31.3.11

Im (still) a dreamer

 
Kemarin,
kemarinnya lagi,
dan kemarin lebih lampau
lalu hari ini saya sedang diberi pelajaran.
Pelajaran penting tentang kehidupan.

Saya belajar betapa pentingnya jujur dan terbuka pada diri sendiri. Pada orang lain.
Saya belajar untuk menghormati orang lain dengan kejujuran. Saya belajar menghormati diri sendiri  juga dengan kejujuran. saya belajar menghormati saya, dan mereka.

Saya belajar betapa kesalahan dan kebodohan yang muncul dengan tidak sopan, memporakporandakan perasaan, membolak-balikkan rasional, adalah pelajaran sangat mahal.

Saya tidak suka berada di lingkungan yang memberikan saya aura negatif. Apa pun itu. Di pekerjaan, di pertemanan, di percintaan. Di kehidupan.

Saya, kadang-kadang adalah seorang yang pesismis, skeptis dan negatif. Tapi saya juga adalah seorang pemimpi. Saya bermimpi saya bisa menjadi seorang yang optimis, aktif, dan positif.

Ada banyak alasan dibalik cerita kegagalan hidup saya. Orang-orang terdekat saya tau itu. Justru  terkadang saya yang tidak menyadarinya. Makanya, ga jarang saya harus ditampar dengan nasihat, omongan dan dukungan dari mereka, orang-orang yang sayang saya.

Belakangan ini, saya babak belur. Ditampar sana sini, dipukul depan belakang. Keras. Keras sekali.
Tentu saja sakit. Saking sakitnya, saya hampir mati rasa.


Hal yang paling saya benci dari diri sendiri adalah selalu mengulang kesalahan yang sama, dan tidak belajar dari kesalahan sebelumnya. Bagaimana bisa? sedangkan saya sangat suka belajar. Sangat menikmati setiap pelajaran yang unviverse berikan.

Dulu, saya naif sekali. Saya merasa, ketidakjujuran atas nama kebaikan adalah jalan terbaik untuk  tidak menimbulkan masalah. Dan gawatnya, selama ini saya hidup di antara orang-orang yang menerima itu. Saya terbiasa dengan penerimaan mereka yang membenarkan kesalahan saya. Tidak jujur dan terbuka.

‘cause the truth is hurt, and the lies is worse -- salah satu penggalan lagunya James Morrison  menjadi background ketika saya menulis ini.

Sederhana dan tepat sekali.

Sekarang, saya sadar saya harus jadi orang yang realistis. Saya menyadari ada yang tidak beres dalam hidup saya. Tapi saya selalu tidak bisa menemukan apa itu. Saya terlalu naif dan mungkin, bodoh.
Jangan. Tolong jangan mengasihani saya. Saya tidak perlu simpati dari siapa-siapa atas pernyataan saya di atas. Saya, dengan sadar menyatakan itu kepada diri sendiri.  Saya menyadari bahwa saya tidak (atau belum) menjadi orang yang jujur. Jujur pada diri sendiri, dan kepada orang lain.

"Tapi saya mengatakan hal-hal baik supaya tidak menyakitkan hati orang itu" batin saya membela diri.
Saya tertawa sinis.
Tau apa saya tentang akan atau tidaknya saya menyakiti seseorang dengan tidak menyatakan hal yang sebenarnya.
Jahat.
Begitu kira-kira makian saya pada diri ini. Bagaimana saya bisa begitu jahat pada diri sendiri dan orang lain?
Sudah tidak ada airmata untuk mengasihani dan menangisi kesalah dan kebodohan saya. Kering.
Dan rasa bersalah saya semakin menjadi-jadi ketika saya melihat dengan mata kepala sendiri akibat dari apa yang saya lakukan.
Jahat.


Sempat saya berpikir dan membatin, ada apa dengan saya? Kenapa saya seperti ini? Apakah ini saya yang sebenarnya ataukah ada sesuatu yang mengubah saya menjadi seperti ini?

Seharian ini, saya terus-terusan menanyakan pertanyaan itu dan mencoba mencari jawabannya.  Jangan ditanya bagaimana perasaan saya.
Tak berbentuk.  Takut.  Marah.  Benci.  Tersesat.  Tidak percaya pada diri sendiri.

Salah satu usaha saya mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya adalah melihat kembali mimpi-mimpi yang saya simpan rapih di dalam hati, jiwa, dan kepala.  Tertatih saya mengais mimpi-mimpi saya yang tercecer. Lalu saya menyadari, saya melupakan sesuatu untuk menjadikan mimpi-mimpi saya kenyataan : Mewujudkan sebuah kehidupan penuh makna dengan kejujuran.

