
Harusnya hari ini saya sudah menghasilkan satu atau dua tulisan yang harus saya kirim besok. Tapi sampe detik saya menuliskan ini, saya masih belum tau mau
menulis apa.
Geen idee.
Saya jadi berpikir, jangan-jangan saya ga bisa nulis?? Aduh, saya jadi takut membayangkannya. Dulu keinginan saya untuk menjadi seorang penulis kuat sekali. Tapi semenjak saya terlalu sibuk, tunggu, bukan terlalu sibuk. Menyibukkan diri, lebih tepatnya. Saya jadi tidak punya cukup waktu untuk memberi asupan gizi pada mata dan pikiran saya lewat buku-buku bagus. Hhhh. Saya jadi sedih. Sedih, karena waktu sudah (dan memang )berjalan dan saya tidak bisa memintanya untuk mundur. Jadi sudahlah.
Anyway, sebelum saya menemukan ide yang bagus untuk tulisan saya, saya mau bercerita saja dulu. Hitung-hitung membunuh waktu.
Saya hampir ga percaya kalo sekarang saya jadi orang yang jarang bercerita. Biasanya dalam sehari saya bisa bercerita banyak tentang apa saja. Beribu kata dirangkai jadi ratusan kalimat demi memaparkan cerita. Ah, saya harus mencari kambing hitam, untuk melimpahkan kesalahan ini.
Saya tau siapa yang harus disalahkan. Maaf, maksud saya bukan siapa, tapi apa. Ya, saya tau apa yang harus disalahkan. Saya akan menyalahkannya pada waktu. Sesuatu yang bernama waktu.
Ini salahmu, waktu. Kenapa kau lancang berjalan begitu cepat tanpa memberiku kesempatan untuk berhenti sejenak dan berpikir, lalu merenung kemudian bertindak. Waktu jahat sekali padaku. Dia tidak memperdulikan aku. Lihat apa yang sudah dia perbuat. Saya merasa dirugikan. Saya kehilangan banyak dia. Kehilangan waktu.
Dan sekarang, lagi-lagi saya harus berhadapan dengan dia. Si waktu. Saya terus berharap dan diam-diam meminta dia untuk berhenti sebentar. Agar saya bisa bernapas lebih dalam dan panjang. Agar saya bisa mematung untuk sesaat. Agar saya bisa berpikir dengan jernih, tanpa diburu oleh waktu.
Sepertinya waktu tidak perduli pada saya. Dia tetap saja berjalan. Meninggalkan saya dalam keterburu-buruan. Jujur, saya tidak suka membiarkan waktu tercecer percuma. Terbuang, tak berarti. Saya ingin setiap detik waktu saya membuat sesuatu. Memikirkan sesuatu. Dalam waktu.
Seperti sekarang ini, saya masih belum tau harus menulis dan bercerita apa. Dan dia tetap melenggang. Duh. Betapa saya benci melihat waktu berjalan.
Baiklah. Sepertinya saya harus berdamai dengan waktu. Saya lelah membenci dia. Saya memilih berteman saja dengannya. Agar, setidaknya dia tidak meninggalkan saya dengan kesia-siaan.
Dan sekedar info, saya masih belum mendapatkan ide. Tapi saya tidak mau menyerah. Saya akan bergulat dengan waktu. Um, maksud saya, saya akan berkompromi dengan waktu.
Doakan saya.
No comments:
Post a Comment