28.1.12

Selamat Ulang Tahun, Lelakiku.

Di hari yang sama tahun lalu, saya memposting di blog ini tentang  ulang tahun dia. Waktu itu saya menulisnya dengan wajah penuh bahagia. Sorotan mata saya berbinar-binar ketika saya memasukkan foto-foto dan tulisan di blog, sambil menunggu dia menjemput saya untuk pergi makan malam dan berkaraoke bersama Mama-nya yang sedang mengunjungi dia di Bali.

Sayang,
Look at me now. Writing this new entry blog with tears coming down my face like waterfall. Feeling so powerless of being apart from you.
Cant believe how things could change up side down like this in a year. Do you remember that time?


Beberapa jam lagi, saya akan menelepon dia. Mengucapkan ulang tahun dan mungkin akan bernyanyi dengan suara gemetaran tak terkontrol. Tak apa, dia maklum I'm a bad singer.
Saya ingin dia tau, saya ADA di ulang tahun dia. Saya ingin dia mendengar doa-doa langsung dari mulut saya. Saya ingin dia tau saya akan menunggu dia. Sampai kapanpun.


Saya sudah membuat beberapa video rekaman yang berisi ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman dekat saya, dan beberapa potongan puzzle words yang saya satukan dalam satu lagu untuk dia. Saya tidak sabar untuk memainkannya langsung nanti ketika saya menemuinya. Insyaallah segera.


Sekarang, saya hanya bisa posting satu - dua foto dari potongan video yang saya buat untuk dia.


Hope!

I love you more than these letters written




Selamat Ulang Tahun, lelakiku.


I love you more each day.
your Anda
x

19.1.12

Banten itu ...



Hari minggu kemarin adalah hari yang paling membahagiakan untuk seorang teman baik saya. Namanya bagus sekali : Indrianti Azhar Firdausi. Tapi sejak SMP saya seenak2nya memanggil dia dengan panggilan JENONG. What a good friend I am hey.

Usia pertemanan kami sudah mencapai satu dekade lebih. Kami sudah sepaket hati dan pikiran. Walaupun terpisah di SMA dan perkuliahan, kami tetap saja tidak bisa lepas secara batiniah. Mungkin karena kami besar dan tinggal di kampung yang sama. Dan menjalani hidup yang (kurang lebih) sama juga. Kalau dia lebih memilih Bandung untuk masa kuliah dan pematangan hidupnya, saya lebih memilih kota amburadul yang menawarkan segala macam warna kehidupan, Jakarta. 

Bedanya dia anak bungsu, saya anak sulung. Tapi dua-duanya dimanja dan diprotect (kadang-kadang) berlebihan.

 Dua hari yang lalu, bbm kami berisi percakapan seperti di bawah :

Noe, minggu sore ke rumah gue ya. Ada acara.” Ucapnya di layar BB. Noe itu nama panggilan saya yang dia sebarluaskan ke seantero Serang. Jadi semua teman kecil, SD, SMP, dan SMA memanggil saya dengan panggilan Noe (baca : Nu).

Ciyeeeh..dilamar Agung, Nong?” balas saya.

Ih, ko tau? Udah masuk Radar Banten :D ?” jawab dia cepat.

(--_--‘) “ saya ilfeel. Saya tahu dia dulu seorang produser handal di Banten TV, tapi malas deh kalo udah bawa-bawa media lokal. Sok tenar! BIKIN DROP!

Hahahaha… santeeey dong mungkenye! Iya, gue AKHIRNYA dilamar, ceu!! Ya allooh, setelah berabad2 dijanjimanisin, digula-gulain, dimadu-maduin yaaa. Terasa juga manisnya sekarang.

Hahaha. Alhamdulillah ya Nong! Happy for you. Memang sudah saatnya lo nikah. Ingat kan kata gue, sekering2nya Afrika, pasti akan diberi hujan juga suatu saat. Setandus2nya sahara, pasti ada oase-mata air, di tengah sana. It’s about the time, isn’t it! Sip, ntar gue dateng sama nyokap yak. Ga usah bawa apa-apa kan gue ya :p“ kata saya.

