2.5.10

Papah Birthday


Kemaren Papah saya berulang tahun. Umurnya sudah pencapai kepala lima. Persisnya, tidak akan saya katakan di sini. Rahasia Papah harus saya jaga dengan baik. Bisa turun pasaran, kata Papah.



Untuk pertama kalinya, kami menyempatkan keluar makan bersama demi merayakan hari lahir kepala rumah tangga kami ini. Sebelumnya kami belum pernah sekalipun, secara sengaja meluangkan waktu untuk makan bersama. Jadi kesempatan ini bisa dibilang sangat langka. Kalaupun pernah, biasanya kami lakukan setelah atau sebelum ada acara khusus. Misalnya, sehabis menghadiri wisuda saya, atau adik saya, kami biasanya mampir dulu ke suatu tempat untuk makan bersama. Itu pun karena unsur ketidaksengajaan.




Dan meskipun acara makan bersama di luar ini, suasanannya tidak berbeda jauh seperti makan bersama di rumah, hanya kali ini ada pelayan dan ada banyak lilin saja, toh saya tetap merasa bahagia.

Sepanjang kurang lebih dua jam, saya ga berenti-berenti nyerocos tentang ini-itu, bertanya begini-begitu. Saya senang bisa berkumpul dan melihat orang-orang yang saya sayang ada di dekat saya.




Terlahir sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarga, yang dianugerahi kelebihan bicara, saya sudah terbiasa menjadi ice breaking di pembicaraaan keluarga. Kalau Mamah-Papah saya, tidak usah ditanya. Mereka memang suka berbicara *mungkin saya mendapatkan "anugerah" itu dari mereka*, jadi merekalah yang paling sering merespon ocehan-ocehan saya.

Sedangkan kedua adik laki-laki saya, yang notabene terlahir kembar tapi tak serupa dan sama, mereka sungguh menjadi peran pembantu saja dalam setiap dialog keluarga. Datar dot  com. Entah karena mereka memang tidak suka berbicara banyak di hadapan kakak yang imut, dan kedua orang tua mereka ini, atau mereka kesulitan dengan bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan kami-kakak dan orang tua mereka-.


Mereka biasanya ga akan bicara kalau ga ditanya. Palingan senyam-senyum ga jelas. Maenin hape. Atau manggut-manggut kalau ada yang ngomong. Haduh, adik-adik yang aneh.

Meskipun begitu, saya tetap menyayangi mereka.  Apa adanya.





Intinya, malam itu saya senang sekali. Di antara tawa dan canda, saya diam-diam menyucap syukur yang terdalam kepada Tuhan. Sungguh saya manusia beruntung. Dan tidak lupa saya memanjatkan doa untuk orang-orang yang ada di hadapan saya saat itu. Tidak hanya untuk Papah yang sedang berulang tahun, tapi setiap mereka. Mamah-Abang-Dede.

Lalu, setelah selesai makan, kami pun satu per satu mencium Papah tersayang dan mengucapkan "SELAMAT ULANG TAHUN YA, PAAAH"



^_^




No comments: