22.5.10

Guilty Pleasure

Yang namanya pleasure, pasti sesuatu yang menyenangkan dong, ya?!
Sesuatu yang seharusnya kita nikmati dengan perasaan bebas. Tidak ada tekanan dan merasa bersalah. Tapi kenapa ada hal yang namanya guilty pleasure ya?

Guilty = (merasa) bersalah
Pleasure = kesenangan
Hm, jadi kalau saya gabungkan kedua kata ini menjadi satu frase. Mungkin artinya kurang lebih seperti ini :
Guilty Pleasure = kesenangan yang dilakukan atau dijalani dengan perasaan bersalah.

Saya baru saja menyadari bahwa saya beberapa kali (tidak terlalu sering *membela diri*) berada di situasi guilty pleasure ini.

Puncak A-HA moment saya ketika menyadari Guilty Pleasure belum lama ini. Beberapa jam lalu, lebih tepatnya.

Aduh, sebenernya saya agak malu mengakuinya. AIB, booo. (yaa iya doong, namanya juga guilty pleasure, kalo ga guilty, pleasure doang, ga ada rasa malunya NANDAH.)

Ok, ok. Saya akan mengaku. Tenang saja. Saya tidak akan melarikan diri dari kenyataan-mengungkap-aib-sendiri-di blog-saya.

My guilty pleasure is watching india movie.
*nunduk, tutup muka pake tangan, melipir ke pintu, diem2 geleng-geleng kepala trus jedukin jidat ke tembok sambil tetep joget-joget dikit *



Yang mau tertawa, silahkan.


Ada yang sekalian mau bunuh saya?? Please!


Sebenarnya masih ada beberapa lagi guilty pleasure yang sering saya nikmati. Banyak. Tapi ini adalah yang menurut saya berada di urutan paling atas list panjang guilty pleasure saya.

Eh, ngomong-ngomong saya ga doyan sama band -band alay ga jelas itu. Apalagi nonton sinetron. Harus dibedakan, guilty pleasure sama ketidaktertarikan ya!
Sinetron dan nonton musik band alay adalah salah satu hal yang paling saya hindari dan tidak akan pernah saya nikmati. Senikmat-nikmatnya. *doyan aja kaga*


Kembali ke aib = film india.

Jadi, setelah diingat-ingat. Saya ternyata sudah menyukai film india sejak saya masih lucu-lucunya. Mungkin waktu itu umur saya masih sekitar 8-10 tahun.
Saya ingat, setiap hari saya selalu rajin duduk di depan tivi buat mantengin orang india joget-joget di taman, di tiang, di lapangan, di kantor polisi, di mana-mana.
Saya suka liat kepala mereka yang suka geleng-geleng kalo berbicara, tangan kanan mereka yang selalu dinaikkan dan disodorkan ke lawan bicara, baju-baju sari yang dipakai wanita india -yang memperlihatkan perut dan lekuk tubuh-, dan tentu saja drama-drama yang sebenarnya sudah hampir selalu bisa saya prediksikan.

Justru itu. Menonton film india, saya merasa pintar sekali. Karena saya bisa dengan mudah mengetahui ke mana cerita akan bergerak dan berakhir seperti apa. Piece of cake to predict.

Sayang, kegemaran saya nonton india harus berakhir di masa SMP karena waktu itu teman-teman saya lebih tertarik pada sesuatu yang bersifat kebarat-baratan. Dari soal musik, film, apa saja. Saya, yang waktu itu masih labil *semacam sekarang tidak?!?!*, tentu saja tidak mau dibilang ga ngikutin jaman atau ketinggalan. Perlahan tapi pasti, hilanglah musik-musik india itu dari kehidupanku. Tergantikan oleh boyband-boyband yang mendebarkan hati. Bergantilah Bollywood dengan Holywood secepat kilat.

Sekarang, setelah semuanya terasa lebih labil dan terkontrol. Saya merasa tertarik lagi ke masa-masa itu. Lalu diam-diam memutuskan untuk menikmati apa yang dulu tertunda.
Kalau saya sedang sendiri di rumah atau di kosan, dan iseng memencet channel ini dan itu, dan tidak sengaja menemukan statiun tv yang sedang memutarkan film india, saya pasti *tanpa sadar* celingak-celinguk memastikan bahwa tidak ada orang di dekat saya, supaya saya bisa menonton dengan tenang dan tidak tegang :D

Hm. Saya jadi curiga. Jangan-jangan hasrat saya ingin menjadi penari, muncul dari efek menonton film india di masal kecil???
Ah. Masa bodo. Yang penting sekarang saya menyebut diri saya penari. Walapun masih amatir.


Ngomong-ngomong, perlu digarisbawahi. Kesukaan saya menonton film india tidak ada hubungannya dengan selera cowo ya. Saya ga suka pria India (ehem.. Sorry buat yang punya cowo India, berinisal D)
Menurut saya, mereka hiperbol. Terlalu drama. Hah, saya sudah cukup drama. Kalau saya harus berpasangan dengan seseorang yang drama juga. Apalah jadinya hidup saya ini??
Saya lebih suka pria-pria pribumi khususnya laki-laki priyangan. Akang-akang nu kararasep. Atau laki-laki latino bermata hijau atau coklat, berambut keriwil, berbadan kekar dan berkulit gelap. Rrrrr.. (loh?!?)
Atau si dia, lelaki bermata biru, yang tak mungkin ku miliki karena sudah diambil. (yeah, kalian tau lah siapa yang gw maksud : Ayangku sayang….)
Curcol.

So, anyway.
Saya sudah menceritakan salah satu dari sekian banyak aib lain yang belum saya ceritakan. Lega rasanya sudah berbagi. Kalau tiba-tiba kalian menemukan saya sedang menatap serius ke layar tivi sambil joget-joget, jangan diganggu ya. Supaya saya bisa menikmati sebentar saja my guilty pleasure.


Haaaaaaaaaa..aaaaaaaaaa…aaaaa…..
*ceritanya gw pamit sambil nyanyi ala india dengan suara super cempreng*

4 comments:

daboe said...

cakeeeppp...diem2 suka juga ma beginian. sumpah nda, gw mesem2 baca postingan lo ini.
saya butuh drama, that's why :)

Anonymous said...

eh yg tadi itu tulisan saya nda.. (ditie)

Anonymous said...

hahahaha... gw sih tau dr gesture tubuh lo nda.
bukan guilty pleasure.. tp pleasure for sure.. haha

enjoy!
tak akan kuganggu kl lagi nonton indiahe.
mungkin skrg daboe bisa menemani .. *kedip2 mata*

bunga nizam said...

ahahahaha...... parah yaaa lo... kemaren ngata2in gw seakan akan lo ga demeeeen,,,

padahal lo lebih NISTAAAA

eh bo... kalo gw masih setingkat lebih tinggi... nontonnya dari DVD bill up bukan dari Tipi yang udah diterjemahin,,

ahahahaha,.... silly silly silly..

dan walaupun gw ga bilang2 gw cinta India,,, kalo udah di Bali,, jati diri gw ini ga bisa dipungkiri dan bersyukurlah pada Tuhan,, katrna lo sudah melihat siapa gw sebenarnya :D :D

for me is more than a guilty pleasure maaaar the real me :D :D