26.5.10
Para pemain Sinetron in action.
Jadi ceritanya roommate saya, Fe, lagi ngidam pengen makan soto ayam malem itu.
Dia merengek-rengek untuk mencari dan menyusuri sepanjang kemang selatan demi menemukan soto. Dia percaya dia pernah liat ada yang jual soto ayam di sekitar Pizza hut situ.
Kebetulan saya hari ini belum makan apa-apa juga, baru buka puasa. Jadi saya mau aja diajakin makan soto. (kapan sih saya ga mau kalo diajakin makan?!?)
Berjalanlah kami.
Sampai akhirnya menemukan tenda abang soto itu, mata kami berbinar. Ah, kami akan segera membunuh rasa lapar dan memanjakan cacing2 di perut kami.
Yay.
Dengan semangat kami memesan soto dua mangkuk. Belum selesai saya memesan, satu tanpa bawang goreng, si abang tiba-tiba memotong, "sotonya lagi ga ada, Mba"
Cacing-cacing di perut kami berteriak kecewa dan menjerit2 seolah bisa mendengar perkataan si abang.
*menarik napas panjang*
Demi tercapainya misi, kami kemudian kekeuh sumekeuh mencari dan harus menemukan soto dambaan perut.
perjalanan dilanjutkan.
Sambil tentu saja bersenda gurau di sepanjang trotoar kemang yang -tidak berbentuk trotar karena banyak lobang, pohon, tukang jualan, dan benda-benda lain-, tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah benda kecil mengkilap.
Saya berhenti dan memekik dengan tatapan-mata-memicing-bibir aga monyong-persis Shiren sungkar di sinetron Cinta Fitri
"Feeee!! Liat tuh apa?!?" kata saya sambil menunjuk ke bawah kaki saya.
Tergeletak sebuah cincin perak putih.
Fe dengan sigapnya mengambil cincin itu dan berkata "Neeeeng, ini cincin kawin" kata dengan muka ga kalah drama. penekanan nada ada di huruf E.
"Oooh maay gooood. Apakah ini pertanda, Fe?? Mungkin ada seorang lelaki di luar sana, yang sengaja ngelempar cincin ini di jalan, dan berharap perempuan yang nemuinnya akan ngembaliin dan menjadi istrinya??"
kata saya semangat. Tetap dengan sinetron mode : ON.
Fe, yang awalnya berdrama-ria, langsung ilfeel denger saya berlebihan.
Dia langsung memutar2kan bola matanya 360 derajat sambil berlalu dan bilang "Haiyaaah neeeng!!"
Berlari-lari kecil, saya menyusulnya dan asik meneliti apakah cincin ini emas putih asli atau hanya perak2an.
Fe : "Besok lo coba tanya sama tukang emas ya, Neng. Siapa tau beneran emas putih."
Saya : "Hmm. Okey. Tapi kalo diliat-liat sih kayaknya bukan. Eh, tapi bisa jadi yang asli ya?. Lumayan juga ya Fe, kalo emas beneran. Bisa dijual. Ntar kita bisa makan enaaaak"
Fe : "Kayaknya tadi ada yang ngarep dapet jodoh!!"
Saya : *cengangas-cengenges, keki kegep murahan akut*
Ahhh! akhirnya perjuangan kami jalan menyusuri setengah kemang raya berujung sempurna. Kami menemukan sebuah tempat makan yang lumayan enak. Bersih. Sepertinya murah. Dan yang paling penting, ada sotonya. YAAY!!
Wah, tempatnya aga penuh. Kami segera melayangkan pandangan, mencari meja kosong. Yes, ada. Di tengah-tengah. Kami segera menuju ke sana.
Setelah duduk dan kipas-kipas dikit *mengingat jauhnya perjalanan kami tadi*, kami sudah siap memesan makanan.
Tapi oh tapi. Lihatlah apa yang kemudian ditemukan Fe tepat di depannya. Di atas meja itu.
Sebuah tulisan dari spidol marker. Deretan sebuah nomor handphone, teman-teman. Saya ulang, no handphone!
Tanpa isyarat, klik, mata kami langsung beradu. Dipicingkan. Siap melakukan adegan sinetron scene dua.
Fe : "Ooooh maaay goood!"
Saya : "Feeee...!!"
Fe : "Neeeng..!!"
Saya : "Sudah jelas ini pertanda Fe."
Fe : "Bisa jadi, Neng. Cepat telepon no ini dan katakan kau siap menjadi istrinya"
Saya : *kedip-kedipin mata sambil nganguk-nganguk mengiyakan*
.....
Buahahahahaha..aa..aa..aa.. tawa kami pun meledak.
Oooh, sungguh alay-nya kami saat itu.
23.5.10
Rest in peace, dreamer...
Malam itu..
Si gadis berlari kecil ke luar. Matanya merah. Basah.
Dia ingin mengadu pada semesta-sang langit, bahwa dia terluka.
Betapa hancur hatinya ketika ia menemukan sang langit juga berduka.
Kabut coklat menutupi sinar bintang. Sinar harapan si gadis pemimpi.
Malam itu..
Malam itu..
Si gadis keras kepala tetap mengadu pada sang langit. Menumpahkan semua.
Seketika ia menyadari sesuatu mulai terjatuh, satu demi satu.
Ia memandangi kepingan itu. Kepingan diri. Mimpi-mimpinya jatuh hancur.
Sambil menahan sakit, ia menengadah.
Langit pun ikut menangisi keruntuhan si gadis pemimpi.
"Bukan karena kamu, dia atau mereka. Bukan.
Dan ku mohon jangan mengiba kata maaf karena itu menyakitiku lebih dalam lagi.", Bisik si gadis nyaris tak bersuara. Ia hanya baru tersadar dari mimpinya yang panjang dan melelahkan. Mimpi indah tentang dirinya menjadi seorang pemimpi.
Malam itu..
Malam itu..
Si gadis harus memilih. Tetap hidup atau mati dalam mimpi.
Ia terdiam lama. Menunduk ke alam. Ia tahu ia sekarat.
Harapannya untuk hidup sudah hampir musnah.
Oleh hancurnya jiwa itu, ia lalu... menyerah.
Oleh hancurnya jiwa itu, ia lalu... menyerah.
Sudahlah, teman. Jangan menangis. Toh semua akan pergi pada akhirnya. Semua akan sendiri.
Pun si gadis pemimpi. Ia sudah sangat sekarat. Menunggu waktu mati. Sebentar lagi.
Malam itu..
Malam itu..
Si gadis terlalu lemah untuk berkata pada dirinya sendiri. Ia memilih untuk menyimpannya saja.
Rapat-rapat dan baik-baik.
Ia tidak akan pernah bisa bertahan tanpa bunga-bunga tidur .
Si gadis pemimpi hanya bisa bermimpi bersama kawan-kawannya.
Ia pemimpi yang lemah.
Ia pemimpi yang lemah.
Dengan sisa nafas mimpi yang ia punya, ia berdiri.
Memandang semesta untuk terakhir kalinya.
Lalu, sayup-sayup terdengar :
"selamat tidur untuk selamanya, gadis. Semoga kau tidak terbangun."
kata sang langit.
"selamat tidur untuk selamanya, gadis. Semoga kau tidak terbangun."
kata sang langit.
Malam itu..
Malam itu..
Si gadis pemimpi mati.
22.5.10
Guilty Pleasure
Yang namanya pleasure, pasti sesuatu yang menyenangkan dong, ya?!
Sesuatu yang seharusnya kita nikmati dengan perasaan bebas. Tidak ada tekanan dan merasa bersalah. Tapi kenapa ada hal yang namanya guilty pleasure ya?
Guilty = (merasa) bersalah
Pleasure = kesenangan
Hm, jadi kalau saya gabungkan kedua kata ini menjadi satu frase. Mungkin artinya kurang lebih seperti ini :
Guilty Pleasure = kesenangan yang dilakukan atau dijalani dengan perasaan bersalah.
Saya baru saja menyadari bahwa saya beberapa kali (tidak terlalu sering *membela diri*) berada di situasi guilty pleasure ini.
Puncak A-HA moment saya ketika menyadari Guilty Pleasure belum lama ini. Beberapa jam lalu, lebih tepatnya.
Aduh, sebenernya saya agak malu mengakuinya. AIB, booo. (yaa iya doong, namanya juga guilty pleasure, kalo ga guilty, pleasure doang, ga ada rasa malunya NANDAH.)
Ok, ok. Saya akan mengaku. Tenang saja. Saya tidak akan melarikan diri dari kenyataan-mengungkap-aib-sendiri-di blog-saya.
My guilty pleasure is watching india movie.
*nunduk, tutup muka pake tangan, melipir ke pintu, diem2 geleng-geleng kepala trus jedukin jidat ke tembok sambil tetep joget-joget dikit *
Yang mau tertawa, silahkan.
Ada yang sekalian mau bunuh saya?? Please!
Sebenarnya masih ada beberapa lagi guilty pleasure yang sering saya nikmati. Banyak. Tapi ini adalah yang menurut saya berada di urutan paling atas list panjang guilty pleasure saya.
Eh, ngomong-ngomong saya ga doyan sama band -band alay ga jelas itu. Apalagi nonton sinetron. Harus dibedakan, guilty pleasure sama ketidaktertarikan ya!
Sinetron dan nonton musik band alay adalah salah satu hal yang paling saya hindari dan tidak akan pernah saya nikmati. Senikmat-nikmatnya. *doyan aja kaga*
Kembali ke aib = film india.
Jadi, setelah diingat-ingat. Saya ternyata sudah menyukai film india sejak saya masih lucu-lucunya. Mungkin waktu itu umur saya masih sekitar 8-10 tahun.
Saya ingat, setiap hari saya selalu rajin duduk di depan tivi buat mantengin orang india joget-joget di taman, di tiang, di lapangan, di kantor polisi, di mana-mana.
Saya suka liat kepala mereka yang suka geleng-geleng kalo berbicara, tangan kanan mereka yang selalu dinaikkan dan disodorkan ke lawan bicara, baju-baju sari yang dipakai wanita india -yang memperlihatkan perut dan lekuk tubuh-, dan tentu saja drama-drama yang sebenarnya sudah hampir selalu bisa saya prediksikan.
Justru itu. Menonton film india, saya merasa pintar sekali. Karena saya bisa dengan mudah mengetahui ke mana cerita akan bergerak dan berakhir seperti apa. Piece of cake to predict.
Sayang, kegemaran saya nonton india harus berakhir di masa SMP karena waktu itu teman-teman saya lebih tertarik pada sesuatu yang bersifat kebarat-baratan. Dari soal musik, film, apa saja. Saya, yang waktu itu masih labil *semacam sekarang tidak?!?!*, tentu saja tidak mau dibilang ga ngikutin jaman atau ketinggalan. Perlahan tapi pasti, hilanglah musik-musik india itu dari kehidupanku. Tergantikan oleh boyband-boyband yang mendebarkan hati. Bergantilah Bollywood dengan Holywood secepat kilat.
Sekarang, setelah semuanya terasa lebih labil dan terkontrol. Saya merasa tertarik lagi ke masa-masa itu. Lalu diam-diam memutuskan untuk menikmati apa yang dulu tertunda.
Kalau saya sedang sendiri di rumah atau di kosan, dan iseng memencet channel ini dan itu, dan tidak sengaja menemukan statiun tv yang sedang memutarkan film india, saya pasti *tanpa sadar* celingak-celinguk memastikan bahwa tidak ada orang di dekat saya, supaya saya bisa menonton dengan tenang dan tidak tegang :D
Hm. Saya jadi curiga. Jangan-jangan hasrat saya ingin menjadi penari, muncul dari efek menonton film india di masal kecil???
Ah. Masa bodo. Yang penting sekarang saya menyebut diri saya penari. Walapun masih amatir.
Ngomong-ngomong, perlu digarisbawahi. Kesukaan saya menonton film india tidak ada hubungannya dengan selera cowo ya. Saya ga suka pria India (ehem.. Sorry buat yang punya cowo India, berinisal D)
Menurut saya, mereka hiperbol. Terlalu drama. Hah, saya sudah cukup drama. Kalau saya harus berpasangan dengan seseorang yang drama juga. Apalah jadinya hidup saya ini??
Saya lebih suka pria-pria pribumi khususnya laki-laki priyangan. Akang-akang nu kararasep. Atau laki-laki latino bermata hijau atau coklat, berambut keriwil, berbadan kekar dan berkulit gelap. Rrrrr.. (loh?!?)
Atau si dia, lelaki bermata biru, yang tak mungkin ku miliki karena sudah diambil. (yeah, kalian tau lah siapa yang gw maksud : Ayangku sayang….)
Curcol.
So, anyway.
Saya sudah menceritakan salah satu dari sekian banyak aib lain yang belum saya ceritakan. Lega rasanya sudah berbagi. Kalau tiba-tiba kalian menemukan saya sedang menatap serius ke layar tivi sambil joget-joget, jangan diganggu ya. Supaya saya bisa menikmati sebentar saja my guilty pleasure.
Haaaaaaaaaa..aaaaaaaaaa…aaaaa…..
*ceritanya gw pamit sambil nyanyi ala india dengan suara super cempreng*
Sesuatu yang seharusnya kita nikmati dengan perasaan bebas. Tidak ada tekanan dan merasa bersalah. Tapi kenapa ada hal yang namanya guilty pleasure ya?
Guilty = (merasa) bersalah
Pleasure = kesenangan
Hm, jadi kalau saya gabungkan kedua kata ini menjadi satu frase. Mungkin artinya kurang lebih seperti ini :
Guilty Pleasure = kesenangan yang dilakukan atau dijalani dengan perasaan bersalah.
Saya baru saja menyadari bahwa saya beberapa kali (tidak terlalu sering *membela diri*) berada di situasi guilty pleasure ini.
Puncak A-HA moment saya ketika menyadari Guilty Pleasure belum lama ini. Beberapa jam lalu, lebih tepatnya.
Aduh, sebenernya saya agak malu mengakuinya. AIB, booo. (yaa iya doong, namanya juga guilty pleasure, kalo ga guilty, pleasure doang, ga ada rasa malunya NANDAH.)
Ok, ok. Saya akan mengaku. Tenang saja. Saya tidak akan melarikan diri dari kenyataan-mengungkap-aib-sendiri-di blog-saya.
My guilty pleasure is watching india movie.
*nunduk, tutup muka pake tangan, melipir ke pintu, diem2 geleng-geleng kepala trus jedukin jidat ke tembok sambil tetep joget-joget dikit *
Yang mau tertawa, silahkan.
Ada yang sekalian mau bunuh saya?? Please!
Sebenarnya masih ada beberapa lagi guilty pleasure yang sering saya nikmati. Banyak. Tapi ini adalah yang menurut saya berada di urutan paling atas list panjang guilty pleasure saya.
Eh, ngomong-ngomong saya ga doyan sama band -band alay ga jelas itu. Apalagi nonton sinetron. Harus dibedakan, guilty pleasure sama ketidaktertarikan ya!
Sinetron dan nonton musik band alay adalah salah satu hal yang paling saya hindari dan tidak akan pernah saya nikmati. Senikmat-nikmatnya. *doyan aja kaga*
Kembali ke aib = film india.
Jadi, setelah diingat-ingat. Saya ternyata sudah menyukai film india sejak saya masih lucu-lucunya. Mungkin waktu itu umur saya masih sekitar 8-10 tahun.
Saya ingat, setiap hari saya selalu rajin duduk di depan tivi buat mantengin orang india joget-joget di taman, di tiang, di lapangan, di kantor polisi, di mana-mana.
Saya suka liat kepala mereka yang suka geleng-geleng kalo berbicara, tangan kanan mereka yang selalu dinaikkan dan disodorkan ke lawan bicara, baju-baju sari yang dipakai wanita india -yang memperlihatkan perut dan lekuk tubuh-, dan tentu saja drama-drama yang sebenarnya sudah hampir selalu bisa saya prediksikan.
Justru itu. Menonton film india, saya merasa pintar sekali. Karena saya bisa dengan mudah mengetahui ke mana cerita akan bergerak dan berakhir seperti apa. Piece of cake to predict.
Sayang, kegemaran saya nonton india harus berakhir di masa SMP karena waktu itu teman-teman saya lebih tertarik pada sesuatu yang bersifat kebarat-baratan. Dari soal musik, film, apa saja. Saya, yang waktu itu masih labil *semacam sekarang tidak?!?!*, tentu saja tidak mau dibilang ga ngikutin jaman atau ketinggalan. Perlahan tapi pasti, hilanglah musik-musik india itu dari kehidupanku. Tergantikan oleh boyband-boyband yang mendebarkan hati. Bergantilah Bollywood dengan Holywood secepat kilat.
Sekarang, setelah semuanya terasa lebih labil dan terkontrol. Saya merasa tertarik lagi ke masa-masa itu. Lalu diam-diam memutuskan untuk menikmati apa yang dulu tertunda.
Kalau saya sedang sendiri di rumah atau di kosan, dan iseng memencet channel ini dan itu, dan tidak sengaja menemukan statiun tv yang sedang memutarkan film india, saya pasti *tanpa sadar* celingak-celinguk memastikan bahwa tidak ada orang di dekat saya, supaya saya bisa menonton dengan tenang dan tidak tegang :D
Hm. Saya jadi curiga. Jangan-jangan hasrat saya ingin menjadi penari, muncul dari efek menonton film india di masal kecil???
Ah. Masa bodo. Yang penting sekarang saya menyebut diri saya penari. Walapun masih amatir.
Ngomong-ngomong, perlu digarisbawahi. Kesukaan saya menonton film india tidak ada hubungannya dengan selera cowo ya. Saya ga suka pria India (ehem.. Sorry buat yang punya cowo India, berinisal D)
Menurut saya, mereka hiperbol. Terlalu drama. Hah, saya sudah cukup drama. Kalau saya harus berpasangan dengan seseorang yang drama juga. Apalah jadinya hidup saya ini??
Saya lebih suka pria-pria pribumi khususnya laki-laki priyangan. Akang-akang nu kararasep. Atau laki-laki latino bermata hijau atau coklat, berambut keriwil, berbadan kekar dan berkulit gelap. Rrrrr.. (loh?!?)
Atau si dia, lelaki bermata biru, yang tak mungkin ku miliki karena sudah diambil. (yeah, kalian tau lah siapa yang gw maksud : Ayangku sayang….)
Curcol.
So, anyway.
Saya sudah menceritakan salah satu dari sekian banyak aib lain yang belum saya ceritakan. Lega rasanya sudah berbagi. Kalau tiba-tiba kalian menemukan saya sedang menatap serius ke layar tivi sambil joget-joget, jangan diganggu ya. Supaya saya bisa menikmati sebentar saja my guilty pleasure.
Haaaaaaaaaa..aaaaaaaaaa…aaaaa…..
*ceritanya gw pamit sambil nyanyi ala india dengan suara super cempreng*
i love you, BF(s)F
"Satu orang musuh itu terlalu banyak dan seribu orang teman itu terlalu sedikit."
Tadi malam Mamah saya tiba-tiba nyeletuk seperti itu waktu kami sedang menonton tv. Saya langsung saja menyetujui perkataan malaikat saya itu.
Kalau saya harus menjawab pertanyaan berat ini : "who is your bff*?"
*best friend forever. Masa ga tau sih. Ga gaool deh loe.
Mungkin saya harus berpikir lama untuk menjawabnya.
Jujur, saya tidak bohong. Saya menganggap semua teman dekat saya bff. Secara harfiah, kata BEST memang seharusnya memunculkan satu jawaban saja. Best - Terbaik. Sesuatu yang berawalan TER-, biasanya merujuk pada satu benda. Karena itulah disebut superlatif.
Nah, masalahnya, saya tidak bisa menentukan siapakah si superlatif itu di dalam kehidupan pertemanan saya.
Seribu orang teman itu terlalu sedikit.
Beberapa kandidat kuat untuk merebut posisi BFF itu tentu saja ada. Mulai dari teman semasa SD, SMP, SMA, kuliah dan random friends yang saya kenal dari dan di mana-mana.
Hanya saja, mereka sudah berada di posisi masing-masing dengan porsi yang berbeda-beda. Dan saya tidak bisa memilih satu. Tidak bisa memperkecilnya menjadi satu. Terlalu sedikit. Tidak cukup untuk membentuk SATU. Tidak akan pernah cukup.
They are just too precious to be counted and labeled.
I love you all.
Best Friends Forever.
Tadi malam Mamah saya tiba-tiba nyeletuk seperti itu waktu kami sedang menonton tv. Saya langsung saja menyetujui perkataan malaikat saya itu.
Kalau saya harus menjawab pertanyaan berat ini : "who is your bff*?"
*best friend forever. Masa ga tau sih. Ga gaool deh loe.
Mungkin saya harus berpikir lama untuk menjawabnya.
Jujur, saya tidak bohong. Saya menganggap semua teman dekat saya bff. Secara harfiah, kata BEST memang seharusnya memunculkan satu jawaban saja. Best - Terbaik. Sesuatu yang berawalan TER-, biasanya merujuk pada satu benda. Karena itulah disebut superlatif.
Nah, masalahnya, saya tidak bisa menentukan siapakah si superlatif itu di dalam kehidupan pertemanan saya.
Seribu orang teman itu terlalu sedikit.
Beberapa kandidat kuat untuk merebut posisi BFF itu tentu saja ada. Mulai dari teman semasa SD, SMP, SMA, kuliah dan random friends yang saya kenal dari dan di mana-mana.
Hanya saja, mereka sudah berada di posisi masing-masing dengan porsi yang berbeda-beda. Dan saya tidak bisa memilih satu. Tidak bisa memperkecilnya menjadi satu. Terlalu sedikit. Tidak cukup untuk membentuk SATU. Tidak akan pernah cukup.
They are just too precious to be counted and labeled.
I love you all.
Best Friends Forever.
17.5.10
Sedang (sok) sibuk
Psssst.. saya sedang (sok) sibuk belakangan ini.
Sibuk merencanakan ini dan itu. Banyak sekali rasanya agenda yang harus dijalani untuk dua bulan ke depan.
Tapi.. saya belum bisa cerita banyak. Terlalu banyak yang ada di kepala dan belum tertumpahkan dalam kata-kata. Walaupun udah ada bayangan ntar mau nulis apa aja :D
Nanti ya. Saya jamin ceritanya akan lebih panjang dari cerita saya tentang backpack part 1--Bromo dua tahun yang lalu.
Saya mau lanjutin jadi orang (sok) sibuk lagi ah.
*ini ceritanya saya dan Dabu lagi berbincang2 seru tentang kesibukan yang akan terjadi dalam waktu dekat ini*
Mari...
Sibuk merencanakan ini dan itu. Banyak sekali rasanya agenda yang harus dijalani untuk dua bulan ke depan.
Tapi.. saya belum bisa cerita banyak. Terlalu banyak yang ada di kepala dan belum tertumpahkan dalam kata-kata. Walaupun udah ada bayangan ntar mau nulis apa aja :D
Nanti ya. Saya jamin ceritanya akan lebih panjang dari cerita saya tentang backpack part 1--Bromo dua tahun yang lalu.
Saya mau lanjutin jadi orang (sok) sibuk lagi ah.
*ini ceritanya saya dan Dabu lagi berbincang2 seru tentang kesibukan yang akan terjadi dalam waktu dekat ini*
Mari...
11.5.10
Ayo tebaaak!!
Coba liat apa yang saya temukan waktu saya jalan menuju Plasa Senayan, pagi ini...
Karena saya penasaran, saya kejar ni mahluk ajaib. Lari-lari kecil. Pengen liat mukanya dari depan, atau minimal dari samping deh. *Penting banget ga sih idup gw*.
Seeet dah. Ni orang selain ajaib, dia juga jalannya cepet bener. Kuda pincang lewat deh.
Dari pada ga dapet sama sekali, saya kekeuh mengambil foto dia lagi. Biarpun dari belakang.
Dan tetap meninggalkan kemisteriusan. Apakah dia lekong apa pere?? Soalnya dia pake anting banyak banget, sayang ga keliatan di kamera. Oh iya, dia juga pake sepatu sneakers yang lucu banget! Tapi tasnya kayaknya berat banget. Dan bentuknya kaya tas cowo. Kan tambah penasaran dia berkelamin apa. *terus kenapa, ndaaaa???!??*
Anehnya lagi, waktu sampe parkiran dia tiba-tiba menghilang, saudara-saudara. Hiiiiiiiiiiiiy... seyeeem :-ss
Jangan-jangan dia emang bukan dari planet bumi. Jangan-jangan sebenernya dia ngebuntutin gw?!? *hm, ngebuntutin cara baru : jalan di depan orang yang akan dibuntutin biar ga ketauan ngebuntutin. Biar ga kaya buntut. HATI-HATI*
Karena saya parno. Takut diculik dan digundulin kaya doi, saya cepet-cepet masuk Plasa Senayan dan masuk kamar mandi. Trus pipis. Dan dandan. *semakin ga penting informasi yang ditulis*
Sudah. Segitu aja posting hari ini :D
heheehehe..
Karena saya penasaran, saya kejar ni mahluk ajaib. Lari-lari kecil. Pengen liat mukanya dari depan, atau minimal dari samping deh. *Penting banget ga sih idup gw*.
Seeet dah. Ni orang selain ajaib, dia juga jalannya cepet bener. Kuda pincang lewat deh.
Dari pada ga dapet sama sekali, saya kekeuh mengambil foto dia lagi. Biarpun dari belakang.
Dan tetap meninggalkan kemisteriusan. Apakah dia lekong apa pere?? Soalnya dia pake anting banyak banget, sayang ga keliatan di kamera. Oh iya, dia juga pake sepatu sneakers yang lucu banget! Tapi tasnya kayaknya berat banget. Dan bentuknya kaya tas cowo. Kan tambah penasaran dia berkelamin apa. *terus kenapa, ndaaaa???!??*
Anehnya lagi, waktu sampe parkiran dia tiba-tiba menghilang, saudara-saudara. Hiiiiiiiiiiiiy... seyeeem :-ss
Jangan-jangan dia emang bukan dari planet bumi. Jangan-jangan sebenernya dia ngebuntutin gw?!? *hm, ngebuntutin cara baru : jalan di depan orang yang akan dibuntutin biar ga ketauan ngebuntutin. Biar ga kaya buntut. HATI-HATI*
Karena saya parno. Takut diculik dan digundulin kaya doi, saya cepet-cepet masuk Plasa Senayan dan masuk kamar mandi. Trus pipis. Dan dandan. *semakin ga penting informasi yang ditulis*
Sudah. Segitu aja posting hari ini :D
heheehehe..
9.5.10
Roommate(s)
Selama saya ngekos dari jaman kuliah dulu sampe sekarang. Kalau diitung-itung saya punya 5 roommates.
BANYAK YA NDAAA?!?
iya, saya wanita nomaden. Hobinya pindah kosan. Ga sadar diri suka ngerepotin temen-temen kalo pindahan. Hehehe
Room mate pertama saya namanya Hanna. Bukan Hanna Montana *krik krik*. Nama lengkapnya Hanna Nabila Alwainy.
campuran Arab-manado-belanda.
Dia adik kelas saya di kampus. Sama-sama anak Belanda juga. 2 tahun di bawah saya. Jadi dia manggil saya Ka Anda.
setiap malem kerjaaan kami gosiiiip sampe gila. Ketawa-ketiwi ga jelas. Nonton DVD ampe pagi. Dan suka membajak ruang tivi kosan yang kebetulan ada di samping kamar kami. HAHAHAHA. Apalagi kalo lagi ada pertandingan bulu tangkis. BOOOO.. kosan berubah jadi arena nonton. Berisik banget. Padahal yang nonton cuma saya dan dia. *gelenggelengpala*
BANYAK YA NDAAA?!?
iya, saya wanita nomaden. Hobinya pindah kosan. Ga sadar diri suka ngerepotin temen-temen kalo pindahan. Hehehe
Room mate pertama saya namanya Hanna. Bukan Hanna Montana *krik krik*. Nama lengkapnya Hanna Nabila Alwainy.
campuran Arab-manado-belanda.
Dia adik kelas saya di kampus. Sama-sama anak Belanda juga. 2 tahun di bawah saya. Jadi dia manggil saya Ka Anda.
setiap malem kerjaaan kami gosiiiip sampe gila. Ketawa-ketiwi ga jelas. Nonton DVD ampe pagi. Dan suka membajak ruang tivi kosan yang kebetulan ada di samping kamar kami. HAHAHAHA. Apalagi kalo lagi ada pertandingan bulu tangkis. BOOOO.. kosan berubah jadi arena nonton. Berisik banget. Padahal yang nonton cuma saya dan dia. *gelenggelengpala*
Trus, setelah Hanna. Masih di kosan yang sama, saya pindah kamar dengan teman seangkatan saya : Ocha. Rossa KSP nama lengkapnya. Si kecil yang lincah. Penari handal tak tertandingi goyangan dan kelincahannya. Sadistis kalo udah nari. Kami melewati sisa semester akhir bersama. Tapi seperti yang sudah saya bilang, karena dia penari hebat, jadi dia super duper sibuk gitu deh. Setiap hari kerjaannya, ya nari. Dari pagi ampe pagi lagi. Saya udah bisa dijandain sama dia. Punya roommate kaya ga punya roommate. Tapi justru saya sama dia deketnya berbeda. Karena kualitas waktu yang mahal, kami biasanya ngobrolin sesuatu yang penting sampe ga penting banget kalo lagi ada waktu sampe gila deh.
Roommate ke tiga, masih temen seangkatan, tapi sekarang beda kosan. Iya, saya akhirnya meninggalkan kosan terpewe selama dua tahun. AYUNDA.
Saya memutuskan untuk ngekos bareng Oneng yang punya nama bagus Annisa Rufaida.kosannya ga terlalu jauh dari Ayunda. Masih di sekitar stasiun UI. Kali ini pas banget di belakang stasiunnya.
Durasi saya ngekos sama Oneng ga terlalu lama. Mungkin sekitar dua atau tiga bulan. Itu pun cuma untuk menghabiskan waktu mengunggu wisuda. Karena rencananya saya mau pulang ke Serang setelah lulus *rencana tinggal rencana, sampe sekarang saya masih di Jakarta*.
Sebelumnya, saya dulu pernah sedikit cerita tentang Oneng kan yah? Atau belum? Kalo udah maap, kalo belum ya saya ceritain lagi deh.
Jadi si Oneng Maroneng ini adalah orang yang ga pernah saya bayangin akan jadi salah satu sahabat saya di masa depan. Abisnya saya suka bete sama dia. LEMOT. udah gitu letoy alias kurus betul *buset, napa jadi maen fisik dah* Hahaha, becanda. Bukan, bukan gara-gara itu ko saya dulu ga mau deket-deket dia. Saya dulu ngerasa belum cocok dan klik aja, jadinya ya semua orang yang ga klik sama saya, saya anggap aneh.
*dasar sayanya juga aneh*
Maaar, sekarang saya sama oneng udah kaya apaan tau temenannya. Aku sayang Oneng sekali :)
Setelah bercerai dengan Oneng, karena dia harus balik ke rumah orangtuanya setelah kami diwisuda, saya yang waktu itu sudah diterima bekerja, ga bisa pulang ke Serang, dan memutuskan untuk tetap ngekos di Depok aja. Padahal tempat kerja saya di Kemang. Depok-Kemang selama hampir 7 bulan. Saking cintanya saya sama Depok. Harusnya foto saya terpajang di samping jalan deket BSI, menggantikan foto Bupati Depok yang kurang fotogenik dan membuat mata sakit.
Saya pun berkamar dengan Dain. Yess. Si wanita pengocok perut dan pandai ini. Dahlia Isnaini.
Bulan-bulan bersamanya saya selalu disuguhkan Opera Van Dain setiap hari. Ketawa mulu!! Setiap malem gosip ampe mati *tidur, maksudnya*.
Selain ketawa, dia juga menemani saya saat saya harus melewati masa-masa berat saya waktu itu. Menangis bersama dia sama nikmatnya seperti tertawa berdua.
Akhirnya, saya menyerah. Saya ga kuat bolak balik Kemang-Depok. Akhirnya saya memutuskan cari kosan di deket kantor. Dan saya pun pindah. Pertama kali lepas dari Depok. Rasanya ANEH. Ramai tapi sepi. Berbeda sekali dengan waktu di Depok. Depok yang sepi tapi selalu meramaikan hidup saya.
Kurang lebih 5bulan, saya ngekos sendiri di daerah kemang selatan. 1 kilo dari tempat kerja saya.
Sebenernya saya ga terlalu suka kosan ini, jadi saya pun mencari kosan baru. Alhamdulilah dapet yang lebih enak dan lebih deket ke kantor. Cuma 300meter mungkin. Berada pas di tengah2 rumah gedongan. Kebanyakan rumah bule dan para dubes. Kosan saya nyempil di tengah-tengah. Kecil. Mungil. Dan menggemaskan, seperti saya.
Saya suka sekali kosan saya sekarang. Entah kenapa. Cocok fengshui-nya.
anyway, kembali ke room mate.
3 bulan pertama saya sangat menikmati ngekos sendiri, karena memang ga ada temen yang kerja di sekitar sini. Jadi mau ga mau harus ngekos sendiri.
Eh, tak disangka tak dinyana. Saya memang selalu ditakdirkan untuk mempunyai pasangan kamar alias roommate.
Datanglah seorang cewe dalam kehidupan saya, bernama Fe. Aga jauh sama nama lengkapnya : Rossalyn Ulfa. Mungkin teman2nya mengambil bunyi vokal suku terakhir nama dia FA, dan dipelesetin biar jadi tambah keren mejadi FE. *bukan begitu, Fe??*
Saya kenal dia setahun yang lalu di kantor. Tapi setahun yang lalu juga dia sudah resign dari kantor. Entah kenapa, saya waktu itu tidak begitu perduli.
Nah, sekarang tiba-tiba dia datanglah ke kehidupan saya. Selonong boy. Dasar sayanya juga yang murahan, mau saja menerima dia. Hahaha.
Jadilah dia sekamar dengan saya sekarang. Dia sedang dalam misi menyelesaikan skripsinya yang tertunda.. 2 TAHUN! Mari bertepuk tangan sedikit untuk dia. Dahsyat, fe!
Karena tujuannya mulia, mau menyelesaikan skripsi tahun ini, deadline juli 2010, dan ingin cepat-cepat kembali ke pangkuan bumi pertiwi dia : Balikpapan. Saya menerimanya sebagai roommate.
Dia lah orang terakhir dari list panjang teman sekamar saya.
Percaya atau tidak, saya punya firasat. Sepertinya akan punya roommate baru. Kali ini firasat saya mengatakan saya akan mendapatkan roommate yang extreamly different. Siapakah dia? di manakah saya akan berada? dan bagaimanakah dia? Tunggu kelanjutan kisahnya hanya di sini.
?
what a list.
what a roommates.
Kameraku sayang.. kameraku malang.
"Teh, kameranya rusak. Jatoh di karang laut" begitu kata adik saya suatu sore.
saya waktu itu lagi anteng duduk nonton infotainment.
tiba-tiba harus memutar badan dan menatap serta mencerna kata demi kata yang adik saya ucapkan.
