23.5.10

Rest in peace, dreamer...

Malam itu..
Si gadis berlari kecil ke luar. Matanya merah. Basah.
Dia ingin mengadu pada semesta-sang langit, bahwa dia terluka.

Betapa hancur hatinya ketika ia menemukan sang langit juga berduka.
Kabut coklat menutupi sinar bintang. Sinar harapan si gadis pemimpi.
Malam itu..



Malam itu..
Si gadis keras kepala tetap mengadu pada sang langit. Menumpahkan semua.
Seketika ia menyadari sesuatu mulai terjatuh, satu demi satu.
Ia memandangi kepingan itu. Kepingan diri. Mimpi-mimpinya jatuh hancur.
Sambil menahan sakit, ia menengadah.
Langit pun ikut menangisi keruntuhan si gadis pemimpi.


"Bukan karena kamu, dia atau mereka. Bukan.
Dan ku mohon jangan mengiba kata maaf karena itu menyakitiku lebih dalam lagi.", Bisik si gadis nyaris tak bersuara. Ia hanya baru tersadar dari mimpinya yang panjang dan melelahkan. Mimpi indah tentang dirinya menjadi seorang pemimpi.
Malam itu..



Malam itu..
Si gadis harus memilih. Tetap hidup atau mati dalam mimpi.
Ia terdiam lama. Menunduk ke alam. Ia tahu ia sekarat.
Harapannya untuk hidup sudah hampir musnah.
Oleh hancurnya jiwa itu, ia lalu... menyerah.


Sudahlah, teman. Jangan menangis. Toh semua akan pergi pada akhirnya. Semua akan sendiri.
Pun si gadis pemimpi. Ia sudah sangat sekarat. Menunggu waktu mati. Sebentar lagi.
Malam itu..



Malam itu..
Si gadis terlalu lemah untuk berkata pada dirinya sendiri. Ia memilih untuk menyimpannya saja.
Rapat-rapat dan baik-baik.
Ia tidak akan pernah bisa bertahan tanpa bunga-bunga tidur .
Si gadis pemimpi hanya bisa bermimpi bersama kawan-kawannya.
Ia pemimpi yang lemah. 


Dengan sisa nafas mimpi yang ia punya, ia berdiri.
Memandang semesta untuk terakhir kalinya.
Lalu, sayup-sayup terdengar :
"selamat tidur untuk selamanya, gadis. Semoga kau tidak terbangun."
kata sang langit.
Malam itu..



Malam itu..
Si gadis pemimpi mati.

1 comment:

meida said...

andaa...
jangan bersedih.. ttp bermimpi!
wlpun ga semua bisa terasa indah.