30.4.10

The thing they called DREAM

Pernah, ada seorang gadis kecil duduk-memandang hamparan padi hijau dari balik kaca jendela kereta.

Bukan warna hijau yang dilihatnya, tapi biru.
Dia sedang bermimpi melihat laut. Atau mungkin langit.
Di matanya, dia sedang menari di tengah biru yang dia ciptakan.

Dia seorang gadis pemimpi.


Pernah, ada seorang bocah laki-laki duduk-memandang hamparan biru laut dari balik kaca matanya di sebuah rumah kecil tepi pantai.

Bukan warna biru yang dilihatnya, tapi hijau.
Dia sedang bermimpi melihat padi. Atau mungkin hutan.
Di matanya, dia sedang berjalan di tengah hijau yang menenangkan.

Dia seorang laki-laki pemimpi.


Nanti, akan ada seorang perempuan dan laki-laki duduk-saling memandang apa yang ada di hadapan mereka dari kedua bola mata yang ceria.
Tidak hanya satu warna yang mereka lihat, tapi ribuan. Atau mungkin jutaan.
Di mata mereka, mereka sedang jatuh cinta.
Mereka sedang melihat hidup.


Mereka menyebut dirinya pemimpi yang hidup.

29.4.10

Hibernate

Saya punya pengakuan. Sebuah kenyataan tentang diri saya, yang selama ini tidak banyak orang tau. Dan sebenarnya baru saja saya sadari penyebabnya.
Saya punya habitat/sifat jelek. Yaitu suka uring-uringan ga jelas. Rungsing teu parapuguh, kalo bahasa canggihnya.
Jadi, ternyata saya baru menyadari kalau saya suka menjadi orang yang sangat sensitif, negatif, manja, demanding, dan nyebelin ga ketulungan. Tapi hal ini ga selalu terjadi loh, hanya kalau saya lagi ada di situasi yang saya kasih nama "sakit-jiwa" atau mungkin kalian lebih familiar sama kata "homesick".

Biasanya, setelah 3 minggu tidak menginjakkan kaki di bumi Serang Bertaqwa tercinta, saya sudah bisa dipastikan ada dalam kondisi "sakit-jiwa". Tidak diragukan lagi.

Seperti kemarin malam misalnya, puncak dari "sakit-jiwa" saya. Percampuran rasa dari kangen orang rumah, deadline terjemahan, masalah komunikasi yang buruk dengan seorang teman, dan kisah cinta saya yang harus berakhir karena kebodohan saya, membuat saya tidak tahan untuk menangis. Waktu itu, saya baru selesai mengerjakan terjemahan saya di sebuah coffee shop di daerah senayan. Saat itu, kondisi emosional saya sudah meluap-luap alias air mata udah mau tumpah.

Akhirnya, tak tertahankan. Meledaklah tangisan saya saya di dalam sebuah taxi. Dan perjalanan dari Senayan ke Kemang pun terasa melegakan..
Kasian juga sih sama di bapak supir. Dia kayaknya ga tenang nyetir, setiap lima menit sekali lirik ke spion untuk memastikan saya tidak bunuh diri. *lebay.com*


Setelah nyampe kosan, saya memutuskan untuk balik ke rumah besok lusa, apapun yang terjadi.


Sekarang, saya ada di rumah. Sedang berleha-leha dan menikmati setiap detiknya bersama orang-orang tercinta. Saya memutuskan untuk menghentikan semua aktifitas saya selama dua hari.
Oh, it feels so damn good ada di deket orang-orang yang tulus mencintai kita = our family.


Anda.

22.4.10

Gundah






Mau tau aktifitas saya setelah saya resmi berhenti dari kantor? Mari-mari saya ceritakan.

masih kerja

·         Bangun jam 6
Ga kerja

·         Bangun jam 8
·         Setiap bangun, langung mandi, sambil mikirin hari ini harus ngerjain apa aja di kantor.
·         setiap bangun, bengong, liat hape, dan mikir hari ini mau ngapain ya?
·         Jam 12, istirahat dan harus siap-siapin materi kalo ada yg tiba-tiba minta belajar.
·         Jam 11-12-13 masih di kosan. Di depan laptop. Bengong.
·         Sore, masih di luar, bergelut dengan macet ke tempat-tempat ngajar.
·         Sore, di suatu tempat. Biasanya di pejaten village. Jalan-jalan ga jelas di gramedia atau nebeng wifi-an di Choco corner.
·         Balik jam 9. Tepar. Langsung mandi en tidur. Sebelum tidur masih mikirin tugas2 yang harus dikerjain besok. sigh.
·         Balik ke kosan jam 8. nyalain laptop lagi. Facebook-an or chatting ampe pagi. SIGH.