Dan resmilah dia dilamar lelaki pujaan hatinya ini. Setelah kira-kira 8 tahun hidup mereka dibayang2i lagu BBB. Putus-nyambung-putus-nyambung. Sekarang udah diiket deh. Biar ga putus-putus lagi!

Sebenernya saya ga mau cerita tentang dia sih. Aga ga penting juga ya cerita orang dilamar di blog eike. (Sorry Nong, bukan berarti gue ga sayang lo ya!). Saya mau cerita apa yang saya kerjakan tadi pagi bersama si Jenong ini. Aga aneh kan soalnya nanti saya pajang foto-foto deze tanpa menceritakan sedikit sejarah kehidupan dia. Tsaadaaap!

Tadi pagi saya dan Jenong pergi ke Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Mumpung lagi semanget-semangetnya kemarin abis dilamar, jadi mubadzir kalo ga dimanfaatin tenaganya. Lumayan, supir gratis. Hehe.
Niatan untuk pergi ke museum itu sebenernya udah dari minggu kemarin. Tapi baru kesampean tadi. Saya tiba-tiba kepikiran untuk melihat (lagi) gimana bentuk museum itu. Museum yang menyimpan sejarah kejayaan Banten.

Saya berangkat dengan semangat menggelora dan berharap akan menemukan banyak dokumen dan barang-barang penting peninggalan sejarah dari abad 16an. Sekalian, siapa tau kalau saya beruntung ide untuk menulis proposal pengajuan beasiswa tentang sejarah dan kearsipan Belanda-Indonesia abad 16-17 bisa dateng tiba-tiba. 

Berbekal notebook lumba2 kecil saya dan kamera, berangkatlah kami ke sana. Perjalanan tidak begitu mulus. Meskipun kami lahir dan besar di bumi Serang, bukan berarti kami tau banyak tempat. Saya bisa jamin, apalagi sekarang anak-anak muda di Serang dan sekitarnya sudah jarang mau tahu (lebih) banyak soal tempat (ber)sejarah. Yang dituju ya Mall dan pusat perbelanjaan. Untuk mengunjungi tempat bersejarah semacam Makam dan Masjid Sultan Ageng Tirtayasa Banten yang dulu sangat tersohor itu, rasanya pasti berat sekali.

Saya saja, baru menjejakkan kaki di mesjid dan mercusuar itu ketika umur saya sekitar belasan. Itu pun karena ada acara dari sekolah, bukan karena keinginan saya sendiri ingin tahu tempat bersejarah di Banten. Terakhir kali saya datang ke sana dan masuk museumnya mungkin waktu umur saya 16an. Saya lupa persisnya. Dan seingat saya, museum itu besar dan bagus.

 
Kami sempat nyasar dan berakhir di sebuah tempat yang ramai. Seperti pasar. Dan di ujungnya ternyata ada pelabuhan. Ternyata kami kesasar sampe ke Karangantu. Itu artinya tujuan kami, museum Banten sudah terlewat a.k.a kebablasan.



Banting setir, putar balik, Noooong.


Setelah bertanya pada salah satu warga dan mendapatkan gambaran arah yang benar menuju museum, kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya sampai juga!

Saya tertegun melihat bangunan “kecil” yang ada di depan saya. Ini museumnya? Tanya saya dalam hati. Saya benar-benar tidak ingat bentuk dan rupa bangunan museum sejak terakhir kali saya datang berkunjung. Kok dulu perasaan besar dan megah sekali ya bangunannya. Kembali saya membatin.

"sederhana" sekali ya.. Down to earth, you know!


Ternyata museum itu tutup. Belum sempet mengeluarkan mimik kecewa si Bapak penjaga museum berkata bahwa kami bisa tetap masuk, karena kebetulan ada rombongan kecil -sekitar 5-6 orang- dari universitas (entah unviersitas apa) yang juga datang berkunjung hari itu. Ah, niat baik memang selalu dimuluskan jalannya.