Tadi dia bilang apa ya? kata saya pada diri sendiri.
setelah saya mengingat dan memutar rewind perkataan adik saya barusan dan mentranslatenya ke dalam bahasa manusia, saya baru tersadar.
oh noooo!!! *drama mode: ON*
"Hah?!? kenapa? Ko bisa????" reaksi saya terkejut tanpa dibuat-buat.
"Iya, jatoh. Abisnya licin banget karangnya. Embi* aja sampe jatoh, nih liat lecet-lecet" jawab dia sambil menunjuk ke betis kanannya.
Sumpah. Saya yang tadinya ber-mood bagus menonton gosip di sore hari, harus ikhlas menekan tombol OFF untuk mood bagus menjadi mood sedih-tak terkira-hancur-lebur-ingin marah tapi ga tega-desparatecameragirl-menjadi ON.
setelah mendengar pembelaan adik saya, saya ga bisa berkata apa-apa lagi selain kembali membalikkan badan ke arah tivi dan *pura-pura* melanjutkan nonton gosip sambil bilang : "ya udah, ga papa."
sadar kalau adik saya udah bikin saya sedih, dia langsung meninggalkan saya sendiri di depan tivi. Mamah, Papah, dan adik saya yang satu lagi, yang mendengar dari jauh, ikut terdiam.
Mereka ga bisa bilang apa-apa untuk menghibur saya.
Sementara, saya di depan tivi, tentu saja bukannya kembali menikmati acara gosip malah menangis tersedu-sedu *tanpa suara karena malu ketauan nangisin kamera*.
saya tau, mereka-orang rumah- tau, kalau saya saat itu sedang menangisi berita duka kamera saya itu. saya dan mereka membiarkan saya menangis.
Berlebihan mungkin sebagian orang akan bilang. Tapi sungguh, saya menangisi berita kehancuran kamera saya lebih emosional daripada waktu saya keilangan handphone.
Saya sayang banget sama kamera saya.
hiks.
kembali ke cerita.
Malamnya, saya ga berani keluar kamar. Karena mata saya udah bertransformasi menjadi mata kerokeropi alias bengkak bener.
Mamah saya pun akhirnya ga tahan, dia manggil adik saya dan memintanya untuk membawa "mayat" kamera tersayang ke tempat reparasi kamera malam ini juga.
saya tambah sedih. pundak pun naik turun lagi. mengangis kembali.
huuuhuu kameraku sayang. mudah2an kamu bisa diselamatkan, doaku dalam hati sebelum adikku berangkat pergi membawanya.
dua jam saya tunggu di depan rumah, begitu adik saya sampai, saya tidak bertanya. Mata saya yang sudah tidak sabar menanyakan bagaimana nasib kamera tersayang saya, langsung dijawab oleh si adik.
"ga bisa dibenerin"
JLEB.
Kali ini bukan hanya pundak yang naik-turun *nangis maksudnya, tapi kepala saya juga ikutan pusing liat bentuk kamera yang sekarang udah cacat.
oh, kameraku sayang.
Sesampainya saya di Jakarta, saya langsung meletakkan di atas lemari kosan saya. Niat saya untuk membawanya ke dealer resmi dan memperbaikinya sudah saya urungkan. Dia mungkin bisa diselamatkan, tapi saya lebih memilih untuk membiarkannya "tidur" saja.
Di sini, lemari kamar kosanku.
Harapan saya sengaja menaruh wujudnya di situ adalah saya akan selalu mengingat kenangan bersama selama kurang lebih dua tahun, menjadikan saya seorang yang sabar, dan belajar melepaskan sesuatu yang benar-benar saya cintai.
saya jadi teringat perkataan seorang teman "It's a thing. We couldnt help to have it forever. And it's not a God. it will gone one day"
Sekarang saya lagi nabung buat cari pengganti si almarhum. Saya ga tahan lama-lama janda kamera. Kamera handphone kurang nampol.
Saya juga ga mau kadar kenarsisan saya nanti akan berkurang gara-gara saya jadi lebih sedikit difoto dan memfoto diri sendiri. Tidaaak!
Jadi, mohon doanya untuk segera memiliki kamera baru yaaaa.
AMIEN.
7.5.10
Kalo di posting sebelumnya saya udah sedikit cerita tentang Liga Tari, kali ini saya mau pamer foto-foto dari mulai latihan reguler, latihan intensive buat pagelaran, sampe pas di karantina sebelum pagelaran.
Foto-foto di atas saya pikir cukup untuk menceritakan apa yang saya rasakan.
One pic can describe thousands of words.
2.5.10
Papah Birthday
Kemaren Papah saya berulang tahun. Umurnya sudah pencapai kepala lima. Persisnya, tidak akan saya katakan di sini. Rahasia Papah harus saya jaga dengan baik. Bisa turun pasaran, kata Papah.
Untuk pertama kalinya, kami menyempatkan keluar makan bersama demi merayakan hari lahir kepala rumah tangga kami ini. Sebelumnya kami belum pernah sekalipun, secara sengaja meluangkan waktu untuk makan bersama. Jadi kesempatan ini bisa dibilang sangat langka. Kalaupun pernah, biasanya kami lakukan setelah atau sebelum ada acara khusus. Misalnya, sehabis menghadiri wisuda saya, atau adik saya, kami biasanya mampir dulu ke suatu tempat untuk makan bersama. Itu pun karena unsur ketidaksengajaan.
Dan meskipun acara makan bersama di luar ini, suasanannya tidak berbeda jauh seperti makan bersama di rumah, hanya kali ini ada pelayan dan ada banyak lilin saja, toh saya tetap merasa bahagia.
Sepanjang kurang lebih dua jam, saya ga berenti-berenti nyerocos tentang ini-itu, bertanya begini-begitu. Saya senang bisa berkumpul dan melihat orang-orang yang saya sayang ada di dekat saya.
Terlahir sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarga, yang dianugerahi kelebihan bicara, saya sudah terbiasa menjadi ice breaking di pembicaraaan keluarga. Kalau Mamah-Papah saya, tidak usah ditanya. Mereka memang suka berbicara *mungkin saya mendapatkan "anugerah" itu dari mereka*, jadi merekalah yang paling sering merespon ocehan-ocehan saya.
