Kemarin,
kemarinnya lagi,
dan kemarin lebih lampau
lalu hari ini saya sedang diberi pelajaran.
Pelajaran penting tentang kehidupan.
Saya belajar betapa pentingnya jujur dan terbuka pada diri sendiri. Pada orang lain.
Saya belajar untuk menghormati orang lain dengan kejujuran. Saya belajar menghormati diri sendiri juga dengan kejujuran. saya belajar menghormati saya, dan mereka.
Saya belajar betapa kesalahan dan kebodohan yang muncul dengan tidak sopan, memporakporandakan perasaan, membolak-balikkan rasional, adalah pelajaran sangat mahal.
Saya tidak suka berada di lingkungan yang memberikan saya aura negatif. Apa pun itu. Di pekerjaan, di pertemanan, di percintaan. Di kehidupan.
Saya, kadang-kadang adalah seorang yang pesismis, skeptis dan negatif. Tapi saya juga adalah seorang pemimpi. Saya bermimpi saya bisa menjadi seorang yang optimis, aktif, dan positif.
Ada banyak alasan dibalik cerita kegagalan hidup saya. Orang-orang terdekat saya tau itu. Justru terkadang saya yang tidak menyadarinya. Makanya, ga jarang saya harus ditampar dengan nasihat, omongan dan dukungan dari mereka, orang-orang yang sayang saya.
Belakangan ini, saya babak belur. Ditampar sana sini, dipukul depan belakang. Keras. Keras sekali.
Tentu saja sakit. Saking sakitnya, saya hampir mati rasa.
Hal yang paling saya benci dari diri sendiri adalah selalu mengulang kesalahan yang sama, dan tidak belajar dari kesalahan sebelumnya. Bagaimana bisa? sedangkan saya sangat suka belajar. Sangat menikmati setiap pelajaran yang unviverse berikan.
Dulu, saya naif sekali. Saya merasa, ketidakjujuran atas nama kebaikan adalah jalan terbaik untuk tidak menimbulkan masalah. Dan gawatnya, selama ini saya hidup di antara orang-orang yang menerima itu. Saya terbiasa dengan penerimaan mereka yang membenarkan kesalahan saya. Tidak jujur dan terbuka.
‘cause the truth is hurt, and the lies is worse -- salah satu penggalan lagunya James Morrison menjadi background ketika saya menulis ini.
Sederhana dan tepat sekali.
Sekarang, saya sadar saya harus jadi orang yang realistis. Saya menyadari ada yang tidak beres dalam hidup saya. Tapi saya selalu tidak bisa menemukan apa itu. Saya terlalu naif dan mungkin, bodoh.
Jangan. Tolong jangan mengasihani saya. Saya tidak perlu simpati dari siapa-siapa atas pernyataan saya di atas. Saya, dengan sadar menyatakan itu kepada diri sendiri. Saya menyadari bahwa saya tidak (atau belum) menjadi orang yang jujur. Jujur pada diri sendiri, dan kepada orang lain.
"Tapi saya mengatakan hal-hal baik supaya tidak menyakitkan hati orang itu" batin saya membela diri.
Saya tertawa sinis.
Tau apa saya tentang akan atau tidaknya saya menyakiti seseorang dengan tidak menyatakan hal yang sebenarnya.
Jahat.
Begitu kira-kira makian saya pada diri ini. Bagaimana saya bisa begitu jahat pada diri sendiri dan orang lain?
Sudah tidak ada airmata untuk mengasihani dan menangisi kesalah dan kebodohan saya. Kering.
Dan rasa bersalah saya semakin menjadi-jadi ketika saya melihat dengan mata kepala sendiri akibat dari apa yang saya lakukan.
Jahat.
Sempat saya berpikir dan membatin, ada apa dengan saya? Kenapa saya seperti ini? Apakah ini saya yang sebenarnya ataukah ada sesuatu yang mengubah saya menjadi seperti ini?
Seharian ini, saya terus-terusan menanyakan pertanyaan itu dan mencoba mencari jawabannya. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya.
Tak berbentuk. Takut. Marah. Benci. Tersesat. Tidak percaya pada diri sendiri.
Salah satu usaha saya mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya adalah melihat kembali mimpi-mimpi yang saya simpan rapih di dalam hati, jiwa, dan kepala. Tertatih saya mengais mimpi-mimpi saya yang tercecer. Lalu saya menyadari, saya melupakan sesuatu untuk menjadikan mimpi-mimpi saya kenyataan : Mewujudkan sebuah kehidupan penuh makna dengan kejujuran.
Satu sisi diri saya bersikeras menganggap saya adalah orang yang sangat terbuka. Saya merasa saya adalah orang yang cukup bisa mengekspresikan diri dengan banyak cara. Berbicara dan menulis.
Oh, betapa sombong dan terlalu percaya dirinya saya.