Intinya, semenjak saya jadi pengangguran. Saya kebanyakan bengong. Bengong mikirin mau ngapain. Sebenernya ga bingung mau ngapain sih. Saya punya banyak rencana. Hanya saja, semakin ke sini saya semakin ga tau harus mulai dari mana. Semuanya terlihat blur *meminjam istilah Dista*.

Rasanya saya ko ga punya semangat lagi ya buat ngapa-ngapain. Datar banget. rasa sabodo teuing pun akhirnya berkawan dengan saya beberapa hari ini. Ga perduli lagi masalah ini-itu, males ke sana-ke sini, buang2 duit (mencoba ga perduli duit keluar terus, tapi ternyata bikin hati tambah ngenes liat jumlah tabungan yang semakin menyusut), dan Cuma berleha-leha di kamar seharian.

Ya tuhan, mau ke mana hidup saya dibawa setelah ini??? Pertanyaan itu terus yang muncul setiap hari. Yang saya juga ga tau gimana jawabnya. Tuhan sepertinya ingin saya mencari dan mendapatkan sendiri jawabannya. Saya melengos setiap kali ingat kalau saya harus memecahkan masalah kehilangan arah saya ini.

Saya sedang gundah.

19.4.10

Tarikan jiwamu

Sebelumnya, saya udah pernah cerita tentang Liga Tari, 'kan ya? Itu loh, tempat yang membantu saya mewujudkan salah satu mimpi saya : menjadi penari.

Saya mau bercerita sedikit tentang Liga Tari.

Setelah sukses mengadakan pagelaran tari di salah satu tempat yang cukup disegani bagi para seniman, Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, saya menjadi semakin tertarik lebih dalam ke Liga Tari.

Awalnya saya hanya berpikir bahwa semua ini mungkin akan bersifat sementara. Jujur, sebenarnya saya sendiri masih belum yakin apakah saya akan menyeriusi sepak terjang saja di Liga Tari ini untuk ke depannya. Saya ga mau umbar janji.

Tapi semakin ke sini, saya semakin enggan menolehkan wajah saya dari organisasi super dahsyat ini. Di sini, saya dipertemukan dengan orang-orang baru. Orang-orang yang entah bagaimana bisa membuat saya selalu merasa senang. Orang-orang yang mungkin sedikit terlalu cepat saya sebut "teman dekat". litteraly!

Bagaimana tidak, dalam kurun waktu 2 bulan, saya tidak pernah lepas dari mereka. Dalam sehari, setengah hari saya habiskan selalu dengan mereka. Seperempat hari bekerja, selebihnya bersama mereka.

Kebersamaan itulah yang kemudian menyatukan saya. Raga saya, jiwa saya, hati saya, dan ada beberapa impian baru saya.

Mereka, dengan segala perbedaan sifat, watak, dan karakter, membuat hidup saya lebih berwarna.

Saya bahkan tidak mengenal mereka. Sebelumnya, saya merasa asing. Karena memang saya mengasingkan diri.

Dan sekarang, lihatlah betapa saya menyayangi mereka seperti saya menyayangi teman-teman baik saya.

Lalu, selalu ada saja pelajaran-pelajaran baru yang saya dapetin dari Liga Tari ini. Belajar menjadi penari yang semakin baik, tentu aja udah termasuk. Belum lagi pelajaran-pelajaran lain, misalnya gimana ngatur waktu, ngatur perasaan, ngatur emosi, ngatur jiwa. Banyak hal.

Minggu ini, minggu pertama saya masuk latihan reguler lagi setelah satu minggu saya minta break sehabis pagelaran. Senang sekali bisa bertemu mereka lagi, dan tentu saja kembali menari lagi.

Seperti yang udah saya bilang, saya ga tau sampe kapan saya akan/bisa bertahan di Liga Tari. Yang pasti, saya akan memakai sebaik mungkin waktu yang saya punya untuk bisa bersama mereka. Para penari Liga Tari.

Tarikan jiwamu.

Anda

15.4.10

tunggu...

Tunggu sebentar,

Saya akan kembali.

Jangan pergi jauh-jauh,

karena saya akan segera kembali.

saya janji!

Jadi,

tunggu sebentar lagi saja.

1.4.10

it's coming...!