Satu sisi diri saya bersikeras menganggap saya adalah orang yang sangat terbuka. Saya merasa saya adalah orang yang cukup bisa mengekspresikan diri dengan banyak cara. Berbicara dan menulis.
Oh, betapa sombong dan terlalu percaya dirinya saya.
Saya dibuat mati langkah dan dipukul keras sekali oleh anggapan saya yang ternyata salah.  Saya sama sekali bukan orang yang terbuka. Memang benar, saya suka berbicara, tapi saya tidak pernah membagi apa yang ada di hati dan kepala saya kepada orang lain dengan jujur.
Saya ternyata orang yang sangat lemah. Dan penakut. Saya ternyata tidak cukup kuat dan berani untuk menjadi orang yang terbuka dan jujur mengungkapkan perasaan dan pikiran.
Bagaimana saya bisa hidup dengan kepribadian seperti itu selama ini???
Lagi, lagi, saya menatap marah dan kecewa pada bayangan saya di kaca rias di depan saya.
Keterlaluan. Kata saya pada diri sendiri.
Menyadari betapa saya telah menyakiti orang-orang yang menjadi korban ketidakjujuran saya. Mereka yang saya buai kata-kata manis demi menjaga perasaan palsu. Saya merasa diri ini sungguh jahat dan kejam.

Ya, saya marah. Saya sangat marah pada diri sendiri. Saya kecewa pada diri saya karena saya harus  menyakiti perasaan orang terlebih dahulu untuk menyadari kesalahan besar yang selama ini saya lakukan. Terus menerus.


Saya merasa malu. Saya merasa bersalah. Saya merasa tidak pantas untuk menatap orang yang dengan kerasnya menampar saya dengan pelajaran hidup ini.
Pantas saja jika saya sekarang tidak dipercaya. Saya patut menerima itu.
Oh, percaya lah. Rasanya seperti di neraka. Hanya saja, neraka yang saya tempati saat ini bukan neraka yang membakar saya, tetapi neraka yang membekukan saya dengan dinginnya sorot mata dan anggapan itu. Bahwa saya bukan orang yang bisa dipercaya.

Sekali lagi, saya menulis ini bukan untuk dikasihani.  
Saya tidak sudi.
Saya melakukan kesalahan dan saya belajar untuk memperbaikinya. Tidak akan mudah, tapi saya berjanji pada diri seniri, saya ingin mewujudkan mimpi-mimpi saya. Dan untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya, saya harus menjadi orang yang jujur dan terbuka pada diri sendiri dan orang lain.

Apa yang saya pelajari dari ini semua adalah betapa pentingnya menjadi orang yang jujur dan terbuka pada DIRI SENDIRI dan orang lain. Khususnya pada mereka yang sudah banyak berkorban dan menyayangi saya dengan tulus.

Selain untuk diri sendiri, saya ingin membagi pelajaran hidup ini pada kalian, pada orang-orang yang saya sayang. Tolong, belajarlah dari pelajaran penting yang saya dapat ini. Jangan melakukan kesalahan yang sama seperti saya. Jangan mencontoh dan meniru apa yang sudah saya lakukan.  Saya bukan anak kecil lagi. Dan saya tidak mau hidup dalam dunia fantasi yang selalu membuai saya dengan perhatian, kebohongan dan ketidakjujuran. Saya ingin hidup seperti orang normal. Saya ingin menjadi orang yang jujur, terbuka, bertanggung jawab dengan apa yang saya lakukan dan ucapkan.

Saya sudah terlalu jauh tersesat dan menyakiti perasaan orang. Saya lelah. Saya ingin menemukan jalan pulang. Saya ingin kembali ke jalur itu. Jalur pemimpi.  Saya ingin berjalan di jalur yang orang-orang hebat lalui. Jalur yang menjadikan diri dewasa, matang, dan menghargai setiap detik kehidupan di dunia ini. Jalur para pecinta yang mencintai dengan tulus dan bukannya menyakiti. Jalur yang dilewati orang-orang bijaksana. Jalur para pemimpi yang baik.