Saya dibuat mati langkah dan dipukul keras sekali oleh anggapan saya yang ternyata salah. Saya sama sekali bukan orang yang terbuka. Memang benar, saya suka berbicara, tapi saya tidak pernah membagi apa yang ada di hati dan kepala saya kepada orang lain dengan jujur.
Saya ternyata orang yang sangat lemah. Dan penakut. Saya ternyata tidak cukup kuat dan berani untuk menjadi orang yang terbuka dan jujur mengungkapkan perasaan dan pikiran.
Bagaimana saya bisa hidup dengan kepribadian seperti itu selama ini???
Lagi, lagi, saya menatap marah dan kecewa pada bayangan saya di kaca rias di depan saya.
Keterlaluan. Kata saya pada diri sendiri.
Menyadari betapa saya telah menyakiti orang-orang yang menjadi korban ketidakjujuran saya. Mereka yang saya buai kata-kata manis demi menjaga perasaan palsu. Saya merasa diri ini sungguh jahat dan kejam.
Ya, saya marah. Saya sangat marah pada diri sendiri. Saya kecewa pada diri saya karena saya harus menyakiti perasaan orang terlebih dahulu untuk menyadari kesalahan besar yang selama ini saya lakukan. Terus menerus.
Saya merasa malu. Saya merasa bersalah. Saya merasa tidak pantas untuk menatap orang yang dengan kerasnya menampar saya dengan pelajaran hidup ini.
Pantas saja jika saya sekarang tidak dipercaya. Saya patut menerima itu.
Oh, percaya lah. Rasanya seperti di neraka. Hanya saja, neraka yang saya tempati saat ini bukan neraka yang membakar saya, tetapi neraka yang membekukan saya dengan dinginnya sorot mata dan anggapan itu. Bahwa saya bukan orang yang bisa dipercaya.
Sekali lagi, saya menulis ini bukan untuk dikasihani.
Saya tidak sudi.
Saya melakukan kesalahan dan saya belajar untuk memperbaikinya. Tidak akan mudah, tapi saya berjanji pada diri seniri, saya ingin mewujudkan mimpi-mimpi saya. Dan untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya, saya harus menjadi orang yang jujur dan terbuka pada diri sendiri dan orang lain.
Apa yang saya pelajari dari ini semua adalah betapa pentingnya menjadi orang yang jujur dan terbuka pada DIRI SENDIRI dan orang lain. Khususnya pada mereka yang sudah banyak berkorban dan menyayangi saya dengan tulus.
Selain untuk diri sendiri, saya ingin membagi pelajaran hidup ini pada kalian, pada orang-orang yang saya sayang. Tolong, belajarlah dari pelajaran penting yang saya dapat ini. Jangan melakukan kesalahan yang sama seperti saya. Jangan mencontoh dan meniru apa yang sudah saya lakukan. Saya bukan anak kecil lagi. Dan saya tidak mau hidup dalam dunia fantasi yang selalu membuai saya dengan perhatian, kebohongan dan ketidakjujuran. Saya ingin hidup seperti orang normal. Saya ingin menjadi orang yang jujur, terbuka, bertanggung jawab dengan apa yang saya lakukan dan ucapkan.
Saya sudah terlalu jauh tersesat dan menyakiti perasaan orang. Saya lelah. Saya ingin menemukan jalan pulang. Saya ingin kembali ke jalur itu. Jalur pemimpi. Saya ingin berjalan di jalur yang orang-orang hebat lalui. Jalur yang menjadikan diri dewasa, matang, dan menghargai setiap detik kehidupan di dunia ini. Jalur para pecinta yang mencintai dengan tulus dan bukannya menyakiti. Jalur yang dilewati orang-orang bijaksana. Jalur para pemimpi yang baik.
Saat ini, saya bahkan tidak punya kepercayaan diri pada diri sendiri. Terlalu menyakitkan melihat diri ini menyakiti orang lain. Tapi saya percaya. Saya percaya saya bisa belajar dan menjadi orang yang lebih baik. Dan saya masih yakin bahwa saya adalah seorang pemimpi sejati. Pemimpi yang tidak suka tertidur. Pemimpi yang selalu terjaga dan bersiap-siap untuk meniti langkah demi langkah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Pemimpi yang tidak mau membiarkan mimpi-mimpinya terkubur dalam tidur.
Saya ingin bangun dan berjalan lalu berlari kemudian terbang. Mewujudkan mimpi-mimpi saya. Bersama orang yang saya sudah pilih. Bersama dengan mereka yang selalu membuka tangan dengan lapang dan lebar, untuk menampar dan memeluk saya. Yang mengingatkan dan kemudian memaafkan saya, bukan karena merasa kasihan pada saya, tapi memaafkan saya karena saya menyadari kesalahan saya dan ingin mengubah dan belajar dari kesalahan saya.
Belajar, Anda. Belajar!
-Anda-
No comments:
Post a Comment