Hari minggu kemarin adalah hari yang paling membahagiakan untuk seorang teman baik saya. Namanya bagus sekali : Indrianti Azhar Firdausi. Tapi sejak SMP saya seenak2nya memanggil dia dengan panggilan JENONG. What a good friend I am hey.
Usia pertemanan kami sudah mencapai satu dekade lebih. Kami sudah sepaket hati dan pikiran. Walaupun terpisah di SMA dan perkuliahan, kami tetap saja tidak bisa lepas secara batiniah. Mungkin karena kami besar dan tinggal di kampung yang sama. Dan menjalani hidup yang (kurang lebih) sama juga. Kalau dia lebih memilih Bandung untuk masa kuliah dan pematangan hidupnya, saya lebih memilih kota amburadul yang menawarkan segala macam warna kehidupan, Jakarta.
Bedanya dia anak bungsu, saya anak sulung. Tapi dua-duanya dimanja dan diprotect (kadang-kadang) berlebihan.
Dua hari yang lalu, bbm kami berisi percakapan seperti di bawah :
“Noe, minggu sore ke rumah gue ya. Ada acara.” Ucapnya di layar BB. Noe itu nama panggilan saya yang dia sebarluaskan ke seantero Serang. Jadi semua teman kecil, SD, SMP, dan SMA memanggil saya dengan panggilan Noe (baca : Nu).
“Ciyeeeh..dilamar Agung, Nong?” balas saya.
“Ih, ko tau? Udah masuk Radar Banten :D ?” jawab dia cepat.
“ (--_--‘) “ saya ilfeel. Saya tahu dia dulu seorang produser handal di Banten TV, tapi malas deh kalo udah bawa-bawa media lokal. Sok tenar! BIKIN DROP!
“Hahahaha… santeeey dong mungkenye! Iya, gue AKHIRNYA dilamar, ceu!! Ya allooh, setelah berabad2 dijanjimanisin, digula-gulain, dimadu-maduin yaaa. Terasa juga manisnya sekarang.”
“Hahaha. Alhamdulillah ya Nong! Happy for you. Memang sudah saatnya lo nikah. Ingat kan kata gue, sekering2nya Afrika, pasti akan diberi hujan juga suatu saat. Setandus2nya sahara, pasti ada oase-mata air, di tengah sana. It’s about the time, isn’t it! Sip, ntar gue dateng sama nyokap yak. Ga usah bawa apa-apa kan gue ya :p“ kata saya.
Dan resmilah dia dilamar lelaki pujaan hatinya ini. Setelah kira-kira 8 tahun hidup mereka dibayang2i lagu BBB. Putus-nyambung-putus-nyambung. Sekarang udah diiket deh. Biar ga putus-putus lagi!
Sebenernya saya ga mau cerita tentang dia sih. Aga ga penting juga ya cerita orang dilamar di blog eike. (Sorry Nong, bukan berarti gue ga sayang lo ya!). Saya mau cerita apa yang saya kerjakan tadi pagi bersama si Jenong ini. Aga aneh kan soalnya nanti saya pajang foto-foto deze tanpa menceritakan sedikit sejarah kehidupan dia. Tsaadaaap!
Tadi pagi saya dan Jenong pergi ke Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Mumpung lagi semanget-semangetnya kemarin abis dilamar, jadi mubadzir kalo ga dimanfaatin tenaganya. Lumayan, supir gratis. Hehe.
Niatan untuk pergi ke museum itu sebenernya udah dari minggu kemarin. Tapi baru kesampean tadi. Saya tiba-tiba kepikiran untuk melihat (lagi) gimana bentuk museum itu. Museum yang menyimpan sejarah kejayaan Banten.
Saya berangkat dengan semangat menggelora dan berharap akan menemukan banyak dokumen dan barang-barang penting peninggalan sejarah dari abad 16an. Sekalian, siapa tau kalau saya beruntung ide untuk menulis proposal pengajuan beasiswa tentang sejarah dan kearsipan Belanda-Indonesia abad 16-17 bisa dateng tiba-tiba.
Berbekal notebook lumba2 kecil saya dan kamera, berangkatlah kami ke sana. Perjalanan tidak begitu mulus. Meskipun kami lahir dan besar di bumi Serang, bukan berarti kami tau banyak tempat. Saya bisa jamin, apalagi sekarang anak-anak muda di Serang dan sekitarnya sudah jarang mau tahu (lebih) banyak soal tempat (ber)sejarah. Yang dituju ya Mall dan pusat perbelanjaan. Untuk mengunjungi tempat bersejarah semacam Makam dan Masjid Sultan Ageng Tirtayasa Banten yang dulu sangat tersohor itu, rasanya pasti berat sekali.
Saya saja, baru menjejakkan kaki di mesjid dan mercusuar itu ketika umur saya sekitar belasan. Itu pun karena ada acara dari sekolah, bukan karena keinginan saya sendiri ingin tahu tempat bersejarah di Banten. Terakhir kali saya datang ke sana dan masuk museumnya mungkin waktu umur saya 16an. Saya lupa persisnya. Dan seingat saya, museum itu besar dan bagus.
Kami sempat nyasar dan berakhir di sebuah tempat yang ramai. Seperti pasar. Dan di ujungnya ternyata ada pelabuhan. Ternyata kami kesasar sampe ke Karangantu. Itu artinya tujuan kami, museum Banten sudah terlewat a.k.a kebablasan.
Banting setir, putar balik, Noooong.
Setelah bertanya pada salah satu warga dan mendapatkan gambaran arah yang benar menuju museum, kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya sampai juga!
Saya tertegun melihat bangunan “kecil” yang ada di depan saya. Ini museumnya? Tanya saya dalam hati. Saya benar-benar tidak ingat bentuk dan rupa bangunan museum sejak terakhir kali saya datang berkunjung. Kok dulu perasaan besar dan megah sekali ya bangunannya. Kembali saya membatin.
 |
"sederhana" sekali ya.. Down to earth, you know!
|
Ternyata museum itu tutup. Belum sempet mengeluarkan mimik kecewa si Bapak penjaga museum berkata bahwa kami bisa tetap masuk, karena kebetulan ada rombongan kecil -sekitar 5-6 orang- dari universitas (entah unviersitas apa) yang juga datang berkunjung hari itu. Ah, niat baik memang selalu dimuluskan jalannya.
Kami tidak membaur bersama “anak-anak” mahasiswa itu karena saya memang ingin mengeksplore sendiri isi museum itu. Di dalam museum, sudah ada satu orang bapak yang bertugas seperti guide, yang bertugas menjelaskan detail isi museum. Saya mendengarkan sambil asik melihat-lihat sendiri barang-barang yang ada di dalam museum. Si Jenong yang kehadirannya sebagai penggembira dan teman pengantar tentu saja tidak begitu tertarik dengan isi museum. Dia malah sibuk dan lebih excited jika saya memintanya berpose di samping sebuah benda/lukisan. (-_-‘) JENONG!!
 |
selamat datang di Museum Banten
|
Saya yang tadinya dipenuhi rasa semangat dan excited akan menemukan banyak hal yang bisa saya gali lebih dalam dan bisa jadi inspirasi untuk menulis proposal itu, lemas dan kecewa menemukan apa yang saya lihat. Sedih mungkin lebih tepatnya. Duh, bukankah Banten dulu sangat berjaya? Mana sisa-sisa kejayaan itu sekarang? Bahkan mereka tidak bisa menyampaikannya dalam bentuk tulisan, benda, ataupun gambar. Ah, menyedihkan.
Satu-satunya harapan yang bisa saya andalkan sekarang adalah si bapak itu. Ya, bapak yang dari tadi tidak berhenti memberikan penjelasan detail dan menjawab pertanyaan2 dari si mahasiswa yang sibuk mencatat ini dan itu.
Sebenernya saya aga-aga sungkan kalau tiba-tiba harus “masuk” ke dalam rombongan dan menanyakan beberapa pertanyaan. Jadi saya menunggu saat yang tepat. Ketika para mahasiswa kelelahan mencatat dan break sebentar untuk foto-foto gaya ABG 3 jari dan mulut monyong di depan benda2 museum, saya menyabotase si bapak ini dan menanyakan beberapa pertanyaan soal mesin uang cetak dan perekonomian Banten pada masa VOC baru menginjakkan kaki di Pelabuhan Karangantu.
Sedikit terobati rasa kecewa saya dengan penjelasan dan pengetahuan sejarah yang saya pikir sangat baik sekali dari si bapak. Saya memuas2kan diri bertanya detail beberapa hal yang menarik perhatian saya di museum itu. Sampai-sampai ketika para mahasiswa itu kembali ke si bapak dan mendengarkan penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan saya, mereka lalu memandang saya dengan tatapan “eh, anak mana lo?” Hehehe. Maaf ya Dek ngambil lahan penelitian.
Abis mengorek-ngorek tentang sejarah kejayaan Banten masa kesultanan Tirtayasa, saya lalu “melepaskan” si bapak ke para mahasiswa itu lagi. Kemudian saya sibuk mengambil beberapa gambar di dalam ruangan yang berisi mesin cetak uang kertas, dengan si Jenong sebagai modelnya tentu saja.
Tidak terlalu lama kami menghabiskan di dalam museum karena memang sudah tidak ada yang bisa dilihat dan diexplore lagi! Kami pun duduk-duduk sebentar di luar sambil melihat sekeliling dan mengobrol ringan tentang Banten. Tentu saja disela-sela obrolan kami, terhembus napas panjang yang tak terhitung, yang bermakna kurang lebih “Haduh.. Iya ya… Haduh.. Sayang banget.. Haduh.. Iya.”
Sesudah pamit ke si Bapak, kami berjalan ke luar halaman museum. Karena kami belum mau pulang, si Jenong menawarkan untuk pergi ke sebuah tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Dia mengajak saya pergi ke bekas reruntuhan benteng/kerajaan Banten. Saya (lagi-lagi) merasa excited dan melonjak kegirangan, “yuk, yuk, yuk, nong!”.
Sampai di sana, kami berhenti dulu di warung kecil yang menjual minuman dan makanan ringan. Sambil mengorek2 informasi tentang bagaimana kami bisa masuk ke benteng itu. Si Adek kecil yang menjaga warung itu berkata, kami bisa masuk lewat gerbang utama di bagian paling depan benteng itu. Oh iya, nama benteng ini Benteng Surosowan.Belum cukup pengetahuan saya cerita tentang Surosowan ini, jadi kalau masih pengen tau lebih banyak silahkan baca di sini aja. Lumayan lengkap infonya.
Begitu berhasil memasuki tempat ini, saya merasa ada di suatu tempat tempo dulu. Rasanya aga-aga mistis gimana gitu. Anginnya besar, semilir menerpa wajah kami yang berlari-lari kecil menuju beberapa tempat untuk sekedar melihat lebih dekat, dan tentu saja, berfoto! Kami menemukan sebuah kolam di tengah lapangan hijau ini. Sepertinya dulu kolam ini dijadikan tempat mandi atau spa putri-putri kerajaan Banten dulu.
 |
| Gue ajakin si Jenong masuk, liat di dalem ada apa, dia ga mau. Payah! | | |
|
 |
waktu foto ini diambil, Si Jenong teriak2 takut gw kalap liat air dan mau nyemplung saking panasnya udara siang itu.
|
Akhirnya petualangan kami hari itu diakhiri dengan senyum kering kepanasan. Dan suara alarm dari perut kami yang teriak-teriak minta diisi pancake (teteup ya gue!).
Kami pun segera berjalan keluar area benteng ini dan mengucapkan terima kasih kepada tanah Banten yang mengijinkan kami datang berkunjung, berpoto dan ketawa-ketiwi mengomentari apa saja yang kami temui.
Sebenarnya masih banyak sekali foto yang ingin saya share. Tapi saya sudah keburu kesal dengan jaringan internet yang seperti siput sekarat jalannya. Luaaamma!
Besok-besok deh kalau saya lagi ada di tempat dengan wifi yang ok.
Selamat malam temans.