Bosen ga denger saya ngomong gitu? Jangan yah. Karena kalimat itu yang akan saya ulang berkali-kali dalam hidup saya sekarang ini.
Iya. Saya berjanji sama diri sendiri kalo saya akan memulai semuanya dari sekarang.


Mulai apa sih? Mulai mewujudkan mimpi-mimpi saya.
Setelah kemaren mencoba menuliskan mimpi-mimpi saya dengan maksud dan tujuan agar jelas apa dan bagaimana saya bisa mewujudkannya, ternyata mimpi-mimpi saya cukup banyak. Mulai dari yang printilan sampe yang (kayaknya) hampir ga mungkin.


Printilan mimpi-mimpi saya yang paling mungkin akan terwujud segera adalah punya handphone baru! Secara kemaren baru keilangan. *Hiks*( Kenapa sih handphone ga ada yang betah ada di deket saya barang setaun dua taun, gitu?!?!) Jadi mau ga mau saya memang harus membelinya bukan karena gaya, tapi memang kebutuhan.

Nah masalahnya, dalam alam sadar saya, saya bermimpi untuk memiliki sebuah iphone di masa depan, which is I hope these days. Tapi oh tapi, sepertinya saya belum sanggup untuk menjadikan mimpi itu kenyataan. Bukannya saya ga berusaha. I did, trust me. Memang kemampuan saya belum sampai saja *menghibur diri*.


Jadilah saya sepertinya akan membeli handphone yang mirip-mirip iphone saja. Sadar bahwa saya sepertinya ga sanggup beli iphone sekarang ini, saya jadi agak terobsesi sama handphone touch. Sebagai obat hati yang rindu teknologi apple. Tak apalah. Saya cukup puas dengan itu.


Trus, saya juga pengen ikutan masuk sanggar tari. Nah, kebeneran Liga Tari UI akan buka pendaftaran baru buat orang-orang yang minat dan mau nari. Saya, jelas tertarik dan berminat. Ga mau mikirin gimana nantinya. Apakah akan berlanjut, apa cuma semangat di awal aja, saya bener-bener ga mau ambil pusing dulu. Yang penting niat saya baik. Saya mau mewujudkan mimpi-mimpi saya yang sempat tertunda. Kalaupun ternyata saya ga jadi masuk Liga Tari, mentok-mentok saya masuk sanggar teman sekantor yang punya sanggar tari keluarga. Yang penting niat dulu. Ya toh?!


Kemudian, selanjutnya, saya mau resign dari kantor. Hah? Ke mana? Iyah. Ga kemana-mana kok. Saya Cuma pengen konsen aja sama mimpi yang lebih besar. Saya rencananya mau ikut program beasiswa yang ditawarkan oleh negeri kangguru, Australia. Untuk bisa lolos, saya harus punya TOEFL yang lumayan tinggi. Nah untuk itu, saya special mau meluangkan waktu buat belajar. Sebelum akhirnya saya tes dan hasilnya bisa meloloskan saya. Amin. Tapi itu bukan salah satu alesan saya resign sih. Selain karena saya memang mau memfokuskan diri pada ujian TOEFL, saya juga mau menjadi sesuatu yang baru. Mencoba menjalani yang lain. Seiring waktu berjalan, saya sudah mengikuti beberapa tes. Belum ada yang benar-benar memberikan harapan. Tapi saya tetap positif. Kalaupun memang tidak ada pekerjaan baru untuk saya, itu artinya saya harus mengambil jalan lain : sekolah lagi. Amin. Cross fingers for the best.


Lalu, setelah urusan daftar mendaftar tari dan resign kantor selesai, saya mau pergi sesaat dari Jakarta. Ke mana? Belum tau. Mungkin masih di dalam Indonesia, atau mungkin juga keluar Indonesia. Saya benar-benar belum tau. Sudah ada rencana memang untuk tujuan ke mana. Kalau di Indonesia, kemungkinan saya akan pergi ke Bali, Lombok, atau mungkin ke NTT. Yang pasti ke luar jawa lagi. 'Kan kemarin sudah pergi ke Sumatra, jadi sekarang harus ke daerah timur. Semoga terwujud dengan baik dan lancar.
Dan kalau tidak ada alang merintang, saya juga ingin terbang ke Thailand dan Kamboja. Lebih bagus kalau saya bisa pergi ke Belanda. Kali ini saya mau lebih rasional. ***



***tulisan di atas dibuat bulan Februari minggu pertama***

Sekarang tanggal 1 April. Minggu pertama. Dan saya tersenyum membaca tulisan di atas. Senyuman saya bukan tanpa alasan. Itu karena 85% dari 100% mimpi2 yang saya tuliskan di atas, sudah saya kerjakan.


Mari merunut dari awal.

Pertama, handphone.
Sigh.
Memang, saya akhirnya tidak membeli iphone. Saya belum mampu dan tidak mau memaksakan apa yang belum waktunya. Sekarang saya memegang handphone sejuta umat di Jakarta. Blackberry. Saya jadi ingat. Dulu, saya pernah bilang, kalo seumur hidup, saya ga akan pernah mau pake Blackberry. Tidak akan. Kecuali dikasih.
Hm. Kemakan omongan deh. Menjilat lidah sendiri kalo bahasa bukunya.
Pelajaran banget : jangan sekali2 ngomong sesuatu yang ga mungkin dengan sungguh2. Liat gw sebagai contohnya. Kejadian!

Kedua, tari.
Di mana ada kemauan, pasti ada jalan. Yes. Saya resmi terdaftar sebagai anggota aktif Liga Tari Krida Budaya Universitas Indonesia. Whooo hooo. How cool is that?! Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, awal niatan saya untuk masuk ke sanggar atau liga tari tidak lain dan tidak bukan adalah karena saya ingin bisa menari. Dari dulu saya memang selalu ingin bisa menari. Ya, menari.

Dan lihat apa yang saya dapatkan? Saya malah diberikan jalan yang bahkan lebih mulus dari yang saya harapkan. Selain karena saya merasa lebih hidup dengan rutinitas menari, saya dikasih kesempatan untuk lebih masuk ke dalamnya. Saya terpilih untuk menjadi salah satu penari dalam sebuah pagelaran besar Liga Tari tahun ini. Bless me.


Ketiga, resign dari kantor.
Yes. I did it. Terhitung dari tanggal 1 april ini, status saya adalah pengangguran. Well, ga sepenuhnya sih. Saya toh tetep butuh uang untuk bertahan hidup.

Rencana selanjutnya, seharusnya pergi liburan. Tapi saya belum berani menuliskan banyak tentang ini. Tapi toh tetap saya bermimpi tentang itu.

Pikiran saya sekarang benar2 masih mengawang2. Saya butuh waktu untuk merinci kembali apa-apa yang akan saya lakukan ke depan.
Untuk sementara, saya akan memfokuskan diri ke Liga Tari dulu. Pagelaran sudah di depan mata. Deg-degan banget rasanya kalo ngebayangin tanggal 8. dag dig dug .. Dag dig dug.. Semoga ini titik awal dan langkah baru yang tepat untuk saya menjadi seorang penari.


Got to go now.. Rehearsal is about to start.
^.^

waktu


Harusnya hari ini saya sudah menghasilkan satu atau dua tulisan yang harus saya kirim besok. Tapi sampe detik saya menuliskan ini, saya masih belum tau mau
menulis apa.


Geen idee.


Saya jadi berpikir, jangan-jangan saya ga bisa nulis?? Aduh, saya jadi takut membayangkannya. Dulu keinginan saya untuk menjadi seorang penulis kuat sekali. Tapi semenjak saya terlalu sibuk, tunggu, bukan terlalu sibuk. Menyibukkan diri, lebih tepatnya. Saya jadi tidak punya cukup waktu untuk memberi asupan gizi pada mata dan pikiran saya lewat buku-buku bagus. Hhhh. Saya jadi sedih. Sedih, karena waktu sudah (dan memang )berjalan dan saya tidak bisa memintanya untuk mundur. Jadi sudahlah.


Anyway, sebelum saya menemukan ide yang bagus untuk tulisan saya, saya mau bercerita saja dulu. Hitung-hitung membunuh waktu.


Saya hampir ga percaya kalo sekarang saya jadi orang yang jarang bercerita. Biasanya dalam sehari saya bisa bercerita banyak tentang apa saja. Beribu kata dirangkai jadi ratusan kalimat demi memaparkan cerita. Ah, saya harus mencari kambing hitam, untuk melimpahkan kesalahan ini.


Saya tau siapa yang harus disalahkan. Maaf, maksud saya bukan siapa, tapi apa. Ya, saya tau apa yang harus disalahkan. Saya akan menyalahkannya pada waktu. Sesuatu yang bernama waktu.


Ini salahmu, waktu. Kenapa kau lancang berjalan begitu cepat tanpa memberiku kesempatan untuk berhenti sejenak dan berpikir, lalu merenung kemudian bertindak. Waktu jahat sekali padaku. Dia tidak memperdulikan aku. Lihat apa yang sudah dia perbuat. Saya merasa dirugikan. Saya kehilangan banyak dia. Kehilangan waktu.


