26.4.11

Eksis dong, Nda!!


Seorang teman baik, namanya Pangeran Punce,  yang sekarang ditempatkan di lokasi nun jauh di barat Indonesia, Pekanbaru, berkata kepada saya : “Basi lo Nda, sekarang lo udah jarang update tulisan di blog. Mentang-mentang lagi seneng, jadi lupa deh. Kaya Friska dan Meida dong tuh. Tetep eksis nulis. Dan inspiratif!” katanya panjang lebar lewat pesan singkat blackberry.

PLAK.

Aduh. Diam-diam saya mengelus hati dan pikiran saya yang ditampar oleh teman saya itu. Benar juga kata dia. Saya mati suri. Saya terlena dengan apa yang ada.
Masih mengoceh di BBM dia bilang : “Emang kalo lagi seneng, suka lupa diri yak. Kalo lagi sedih-sedih aja, baru deh ngeblog. Inspirasi nulis lebih banyak, dan cerita mengalir dengan gampang”
Saya mengangguk pelan membaca pesan itu. Damn he’s right. Tapi, dulu saya rajin kok menulis. Saya tetep menulis walaupun saya lagi senang. Bahkan, saya lebih aktif nulis waktu saya lagi senang ketimbang saya lagi sedih. Iya ga? Perasaan iya ya? *maksadotcom*

“Jadi, kapan mau mulai cerita lagi?” tanyanya memojokkan saya.  
“Besok ya, Ping.. Gw nyicil tulisan deh” jawab saya seperti mahasiswa yang berjanji mengumpulkan tugas ke dosennya.
“Okey, gw tunggu yaaaaa!”
Hmmmmm…. Iya deh, Piping!

B.A.I.K.L.A.H . . .

Mari mulai bercerita.
Dikarenakan cerita pembukaan pendek di atas dimulai dengan kemunculan seorang teman bernama Pangeran Punce, saya jadi bernapsu untuk cerita tentang dia aja.
Ping, puas, puas, puas?? (Gaya tukul)

Nama lengkapnya Pangeran Punce (Djais???). Kenapa saya kasih tanda kurung dan tanda tanya untuk kata DJAIS, karena dia baru pake tu nama setelah mukanya eksis di layar kaca membawakan berita untuk Metro TV sebagai reporter. Dulunya sih cuma dua nama aja. Pangeran Punce. Sejak doi jadi reporter beken di tivi bergengsi itu, namanya sok2in dibikin panjang. Dasar anak belanda. Lebey!

Sebagian besar memanggilnya Punge. Ada juga yang memanggil Punce. Tidak ada tuh yang sudi memanggil dia Pangeran. Cih. Mungkin mereka pikir muka lo jauh dari kata Pangeran. Terima aja lah nasib lo, Ping. Kalau saya, awalnya memang memanggil dia dengan nama Punge juga. Tapi, panggilan itu berubah sudah ketika pernah suatu hari saya menelepon ke rumahnya dan Ibunda dia yang waktu itu mengangkat telepon memanggilnya dengan teriakan panjang dan logat Palembang yang lucu “Pipiiiiiiiiiiiiiiing”
Dari awal perkenalan, saya udah tau kalau saya akan bernasib sial karena dia akan jadi salah satu orang yang akan berpengaruh dalam perjalanan hidup saya. (Nasib gw jelek amat yak).

Berjodoh di awal semester dengan sekelas bareng membuat kami banyak menghabiskan waktu bersama dengan tawa dan canda. Bisa dibilang, kami klik banget dalam urusan becanda. Selera humor kami juga senada alias sealiran.

Kami bisa ketawa geli cuma dengan kode lirikan mata, ngetawain objek apa aja yang kami anggap lucu. Beberapa kali saya pernah kena masalah di kelas gara-gara saya harus nahan ketawa di depan dosen-dosen yang kelakuannya bikin ngakak.

Apaaa aja bisa jadi bahan ketawaan. Heran deh. Emang dasarnya anak-anak belanda ya, apa aja dicemo’oh. Apa aja jadi bahan gunjingan. Apa aja jadi bahan ledekan. Intinya : MULUT!

Ada banyak persamaan lain yang membuat kami cocok sebagai teman baik. Musik. Film. Dan ini salah satu yang paling penting : Kami suka makan! Hahaha. Yes, makan seperti babi. Melibat habis makanan-makanan enak di Jakarta. Mencoba ini itu. Melahap sana sini. Persis seperti babi. Kami bahkan punya ungkapan tersendiri jika sudah menyangkut soal makanan. Varkenen. Yang harfiahnya berarti – Melakukan seperti apa yang babi lakukan : makan membabi buta.


Kami juga punya impian yang sama. Sama-sama ingin pergi ke Belanda. Memakai semua ilmu bahasa yang sudah kami pelajari selama bertahun-tahun. Kami bahkan punya meeting point di Amsterdam. Yes, we are dreamers.

Selain ingin bertemu dan bersua di meeting point di negeri kincir angin, suatu hari nanti, entah kapan. Kami juga sama-sama punya mimpi untuk menjadi orang besar. Menjadi orang berguna. Minimal untuk diri sendiri dan orang-orang yang kami sayang. Teman dan keluarga.
Dan sejauh ini, bisa dibilang, kami sudah ada di jalur itu. Alhamdulillah.

Berawal dari kerja keras kami meniti mimpi. Saya yang dulu rajin bekerja paruh waktu di sana-sini, demi memupuk rasa mandiri dan menabung pengalaman hidup, sekarang sudah berani pergi (lebih) jauh untuk menjalani tantangan hidup. Semenjak itu saya lebih menghargai dan menikmati hidup dengan rasa syukur yang besar. Dia yang dulu juga memutuskan untuk mengorbankan waktu main-mainnya dengan bekerja paruh waktu sebagai barista di sebuah kedai kopi terkenal, sekarang sudah menjadi orang yang jauh lebih dewasa dan matang dari yang dulu saya kenal.

Di antara semua teman laki-laki angkatan 04, saya memang merasa paling dekat dengan dia. Saya bahkan punya julukan khusus untuknya : My lucky bastard!
Yes. He is a lucky bastard. Dan saya rasa semua orang setuju dengan julukan yang saya berikan. Dari luar, banyak orang yang menyangka dia selalu mendapatkan keberuntungan dalam hidup. Banyak sekali. Dan dalam berbagai macam bidang. Masalah perkuliahan, misalnya. Dia selalu saja bisa “lolos” dengan mulus dari waktu-waktu atau kejadian-kejadian yang menegangkan. Masalah pekerjaan, dia mujurnya amit-amitan. Sementara orang harus nunggu berbulan-bulan untuk dipanggil kerja di perusahaan yang standar (atau bahkan menunggu dipanggil oleh perusahaan bonafit), dia dengan gampangnya melenggang masuk ke jajaran reporter muda yang direkrut oleh Metro TV, masuk bersama teman seperjuangannya, Kinan.

Mungkin untuk orang yang tidak mengenalnya, hal itu semata-mata kemujuran belaka. Tidak bagi saya. Karena saya tahu bagaimana perjuangan dia menapaki jalan hidupnya langkah demi langkah. Proses yang dia alami sampai menjadi Pangeran Punce yang sekarang. 
Terus terang, saya bangga pada dia. Saya bersyukur dia adalah salah satu orang yang saya hitung sebagai teman terpenting.

Saya ga percaya sama yang namanya kebetulan. There is no such a thing called coincidence. Pernah, suatu hari kami membicarakan sesuatu di bbm. Saya ingat waktu itu masih subuh. Bulan puasa tahun 2010. Saya sudah siap-siap kembali tidur sebelum berangkat kerja nanti. Tapi bb saya terus saja berkedip-kedip tanda ada pesan masuk. Ketika saya lihat, dari si Palembang satu ini dan seorang sahabat saya lainnya, Kinan.
Tanpa tedeng aling-aling, mereka langsung memberondong saya dengan pertanyaan : “Heeeeh, gw mau penjelasan!! Mau ke mana lo?” Tanya mereka di conference.

Ya, waktu itu saya memutuskan untuk pindah ke Bali. Mencoba untuk hidup mandiri dengan mengambil pekerjaan yang ditawarkan saat itu. Sambil, menunggu waktu menunggu pengumuman beasiswa ADS. Maka saya memutuskan untuk pergi ke Bali. Sendiri.

Tentu saja semua teman-teman di Jakarta kaget. Ga percaya. Bahkan meragukan keputusan saya. Bagaimana mungkin saya bisa bertahan hidup sendiri di tempat yang jauh dari orang-orang yang sudah saya kenal. Apalagi di Bali saya tidak punya teman sebiji pun.
Perlahan, saya menjelaskan kepada mereka dan saya sudah tahu dengan pasti bahwa mereka – Piping dan Kinan- akan mendukung putusan saya. Kami bahkan lalu terhanyut dalam pembicaraan seru. Saat itu, walaupun terdengar becanda, entah kenapa, saya merasa hal itu akan terjadi. Kami sepakat untuk melakukan pertemuan pertama kami di luar Jakarta nanti di Bali. Ya, Bali saja dulu, kata mereka. Pelan-pelan. Setelah itu mungkin Singapore, Hongkong, dan Belanda. Siapa yang tahu.
Dengan perasaan lega dan tawa, kami berpamitan lewat kata. Kalau tidak salah, lusanya saya berangkat ke Bali.

Dan, percaya tidak percaya. Tidak dalam waktu 2 bulan, apa yang kami bicarakan di conference bb menjadi kenyataan. Persis sama seperti apa yang kami bayangkan dan impikan. Meeting point : Kuta.
And there we were. Hugging, smiling and feeling blessed.
Ah, the power of dream. Kekuatan akan percaya pada sesuatu yang kita yakini. Iman. Yakin. Maka terjadilah.

Sekali lagi, saya tidak percaya dengan yang namanya kebetulan. Semua sudah diatur. Ini salah satu buktinya. Piping ini sungguh terobsesi untuk bisa fasih berbahasa sunda. Entah apa yang membuatnya tergila-gila dengan bahasa kampung saya itu. Tapi demi tuhan, anak ini usahanya pol-polan. Kadang-kadang saking pol-nya jadi keliatan maksa. Mulai dari pengucapan yang terdengar kurang lancar (baca : aneh), sampe daya kekreatifan dia yang suka merangkai kata-kata dalam bahasa sunda seenak udelnya.
Kalau dulu saya selalu tidak mengerti kenapa dia selalu ingin belajar bahasa sunda, sekarang saya tidak heran. Mungkin itu adalah awal dari proses panjang yang harus dia lewatin *tring.tring* untuk mencapai ujung tujuan hidupnya.  Allahualam. Hmm. Percaya kan, tidak ada yang namanya kebetulan Ping?

Sekarang, meskipun kami jarang berkomunikasi verbal. Saya tetap merasa dekat. Saya tidak sedikitpun merasa ditinggalkan atau dijauhi. Saya mengerti kami punya kesibukan masing-masing. Saya mengerti kami punya prioritas dalam hidup. Bukan berarti pertemanan kami tidak penting, tapi karena kami tahu, kami tidak akan memudar hanya karena terpisahkan jarak dan waktu.

Minggu depan, saya akan kembali berkumpul dengan mereka. Teman-teman tersayang. Mereka yang membuat hidup saya penuh dengan warna. Pelajaran. Dan cinta. Saya tidak sabar. Saya ingin menciumi dan memeluki mereka satu per satu. Hingga sakit badan ini. Saya ingin mendengar dan didengar. Bercerita banyak kisah. Hingga lelah bibir ini. Saya tidak sabar.

Untuk dia, yang (merasa) tersakiti




Ini untuk kamu. Kamu yang pernah menjadi persinggahan hatinya.