Saat ini, saya bahkan tidak punya kepercayaan diri pada diri sendiri. Terlalu menyakitkan melihat  diri ini menyakiti orang lain.  Tapi saya percaya. Saya percaya saya bisa belajar dan menjadi orang yang lebih baik. Dan saya masih yakin bahwa saya adalah seorang pemimpi sejati. Pemimpi yang tidak suka tertidur. Pemimpi yang selalu terjaga dan bersiap-siap untuk meniti langkah demi langkah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Pemimpi yang tidak mau membiarkan mimpi-mimpinya terkubur dalam tidur. 



Saya ingin bangun dan berjalan lalu berlari kemudian terbang. Mewujudkan mimpi-mimpi saya. Bersama orang yang saya sudah pilih. Bersama dengan mereka yang selalu membuka tangan dengan lapang dan lebar, untuk menampar dan memeluk saya. Yang mengingatkan dan kemudian memaafkan saya, bukan karena merasa kasihan pada saya, tapi memaafkan saya karena saya menyadari kesalahan saya dan ingin mengubah dan belajar dari kesalahan saya.



Belajar, Anda. Belajar!




-Anda-

16.3.11

Bali itu bukan cuma kuta loh

Jadi, kami memutuskan untuk melakukan perjalanan mendadak yang dilakukan minggu kemarin. Perjalanan yang sederhana tanpa perhitungan biaya dan embel-embelnya. 

Bermodalkan duit ga lebih dari 50ribu, peta yang diambil (dirobek, lebih tepatnya) dari brosur hotel dan motor dengan bensin full tank, kami siap menjelajahi Bali timur.

Kami penasaran banget sama daerah Amed dan sekitarnya. Kabarnya tempat itu terkenal banget di seluruh dunia dengan kecantikan bawah lautnya. Diving dan snorkeling. 

Saat kami berangkat, cuaca di Sanur sudah mendung. Kami sudah bersiap-siap kalau nanti di jalan hujan turun, kami akan tetap maju terus. Dan benar saja, di jalan menuju Padang Bai, hujan turun. Kami tidak berhenti. Trus saja jalan ke depan.

Kira-kira 45 menit perjalanan, kami berhenti, em.. terhenti lebih tepatnya. Oleh aroma ikan bakar yang sedang dipanggang di pinggir jalan. Kami harus memutar dan kembali ke tempat itu untuk mencoba. Dan ya ampuuuun.. ikan bakar yang dibakar dengan tusuk sate itu rasanya surga!! Enak banget! Dan tebak harganya berapa? 1000 aja per tusuk, darla. Murah gila! Kami kalap. Langsung pesen 10 tusuk. Ya, kami memang babi. Masih kurang, kami pesan 5 lagi, yang ini jenisnya berbeda. Ikan yang dibakar ini rupanya dihancurkan dulu lalu dibentuk memilit di kayu sate lalu dibakar. Enaaaak. Hehe, masih lapar juga rupanya kami. Jadi kami pesen tiga lagi. Nyoba yang baru. Kalo yang ini bentuknya semacam otak-otak. Memang otak-otak kalo di Jakarta namanya, tapi mereka bilang itu pepesan ikan. Ya apalah namanya. Kami ga perduli. Yang penting rasanya enak. Hehehe babi!



Setelah perut merasa sedikit bahagia, kami lanjut ke tempat berikutnya. Mm.. sebenernya kami ga punya tujuan sih. Jadi ga bisa dibilang kami mau ke mana tepatnya. Ikuti peta dan liat apa yang kami temui aja.
Dan memang benar, kami menemui beberapa tempat yang belum pernah saya temui di Bali. Sangat berbeda dengan apa yang biasa kita liat di selatan Bali. Di daerah ini, semuanya lebih terasa Bali dengan kehijauan dan keperawanannya. Cantik.
Silahkan menikmati foto-fotonya.




















Akhirnya kami berhasil menyentuh tanah Amed. Basah kuyup karena sepanjang perjalanan hujan besar. Tidak kecewa atau menyesal sama sekali. Well, mungkin sedikit. Karena ternyata Amed jauh dari apa yang kami bayangkan. Ya, sedikit kecewa dengan Amed tapi tidak dengan perjalanan menujunya. Perjalanan yang ga akan saya lupain. 3 jam yang penuh decak kagum. Gunung, lautan, pesisir pantai, danau. Beautiful Bali.
Kami pun pulang dengan hati senang. Di perjalanan pulang, kami tergoda untuk mampir ke Padang Bai. Lagipula saya memang suka sekali tempat itu. Kami bahkan belum mencelupkan diri ke pantai. Sayang, perjalanan sejauh ini ga nyelup sedikitpun. Jadi kami menyempatkan diri ke pantai Padang Bai.
Saya yang penasaran sekali dengan pantai Blue Lagoon yang terkenal itu, memaksa sang bokin buat nyari tempat itu. Awalnya dia terlihat ya-gitu-deh dan males-malesan buat nemuin tempat itu. Mungkin karena dia belum pernah denger tentang tempat itu, atau mungkin karena dia cape. Hehe saya kekeuh merengek minta untuk mencoba mencari di mana Blue Lagoon. 

Yes, berhasil. Setelah bertanya kepada penduduk kami mengikuti arah mencari lokasi pantai itu.
Whaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah.. ketemu juga. Dan ternyata, CANTIIIIIK..GORGOEUS… INDAAAH..
Kalap liat birunya laut di depan mata, saya langsung melucuti baju dan nyelup. Bluuuurr.. Ah, segar. Airnya bening, ombaknya ga terlalu besar, bersih, dan ga banyak orang. Tempat yang sempurna sebagai penutup perjalanan kali ini.


Pulang dengan perasaan bahagia dan puas, akhirnya kami kembali dengan senyum di wajah sepanjang jalan. Oh iya, hehehe saking jatuh cintanya sama sate ikan yang kami makan tadi, dengan semangat 45 kami datang lagi ke tempat itu untuk membeli semua sate ikan yang ada dan tersisa. Hahahaha.. 30 tusuk sate pun sudah di tangan. Kalap makan di jalan, di lampu merah, dan begitu sampe di rumah. Hahaha.. mabok sate ikan.


Hari itu saya tersenyum bersama senja Bali.





15.3.11

Akhirnya mereka datang juga

Akhirnya mereka datang juga..

Setelah berbulan-bulan tinggal di Pulau Dewata ini, akhirnya saya mendapat kabar bahwa teman-teman tercinta akan dateng berkunjung sekalian berlibur.
Awalnya saya mendapat kabar bahwa akan ada 2 orang teman baik saya yang akan datang akhir minggu di akhir bulan Februari ini.
Shanti dan Oneng.
Entah gimana ceritanya, jumlah penjenguk bertambah drastis dari 2 ke 6.
Iya.
Setengah lusin anak-anak Belanda. Agak siyok sih pas saya tau. Ga nyangka kalo ternyata akan segambreng dot com. Senengnya bukan main denger beberapa teman ikut berkunjung.
Sebenarnya tujuan mereka ke Bali bukan semata-mata untuk mengunjungi saya sih.. Hehe, GR deh. Mereka memang sudah jenuh dan butuh liburan dari kerjaan yang bikin stres di Ibukota tercinta.
Seperti yang sudah saya bilang, awalnya cuma Shanti dan Oneng yang akan datang. Lalu suatu hari, iseng saya mengajak Iboy untuk bergabung.
“Ayo dong, Boy.. Kapan lagi ke Bali sama mereka dan bisa ketemu gw di sini”
“Mmm.. iya deh, gw ikut. Eh tapi gw belum pesen tiket.” Jawab Iboy.
Mendengar dia sudah berkata iya saja, bikin saya kegirangan bukan main, saat dia bilang iya, langsung saya tinggalin kerjaan (waktu itu saya masih belum werkloos) dan browsing tiket murah buat Iboy, begitu dapet, langsung saya booking. Hehe

Sumringah, saya langsung membayangkan liburan yang super duper menyenangkan dan rame bersama tiga orang sahabat saya. Mantaf.
e..e..do do e.. beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar dari Shanti kalo ada beberapa teman yang akan ikut. Dan ketika dia menyebutkan nama-namanya, Saya tambah kalap kesenangan. Macam vokalisnya Nidji : Girang. (eee.. itu Giring ya?)

Jadi.. ini lah para wanita-wanita sosialnista yang bergabung dalam liburan ke Bali kali ini:
Shanti
Sekar
Oneng
Meida
Iboy
Anggie

Lagi-lagi. Kapan sih hidup saya ga flat dan lurus-lurus aja? Kayaknya saya memang sudah ditakdirkan menjalani segala sesuatu dengan jalan naik turun belok kiri kanan ya? *Duuuuh hampura, Gusti*
Kalau kalian pikir mereka akan datang bersamaan dengan senyum lebar dan tanpa embel2 gembolan segede Ogoh-ogoh, kalian salah.
Dari enam orang itu, penerbangan hanya ada dua yang sama. Selainnya tidak. NGACAK. Mau mati ga sih lo jemputin mereka satu-satu???
Kloter pertama : Shanto maranto.
Sudah saya wanti-wanti ke Shanti, sebagai orang yang akan dateng pertama di Bali, untuk tidak membawa barang/koper gede karena saya akan menjemput dia pakai motor. Dia menyanggupi. Cuma bawa koper kecil, katanya. Cukup ko kalau ditaro di motor. Saya lega. Saya pikir ga akan ada hambatan untuk dateng menjemput si centil ini.
Yak.. 10 menit menejelang perjalanan saya ke airport, tiba-tiba angin dan hujan badai datang. Matilah saya.
Ga ujan badai aja, saya bawa motor suka aga-aga slordig. Kalo kata pacar saya, jiwa mengontrol diri saya kala mengendarai motor masih labil. Lah ini, anginnya udah kaya puting beliung. Saya memaksa untuk tetap menjemput Shanti, meski sang pacar tercinta melarang dan menyarankan untuk menghubungi Shanti agar dia naik taxi saja menuju tempat saya. Bersikeras untuk tetap berangkat ke airport karena sudah berjanji, akhirnya sang pacar dengan berat hati melepas saya dengan pelukan hangat dan ciuman mesra di kening (PENTING BANGET GA SIH, INFORMASI INI GW TULIS DEEEH?!?!!. Hehehe, maap ya teman-teman, Maklum lagi mabuk cinta).
Maka dengan angin kencang dan hujan badai, ku terjang segala rintangan untuk datang tepat waktu jam 9 teng di airport menjemput teman tercinta.
Drama oh drama. Setelah perjuangan saya menerjang alam, saya datang tepat waktu dengan penampakan seperti ayam sayur. Basah kuyup tak berbentuk. Jangan sedih, karena setelah mendengar berita yang saya dapat dari orang airport, saya semakin merasa hidup saya bagai rollercoaster.
Pesawat delay selama 2 jam. PLAAAK. Mau mati dengernya. Mati gaya lah saya jalan maju mundur, duduk berdiri, ketawa cemberut, ngantuk melek. Ah, nano nano lah pokonya mah.
Ga cuma khawatir karena takut pesawatnya Shanti kenapa-kenapa, saya juga khawatir karena pacar saya di Sanur sana sedang menunggu saya dan teman saya. Hape mati dan langit masih hujan plus ga ada api buat bikin kode asap di langit (Iya dong, saya dan pacar saya suka berkomunikasi – mengirimkan pesan cinta melalui asap di langit. GA PERCAYA??!? Coba datang dan lihat sendiri. Hi.Hi.Hi)
Jadilah saya pasrah ga bisa ngapa2in selain mainin kamera. Ceprat cepret apa yang ada di depan saya. KFC. Restoran. Parkiran. Orang-orang yang nunggu di depan pintu. Dll.

Jam 12 kurang 10 (kira-kira) akhirnya keluarlah beberapa orang dari pintu kedatangan. Dan di sela-sela orang, menyempillah sosok itu. Shanti Hapsari. Bergegas saya berlari, mendekati dia dan mengambil foto mukanya. Cepreeet.


Setelah berjingkrak-jingkrang, heboh dan berhaha-hihi ria. Saya langsung meminta Shanti mengenakan jaket mantra guna penahan hujan dan badai. Dan inilah penampilannya :


Sampe Sanur jam 1an. Beres2, mandi, rumpi-rumpi, cerita ngalor ngidul bla bla bla dan tertedor. zzzzz…

Besok paginya, kami agak telat jemput kedatangan kloter kedua : Sekar Jo. Hehehe, alesannya ga usah saya beberin di sini ya. Aga malu2in yang nyatok rambut soalnya.
Sekar pun berhasil diangkut. Ini snapsot dia waktu ngeliat kami datang jemput dia. Karjooo say cheeeesee :

Tujuan pertama, check in hotel di daerah Seminyak. Kami semua akan menginap di Jayakarta Hotel – Seminyak. Hotelnya oks banget cyiiin. Mantaf lah pokonya. Terima kasih kepada ibu Sekar Jo yang sudah mengusahakan tempat ini.
Trus, trus, trus.. lanjut ya. Kami ga bisa ke mana-mana karena sore nanti, sekitar jam 5an, kami harus ke bandara lagi jemput kloter ke tiga : Meidunk dan Oneng.
Membunuh waktu kami jalan2 menyusuri sepanjang jalan seminyak dan sarapan di warung pinggir jalan.
Makanannya uenaaak dan paling penting, mureh. Setelah kenyang, kami balik ke hotel buat siap-siap ke Potato Head buat membunuh waktu nunggu jam 5. Teteup ya, di hotel ribeut dandan, foto2.

Yes, Potato Head baby. Jatuh cinta dengan pemandangan, tempatnya yang super gede dan cozy, dan pelayanannya yang super nice dan cepat. Harga emang ga bisa bohong. Maar goed, apa yang didapet sepadan banget ko dengan apa yang dikeluarkan.


Kalap menikmati suasana di Potato Head, kami aga males-malesan dan dengan berat hati jalan ke airport (hehehe, maaf mei, neng). Sampe di airport kami memesan makanan sambil nunggu mereka dateng. Padahal di Potato Head udah makan juga. Dasar babi.
Beberapa menit kemudian, datanglah mereka.

Ga lama-lama kami langsung lanjut ke tujuan selanjutnya. Ngejar sunset di Rock Bar-Ayana Resort. Perjalanan dari airport ke Ayana ga terlalu lama. Suasana di mobil semakin ga terkontrol. Berisik minta ampun. Kasian Pak Ngurah, supir kami saat itu. Sepertinya dia sakit kepala dengar kita cekakak cekikik, ketawa ketiwi dan bertingkah riang gembira (baca : aneh).
Sampe di Ayana Resort kami disambut dengan pemandangan yang BO-SUMPAH-DEH- cantik banget. Kami datang pas sekali ketika matahari malu-malu turun ke samudra. Semburat jingga bercampur orange di langit jimbaran mempesona mata dan memaksa mulut untuk terbuka dan berkata “Oh My God”. Subhanallah.. cantik.

Sepertinya ga berenti-berenti kami dibuat kagum sama tempat ini. Dari awal kami menjejakkan kaki di pintu masuk, hotel yang super gorgeous, view yang spectacular, dan berlanjut kami dikejutkan dengan fasilitas yang membawa kami menuju Rock Bar.
Mari saya gambarkan sedikit/banyak tentang Rock Bar.
Jadi Rock Bar ini adalah tempat baru yang konon sempat dikabarkan akan menggeser kemasyuran Kudeta dan Karma Kandara. Sangat berbeda dan menarik perhatian sekali. Lokasi barnya aja ngapung di atas karang yang menjorok ke laut. Bisa dibayangin pemandangan yang kalian bisa liat dari ujung bar. Oh, unbelievable.
Nah, untuk menuju ke bawah karang itu, kami harus naik lift yang keren banget. Biasanya lift kan naik-turun horizontal. Kalo lift yang ini, dia kaya perosotan. Sliding ke bawah dari atas. Aga-aga serem sih sebenernya, tapi sangat aman ko. Profesional sekali tempat ini mempersiapkan segala sesuatunya dengan detail.
Jangan pikir kalian bisa langsung duduk2 dan nikmati pemandangan yang super luar biasa ya. Kalian harus rela antre untuk booking tempat duduk. Syukur2 kalo dapet tempat yang pewe dan pemandangan yang langsung menuju pantai lepas. Lucky bitches we are. Kami dapet tempat pas banget di pojok bar. Yang kalo liat ke bawah, mau pingsan karena langsung karang dan lautan. Anginnya. Oh. Indah.
Keindahan dan rasa senang saya ketika menikmati semua itu tiba-tiba aga terganggu dengan kenyataan bahwa saya akan mendadak miskin setelah keluar dari tempat ini. Huhuhu maharani cyooong. Mahal.
Segala sesuatu ada balesannya bukan. Apa yang ada di depan mata saya : pemandangan maha indah, dan yang ada di sekeliling saya : teman-teman tercinta, ga bisa diganti dan dibayar dengan rupiah. Saya rela dan ikhlas ga makan dua/tiga hari (lebey) demi menikmati ini bersama mereka.

Lagi, lagi, karena keasyikan dan ga mau meninggalkan tempat yang cantik ini, kami hampir lupa kalau kami harus balik ke airport (LAGI!!) buat jemput kloter terakhir : Boyke dan Enji. Baru ngeh liat jam pas matahari udah bener-bener turun dan lautan gelap. Sambil sedikit berlari, kami menuju mobil dan berangkat menuju bandara.

Taraaaaaaaaaaaaa… lengkap sudah semuanya.



Ini baru cerita pengantar. Saya bahkan belum bercerita apa-apa tentang apa yang kami lalui dan lakukan di Bali. Nanti ya. Saya seling dengan cerita lain dulu.

BTW... FOTO2 MENYUSUL.