Dan sekarang, lagi-lagi saya harus berhadapan dengan dia. Si waktu. Saya terus berharap dan diam-diam meminta dia untuk berhenti sebentar. Agar saya bisa bernapas lebih dalam dan panjang. Agar saya bisa mematung untuk sesaat. Agar saya bisa berpikir dengan jernih, tanpa diburu oleh waktu.


Sepertinya waktu tidak perduli pada saya. Dia tetap saja berjalan. Meninggalkan saya dalam keterburu-buruan. Jujur, saya tidak suka membiarkan waktu tercecer percuma. Terbuang, tak berarti. Saya ingin setiap detik waktu saya membuat sesuatu. Memikirkan sesuatu. Dalam waktu.


Seperti sekarang ini, saya masih belum tau harus menulis dan bercerita apa. Dan dia tetap melenggang. Duh. Betapa saya benci melihat waktu berjalan.


Baiklah. Sepertinya saya harus berdamai dengan waktu. Saya lelah membenci dia. Saya memilih berteman saja dengannya. Agar, setidaknya dia tidak meninggalkan saya dengan kesia-siaan.


Dan sekedar info, saya masih belum mendapatkan ide. Tapi saya tidak mau menyerah. Saya akan bergulat dengan waktu. Um, maksud saya, saya akan berkompromi dengan waktu.

Doakan saya.

I just havent met you yet...

Seharian ini entah udah berapa kali saya putar lagi dan lagi lagu "I just havent met you yet"-nya Michael Buble. Kemarin malam saya baru berhasil mendownload videonya secara utuh dan lengkap di Youtube.

Oh My God!! I just cant stop watching this video klip!! Loveeeeeee it so much. Selain karena videonya yang lucu. Setelah dijiwai dan dilihat baik-baik liriknya ternyata.. Haaaaaaah, bikin hati tenang dan mengalirkan aura positif *menghibur diri, lebih tepatnya*.

Ini saya sengaja tulis lirik lagu yang bikin saya ga bisa berenti untuk mendengarkan lagi dan lagi. Silahkan tersenyum dan bernyanyi bersama kekasih hatiku : My ganteng Michael Buble.


I'm Not Surprised. Not Everything Lasts.

I've Broken My Heart So Many Times, I Stop Keeping Track.

I Talk Myself In, I Talk Myself Out

I Get All Worked Up

And Then I Let Myself Down.

I Tried So Very Hard Not To Loose It

I Came Up With A Million Excuses

I Thought I Thought Of Every Possibility

And I Know Someday That It'll All Turn Out

You'll Make Me Work So We Can Work To Work It Out

And I Promise You Kid That I'll Give So Much More Than I Get

I Just Haven't Met You Yet

Mmmmm ....

I Might Have To Wait

I'll Never Give Up

I Guess It's Half Timing

And The Other Half's Luck

Wherever You Are, Whenever It's Right

You Come Out Of Nowhere And Into My Life

And I Know That We Can Be So Amazing

And Baby Your Love Is Gonna Change Me

And Now I Can See Every Possibility

Mmmmm ......

And Somehow I Know That It Will All Turn Out

And You'll Make Me Work So We Can Work To Work It Out

And I Promise You Kid I'll Give So Much More Than I Get

I Just Haven't Met You Yet

They Say All's Fair

And In Love And War

But I Won't Need To Fight It

We'll Get It Right

And We'll Be United

And I Know That We Can Be So Amazing

And Being In Your Life Is Gonna Change Me

And Now I Can See Every Single Possibility

Mmmm .....

And Someday I Know It'll All Turn Out

And I'll Work To Work It Out

Promise You Kid I'll Give More Than I Get

Than I Get Than I Get Than I Get

Oh You Know It'll All Turn Out

And You'll Make Me Work So We Can Work To Work It Out

And I Promise You Kid To Give So Much More Than I Get

Yeah I Just Haven't Met You Yet

I Just Haven't Met You Yet

Oh Promise You Kid

To Give So Much More Than I Get

I Said Love Love Love Love Love Love Love .....

I Just Haven't Met You Yet

Love Love Love .....

I Just Haven't Met You Yet


Benar, benar, benar sekali kalo saya bilang lagu ini benar-benar menghibur hati para single lover. Apalagi yang "bilang" kaya gini si Mr. Buble. Aduuuh, bikin saya (pribadi) tambah yakin bahwa, saya cuma belum ketemu aja sama "the one".

:P