Ubud, Mei 2003 …
Luhde menyandarkan kepalanya di dinding, memandangi pamannya yang duduk memunggunginya. Sudah beberapa hari ini pamannya giat melukis. Mungkin karena baterainya sempat terisi dengan kedatangan Keenan beberapa waktu lalu. Sudah beberapa hari ini, Luhde malah tidak bisa tidur. Hatinya resah. Nyaris tidak pernah tenang. Dan, sama seperti pamannya, itu pun disebabkan kedatangan Keenan.
“Poyan …”
“Ada apa, De?”
“Bagaimana kita bisa tahu kapan waktunya untuk menyerah, dan kapan waktunya untuk bertahan?”
Mendengar pertanyaan Luhde, Pak Wayan berbalik.
“Poyan juga tidak pernah tahu,” jawabnya lugas.
“Dulu, Poyan memutuskan untuk menyerah. Membiarkan meme-nya Keenan memilih orang lain. Kapan Poyan merasa bahwa itulah keputusan yang tepat?”
“De, sejujurnya, apakah itu menyerah, atau justru bertahan … Poyan tidak pernah tahu. Bahkan sampai hari ini. Apakah ini menyerah namanya? Barangkali betul begitu. Tapi dalam apa yang disebut menyerah, Poyan terus bertahan. Poyan tidak tahu. Tapi hidup yang tahu.”
Luhde menggigit bibirnya. Ia ingin mengucapkan sesuatu, sekaligus gentar dengan reaksi pamannya nanti. Namun, desakan itu sangat kuat. “Poyan … jangan marah kalau saya ngomong begini, tapi … saya nggak mau jadi seperti Poyan. Atau seperti meme-nya Keenan. Sepuluh, dua puluh tahun dari hari ini, saya masih terus-terusan memikirkan orang yang sama. Bingung di antara penyesalan dan penerimaan.”
Wayan terdiam mendengar luncuran kalimat dari mulut keponakannya. Ia seperti dicekoki segenggam pil pahit sekaligus. Getir, pedih, tapi ia merasakan kebenaran dalam kata-kata Luhde. “Kamu benar. Jangan jadi seperti Poyan,” ujarnya lirih.
Tapi, bagaimana saya bisa memutuskan itu?” ratap Luhde.
“De, Poyan percaya hidup ini sudah diatur. Kita tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apa pun, semua sudah disiapkan bagi kita. kamu tinggal merasakan saja,” Wayan berkata lembut, “rasakan saja, De. Kamu pasti tahu jawabannya. Begitu juga dengan dia. Tidak ada yang bisa memaksakan, apakah Keenan memang untuk kamu atau … untuk orang lain.”
Jantung Luhde serasa berhenti berdegup. Poyan sudah tahu.
“Pada akhirnya, tidak ada yang bisa memaksa. Tidak juga janji atau kesetiaan. Tidak ada. Sekalipun akhirnya dia memilih untuk tetap bersamamu, hatinya tidak bisa dipaksa oleh apa pun, oleh siapa pun.”
Luhde menunduk. Menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Ia memahami apa yang diucapkan pamannya. Yang belum ia pahami adalah, mengapa harus sesakit ini rasanya?

***

Penggalan cerita di atas saya ambil dari novel Perahu Kertas, karya Dee. Entah kenapa, ketika membaca ini, saya memikirkan kamu.

Saya bisa merasakan kepedihan kamu. Kesakitan itu.
Jangan kamu kira saya senang dengan situasi ini. Jangan kamu kira saya tidak menitikkan air mata melihat seseorang yang dulu pernah menjadi pelabuhan hatinya terluka. Jangan kamu kira saya tidak perduli. Saya justru memikirkan kamu terus menerus.

Saya tidak tahu harus memulai dari mana, tapi di sini, di blog saya, di dunia kecil yang saya ciptakan, saya ingin mengutarakan perasaan saya dan pikiran saya.

Kamu, yang pernah menjadi orang penting dalam hidupnya, saya merasa sedih melihatmu terluka. Saya merasa sedih melihatmu membenamkan diri dan jejak kaki  tidak melangkah maju.

Kamu, yang dulu pernah dicintainya, kadang saya merasa cemburu. Meskipun saya tahu sekarang dia bersamaku, tapi dia masih memikirkanmu. Bukan karena dia masih ingin bersamamu, tapi memikirkan keberadaanmu, kebahagiaanmu.  Kadang, saya merasa diduakan. Dan itu rasanya sakit, neng.

Kamu, yang pernah berbagi rasa dengannya, saya merasa lelah. Lelah meyakinkan diri bahwa saya, kamu dan dia baik-baik saja. Berkali-kali juga dia meyakinkan diri bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Cintanya untuk saya, katanya. Tapi bagaimana saya bisa menerima itu sementara dia masih saja memikirkanmu? Walaupun tidak ada perasaan apa-apa lagi, murni hanya karena dia perduli pada keberadaanmu, masa depanmu.  Saya tetap merasa lelah. Terkadang merasa sakit.

Sepertinya kita terjebak dalam lingkaran kesakitan.  Dan saya sudah memutuskan untuk keluar dari lingkaran ini. Saya tidak mau lama-lama berputar-putar menyakiti diri sendiri. Bahkan menyakiti dirinya melihat saya menyiksa diri. Saya juga ingin kamu sembuh dari rasa sakit itu. Tidak usah buru-buru. Saya selalu yakin, semua ada prosesnya. Semua butuh waktu. Kita, jelas butuh waktu untuk pelan-pelan keluar dari lingkaran ini. Keluar, jalan melangkah mengikuti jalan hidup masing-masing.