Kami tidak membaur bersama “anak-anak” mahasiswa itu karena saya memang ingin mengeksplore sendiri isi museum itu. Di dalam museum, sudah ada satu orang bapak yang bertugas seperti guide, yang bertugas menjelaskan detail isi museum. Saya mendengarkan sambil asik melihat-lihat sendiri barang-barang yang ada di dalam museum. Si Jenong yang kehadirannya sebagai penggembira dan teman pengantar tentu saja tidak begitu tertarik dengan isi museum. Dia malah sibuk dan lebih excited jika saya memintanya berpose di samping sebuah benda/lukisan. (-_-‘) JENONG!!

selamat datang di Museum Banten







Saya yang tadinya dipenuhi rasa semangat dan excited akan menemukan banyak hal yang bisa saya gali lebih dalam dan bisa jadi inspirasi untuk menulis proposal itu, lemas dan kecewa menemukan apa yang saya lihat.
Sedih mungkin lebih tepatnya. Duh, bukankah Banten dulu sangat berjaya? Mana sisa-sisa kejayaan itu sekarang? Bahkan mereka tidak bisa menyampaikannya dalam bentuk tulisan, benda, ataupun gambar. Ah, menyedihkan.

Satu-satunya harapan yang bisa saya andalkan sekarang adalah si bapak itu. Ya, bapak yang dari tadi tidak berhenti memberikan penjelasan detail dan menjawab pertanyaan2 dari si mahasiswa yang sibuk mencatat ini dan itu.

Sebenernya saya aga-aga sungkan kalau tiba-tiba harus “masuk” ke dalam rombongan dan menanyakan beberapa pertanyaan. Jadi saya menunggu saat yang tepat. Ketika para mahasiswa kelelahan mencatat dan break sebentar untuk foto-foto gaya ABG 3 jari dan mulut monyong di depan benda2 museum, saya menyabotase si bapak ini dan menanyakan beberapa pertanyaan soal mesin uang cetak dan perekonomian Banten pada masa VOC baru menginjakkan kaki di Pelabuhan Karangantu.

Sedikit terobati rasa kecewa saya dengan penjelasan dan pengetahuan sejarah yang saya pikir sangat baik sekali dari si bapak. Saya memuas2kan diri bertanya detail beberapa hal yang menarik perhatian saya di museum itu. Sampai-sampai ketika para mahasiswa itu kembali ke si bapak dan mendengarkan penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan saya, mereka lalu memandang saya dengan tatapan “eh, anak mana lo?” Hehehe. Maaf ya Dek ngambil lahan penelitian.

Abis mengorek-ngorek tentang sejarah kejayaan Banten masa kesultanan Tirtayasa, saya lalu “melepaskan” si bapak ke para mahasiswa itu lagi. Kemudian saya sibuk mengambil beberapa gambar di dalam ruangan yang berisi mesin cetak uang kertas, dengan si Jenong sebagai modelnya tentu saja.

Tidak terlalu lama kami menghabiskan di dalam museum karena memang sudah tidak ada yang bisa dilihat dan diexplore lagi! Kami pun duduk-duduk sebentar di luar sambil melihat sekeliling dan mengobrol ringan tentang Banten. Tentu saja disela-sela obrolan kami, terhembus napas panjang yang tak terhitung, yang bermakna kurang lebih “Haduh.. Iya ya… Haduh.. Sayang banget.. Haduh.. Iya.”

Sesudah pamit ke si Bapak, kami berjalan ke luar halaman museum. Karena kami belum mau pulang, si Jenong menawarkan untuk pergi ke sebuah tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Dia mengajak saya pergi ke bekas reruntuhan benteng/kerajaan Banten. Saya (lagi-lagi) merasa excited dan melonjak kegirangan, “yuk, yuk, yuk, nong!”.

Sampai di sana, kami berhenti dulu di warung kecil yang menjual minuman dan makanan ringan. Sambil mengorek2 informasi tentang bagaimana kami bisa masuk ke benteng itu. Si Adek kecil yang menjaga warung itu berkata, kami bisa masuk lewat gerbang utama di bagian paling depan benteng itu. Oh iya, nama benteng ini Benteng Surosowan.Belum cukup pengetahuan saya cerita tentang Surosowan ini, jadi kalau masih pengen tau lebih banyak silahkan baca di sini aja. Lumayan lengkap infonya.

Begitu berhasil memasuki tempat ini, saya merasa ada di suatu tempat tempo dulu. Rasanya aga-aga mistis gimana gitu. Anginnya besar, semilir menerpa wajah kami yang berlari-lari kecil menuju beberapa tempat untuk sekedar melihat lebih dekat, dan tentu saja, berfoto! Kami menemukan sebuah kolam di tengah lapangan hijau ini. Sepertinya dulu kolam ini dijadikan tempat mandi atau spa putri-putri kerajaan Banten dulu.

Gue ajakin si Jenong masuk, liat di dalem ada apa, dia ga mau. Payah!  


waktu foto ini diambil, Si Jenong teriak2 takut gw kalap liat air dan mau nyemplung saking panasnya udara siang itu.

Akhirnya petualangan kami hari itu diakhiri dengan senyum kering kepanasan. Dan suara alarm dari perut kami yang teriak-teriak minta diisi pancake (teteup ya gue!).
Kami pun segera berjalan keluar area benteng ini dan mengucapkan terima kasih kepada tanah Banten yang mengijinkan kami datang berkunjung, berpoto dan ketawa-ketiwi mengomentari apa saja yang kami temui.




Sebenarnya masih banyak sekali foto yang ingin saya share. Tapi saya sudah keburu kesal dengan jaringan internet yang seperti siput sekarat jalannya. Luaaamma!

Besok-besok deh kalau saya lagi ada di tempat dengan wifi yang ok.


Selamat malam temans.

16.1.12

Harmonika


Inget ga waktu itu saya pernah posting kalau saya mau beli harmonika ? Nah, akhirnya saya berhasil membeli harmonika itu beberapa hari yang lalu. Tujuan membeli harmonika ini adalah tidak lain dan tidak bukan karena saya pengen bisa maenin alat musik tiup.


Kalau waktu di Liga Tari UI saya pernah sempet memainkan alat musik tabuh (seperti gambar di bawah), saya kali ini pengen banget bisa mainin alat musik yang ditiup. Pengennya sih belajar alat musik suling. Biar lebih kental efek sunda dan tradisionalnya. Tapi masalahnya, paling enak maen suling itu di atas kebo yang diangon di sawah. Nah, di Serang udah jarang ada sawah dan sekarang nyari kebo udah susah kalo bukan musim kurban. Lagian suling kurang simple. Repot dibawa ke mana-mana. Dikantongin ga muat, di taro di tas juga aga riskan. Jadi saya akhirnya memilih harmonika aja yang (tadinya saya pikir) sederhana dimainkan dan bisa dibawa ke mana-mana.
Waktu itu lagi belajar musik kalimantan, kalo ga salah.



Ternyata mainin harmonika susah, kawan! Haiiiyaah.. mana lobang suaranya ga ada tanda nada DO, RE, MI, FA, SO, LA, SI, DO-nya. Trus kalaupun ada saya toh tetep ga bisa liat secara pas main, tu lobang2 ga keliatan juga karena masuk mulut pas dimainin. *Sigh*
Jadi benar-benar harus melek nada dan jeli banget baca bunyi yang ditiup dan ditarik.

Harmonikaku, namanya HARTA. Kependekan dari HARmonikanya maT dan Anda. *maksa! Bodo!

Les harmonika saya sudah dimulai kemarin malam. Guru yang sangat beruntung saya pinang adalah pacar teman dekat saya. Namanya Abraham, saya memanggilnya Abam. Ni cowo kalo udah mainin alat musik ; mau gitar kek, harmonika kek, keliatannya seksoy banget. Dari dulu emang selalu bercita-cita punya lelaki yang into sport or music banget. Alhamdulillah tercapai. Secara My man ‘kan sport teacher ya, kalo kata Acit dan Daboe, guru Penjaskes (yang ganteng). Ahahahay, selain ganteng, kamu juga seksih sekalih, Sayangku… :)

Eniwei.

Lagu pertama yang saya HARUS pelajari dan ulik adalaaaaah : My heart will go on by Celine Dion
Hadeuh, Bam.. Nyang bener aja ni orang. Mentang-mentang dia tau saya lagi galau jauh dari kekasih hati, yak ga lagunya Titanic juga dong yg harus dipilih yaaaa. Ga boleh diprotes, saya pun nurut ngangguk2 sambil dengerin nadanya. Dalam hati sambil ikutan nyanyi sih. Eh teman, dari pada baca doang, mendingan ikut sayah nyanyih! Silahkan bernyanyi saudara-saudara!  

"Every night in my dream… I see you... I feeeeeeel you.."

Kenyataan bahwa saya buta nada dan sama sekali belum pernah mainin harmonika sebelumnya, saya benar-benar dituntut untuk jadi seorang pendekar musik. Harus berjuang menemukan nada dan menyatukan bunyi dengan indah. Kalo menurut sang guru sih, I am not too bad. Untuk seorang yang belum pernah megang dan mainin harmonika sama sekali, saya sudah bisa meniru dan mengikuti nada sampai setengah lagu. Sedaaaaaaaaaap! Boleh juga lo, Nda.

Rencananya malem ini saya ada jadwal belajar lagi sama doi. Saya kali ini merequest lagu favorite kekasih hati : Abang Jack Johnson.
Mudah-mudahan lebih seru dari My heart will go on. Hehe.


13.1.12

Sorry hoor, we spreken alleen in het Nederlands!

Bukan maksud hati menjadi  plagiat seperti teman saya, sebut saja namanya NC, yang membuat berbagai tantangan yang lumayan sinting dengan seorang teman dekatnya dan didokumentasikan dalam bentuk video di youtube. (Kalo tertarik liat, cari aja di Youtube dengan keywords "Match me if you can - Nathan vs Isaac")


Sebenernya ide ini muncul tiba-tiba setelah saya selesai membaca blog si Rizky Amelia, yang lebih akrab dengan nama panggung Iboy Boyke Di manaaaa Di manaa Di manaa… 



Jadi  dia kemaren2 baru aja ngepost tulisan dalam bahasa Belanda yang apik tenan. Kalo kamu ngerti bahasa Belanda, Post blog-nya bisa dibaca di sini.  Oow, Saya tentu dong iri-dengki-sirik dan tidak suka melihat langkahnya yang maju beberapa jarak ke depan.
Oh tenang, walaupun saya iri-dengki-sirik dan tidak suka melihat keberhasilannya ngepost blog dalam bahasa Belanda -yang harusnya menjadi bahasa junjungan kami karena dicekokin 4 tahun berturut2 tanpa henti-, saya ga pernah benci Boyke. Apalagi ngajak berantem. Aduh duh duh, saya ga bisa berantem. Apalagi cat fight. Saya bisanya nangis. Kalo diadu nangis, saya baru mau deh, dan saya yakin saya pasti menang! 


Saya malah salut dan bangga sama Iboy. Tapi ya saya ga pernah bilang langsung lah. Ntar tambah lebar jidat dia. Dan kembang kempes idungnya saya puji2.  Belum lagi ntar efek pengembangan rambutnya yang frontal kalo denger puja puji dari mulut saya. Duh, berabe. Repot. Mending ga usah diucapkan lewat lisan. Tulisan aja.


Intermezo : Dari dulu sampe sekarang, kami selalu berdua dan bersama melewati angin badai topan dan manisnya kehidupan. Ah, Dima. Kau sungguh teman sehati. Saya baru buka2 folder foto masa kuliah dan menemukan beberapa foto bersama dia. Silahkan dinikmati sebelum saya lanjut cerita.
ini ceritanya kami ga sengaja 'bertemu' si pembuat al Kitab kami, Mba Soesi. selayaknya bertemu nabi, kami langsung minta foto. Liat tuh si Boyke, ceria beneeuur.

Bandingan dengan saya yang malah tedor. Zzzz.. Sampe Mba Soesi ekspresinya "Terserah lo deh yaaa". Tapi bukan Anda Suranda Margonda namanya kalo ga eksiiis. Biar tedor, harus tetep cantik tersenyum selalu dong. Btw, akyu ndut amat ya dulu?!? #gasadardiridulubulat
Nah gini nih maksud saya dengan "pengembangan rambut yg tidak seimbang". Perhatikan rambut Boyke yang ikut pose ceria juga. Itu karena efek sanjungan. makanya jgn banyak2 muji ni anak.

Iiih Iboy maunya deket2 Anda teyuuus deh. Eh, liat dong anting2 aku lumba2. #pentingbanget

who's the bad girl?

Bersama Piala Bergilir kebanggan Londo2 04. Penyerahan pertama yg jatuh pada Friska yg dinikahi oleh seorang mas-mas probolinggo bernama Ganes

Ini lupa di kelas apa. Mungkin di kelas Spreken. Booo aku imut-imut yaaaa. . . terlihat sangat muda belia. :D

OMG!! Rihaannnaaaaa, Silaaawww men!!! Ngakakakakakak... ampun Boy.

So, you ready for the challenge?? Yeah!! Bring it here, biatch!!!
Sekian intermezo-nya

***

Anyway, terus saya ‘kan merasa “dipecundangi”  ya sama dia (Laah, salah Iboy nulis pake bahasa Belanda?!!Salah temen2nya?!). Dan walaupun saya yakin ga ada maksud dan tujuan dia buat sekalipun menyombongkan diri atau mau sok-sok-an di blog dia dengan nulis bahasa Belanda, saya jelas merasa tertantang ; Terpanggil ; Tergerak ; Dan terinspirasi untuk mengajukan ide tantangan ini kepada si wartawan handal  Berita Satu dot com ini yang kemarin baru saja dikirim (paket kali, dikirim!) ke Jepang.


“Boyke.. match me if you can!” begitu pesan saya lewat YM beberapa jam setelah dia posting blog itu.


“Aw aw aw.. jadi deg2an. Apa, apa, apa? Apakah tantangannya, Nandaah?” jawab si kribo.


“Gue baru baca blog lo. Mooi geschreven hoor.  Maaaaaaaaaaar gue mau tangtangin lo sekarang! Karena lo sudah berhasil menulis beberapa tulisan yang sebenernya biasa aja sih isinya ga penting2 amat juga (ini efek dari rasa iri dan ga bisa terima kalo temennya selangkah lebih maju), gue mau tantangin lo untuk berbahasa Belanda secara lisan. Face to face and Ear to ear, mamen! Maksudnya, kalau kita bertemu muka dan bertukar suara, kita hanya boleh menggunakan bahasa yang mulia Queen Beatrix. No excuse. Mau pake logat-gaya betawi dan gaol kek, mau pake aksen belanda aselik juga boleh. Terserah. Yg pasti.. Alleen spreken in het nederlands en geen indonesish or engels. Helemaal niks. Match me if you can?”

“Deal!” jawabnya cepet.


Wuidih, maju tak gentar nih anak. Mungkin dulu kakeknya pejuang sejati.


“Ok! Terhitung hari ini ya, Boyke. Kita hanya bisa dan boleh berkomunikasi pakai bahasa Indonesia, jawa, sunda, enggres, or bahasa jorok kita (hihihi) di dunia maya. BBM, YM, MSN, SKYPE dan sebangsanya, itu dihalalkan hukumnya. Goed?”


“Gancil!” balas dia lagi.


Ah ibab ni anak nyolot beut!


“Kalo gue ntar stuck mau ngomong apa, gue tinggal diem, trus ping or buzz lo deh dan ngobrol pake bahasa Indonesia lagi. Ahahahaha…” bales dia di YM.

Anak setan!!! >.<

Harusnya saya tau dia pasti kepikiran itu. Heuuh licik juga ni bocah. Tapi boleh juga tuh ide. Saya juga jadi ngebayangin ntar kalo kami ketemuan dan mentok ga tau mau ngomong apa atau ga nemu kata dalam bahasa Belandanya, matek lah saya gagu di tengah jalan. Idenya untuk nge-buzz or ping dan kembali ke bahasa ibu di dunia maya boleh juga. Hahaha jadi, tantangan macam apa ini?????

Perjanjian tantangan itu kami buat tanggal 10 januari 2012. Kalo seandainya dijadiin tanggal jadian, cakep tuh Boy.. 10012012. Tsaaah romantisnyaaa. (Romantis??!? Alay iya!)
Nah masalahnya kami belum menentukan hukuman apa yang akan diberikan jika peraturan itu dilanggar.
Sehari setelah perjanjian itu disepakati dan ditandatangani dalam chat sakral di YM, besoknya kami bertemu muka di Pasific Place untuk memoroti kekayaan si pegawai MA, bernama Acita BalaBala BumBum makan di Nanny's Pavillion. 


Yak, berlangsunglah percakapan bebek kami dengan bahasa Belanda yang masyaallah kacau ga karuan. Mana si Acita pake ikutan nyampur juga, jadi kami beberapa kali kecampur-campur berbahasa Indonesia. Ah, agak sedikit tidak berjalan mulus di hari pertama perjumpaan mesra kami.
Eeeeh tapi ya. Waktu itu Boyke melakukan kesalahan terlebih dahulu. Dia dengan lancangnya berbahasa Indonesah sama saya, pemirsah. TERLALU! 


Saya mengutuki dalam hati, kenapa saya tidak merancang undang2 pelanggaran dan hukuman dulu sebelum saya bertemu hari itu dengan dia. Aaaah, jadilah dia lolos hukuman. Dan saya mengaku, saya juga khilaf dan melakukan kesalahan yang saya yakin karena tertular kesalahan Boyke (teteup ya gue ga mau ngaku). Saya keceplosan berbahasa Indonesia juga ke dia. Dengan bodohnya menanyakan sesuatu dengan tidak menggunakan bahasa belanda.
Jadi intinya, situasi kami saat itu impas alias tidak ada hukuman atau straf.

Jangan seneng dulu kau, perempuan yang menyukai laki-laki beristri (woy, ngapah merambat jadi ngegosip deh)! Karena sekarang aku sudah menemukan hukuman yang cucok buat dirimu jikalau dikau melanggar peraturan dari tantangan ini. Nguahahahaha..

Apa hukumannya? Mmm  kasih tau ga ya di sini???? Mmm.. mmm.. mm.. Ga usah deh. Itu urusan dalam negeri saya dan si kribo aja.

Goed. Dus we spreken alleen in het nederlands he?!

Ja, dat klopt. Als je geen nederlands spreekt, dan spreek je lekker met m'n hand!


Temans, udah malem. Saya pamit dulu ya. Besok saya mau pergi ke museum Banten. Mau ngengokin buyut dan leluhur. Sekalian mau ngecek dokumen arsip VOC. Kali-kali aja ada yang diselewengin. Hehe..

Kusjes,
Anda
xxx


8.1.12

one little baby step

OK, OK, OK!



I'll start IT today!



Meskipun saya tau banget Mamah aga-aga betek dan merasa dinomorduakan karena pagi-siang-malem saya hanya berkutat di depan laptop. Kadang sampe lupa makan dan mandi (iiyuuuh).



Oh well, dari pada saya menangis seharian dan bengong ga jelas meratapi jalan yang buntu di depan. Lebih baik saya menyibukkan diri lihat kiri, kanan dan belakang. Tanya sana dan sini, baca ini dan itu, siapa tau masih ada jalan atau pintu yang bisa dibuka. There must be one!!! I just have to find it.




Wish me luck!

1.1.12

Life in a year

Selamat tahun baru, teman-teman.

Hari ini saya bangun kira-kira jam 12an. Hal pertama yang saya pikirkan tentu saja dia, lelaki saya. Yang saya harap sedang tersenyum dalam mimpi panjangnya mengingat kenangan2 manis di tahun 2011 bersama saya.

Tadi malam, setengah jam sebelum tahun baru di Jakarta, saya menelepon dan berbicara dengannya. Mengatakan betapa dahsyatnya perjalanan kami di tahun 2011. Mengatakan bahwa betapa saya merasa bersyukur dengan semua yang saya punya dalam hidup. Mengatakan betapa saya semakin mencintai dia. Unconditionally. Mengatakan bahwa saya percaya kami akan bersatu lagi. Entah bagaimana cara Universe membuatnya jadi nyata. Dan mengatakan betapa saya bangga dan bersyukur bahwa dia masih berjuang untuk kembali. Kepada kami, orang-orang yang mencintai dia tanpa lelah dan pamrih.

