15.3.11

Akhirnya mereka datang juga

Akhirnya mereka datang juga..

Setelah berbulan-bulan tinggal di Pulau Dewata ini, akhirnya saya mendapat kabar bahwa teman-teman tercinta akan dateng berkunjung sekalian berlibur.
Awalnya saya mendapat kabar bahwa akan ada 2 orang teman baik saya yang akan datang akhir minggu di akhir bulan Februari ini.
Shanti dan Oneng.
Entah gimana ceritanya, jumlah penjenguk bertambah drastis dari 2 ke 6.
Iya.
Setengah lusin anak-anak Belanda. Agak siyok sih pas saya tau. Ga nyangka kalo ternyata akan segambreng dot com. Senengnya bukan main denger beberapa teman ikut berkunjung.
Sebenarnya tujuan mereka ke Bali bukan semata-mata untuk mengunjungi saya sih.. Hehe, GR deh. Mereka memang sudah jenuh dan butuh liburan dari kerjaan yang bikin stres di Ibukota tercinta.
Seperti yang sudah saya bilang, awalnya cuma Shanti dan Oneng yang akan datang. Lalu suatu hari, iseng saya mengajak Iboy untuk bergabung.
“Ayo dong, Boy.. Kapan lagi ke Bali sama mereka dan bisa ketemu gw di sini”
“Mmm.. iya deh, gw ikut. Eh tapi gw belum pesen tiket.” Jawab Iboy.
Mendengar dia sudah berkata iya saja, bikin saya kegirangan bukan main, saat dia bilang iya, langsung saya tinggalin kerjaan (waktu itu saya masih belum werkloos) dan browsing tiket murah buat Iboy, begitu dapet, langsung saya booking. Hehe

Sumringah, saya langsung membayangkan liburan yang super duper menyenangkan dan rame bersama tiga orang sahabat saya. Mantaf.
e..e..do do e.. beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar dari Shanti kalo ada beberapa teman yang akan ikut. Dan ketika dia menyebutkan nama-namanya, Saya tambah kalap kesenangan. Macam vokalisnya Nidji : Girang. (eee.. itu Giring ya?)

Jadi.. ini lah para wanita-wanita sosialnista yang bergabung dalam liburan ke Bali kali ini:
Shanti
Sekar
Oneng
Meida
Iboy
Anggie