Terus terang, saya belajar banyak dari kamu. Saya belajar untuk ikhlas. Saya belajar untuk mengerti. Saya belajar untuk menghormati. Saya belajar untuk menjadi kuat. Dan itu tidak mudah. Baik untuk saya dan terutama untuk kamu.

Saya pernah ada di posisi kamu. Bertahun-tahun yang lalu. Rasanya luar biasa sakit. Luar biasa terluka. Saya bahkan tidak menyangka saya bisa melewati masa itu. Beruntung saya segera sadar bahwa saya tidak bisa terus menerus menyakiti diri sendiri dan sadar bahwa saya harus melepaskan sesuatu yang (walaupun) sangat saya inginkan, tetapi bukan untuk saya.

Saya ingin kamu kuat. Saya ingin kamu mengikhlaskan dia. Bukan melupakan, tapi melepaskan. Kamu adalah salah satu bagian dari masa lalunya. Dengan kamu, dia merasakan banyak. Dengan kamu, dia mengalami macam-macam. Buat dia, kamu sama pentingnya seperti orang-orang yang pernah ada di hidupnya.
Izinkan saya mengantarkan kamu maju depan, melangkah sedikit demi sedikit. Pelan-pelan. Izinkan kami melepaskan kamu.  Izinkan dirimu melepaskan kami.

Jangan berpikir saya ingin kamu menghilang dan pergi dari hidup saya atau kami. Jangan berpikir saya ingin mengusir kamu. Tolong jangan.
Karena, saya sungguh berharap kamu menemukan jalan hidupmu. Menemukan kebahagiaan yang tidak bisa dia berikan untukmu. Dia sungguh ingin melihat kamu bahagia. Dan dia tahu itu bukan dengan dan dari dirinya. Kamu juga harus tahu.

Sebagai perempuan, saya berbesar hati menerimamu sebagai bagian dari masa lalu dia yang pernah ada. Saya bahkan tidak pernah mengenalmu. Tapi saya tidak ingin melihat dan mendengar kamu menyakiti diri sendiri. Kamu tahu kenapa? Karena saya perduli dengan kamu. Dari dia, saya tahu kamu orang baik. Dari dia saya tahu kamu special. Dari dia saya tahu kamu pantas mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
Tolong jangan sakiti diri dan hatimu lagi. Kamu beruntung kamu punya kehidupan yang baik. Keluarga, teman, pendidikan, dan pengalaman. Saya tidak bermaksud menggurui, tapi apa yang sudah kamu lewati dan lalui dengannya adalah pengalaman yang sangat mahal. Dan saya yakin, kamu bisa melihat itu.

Dan untuk saya, meski sulit, saya akan tetap menjadi diri saya. Menerima dan menjalani apa yang harus saya jalani. Saya selalu percaya, hidup itu indah dengan warna-warninya. Saya percaya setelah warna hitam, akan ada warna lain yang mengiringi hidup saya, kamu dan dia.




14.4.11

Puskesmas di Bali - Mantap!


Update, update, update terbaru.

Maaf, maaf, maaf. Saya jarang bercuap-cuap dan menari di atas keyboard netbook saya belakangan ini. Selain saya lagi sibuk (KLISE!!) saya juga seminggu ini lagi sakit. Sakit kuping –Elit banget ga tuh penyakit gw-

Iya, entah karena udah kelamaan ga berenang atau memang waktu saya berenang salah posisi, kuping saya kemasukan air. Awalnya saya santai aja, ga terlalu mikirin dan ambil pusing. Dibawa loncat2, nguap2, makan pedes (eh??) dan tidur juga nanti air yang menggenang di kuping saya ilang.

Sehari
Dua hari
Tiga hari
Seminggu

Hmmm.. mulai gengges nih air kolem renang santé-sante lama-lama di kuping saya.

Saya pun mulai merasa tidak nyaman. Selain karena sakit, saya juga suka geregetan. Bawaaannya pengen ngorek2 kuping pake cotton but terus. Kalo lagi di kosan sih ga masalah ya bo. Parahnya, keinginan untuk mengorek kuping itu selalu muncul di mana pun saya ngerasa geli-geli sakit. Duh ganggu deh.

Belum lagi complain-an bokin yang bilang kalo saya suka ga bereaksi kalo dia ngomong. Budek dot com, cyiiin.  Antara budek ama tulalit kadang-kadang suka beda tipis. Walaupun udah beberapa bulan bokinan sama orang Enggres, teteup aja kalo dia lagi nyerocos tak terkendali, suka ga ketangkep dan ngerti dia ngomong apa.  Jadi saya memang suka tulalit kalo denger dia ngomong cepet ditambah pake aksen yang ya begitu deh ya orang Enggres. Maklum, biasa denger orang Londo. *tsaaah, pembelaan yang basi*


Anyway.

Tadi pagi, setelah saya selesai bekerja, saya memutuskan untuk pergi ke Dokter.

Mengingat dalam rangka penghematan biaya hidup, saya tergoda untuk pergi ke Puskesmas instead. Sebenernya saya masih bisa bayar sih kalaupun saya pergi ke dokter praktek, tapi saya juga penasaran pengen tau puskesmas di Bali kaya gimana.
Nah masalahnya saya kan buta arah. Dan buta tempat. Berbulan-bulan di Bali taunya cuma : Sanur, Ubud, Denpasar, Ubung, Kuta, dan sekitarnya.
Manalah saya tau tempat-tempat macam puskesmas dan tempat pelayanan masyarakat lainnya.
Nekat, saya menyusuri jalan di sekitar Sanur-Renon-Denpasar dengan memakai motor pinjaman bokin. Dan, setiap niat baik memang selalu diberi kemudahan. Saya menemukan plang bertuliskan “Puskesmas II Denpasar Selatan”. Bagaikan seorang anak menemukan sebuah kotak penuh coklat, saya pun menyunggingkan senyum bahagia.
YES.

 
Di dalam, saya celingukan nyari-nyari meja informasi. Mau nanya-nanya gimana caranya saya bisa periksa di sini.
Lagi celingukan di depan pintu masuk, tiba-tiba ada seorang mba2 bilang “Ambil no dulu, Ge.  Tunggu dipanggil, terus ke loket pendaftaran”
Tersenyum tulus, saya mengangguk tanda mengerti. No 184. Saya duduk di deretan kursi yang disediakan puskesmas. Rapih sekali. Itu kesan pertama ketika saya menjejakkan kaki masuk ke dalam puskesmas ini. Beda banget sama puskesmas di Serang.


Ga beberapa lama, no antre-an saya dipanggil. Saya bergegas menuju meja pendaftaran. Kira-kira seperti ini percakapan saya dengan petugas puskesmas :

Anda Cantik (AC) : Hallo, Selamat Pagi.
Petugas Puskesmas (PP)  : Pagi. Mau periksa ke poli apa, Ge?
AC : Hmm, saya mau periksa telinga saya. Poli THT ada?
PP : Nda ada, Ge. Ke Poli Umum saja, ya?
AC : Boleh, bu.
PP : Ada kartu pelayanannya?
AC : (he? Apaan tuh?) Maaf, saya belum punya kartu. Ini pertama kali saya dateng ke puskesmas bu. Saya harus daftar di mana?
PP : Oh, baru ya? Ya nda apa-apa. Daftar di sini ya. Ada KTP? Atau KK?
AC : Saya ada KTP, tapi ga bawa KK. Bisa?
PP : Ya bisa. Tinggal di mana? Sudah menikah atau masih tinggal dengan orang tua?
AC : Belum menikah dan tidak tinggal bersama orang tua. Saya tinggal di Renon.
PP : Banjar apa?
AC : (what the hek?!) Saya bukan orang Bali.
PP : Oh, gitu. Ya nda apa. Mari saya buatkan kartu pelayanannya.
Saya udah takut aja kalo puskesmas ini khusus buat orang Bali. Secara saya kan penduduk sementara. Nebeng kerja dan hura-hura dan pacaran doang di Bali. Jadi saya sempat panic dia tanya saya dari Banjar mana. Banjar mana itu maksudnya saya dari kelurahan mana. Banjar itu semacam tempat yang mengatur rumah tangga lingkungan berdasarkan peraturan adat istiadat. Setiap Banjar, aturan desanya berbeda-beda.

Setelah beberapa menit menunggu si Ibu memasukkan data saya ke computer, beliau meminta saya membayar uang administrasi sebesar 3000 rupiah. Mureh. Hehehe.
Setelah mengucapkan terima kasih, saya diminta untuk duduk manis lagi. Di depan poli Umum. Dan baru boleh masuk kalau nama/no saya dipanggil.