2011

Setahun yang lalu, di hari yang sama. Saya tidak pernah berpikir akan melewati satu tahun yang membuat saya terbang ke langit ke tujuh saking senangnya, tapi juga merasakan jatuh dan terbanting remuk luar biasa ke bumi paling dasar saking sakitnya.
Di awal dan seperempat tahun 2011, saya dibuai begitu indahnya dunia. Cinta, harapan, mimpi. Di pertengahan tahun 2011, saya "dipaksa" menjalani pahitnya hidup. 
Saya masih ingat moment terindah dalam hidup saya di tahun 2011. Ialah ketika dia  berkata ingin datang  berkunjung ke rumah dan bertemu langsung dengan 4 orang paling saya cintai di dunia. Mamah, Papah, Abang dan Dede. Ialah ketika dia "meminta" kepada kedua orang tua saya untuk meninggalkan Indonesia demi mewujudkan mimpi-mimpi kami. Ialah ketika dia menitikkan air mata di depan Mamah saya, berkata "Aku cinta Anda..." [Bless him].
Ialah ketika dia menjawab pertanyaan Mamah mengapa dia mencintaiku, bahwa saya berarti segala2nya untuk dia. Ialah ketika Mamah saya menangis berkata "Ibu merestui kalian. Tolong jaga Anda baik-baik. Dia segala-galanya bagi Ibu.". Dan di saat Mamah menitikkan air mata, di saat yang sama, dia menggengam tangan saya erat, menciumnya di depan kedua orang tua saya sambil berkata.. "Pasti, Ibu".
Mata kami saling menatap berkaca-kaca bahagia. Demi Allah, saya tidak pernah merasakan bahagia  seindah itu. Tentu saja, Papah saya yang sebenernya berhati Rinto tapi bermuka Rambo bertahan sekuat tenaga untuk tidak ikut2an menangis. Pura-pura batuk, beliau meminta diri keluar teras sebentar untuk mengambil udara segar. Tapi saya tau, beliau tak bisa menahan gejolak bahagia dan haru di dadanya ketika ada seorang laki-laki yang datang ke "Istana"nya, meminta putri satu2nya untuk mengarungi hidup yang ingin saya jalani.
Dan ketika kami mengabari berita bahagia kepada orang tua dia, mereka menyambutnya dengan gembira. 




Dan moment paling pahit seumur hidup saya. 9 Juli 2011. Menemukannya terbaring di Emergency Room. Tubuh ini rasanya tak bertulang. Tapi otak dan hati saya memerintahkan saya tetap berdiri. Menghampirinya sambil berkata "I am here, I've found you. You'll be fine. Everything will be OK, Sayangku."
Sungguh. Kalau dulu saya pernah membayangkan neraka adalah tempat yang penuh dengan orang-orang yang disiksa karena melakukan dosa-dosa di dunia. Mungkin saya salah. Neraka sesungguhnya adalah ketika saya melihatnya di sana. Di tempat itu. 
Dengan segera, memohon ampun dengan tak berdayaku pada Sang Esa. Menggigil dengan apa yang saya saksikan. Mengerikan melihat seseorang yang kita cintai dalam kondisi yang sungguh tidak, saya ulangi, TIDAK pernah dibayangkan dalam hidup.


2012


Hari ini. Setalah saya mereview apa yang terjadi satu tahun ke belakang. Dengan semua warna-warni hidup yang saya jalani di tahun 2011, Saya lancang memberanikan diri bermimpi lagi. Tentang kesederhanaan. 

Kalau saya selalu menyalahkan, mengutuk dan mengumpat kepada dunia [dan bahkan Tuhan] tentang betapa tidak adilnya hidup ini. Saya menjadi semakin tau dan sadar. Life IS NOT fair, sometimes. Tapi apa yang bisa saya pelajari dari semua ini adalah mulai menerima kenyataan bahwa hidup kadang2 memang tidak adil, dan hal yang paling bisa saya lakukan ketika hidup tidak berpihak pada saya, adalah memilih dan mengambil hal terbaik yang ada/berikan dalam hidup. Menerima dan menikmati setiap warna pelangi dalam hidup yang akan mewarnai setiap jengkal langkah ini.


We just don't know anything about what will happen in the next minutes in our life, do we.


Jadi, saya, mulai hari ini akan pelan-pelan terus berjalan ke depan 2012. Dan berharap bahwa saya bisa mensejajarkan langkah saya dengan kebahagiaan. Bersama orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya.


Selamat datang 2012. Saya masih tetap seorang pemimpi yang keras kepala dan naif. Dan saya akan tetap mencintai mereka, setiap jiwa yang menanamkan cinta, harapan, kebahagiaan dan mimpi dalam diri saya.