Seorang teman baik, namanya Pangeran Punce, yang sekarang ditempatkan di lokasi nun jauh di barat Indonesia, Pekanbaru, berkata kepada saya : “Basi lo Nda, sekarang lo udah jarang update tulisan di blog. Mentang-mentang lagi seneng, jadi lupa deh. Kaya Friska dan Meida dong tuh. Tetep eksis nulis. Dan inspiratif!” katanya panjang lebar lewat pesan singkat blackberry.
PLAK.
Aduh. Diam-diam saya mengelus hati dan pikiran saya yang ditampar oleh teman saya itu. Benar juga kata dia. Saya mati suri. Saya terlena dengan apa yang ada.
Masih mengoceh di BBM dia bilang : “Emang kalo lagi seneng, suka lupa diri yak. Kalo lagi sedih-sedih aja, baru deh ngeblog. Inspirasi nulis lebih banyak, dan cerita mengalir dengan gampang”
Saya mengangguk pelan membaca pesan itu. Damn he’s right. Tapi, dulu saya rajin kok menulis. Saya tetep menulis walaupun saya lagi senang. Bahkan, saya lebih aktif nulis waktu saya lagi senang ketimbang saya lagi sedih. Iya ga? Perasaan iya ya? *maksadotcom*
“Jadi, kapan mau mulai cerita lagi?” tanyanya memojokkan saya.
“Besok ya, Ping.. Gw nyicil tulisan deh” jawab saya seperti mahasiswa yang berjanji mengumpulkan tugas ke dosennya.
“Okey, gw tunggu yaaaaa!”
Hmmmmm…. Iya deh, Piping!
B.A.I.K.L.A.H . . .
Mari mulai bercerita.
Dikarenakan cerita pembukaan pendek di atas dimulai dengan kemunculan seorang teman bernama Pangeran Punce, saya jadi bernapsu untuk cerita tentang dia aja.
Ping, puas, puas, puas?? (Gaya tukul)
Nama lengkapnya Pangeran Punce (Djais???). Kenapa saya kasih tanda kurung dan tanda tanya untuk kata DJAIS, karena dia baru pake tu nama setelah mukanya eksis di layar kaca membawakan berita untuk Metro TV sebagai reporter. Dulunya sih cuma dua nama aja. Pangeran Punce. Sejak doi jadi reporter beken di tivi bergengsi itu, namanya sok2in dibikin panjang. Dasar anak belanda. Lebey!
Sebagian besar memanggilnya Punge. Ada juga yang memanggil Punce. Tidak ada tuh yang sudi memanggil dia Pangeran. Cih. Mungkin mereka pikir muka lo jauh dari kata Pangeran. Terima aja lah nasib lo, Ping. Kalau saya, awalnya memang memanggil dia dengan nama Punge juga. Tapi, panggilan itu berubah sudah ketika pernah suatu hari saya menelepon ke rumahnya dan Ibunda dia yang waktu itu mengangkat telepon memanggilnya dengan teriakan panjang dan logat Palembang yang lucu “Pipiiiiiiiiiiiiiiing”
Dari awal perkenalan, saya udah tau kalau saya akan bernasib sial karena dia akan jadi salah satu orang yang akan berpengaruh dalam perjalanan hidup saya. (Nasib gw jelek amat yak).
Berjodoh di awal semester dengan sekelas bareng membuat kami banyak menghabiskan waktu bersama dengan tawa dan canda. Bisa dibilang, kami klik banget dalam urusan becanda. Selera humor kami juga senada alias sealiran.
Kami bisa ketawa geli cuma dengan kode lirikan mata, ngetawain objek apa aja yang kami anggap lucu. Beberapa kali saya pernah kena masalah di kelas gara-gara saya harus nahan ketawa di depan dosen-dosen yang kelakuannya bikin ngakak.
