yang diparkir di garasinya. Sepertinya sedang tidak ada orang. Mereka meletakkan saya di halaman depan.
Setelah diberikan minum, saya mencoba mengingat2 lagi apa yang baru saja terjadi. Gusti Allah.. Apa yang baru saja terjadi padaku? Saya lalu menangis ditemani celotehan dan nasihat2 bapak-bapak di depan saya. Saya tidak begitu ingat apa yang mereka bilang, saya hanya menangis, tidak percaya dengan apa yang baru saja saya alami. Sementara mereka sibuk berspekulasi dan merencanakan penangkapan perampok itu, saya pelan-pelan meneliti dan memeriksa tubuh saya. Sakit sekali rasanya seluruh badan ini.
Lima menit kemudian, saya sudah berada di kamar saya. Fe yang saya telepon, langsung menjemput saya ke rumah orang kedutaan Belanda itu. Di kamar, setelah mandi, Fe mengobati luka-luka saya dan menyuruh saya langsung istirahat. Lucky I have her...
Tentu saya saya ga bisa tidur. Setiap mendengar motor lewat di depan kosan, saya menarik selimut dan ketakutan. Saya menangis sepanjang malam sampai waktu saur. Kehilangan selera makan, saya hanya saur minuman. Saya hanya memberi tahu beberapa orang malam itu. Memberi tahu Mamah-Papah bukan pilihan yang bagus. Saya hanya mengsms kedua adik saya, mereka langsung beraksi panik. Menelepon saya dengan suara cemas. Saya yang memang dasarnya cengeng, tidak bisa berkata banyak selain menangis sesenggrukan mendengar pertanyaan2 adik tersayang..
Saya ga bisa tidur karena masih terbayang2 peristiwa penarikan itu, teringat setiap detail kejadiannya, dan baru menyadari bahwa motor yang beberapa kali saya lihat melewati saya sebelumnya adalah motor yang sama! Mereka sudah mengincar saya dari awal. Ditambah sakit di sekujur tubuh dan kepala saya yang benjol (untungnya ga bocor) membuat saya ga bisa memejamkan mata. Sepanjang malam mata ini bocor. Tak tertahankan.
Memikirkan rasa takut dan sakit ini saja sudah bisa membuat saya menangis semalam. Belum lagi besok ada test TOEFL. Dan hal penting lain : besok Dain berangkat!
Tambah berlinanglah air mata ini. Menangisi hal-hal yang ga bisa saya lakukan esok hari. Sampai akhirnya saya kelelahan. Tertidur dalam air mata.
Besoknya, saya memaksakan untuk tetap ikut test TOEFL. Saya berangkat dengan badan memar dan kaki yang susah digerakkan karena lecet di lutut dan ujung kaki. Test TOEFL berjalan 2,5 jam sampai jam 4 sore. Setelah selesai, saya langsung menelepon Dain untuk mengabarkan apa yang terjadi pada saya tadi malam. Dia tentu saja kaget. Lalu saya bertanya bagaimana saya bisa sampai di bandara dari tempat ini (waktu itu saya tes di AMINEF, Balai Pustaka-Senen). Saya (yang memang) buta arah, ga pernah apal jalan dan selalu ga tau harus naek apa kalau ke mana-mana.Dan waktu itu sudah jam 4. Jakarta pasti sudah didera kemecetan tingkat tinggi. Di ujung sana, Dain berkata dengan suara sok wise : "Ga papa, Nda.. Lo langsung aja balik ke Serang. Istirahat.Tenangin diri. Gw ngerti ko. Lagian kan kita akan ketemu di Schipol!". Dain brengsek!!! Saya yang tadinya sudah basah air mata, menangis tersedu-sedu di moment khusyuk-melepas-kepergiannya-lewat-telepon-ini, tiba-tiba dibuat tertawa dengan pernyataan dia yang membuat saya tersenyum lega. Ah, she will be fine...
Sesampainya di rumah, saya berusaha menahan diri untuk tidak menangis dan (MAAFKAN AKU..) berbohong pada Mamah dan Papah, menjelaskan apa yang terjadi. Tidak bisa! Ini tidak mungkin. Tidak akan pernah saya ceritakan cerita yang sebenarnya pada mereka. Percayalah, saya tau apa yang saya lakukan. Dan ini semua DEMI kebaikan mereka.
Saya bilang, saya jatuh dari motor, naek ojek dan jatuh berguling2 di jalan. White lie. I hate when I have to do this. Tapi sekali lagi, ini demi kebaikan mereka. Sudah cukup saya saja yang menderita mengingat kejadian super horror itu. Saya ga mau ngeliat mereka membayangkan hal yang tidak2. Lebih buruk lagi, saya takut mereka akan kehilangan kepercayaan pada Jakarta. Walaupun saya (sedikit) sudah.
Seperti biasa, Mamah parno. Sibuk memeriksa SELURUH bagian tubuh saya dan menempelkan berbagai macam obat-obatan. Betadine, salep, minyak2an, sampe sibuk meminta daun sereh dan jamu beras kencur untuk dilumuri di badan saya. Pelan-pelan saya menolak dengan alasan, "udah malem, mah.. Teteh mau bobo aja ya". Melihat saya memelas, mamah pun mengalah (Yess!!). Hasilnya semalaman saya diciumi, dielus2 dan dipeluk sampai jatuh tertidur. Saya tau, mamah pasti sembunyi2 menangisi saya.
Ngerti kan, kenapa saya boong?!? Apa kabar kalo saya bilang cerita yang sesungguhnya?!?!?!! Goodbye deh jakarta!
Bokap menanggapinya lebih santai. Beliau bilang, "Ah, kamu payah Neng.. Masa jatoh dari ojek. Ga bonapit la yau!!"
(-___-") duuuh, Papaaah.
Dia kaga tau anak gadisnya dijambret di jalan.
Besok paginya, mamah sibuk menelepon saya dari sekolah. Meminta saya pergi ke dokter dengan si Dede. Tapi saya malas sekali. Saya hanya ingin tidur-tiduran. Mengistirahatkan badan yang rasanya seperti habis digebukin satu kampung. Mamah tetap memaksa. Saya menyerah. Saya berjanji akan pergi ke rumah sakit besok untuk memeriksa luka dan mungkin ronsen kepala, karena sampai sekarang masih terasa sakit walaupun benjolnya sudah kempes.
Dari hari pertama, kalau ada orang yang menelepon saya dan bertanya "Anda, kenapaaa???" Saya pasti nangis. Saya pasti ingat kejadian itu lagi. Malam gelap dan mengerikan. Hampir ga bisa nahan tangis walaupun bercerita lewat YM atau BBM. Apalagi ditelepon.
Hari ini misalnya, sudah dua kali saya menangis karena salah satu murid dan Icha yang ada di Medan, menelepon. Padahal saya sudah bilang di BBM pada mereka, saya ga bisa ngomong dulu saat ini. Saya pasti akan nangis. Tapi mereka tetap saja menelepon. Mereka hanya ingin memastikan saya baik-baik saja.
Ketika saya harus berjuang melawan ketakutan dan trauma dari segala macam rasa, saya merasa beruntung dan bersyukur bahwa saya memiliki kalian. Keluarga dan teman.
Ketika saya menyalahkan diri dan merasa mungkin ada sesuatu yang salah pada diri saya sehingga Tuhan "menghukum" saya, kalian lah yang mengingatkan bahwa saya hanya sedang dicoba. Diingatkan. Dan diberi pelajaran berharga tentang hidup.
Sungguh saya hanya manusia biasa. Saya tidak pernah membayangkan hal-hal luar biasa, seperti ini, akan mampir dalam garis hidup saya. Satu warna lagi yang membuat hidupku semakin kaya warna.
Hitam pekat.
Semoga saya menjadi orang yang selalu belajar dan menerima apa yang Tuhan dan semesta berikan dengan lapang dada dan melihatnya dari segi positif.
Untuk sementara, saya belum tau kapan akan kembali ke Jakarta. Jujur, saya trauma. Saya kecewa pada Jakarta. Saya belum bisa mengerti. Mungkin saya butuh waktu untuk menarik kesimpulan, sebuah garis merah dari ini semua. Mungkin saya harus berada jauh dari Jakarta untuk sesaat agar saya jadi mengerti. Atau, mungkin Jakarta memang tidak pernah menginginkan saya di sana. Entahlah. Saya harus mencari jawabannya sendiri.
Tapi, saya ingin berterima kasih pada kalian, teman-teman.. Sungguh.
Because of this accident, I feel loved even more. And I do really love you all.
Doakan saya... Semoga saya bisa lebih kuat.
_Anda_
PS : Abang, Dede.. INGAT! Kita harus bekerja sama demi kerukunan keluarga. Jangan bilang Mamah-Papah yg sebenernya. Awas yah!
I love you both, by the way. Xxxx
And, sorry.. No picture added. Too scary! Someday, I'll post it. But not now and today.