Sedangkan kedua adik laki-laki saya, yang notabene terlahir kembar tapi tak serupa dan sama, mereka sungguh menjadi peran pembantu saja dalam setiap dialog keluarga. Datar dot com. Entah karena mereka memang tidak suka berbicara banyak di hadapan kakak yang imut, dan kedua orang tua mereka ini, atau mereka kesulitan dengan bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan kami-kakak dan orang tua mereka-.
Mereka biasanya ga akan bicara kalau ga ditanya. Palingan senyam-senyum ga jelas. Maenin hape. Atau manggut-manggut kalau ada yang ngomong. Haduh, adik-adik yang aneh.
Meskipun begitu, saya tetap menyayangi mereka. Apa adanya.
Intinya, malam itu saya senang sekali. Di antara tawa dan canda, saya diam-diam menyucap syukur yang terdalam kepada Tuhan. Sungguh saya manusia beruntung. Dan tidak lupa saya memanjatkan doa untuk orang-orang yang ada di hadapan saya saat itu. Tidak hanya untuk Papah yang sedang berulang tahun, tapi setiap mereka. Mamah-Abang-Dede.
Lalu, setelah selesai makan, kami pun satu per satu mencium Papah tersayang dan mengucapkan "SELAMAT ULANG TAHUN YA, PAAAH"
^_^
1.5.10
Even Miracles take a little time...
Kemarin sore, saya mendapat kabar dari seorang teman. Kabar luar biasa baik yang bisa membuat hati saya begitu sedihnya karena merasa… kalah (atau, bersalah. Entahlah apa nama dari perasaan saya saat itu).
Dua menit setelah mendengar berita itu, mata saya berair. Saya tidak melawan jatuhnya air mata itu. Air mata kebahagian dan penyesalan.
Berita baik itu adalah kabar tentang salah satu teman baik saya yang akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa untuk menimba ilmu di negeri kincir angin, Belanda.
Seperti sudah saya singgung sebelumnya, saya sebagai temannya, tentu saya merasa ikut berbahagia. Saya tidak bisa meneleponnya saat itu juga karena pulsa di handphone saya tidak cukup, jadi saya hanya mengirim sms, menyatakan perasaan syukur dan selamat untuk dia.
Setelah saya mendapatkan sms balasan dari dia, tiba-tiba saya merasa hampa. Kosong. Sedih. Rasa sesal dan kesal yang entah datang dari mana dan untuk alasan apa, juga muncul.
Tanpa peringatan, airmata pun meluncur dengan mulusnya ke pipi saya. Air mata campuran. Senang dan sedih.
Kalau saya harus menakar, perasaan yang manakah yang lebih besar yang membuat saya menangis saat itu, sedih atau senang. Jawabannya sedih.
Saya sedih karena saya merasa tertinggal. Karena saya merasa saya tidak melakukan apa-apa. Karena saya merasa tidak berusaha sekeras yang dia lakukan. Karena saya terlalu lama memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak saya pikirkan. Karena saya merasa saya seharusnya bisa berjalan bersama seiring dengan usaha dia. Dan yang paling penting, karena saya baru saja menyadari apa sebenarnya tujuan yang ingin saya capai.
Selama ini, saya sibuk mencari dan mengumpulkan uang semata-mata demi memperlancar jalan saya menuju benua Eropa. Saya tidak memikirkan apa tujuan penting saya ke sana. Saya hanya tau, ego saya sudah menguasai dan menghipnotis saya untuk HARUS pergi tahun ini juga. Apapun alasannya.
Dan jujur, saya memang belum punya alasan. Saya hanya ingin pergi ke sana saja. Untuk apa? Tidak tau. Oh, tunggu sebentar. Saya tau alasannya. Saya HARUS pergi ke Eropa tahun ini, HANYA untuk menjejakkan kaki, melihat seperti apa bentuknya, menghirup udaranya, bertemu dan berbicara dengan orang-orangnya, dan berfoto dengan apa saja yang ada di sana. Dangkal!!
Sungguh saya malu. Menyadari betapa dangkalnya diri ini, Saya… tidak bisa berkata-kata.
Saya pun membiarkan air mata menguasai diri untuk beberapa saat. Lama. Sampai sadar saya kembali dan akal sehat saya mulai bekerja lagi.
Saya kemudian mencoba "bangun" dari tamparan yang membuat saya jatuh. Tamparan keras, sakit tapi menyembuhkan penyakit terlena saya. Mujarab sekali tamparan itu. Khusus dikirim lewat sahabat.
Lalu sekarang saya dihadapkan dengan ini : tetap berangkat tahun ini demi tercapainya point-point di atas dengan menguras semua tabungan saya, dan resiko saya akan kehilangan semua yang sudah saya bangun selama ini (materi, lebih tepatnya) ????
Sambil berpikir keras, meyakinkan diri dan mempertanyakan apa tujuan saya selanjutnya, saya merasa yakin kali ini, tujuan saya sudah jelas. Melanjutkan sekolah.
Selanjutnya, saya hanya tinggal berdamai dengan diri saya sendiri. Bersabar dan tetap berusaha. Tidak mau memadamkan sedikit pun ego (atau obsesi) untuk tetap pergi ke Eropa, hanya saja sekarang dengan tujuan yang lebih jelas, saya jadi merasa lebih bersemangat karena saya punya tujuan ke mana dan apa yang akan saya lakukan di sana.
Selain berdamai dengan ego, saya juga berkompromi dengan tempat. Tidak salah lagi kalau Eropa adalah mungkin tujuan utama saya sejauh ini, tapi saya juga tidak mau menutup mata untuk tempat-tempat lain. Toh tujuan saya bukan untuk travelling, tapi studying.
Mengutip quote dari Fairy Godmother of Cinderella, "Even miracles take a little time".
So I'll go with Godmother…
PS : Van harte gefeliciteerd lieve Dahlia Isnaini. So proud of you and I always know you'll do your best. Wish you nothing but success xxxxx.
Anda.
Subscribe to:
Posts (Atom)





