Apaaa aja bisa jadi bahan ketawaan. Heran deh. Emang dasarnya anak-anak belanda ya, apa aja dicemo’oh. Apa aja jadi bahan gunjingan. Apa aja jadi bahan ledekan. Intinya : MULUT!
Ada banyak persamaan lain yang membuat kami cocok sebagai teman baik. Musik. Film. Dan ini salah satu yang paling penting : Kami suka makan! Hahaha. Yes, makan seperti babi. Melibat habis makanan-makanan enak di Jakarta. Mencoba ini itu. Melahap sana sini. Persis seperti babi. Kami bahkan punya ungkapan tersendiri jika sudah menyangkut soal makanan. Varkenen. Yang harfiahnya berarti – Melakukan seperti apa yang babi lakukan : makan membabi buta.
Kami juga punya impian yang sama. Sama-sama ingin pergi ke Belanda. Memakai semua ilmu bahasa yang sudah kami pelajari selama bertahun-tahun. Kami bahkan punya meeting point di Amsterdam. Yes, we are dreamers.
Selain ingin bertemu dan bersua di meeting point di negeri kincir angin, suatu hari nanti, entah kapan. Kami juga sama-sama punya mimpi untuk menjadi orang besar. Menjadi orang berguna. Minimal untuk diri sendiri dan orang-orang yang kami sayang. Teman dan keluarga.
Dan sejauh ini, bisa dibilang, kami sudah ada di jalur itu. Alhamdulillah.
Berawal dari kerja keras kami meniti mimpi. Saya yang dulu rajin bekerja paruh waktu di sana-sini, demi memupuk rasa mandiri dan menabung pengalaman hidup, sekarang sudah berani pergi (lebih) jauh untuk menjalani tantangan hidup. Semenjak itu saya lebih menghargai dan menikmati hidup dengan rasa syukur yang besar. Dia yang dulu juga memutuskan untuk mengorbankan waktu main-mainnya dengan bekerja paruh waktu sebagai barista di sebuah kedai kopi terkenal, sekarang sudah menjadi orang yang jauh lebih dewasa dan matang dari yang dulu saya kenal.
Di antara semua teman laki-laki angkatan 04, saya memang merasa paling dekat dengan dia. Saya bahkan punya julukan khusus untuknya : My lucky bastard!
Yes. He is a lucky bastard. Dan saya rasa semua orang setuju dengan julukan yang saya berikan. Dari luar, banyak orang yang menyangka dia selalu mendapatkan keberuntungan dalam hidup. Banyak sekali. Dan dalam berbagai macam bidang. Masalah perkuliahan, misalnya. Dia selalu saja bisa “lolos” dengan mulus dari waktu-waktu atau kejadian-kejadian yang menegangkan. Masalah pekerjaan, dia mujurnya amit-amitan. Sementara orang harus nunggu berbulan-bulan untuk dipanggil kerja di perusahaan yang standar (atau bahkan menunggu dipanggil oleh perusahaan bonafit), dia dengan gampangnya melenggang masuk ke jajaran reporter muda yang direkrut oleh Metro TV, masuk bersama teman seperjuangannya, Kinan.
Mungkin untuk orang yang tidak mengenalnya, hal itu semata-mata kemujuran belaka. Tidak bagi saya. Karena saya tahu bagaimana perjuangan dia menapaki jalan hidupnya langkah demi langkah. Proses yang dia alami sampai menjadi Pangeran Punce yang sekarang.
Terus terang, saya bangga pada dia. Saya bersyukur dia adalah salah satu orang yang saya hitung sebagai teman terpenting.
Saya ga percaya sama yang namanya kebetulan. There is no such a thing called coincidence. Pernah, suatu hari kami membicarakan sesuatu di bbm. Saya ingat waktu itu masih subuh. Bulan puasa tahun 2010. Saya sudah siap-siap kembali tidur sebelum berangkat kerja nanti. Tapi bb saya terus saja berkedip-kedip tanda ada pesan masuk. Ketika saya lihat, dari si Palembang satu ini dan seorang sahabat saya lainnya, Kinan.
Tanpa tedeng aling-aling, mereka langsung memberondong saya dengan pertanyaan : “Heeeeh, gw mau penjelasan!! Mau ke mana lo?” Tanya mereka di conference.
Ya, waktu itu saya memutuskan untuk pindah ke Bali. Mencoba untuk hidup mandiri dengan mengambil pekerjaan yang ditawarkan saat itu. Sambil, menunggu waktu menunggu pengumuman beasiswa ADS. Maka saya memutuskan untuk pergi ke Bali. Sendiri.
Tentu saja semua teman-teman di Jakarta kaget. Ga percaya. Bahkan meragukan keputusan saya. Bagaimana mungkin saya bisa bertahan hidup sendiri di tempat yang jauh dari orang-orang yang sudah saya kenal. Apalagi di Bali saya tidak punya teman sebiji pun.
Perlahan, saya menjelaskan kepada mereka dan saya sudah tahu dengan pasti bahwa mereka – Piping dan Kinan- akan mendukung putusan saya. Kami bahkan lalu terhanyut dalam pembicaraan seru. Saat itu, walaupun terdengar becanda, entah kenapa, saya merasa hal itu akan terjadi. Kami sepakat untuk melakukan pertemuan pertama kami di luar Jakarta nanti di Bali. Ya, Bali saja dulu, kata mereka. Pelan-pelan. Setelah itu mungkin Singapore, Hongkong, dan Belanda. Siapa yang tahu.
Dengan perasaan lega dan tawa, kami berpamitan lewat kata. Kalau tidak salah, lusanya saya berangkat ke Bali.
Dan, percaya tidak percaya. Tidak dalam waktu 2 bulan, apa yang kami bicarakan di conference bb menjadi kenyataan. Persis sama seperti apa yang kami bayangkan dan impikan. Meeting point : Kuta.
And there we were. Hugging, smiling and feeling blessed.
Ah, the power of dream. Kekuatan akan percaya pada sesuatu yang kita yakini. Iman. Yakin. Maka terjadilah.
Sekali lagi, saya tidak percaya dengan yang namanya kebetulan. Semua sudah diatur. Ini salah satu buktinya. Piping ini sungguh terobsesi untuk bisa fasih berbahasa sunda. Entah apa yang membuatnya tergila-gila dengan bahasa kampung saya itu. Tapi demi tuhan, anak ini usahanya pol-polan. Kadang-kadang saking pol-nya jadi keliatan maksa. Mulai dari pengucapan yang terdengar kurang lancar (baca : aneh), sampe daya kekreatifan dia yang suka merangkai kata-kata dalam bahasa sunda seenak udelnya.
Kalau dulu saya selalu tidak mengerti kenapa dia selalu ingin belajar bahasa sunda, sekarang saya tidak heran. Mungkin itu adalah awal dari proses panjang yang harus dia lewatin *tring.tring* untuk mencapai ujung tujuan hidupnya. Allahualam. Hmm. Percaya kan, tidak ada yang namanya kebetulan Ping?
Sekarang, meskipun kami jarang berkomunikasi verbal. Saya tetap merasa dekat. Saya tidak sedikitpun merasa ditinggalkan atau dijauhi. Saya mengerti kami punya kesibukan masing-masing. Saya mengerti kami punya prioritas dalam hidup. Bukan berarti pertemanan kami tidak penting, tapi karena kami tahu, kami tidak akan memudar hanya karena terpisahkan jarak dan waktu.
Minggu depan, saya akan kembali berkumpul dengan mereka. Teman-teman tersayang. Mereka yang membuat hidup saya penuh dengan warna. Pelajaran. Dan cinta. Saya tidak sabar. Saya ingin menciumi dan memeluki mereka satu per satu. Hingga sakit badan ini. Saya ingin mendengar dan didengar. Bercerita banyak kisah. Hingga lelah bibir ini. Saya tidak sabar.

