28.3.15

Pindah rumah

Jadi ceritanya, karena saya berniat melanjutkan aktivitas menulis di blog ini, pacar saya dengan baik hati membuatkan account baru yang lebih fresh dan tentu saja menandakan bahwa ini awal baru dari tahapan kehidupan saya.

Tsaaah.


Buat temen-temen yang mau baca-baca dan mampir, silahkan. Rumah baru saya sekarang namanya www.andasuranda.com terinspirasi dari nama panggilan kesayangan saya sewaktu masa perkuliahan. Terima kasih teman-teman Belanda 2004. I love that nick name.

Sempat ada pembicaraan apakah isi dari tulisan-tulisan di rumah baru si Anda akan dimulai dan diteruskan dengan Bahasa Inggris? Sepertinya saya akan terus menulis dengan bahasa Indonesia saja. Tak apalah ga dibaca teman-teman yang tak berbahasa Indonesia. Toh sekarang ada google translate. Dan lagipula memang niat saya menjadikan Bahasa Indonesia mendunia. 

Tsaaaah.


Nah, saya cukupkan saja kalimat perpisahan saya di semuasayanganda.blogspot.com ini. Terima kasih blogspot. Kamu sudah menemani hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun yang naik turun. Dari senang banget, sampai sedih banget. Kamu tetep sabar walaupun sering saya cuekin. Tapi saya benar-benar berterima kasih.  
Dan untuk kalian, sampai bertemu di rumah baru saya. 



Picture from Google 




Dadah,
Anda
xxx



5.3.15

Hallo, Apa Kabar?


Seorang teman baik di kantor ini, Pak Made, namanya, terus-terusan bertanya kepada saya "Kapan menulis lagi?" 
Itu-itu saja pertanyaan yang dia lempar setiap kami bertemu di lorong hall kantor, di tempat makan, di pintu masuk/keluar.

Saya sampai malu sendiri jawabnya. 

Maka, diam-diam, saya hari ini membuka blog saya kembali. Membaca-baca posting terakhir, 2 tahun lalu dan tersenyum sendiri. Lalu malu-malu saya mulai menggerakkan jemari di keyboard dan mencoba menulis lagi.

Dari mana ya enaknya? Saya bingung sendiri. 
Mungkin dari lokasi di mana sekarang saya berada ya. Iya.

Brussel. Ibukota negara kecil di Eropa Barat bernama Belgia sekaligus sebagai headquarter dari Uni Eropa. 
Saya pindah ke Brussel dari pertengahan tahun 2013 lalu. Betapa waktu tidak pernah permisi untuk sekedar berjalan pelan-pelan. 
Saya masih berjuang untuk bisa mengerti dan memesan makanan/minuman dan membeli barang dalam bahasa Prancis. Sayangnya, bahasa Belanda saya yang malang juga hampir tidak pernah terpakai walaupun di negara ini salah satu bahasa resminya adalah bahasa Belanda, selain Prancis dan Jerman. 
Tinggal di Brussel rasanya kayak tinggal di dalam lingkaran Internasional dengan berbagai macam perbedaan latar belakang ras, suku bangsa, agama, gender, dan semua keunikan yang dunia tawarkan. Semua ada di sini. Tumplek jadi satu. Mulai dari para diplomat, para eurokrat, para imigrant, para pelajar dan mahasiswa, dan para turis. 



European Union - Foto taken from Google



Tidak pernah saya bayangkan dalam hidup saya, Brussel menjadi pilihan tempat tinggal atau bekerja. Dulu, waktu saya kecil memang saya pernah punya, sebut saja, angan-angan kalau bukan mimpi, pergi ke suatu negara kecil di Eropa, yang punya bahasa yang ga saya mengerti, yang punya budaya semacam di buku dongeng, yang punya sejarah dan bangunan dari masa para raja berkuasa. Mungkin ini jawabannya. 

                        





Brussels in Summer - Foto taken from Google
Seperti yang sudah saya bilang, pindah ke sini dari Bali yang cantik, damai, dan mempesona dalam segala hal bukan pilihan saya. Semesta yang membawa saya ke sini. Saya sih ikut aja. Walaupun sempat terbersit keraguan dan tergoda untuk menolak, toh saya putuskan untuk mencoba juga. Ga kerasa udah hampir 2 tahun sejak keragu-raguan itu mengetuk hati saya.                         


Rumah Nicole di Bali. Foto diambil dari koleksi Iin. Bikin TAMBAH kangen Bali.

Klise. Setiap kali saya pindah ke tempat baru, homesick bikin saya ga betah. Rasanya pengen pulang terus. Kangen tanah air beserta isinya. Oh betapa saya (semakin) menyadari saya cinta tanah air dengan sepenuh hati. Bulan ketiga di Brussel adalah bulan terpahit dalam perjalanan ini. Saya mulai depresi karena kangen rumah, kangen keluaga, teman dan pantai. Saya berdoa untuk dikuatkan. Tuhan, tentu saja selalu berbaik hati menjawab doa saya yang cengeng ini. 
DikirimNya seorang wanita sepantaran saya yang sekarang menjadi salah satu teman terbaik di sini. Caroline namanya, Saya dan teman-teman lain biasa panggil Caro. Mari saya ceritakan mengenai pertemuan "masa kini" saya dengan dia. Saya sebut masa kini karena apalagi kalau bukan karena jasa internet.


Suatu hari, saya sedang mencari tempat tinggal baru. Seorang teman menyarankan saya masuk dalam grup FB yang khusus mencari dan menyewakan apartemen di kawasan Brussel. Saya dengan semangat dan teliti melihat satu demi satu iklan di grup tersebut mesti tidak mengerti apa pun yang mereka tulis karena hampir semua dalam bahasa Prancis. Terima kasih google translate!
Ada satu apartemen yang menarik hati, saya klik profile si pembuat iklan dan mengirimkan dia email pendek dengan pertanyaan "Is the place still available?" 


Satu-dua hari inbox saya sepi. Ga ada jawaban dari pesan yang saya kirim. Waduh, ketat juga persaingan mencari tempat tinggal di Brussel ini, jangan-jangan tempatnya sudah diambil orang, bisik saya dalam hati. 
Sampai akhirnya malam ketiga, saya mendapat balasan. Betapa saya kaget ketika melihat balasan yang panjang dan ditulis dalam bahasa Indonesia. 
Mata saya sampai tidak berkedip lama. Sampai akhirnya bibir saya senyum-senyum sendiri dan mengucap Alhamdulillah... Saya akan dapat teman baru.


Caroline Przybylla. Saya baru bisa menyebutkan nama terakhir dia belakangan ini. Sebelumnya, jangan harap saya bisa mengucapkannya. 7 konsonan dalam 1 kata? Pfffhh.. selamat mencoba deh.
Ternyata Caro pernah tinggal di Semarang selama 1 tahun. Setelah menyelesaikan masternya di Notthingham, UK, dia mencoba keberuntungannya di Asia Tenggara. Dia dapat tawaran bekerja di sebuah LSM Jerman, tempat dia berasal, di sebuah desa di Semarang, bekerja dengan perempuan-perempuan lokal untuk memberikan pengetahuan mengenai reproduksi wanita yang benar dan lebih baik.



Rasanya seperti kencan pertama kali  waktu kami sepakat untuk "kopi darat" setelah bertukar pesan beberapa kali via FB. Walaupun pada akhirnya kami tidak jadi tinggal dalam 1 apartemen karena saya kalah cepat dengan yang orang lain, tapi kami tetep memutuskan untuk bertemu and i'm glad we made that decisionKesan pertama kali waktu bertemu dia benar-benar campur aduk. Dari mulai kagum dengan bahasa Indonesia dia yang masih bagus meski sudah hampir 1 tahun tidak pernah dipakai, lalu terpesona dengan mata birunya yang besar dan terang, sampai seneng banget karena dia ternyata punya banyak kesamaan hobi dengan saya.   

Ah.. Gusti Allah memang maha tau apa yang saya butuhkan. Dari Caro lah saya sekarang punya banyak teman dan bikin saya merasa nyaman tinggal di kota ini. 




Elise, Anda and Caro


Jadi, secara keseluruhan, beginilah kabar saya sekarang. Setelah 2 tahun menghilang dan lenyap dari diary sendiri. Mudah-mudahan tahun ini bisa lebih banyak bercerita. Untuk diri sendiri, untuk anak-anak saya nanti, dan untuk kalian teman-teman yang perduli.


Anda