Ya. Giliran saya tiba. Saya duduk manis di depan dokter cowo yang tampang dan namanya Bali beneur!
Dokter : “Kenapa, Ge?” tanyanya lembut dengan senyum khas orang Bali.
Saya : “Sakit kuping, Dokter. Kemasukan air sudah seminggu lebih setelah berenang” jawab saya sambil memegang kuping sebelah kanan.

Mendengar penjelasan saya, si bapak dokter dengan cekatan memeriksa dan mengangguk2an kepala. Lalu berkata.
“Iya, kupingmu infeksi, Ge. Harus diberi tetes kuping ya. Saya juga kasih obat untuk diminum biar sakitnya hilang.”

Saya mengangguk-anggukan kepala sambil memperhatikan si bapak dokter asik menuliskan resep.

“Sudah. Semoga lekas sembuh, Ge” Kata si bapak dokter.

Udah? Begini doang? Kuping saya ga pake dikorek2? Atau mata saya disenter2? Atau lengan saya diperiksa tensinya? Atau nadi saya dicek? Yaaah, kurang seru. Batin saya dalam hati. Yeee, lo mau ke puskesmas apa ke taman hiburan, neng!?!

“Ini resepnya. Kamu bawa ke depan, ke bagian Apotek. Tunggu di sana ya.” Kalimat si dokter sebelum saya berdiri dan setelah saya mengucapkan terima kasih.

Di depan, di bagian Apotek, saya hanya menunggu beberapa menit. Satu pria berpakaian suster berwarna hijau memanggil nama saya dan menjelaskan tiga macam obat yang harus saya minum, termasuk tetes kuping yang harus saya pakai. Saya mendengarkan dengan seksama.
Lalu,
“Ok. Terima kasih, belih. Berapa obatnya” Tanya saya setelah si belih selesai menjelaskan dan memberikan obat itu ke tangan saya.
“Ga bayar” jawabnya polos.
HA?!?!?! Batin saya.
“Ga bayar?” ulang saya. Entah bertanya pada si belih atau menyakinkan diri saya tidak salah dengar.
“Ya, ga usah bayar” katanya lagi sambil tersenyum dan kembali masuk ke ruangan apotek-nya.

Tinggallah saya terbengong-bengong di depan Apotek. Celingak celinguk lagi. Pegimana ini urusannya? Bayar ke mana nih gw? Ini seriusan gretongan? Pertanyaan2 macam itu muncul di kepala saya.
Beberapa menit saya berdiri di sana. Kemudian menyebarkan pandangan, mencoba mencari tempat bertuliskan “Kasir” atau “Loket pembayara”. Tapi saya tidak menemukan apa-apa.
Saya bingung jaya deh. Gimana nih, saya pulang aja ya? Ini beneran gratisan? Cuma bayar 3000rb buat uang pendaftaran kartu pelayanan? Ini obat ga bayar? Lagi-lagi saya celingak celinguk nyari orang yang bisa saya tanya. Ga ada. Semuanya sibuk melakukan aktivitasnya. Lalu, ke arah pintu keluar, saya menyapa si mba yang tadi menyuruh saya mengambil nomor antre-an. Sambil senyum, dan sedikit ekspresi kebingungan saya bilang “Makasih. Mari”

“Ya, silahkan. Semoga lekas sembuh.” Balasnya dengan senyum yang sama ketika saya masuk puskesmas itu.

Keluar puskesmas, saya merasa sehat wal afiat. Saya tidak merasakan sakit yang begitu mengganggu di kuping saya lagi. Entah kenapa. Mungkin karena saya baru saja bertemu dengan orang-orang yang membuat saya merasa lebih baik. Orang-orang yang tulus tersenyum tanpa pamrih. Orang-orang yang tidak memandang saya berbeda, karena saya bukan orang Bali. Orang-orang yang menjalankan pekerjaan dengan ikhlas dan apa adanya. Orang-orang baik.

Saya baru saja minum obat yang saya dapat tanpa mengeluarkan uang seperserpun. Semoga obat ini lebih mujarab dan manjur dari obat-obat mahal yang tersedia di apotik2 besar. Saya percaya, doa mereka ketika mengucapkan “Semoga lekas sembuh” lebih manjur bekerja dari pada obat yang saya minum baru saja.


Bali memang cantik.