Lagi-lagi. Kapan sih hidup saya ga flat dan lurus-lurus aja? Kayaknya saya memang sudah ditakdirkan menjalani segala sesuatu dengan jalan naik turun belok kiri kanan ya? *Duuuuh hampura, Gusti*
Kalau kalian pikir mereka akan datang bersamaan dengan senyum lebar dan tanpa embel2 gembolan segede Ogoh-ogoh, kalian salah.
Dari enam orang itu, penerbangan hanya ada dua yang sama. Selainnya tidak. NGACAK. Mau mati ga sih lo jemputin mereka satu-satu???
Kloter pertama : Shanto maranto.
Sudah saya wanti-wanti ke Shanti, sebagai orang yang akan dateng pertama di Bali, untuk tidak membawa barang/koper gede karena saya akan menjemput dia pakai motor. Dia menyanggupi. Cuma bawa koper kecil, katanya. Cukup ko kalau ditaro di motor. Saya lega. Saya pikir ga akan ada hambatan untuk dateng menjemput si centil ini.
Yak.. 10 menit menejelang perjalanan saya ke airport, tiba-tiba angin dan hujan badai datang. Matilah saya.
Ga ujan badai aja, saya bawa motor suka aga-aga slordig. Kalo kata pacar saya, jiwa mengontrol diri saya kala mengendarai motor masih labil. Lah ini, anginnya udah kaya puting beliung. Saya memaksa untuk tetap menjemput Shanti, meski sang pacar tercinta melarang dan menyarankan untuk menghubungi Shanti agar dia naik taxi saja menuju tempat saya. Bersikeras untuk tetap berangkat ke airport karena sudah berjanji, akhirnya sang pacar dengan berat hati melepas saya dengan pelukan hangat dan ciuman mesra di kening (PENTING BANGET GA SIH, INFORMASI INI GW TULIS DEEEH?!?!!. Hehehe, maap ya teman-teman, Maklum lagi mabuk cinta).
Maka dengan angin kencang dan hujan badai, ku terjang segala rintangan untuk datang tepat waktu jam 9 teng di airport menjemput teman tercinta.
Drama oh drama. Setelah perjuangan saya menerjang alam, saya datang tepat waktu dengan penampakan seperti ayam sayur. Basah kuyup tak berbentuk. Jangan sedih, karena setelah mendengar berita yang saya dapat dari orang airport, saya semakin merasa hidup saya bagai rollercoaster.
Pesawat delay selama 2 jam. PLAAAK. Mau mati dengernya. Mati gaya lah saya jalan maju mundur, duduk berdiri, ketawa cemberut, ngantuk melek. Ah, nano nano lah pokonya mah.
Ga cuma khawatir karena takut pesawatnya Shanti kenapa-kenapa, saya juga khawatir karena pacar saya di Sanur sana sedang menunggu saya dan teman saya. Hape mati dan langit masih hujan plus ga ada api buat bikin kode asap di langit (Iya dong, saya dan pacar saya suka berkomunikasi – mengirimkan pesan cinta melalui asap di langit. GA PERCAYA??!? Coba datang dan lihat sendiri. Hi.Hi.Hi)
Jadilah saya pasrah ga bisa ngapa2in selain mainin kamera. Ceprat cepret apa yang ada di depan saya. KFC. Restoran. Parkiran. Orang-orang yang nunggu di depan pintu. Dll.

Jam 12 kurang 10 (kira-kira) akhirnya keluarlah beberapa orang dari pintu kedatangan. Dan di sela-sela orang, menyempillah sosok itu. Shanti Hapsari. Bergegas saya berlari, mendekati dia dan mengambil foto mukanya. Cepreeet.


Setelah berjingkrak-jingkrang, heboh dan berhaha-hihi ria. Saya langsung meminta Shanti mengenakan jaket mantra guna penahan hujan dan badai. Dan inilah penampilannya :


Sampe Sanur jam 1an. Beres2, mandi, rumpi-rumpi, cerita ngalor ngidul bla bla bla dan tertedor. zzzzz…

Besok paginya, kami agak telat jemput kedatangan kloter kedua : Sekar Jo. Hehehe, alesannya ga usah saya beberin di sini ya. Aga malu2in yang nyatok rambut soalnya.
Sekar pun berhasil diangkut. Ini snapsot dia waktu ngeliat kami datang jemput dia. Karjooo say cheeeesee :

Tujuan pertama, check in hotel di daerah Seminyak. Kami semua akan menginap di Jayakarta Hotel – Seminyak. Hotelnya oks banget cyiiin. Mantaf lah pokonya. Terima kasih kepada ibu Sekar Jo yang sudah mengusahakan tempat ini.
Trus, trus, trus.. lanjut ya. Kami ga bisa ke mana-mana karena sore nanti, sekitar jam 5an, kami harus ke bandara lagi jemput kloter ke tiga : Meidunk dan Oneng.
Membunuh waktu kami jalan2 menyusuri sepanjang jalan seminyak dan sarapan di warung pinggir jalan.
Makanannya uenaaak dan paling penting, mureh. Setelah kenyang, kami balik ke hotel buat siap-siap ke Potato Head buat membunuh waktu nunggu jam 5. Teteup ya, di hotel ribeut dandan, foto2.

Yes, Potato Head baby. Jatuh cinta dengan pemandangan, tempatnya yang super gede dan cozy, dan pelayanannya yang super nice dan cepat. Harga emang ga bisa bohong. Maar goed, apa yang didapet sepadan banget ko dengan apa yang dikeluarkan.


