26.5.10
Para pemain Sinetron in action.
Jadi ceritanya roommate saya, Fe, lagi ngidam pengen makan soto ayam malem itu.
Dia merengek-rengek untuk mencari dan menyusuri sepanjang kemang selatan demi menemukan soto. Dia percaya dia pernah liat ada yang jual soto ayam di sekitar Pizza hut situ.
Kebetulan saya hari ini belum makan apa-apa juga, baru buka puasa. Jadi saya mau aja diajakin makan soto. (kapan sih saya ga mau kalo diajakin makan?!?)
Berjalanlah kami.
Sampai akhirnya menemukan tenda abang soto itu, mata kami berbinar. Ah, kami akan segera membunuh rasa lapar dan memanjakan cacing2 di perut kami.
Yay.
Dengan semangat kami memesan soto dua mangkuk. Belum selesai saya memesan, satu tanpa bawang goreng, si abang tiba-tiba memotong, "sotonya lagi ga ada, Mba"
Cacing-cacing di perut kami berteriak kecewa dan menjerit2 seolah bisa mendengar perkataan si abang.
*menarik napas panjang*
Demi tercapainya misi, kami kemudian kekeuh sumekeuh mencari dan harus menemukan soto dambaan perut.
perjalanan dilanjutkan.
Sambil tentu saja bersenda gurau di sepanjang trotoar kemang yang -tidak berbentuk trotar karena banyak lobang, pohon, tukang jualan, dan benda-benda lain-, tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah benda kecil mengkilap.
Saya berhenti dan memekik dengan tatapan-mata-memicing-bibir aga monyong-persis Shiren sungkar di sinetron Cinta Fitri
"Feeee!! Liat tuh apa?!?" kata saya sambil menunjuk ke bawah kaki saya.
Tergeletak sebuah cincin perak putih.
Fe dengan sigapnya mengambil cincin itu dan berkata "Neeeeng, ini cincin kawin" kata dengan muka ga kalah drama. penekanan nada ada di huruf E.
"Oooh maay gooood. Apakah ini pertanda, Fe?? Mungkin ada seorang lelaki di luar sana, yang sengaja ngelempar cincin ini di jalan, dan berharap perempuan yang nemuinnya akan ngembaliin dan menjadi istrinya??"
kata saya semangat. Tetap dengan sinetron mode : ON.
Fe, yang awalnya berdrama-ria, langsung ilfeel denger saya berlebihan.
Dia langsung memutar2kan bola matanya 360 derajat sambil berlalu dan bilang "Haiyaaah neeeng!!"
Berlari-lari kecil, saya menyusulnya dan asik meneliti apakah cincin ini emas putih asli atau hanya perak2an.
Fe : "Besok lo coba tanya sama tukang emas ya, Neng. Siapa tau beneran emas putih."
Saya : "Hmm. Okey. Tapi kalo diliat-liat sih kayaknya bukan. Eh, tapi bisa jadi yang asli ya?. Lumayan juga ya Fe, kalo emas beneran. Bisa dijual. Ntar kita bisa makan enaaaak"
Fe : "Kayaknya tadi ada yang ngarep dapet jodoh!!"
Saya : *cengangas-cengenges, keki kegep murahan akut*
Ahhh! akhirnya perjuangan kami jalan menyusuri setengah kemang raya berujung sempurna. Kami menemukan sebuah tempat makan yang lumayan enak. Bersih. Sepertinya murah. Dan yang paling penting, ada sotonya. YAAY!!
Wah, tempatnya aga penuh. Kami segera melayangkan pandangan, mencari meja kosong. Yes, ada. Di tengah-tengah. Kami segera menuju ke sana.
Setelah duduk dan kipas-kipas dikit *mengingat jauhnya perjalanan kami tadi*, kami sudah siap memesan makanan.
Tapi oh tapi. Lihatlah apa yang kemudian ditemukan Fe tepat di depannya. Di atas meja itu.
Sebuah tulisan dari spidol marker. Deretan sebuah nomor handphone, teman-teman. Saya ulang, no handphone!
Tanpa isyarat, klik, mata kami langsung beradu. Dipicingkan. Siap melakukan adegan sinetron scene dua.
Fe : "Ooooh maaay goood!"
Saya : "Feeee...!!"
Fe : "Neeeng..!!"
Saya : "Sudah jelas ini pertanda Fe."
Fe : "Bisa jadi, Neng. Cepat telepon no ini dan katakan kau siap menjadi istrinya"
Saya : *kedip-kedipin mata sambil nganguk-nganguk mengiyakan*
.....
Buahahahahaha..aa..aa..aa.. tawa kami pun meledak.
Oooh, sungguh alay-nya kami saat itu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment