Hari ini adalah hari kedua saya (baru) menjalankan ibadah puasa.
Rasanya berat. Bukan hanya karena alasan ; baru-selesai-haid-dan masih juga -ga.kebangun.pas.saur- aja, saya juga suka ga ngerasa bener-bener Ramadhan kalau ga puasa di rumah.
Rasanya ber-Ramadhan di Jakarta itu seperti sayur tanpa bumbu (tidak hanya kurang garam).
Di Serang, kota kelahiran saya, setiap sore, malam, dan bahkan siang hari, saya bisa mendengar suara orang mengaji dari pengeras suara masjid2, surau2 atau mushola2 yg tersebar si seluruh tempat. Rasanya menenangkan sekali.
Di Serang, tempat saya tumbuh, setiap sore hampir bisa dipastikan orang-orang keluar rumah dengan sepeda motor mereka untuk berkeliling kota sekedar ngabuburit atau membeli cemilan untuk buka puasa. Rasanya khas "Serang" sekali.
Di Serang, yang punya slogan "Bertaqwa" ini, setiap malam setelah Isya berkumandang, orang-orang berduyun-duyun pergi ke masjid untuk sholat tarawih bersama. Saling menyapa dan bercakap-cakap ketika bertemu tetangga di perjalanan menuju masjid. Rasanya akrab-kekeluargaan sekali.
Di Jakarta, saya tidak bisa merasakan itu.
Di Jakarta, saya harus terbiasa dengan suara klakson dan deru kendaraan, di waktu menjelang magrib.
Di Jakarta, saya harus mencari dan berjalan sendiri menuju masjid untuk bertaraweh.
Di Jakarta, tidak ada suara-suara surau yang ribut membangunkan orang-orang dari lelap tidurnya untuk makan saur dan mengingatkan kami untuk membaca kitab suci.
Di Jakarta, saya merasa sepi di tengah keramaian yang luar biasa.
Ah, betapa rindunya aku pada Ramadhan itu.. Bukannya kembali untuk mengenang dan menjalaninya, saya justru punya rencana untuk menjauhinya bahkan lebih jauh.
Suatu hari nanti.. Saya akan kembali.
Untuk Ramadhan yang dulu. Ramadhan yang selalu saya rindu.
Insyaallah..
-Anda-
1 comment:
Se-"sepi2"nya Jakarta, masih mending deh daripada disini. Gw sama sekali ga denger adzan, itu memang karena di daerah tempat tinggal gw ga ada mesjid dan teve lokal ga ada yg nayangin adzan (oh, kangen beduk dan adzan di rcti oke). Taraweh juga mesti naik kereta. Mau buka puasa aja, liat matahari dulu, udah tenggelam belum. Karena jam gw sama bokap gw ga sama menitnya, jadi kita bingung pake yang mana. Hahaha..
Yah, at least gw dapet suasana yang beda di bulan suci ini (baca: suasana yang ga suci) :D
Enjoy ur fasting :-*
Post a Comment