Kalap menikmati suasana di Potato Head, kami aga males-malesan dan dengan berat hati jalan ke airport (hehehe, maaf mei, neng). Sampe di airport kami memesan makanan sambil nunggu mereka dateng. Padahal di Potato Head udah makan juga. Dasar babi.
Beberapa menit kemudian, datanglah mereka.

Ga lama-lama kami langsung lanjut ke tujuan selanjutnya. Ngejar sunset di Rock Bar-Ayana Resort. Perjalanan dari airport ke Ayana ga terlalu lama. Suasana di mobil semakin ga terkontrol. Berisik minta ampun. Kasian Pak Ngurah, supir kami saat itu. Sepertinya dia sakit kepala dengar kita cekakak cekikik, ketawa ketiwi dan bertingkah riang gembira (baca : aneh).
Sampe di Ayana Resort kami disambut dengan pemandangan yang BO-SUMPAH-DEH- cantik banget. Kami datang pas sekali ketika matahari malu-malu turun ke samudra. Semburat jingga bercampur orange di langit jimbaran mempesona mata dan memaksa mulut untuk terbuka dan berkata “Oh My God”. Subhanallah.. cantik.

Sepertinya ga berenti-berenti kami dibuat kagum sama tempat ini. Dari awal kami menjejakkan kaki di pintu masuk, hotel yang super gorgeous, view yang spectacular, dan berlanjut kami dikejutkan dengan fasilitas yang membawa kami menuju Rock Bar.
Mari saya gambarkan sedikit/banyak tentang Rock Bar.
Jadi Rock Bar ini adalah tempat baru yang konon sempat dikabarkan akan menggeser kemasyuran Kudeta dan Karma Kandara. Sangat berbeda dan menarik perhatian sekali. Lokasi barnya aja ngapung di atas karang yang menjorok ke laut. Bisa dibayangin pemandangan yang kalian bisa liat dari ujung bar. Oh, unbelievable.
Nah, untuk menuju ke bawah karang itu, kami harus naik lift yang keren banget. Biasanya lift kan naik-turun horizontal. Kalo lift yang ini, dia kaya perosotan. Sliding ke bawah dari atas. Aga-aga serem sih sebenernya, tapi sangat aman ko. Profesional sekali tempat ini mempersiapkan segala sesuatunya dengan detail.
Jangan pikir kalian bisa langsung duduk2 dan nikmati pemandangan yang super luar biasa ya. Kalian harus rela antre untuk booking tempat duduk. Syukur2 kalo dapet tempat yang pewe dan pemandangan yang langsung menuju pantai lepas. Lucky bitches we are. Kami dapet tempat pas banget di pojok bar. Yang kalo liat ke bawah, mau pingsan karena langsung karang dan lautan. Anginnya. Oh. Indah.
Keindahan dan rasa senang saya ketika menikmati semua itu tiba-tiba aga terganggu dengan kenyataan bahwa saya akan mendadak miskin setelah keluar dari tempat ini. Huhuhu maharani cyooong. Mahal.
Segala sesuatu ada balesannya bukan. Apa yang ada di depan mata saya : pemandangan maha indah, dan yang ada di sekeliling saya : teman-teman tercinta, ga bisa diganti dan dibayar dengan rupiah. Saya rela dan ikhlas ga makan dua/tiga hari (lebey) demi menikmati ini bersama mereka.

Lagi, lagi, karena keasyikan dan ga mau meninggalkan tempat yang cantik ini, kami hampir lupa kalau kami harus balik ke airport (LAGI!!) buat jemput kloter terakhir : Boyke dan Enji. Baru ngeh liat jam pas matahari udah bener-bener turun dan lautan gelap. Sambil sedikit berlari, kami menuju mobil dan berangkat menuju bandara.

Taraaaaaaaaaaaaa… lengkap sudah semuanya.



Ini baru cerita pengantar. Saya bahkan belum bercerita apa-apa tentang apa yang kami lalui dan lakukan di Bali. Nanti ya. Saya seling dengan cerita lain dulu.

BTW... FOTO2 MENYUSUL.



No comments: