7.6.10

They called it Bali, i called it Love


Hari ketiga :

Pagi-pagi, mobil tante Bunga sudah nangkring di garasi. Mantaf. Seharian ini kami mau keliling Bali (umm, Cuma daerah Bali selatan sih. Ga semua daerah) bersama Bunga dan sepupunya, bernama Tommy. *Uhuk. Batuk dulu ah.*
Semalem sosok ini belum ada. Dia baru dateng tadi pagi. Sempet curi-curi pandang. Hm. Mayan.

Sebelum kami berangkat, kami sempet mampir ke tetangga Bunga yang notabene punya pabrik yang bikin baju-baju khas Bali gitu. Wiieeh.. senangnya bagai di pabrik coklat. Kalap buuu!!
Melihat kekalapan kami yang mulai tidak sehat dan bisa menghancurkan rencana seharian, kami buru2 meninggalkan tempat itu. Nanti saja kami akan kembali setelah selesai reli pantai. Pikir kami.

Sip. Tas sudah. Kaca mata sudah. Topi sudah. Air minum sudah. Cemilan sudah. Kamera sudah.
Berangkuuuuuts!

Tujuan pertama : Pantai Padang-padang.
Buat yang belum tau, seperti saya, pantai ini adalah pantai yang dipakai Mba Julia Roberts untuk syuting film Eat, Pray and Love itu loh. Film-nya emang belum keluar. Saya juga belum sempat baca bukunya. Nanti saya harus beli kalau sudah balik ke Jakarta.
Di perjalanan, kami berhaha-hihi dan menyanyi. Sambil tentu saja berkenalan dan ngobrol-ngobrol sedikit sama sepupunya Bunga yang bertugas sebagai supir kami hari ini. *Uhuk. Batuk lagi ah.*

Selain penampilannya yang GAOL banget, ternyata selera musiknya Tommy juga menggambarkan anak muda Bali sekali. Jedak jeduk sepanjang jalan. Sampe akhirnya si Bunga protes-protes minta ganti CD. Dan coba tebak dia menggantinya dengan CD apa? Ya. CD lagu-lagu India!
Ya tuhaaaaan.
Belum abis penderitaan kami dengan harus mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang karena si Bunga saking sukanya sama lagu yang berjudul Suche Suche ini. Tiba-tiba tanpa diduga Tommy juga memutar lagu yang ga kalah dahsyat dari Suche Suche-nya Bunga. Dasar emang darah India yang sudah mengendap di keluarga mereka, Tommy yang gaul pun tetap tidak bisa melepaskan kecintaannya pada music indiahe. Diputarlah sebuah lagu india berjudul Aisha, yang punya beat macam lagu-lagu hip hop barat. Haduh, ampun DJ Tommy. Saya ampe jeduk-jedukin pala saking menikmatinya. Hahahaha.. *batuk-batuk yang banyak ah. Uhuk uhuk uhuk.*


Jadilah sepanjang jalan dari Denpasar ke daerah Bukit, Padang-padang kami diracuni oleh keINDIAan mereka. Damn! I enjoyed it so much. Hahaha baru kali ini mersakan pleasure tanpa guilty. Mantaffff.


Sesampainya di Padang-padang, saya disambut oleh pemandangan super dahsyat dari pantai cantik itu. O em jay! SUPER KEWL!! Kereeeeen. Huhuhuhu, ga punya kata-kata yang bisa mewakili cantiknya pantai ini. Kalap!! Langsung foto-foto walaupun panasnya minta ampun. Di titik ini, saya udah ga perduli kalaupun kulit saya terbakar apalagi Cuma gosong-gosong doang. Lah wong saya udah gosong dari sananya kok. Jadi perduli setan lah.
Yang penting foto!!

Saking bagusnya ni pantai, si Oneng sampe bilang, “Wah, enak banget nih kalo bercinta di sini bersama kekasih hati.” Huahahaha.. Oneng biaaatch!! Damn agreed!

Tadinya saya udah mau lepas baju dan langsung nyelup ke laut yang berwarna hijau dan biru itu. Tapi berhubung cuma saya yang bersemangat berenang, yang lainnya cuma adem-ayem aja ga ada keinginan buat nyelup, saya jadi ragu. Trus di tambah lagi, Tommy bilang “Kalo berenang, enakan di Dreamland. Lebih luas dan lebih enak deh pokonya”. Uhuk.. uhuk.. *entah udah berapa kali saya batuk yah?*

Mendengar suggestion dari doi, saya manggut2 aja. Percaya penuh pada dia yang memang sudah kenal daerah sini.
Sebelum capcus, kami memuaskan diri buat foto-foto. Dari foto sendiri-sendiri, foto berdua, foto bertiga, foto berempat, foto preweding, sampe foto2 model kalender, sudah semua dicoba, kami pun meninggalkan Padang-Padang dan langsung menuju Dreamland.

Wiediih.. baru masuk pelatarannya aja, saya udah berdecak kagum. Gila nih si Tommy. Um.. maksud saya Tommy Suharto ya, bukan Tommy yang itu tuh*EHEM-UHUK, keselek dikit. Gara-gara kebanyakan batuk*, oke banget mengelola tempat ini.  Berasa di San Fransisco. Yeah. San Fransisco in my dream. That why they called it DREAMLAND.

Sampai akhirnya masuk ke dalam dan melihat pantainya langsung. Saya terpana.
Ombaknya gede banget!! Mana mungkin saya bisa berenang di sini?? Kampreto!!
Waktu itu panasnya melebihi panas di Padang-Padang. Terik sekali. Ditambah angin kencang yang menciptakan ombak besar mengulung-gulung. Hiiiy.. ngeri deh.


Lama saya dan Oneng duduk terpesona melihat pantai ini. Cantik tapi menyakitkan. Itulah kata-kata yang kira-kira bisa saya gambarkan. Warna yang bercampur dari putihnya ombak, hijau di tengah-tengah dan biru di ujung laut. Hijau di samping kanan kiri pantai. Dan biru langit yang mencerahkan siang itu. Cantik. Juga menyakitkan melihat ombak besar yang tidak membiarkan seorang surfer pun menyentuhnya. Terlalu bahaya. Ombak itu bisa dengan mudahnya melumat apa pun yang ikut terbawa gelombang di bibir pantai. Hiiiy.. saya diam-diam bergidik. Merinding membayangkan kalau tiba-tiba tsunami datang. Serem. Tapi tetap cantik dengan birunya yang menenangkan mata.

Kecewa karena ga bisa berenang, saya merengek minta kembali ke Padang-Padang. Tapi 1 lawan 3, tidak berhasil. Mereka lebih memilih melanjutkan perjalanan ke pantai selanjutnya. Nusa Dua.
*menghela napas*
Saya pun pasrah. sambil melirik tajam ke arah Tommy, memicingkan mata, saya  berkata, menirukan dia “Kalo berenang, enakan di Dreamland. Lebih luas dan lebih enak deh pokonya”
Bukannya merasa bersalah, dia malah ketawa ngakak. Heeeeuuh! Kesel tapi tetep pengen batuk!! *UHUK2!!*

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Nusa Dua. Tujuan utama di sana : Water Blow. Hmmm penasaran. Menurut cerita Bunga, tempat ini bisa blowing my mind. Really?? Hmm. Let’s see.
Di jalan, saya udah wanti-wanti Tommy buat cari tempat makan dulu. Mampir di mana dulu gitu, buat isi perut, laper. Udah waktu makan siang juga. Tapi di sepanjang jalan, yang kami temui hanya makanan sampah a.k.a junkfood. Ah, di Jakarta juga banyak makanan sampah mah.
Saya maunya makanan khas bali. Nasi campur kek, ayam betutu kek, apa lah yang berbau-bau Bali. Hmm.. susahnya minta ampun, karena kalau mau cari makanan gitu, harus ke arah yang berlawanan. Sementara jalan ke arah Nusa Dua ga ada tempat makanan khas Bali yang ok.
Jadi kami harus menahan lapar sampai kami selesai di Water Blow.

Ternyata benar!! Water blow ini memang berhasil mem-blow my mind!! Gilaaaa.. keren ben-jet!!
Jadi, water blow adalah sebuah tempat yang penuh sama karang-karang tajam yang terletak di pinggir laut. Nah, ombak yang menghantam karang-karang itu saking besar dan kuatnya sampe bisa membuat sebuah letusan (blowing) setinggi 5 meter! Keren banget deh pokoknya. Lagi-lagi, cantik tapi menyakitkan.

Agak-agak serem juga soalnya menurut cerita warga, tempat ini udah memakan beberapa korban. Konon ada orang yang lagi berdiri di deket karang untuk liat ombak, kebawa ombak letusannya dan langsung masuk ke karang-karang tajam itu. Terhempas ke sana-sini. Merobek-robek setiap bagian tubuhnya. Huuuhuu serem.

Di sela-sela memandangi tempat ini, handphone saya berbunyi. Ada sms. Ah dari dia, seorang teman  yang memang tinggal di Bali, meminta untuk bertemu malam ini, setelah makan malam. Tentu saja saya bilang iya. Malam terakhir, jadi harus dimaksimalkan.


Kami pun ga berlama-lama. Setelah puas berfoto dan mengagumi ciptaan Tuhan ini, kami lanjut turun ke bawah. Ke pantai yang enak buat berenang. Maklum, bisul saya belum pecah. Pengen berenang dari tadi belum kesampean.
Emang dasar ga beruntung. Begitu sampe tepi pantai Nusa Dua yang lagi-lagi harus saya bilang cantik, hujan tiba-tiba turun. Batal total lah acara berenang saya. Kami berlari-lari menuju mobil sambil kebasahan. :(

Sudahlah. Saya ikhlas ga berenang hari ini. Kemarin kan sudah waktu di Jimbaran. Huh, walaupun agak menyesal kenapa tadi ga kekeuh berenang di Padang-Padang.
Kami melanjutkan perjalanan ke pantai bernama Double Six. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk tattoo!! Wooo hooo.. aku mau tato lumba-lumba J
Sebelumnya, saya dan Oneng memaksa Tommy untuk mencari tempat makan. HARUS! Kami sudah ga tahan. Laper boooo. Bisa mati di jalan nih. Udah sore gini belum makan apa-apa. Semacam lagi puasa lah liburan kami.

Ujan pun tak menghalangi kami pergi ke tempat makan. Sampai di sana, kami langsung melahap nasi campur yang rasanya aduhai lezatos.
Kenyang. Lanjut ke pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Bali : Joger.
Maaaak. Ini tempat penuhnya udah kaya apa tau. Saya ga betah lama-lama di sana. Cuma beli jaket dan kaos untuk adik kembar saya. Langsung ke luar dan masuk mobil. Capcus ke Double Six.

Pantai ini ceritanya pantai favorite si labil Tommy buat berenang.  Sayang, kami sampai terlalu sore. Jadi langit udah agak gelap dan ombak udah semakin ga karuan. Saya yang sudah ikhlas ga bisa berenang hari ini, ga napsu juga untuk berenang lagi. Jadi, saya hanya akan ditato saja. Sementara Oneng sibuk memoto saya, Tommy dan Bunga sibuk curhat-curhatan. Deuh.. curhat apaan sih, kalian? Serius amat. UHUK!! *pura-pura batuk, cari perhatian*.

YAY. I’ve got my dolphins tattoo now!
Mantaff.

Sekarang tinggal pulang ke rumah. Mamah Bunga udah teleponin kami dari tadi, minta balik cepet karena makan malam sudah disiapkan.

Oh, no! kami lupa harus kembali lagi ke tempat baju, tetangganya Bunga. Aduh. Kami pun cepat-cepat menuju sana. Sampai tempat tujuan, kami kalap beli ini itu. Titipan-titipan.
Beres.
Yaah, saya hampir lupa kalau saya masih punya janji ketemuan sama si dia. Waduh. Mana keburu nih, kata saya dalam hati. Sekarang aja udah jam 7. Saya bilang sama dia ketemuan jam 8. Sekarang saya di Denpasar. Kami sepakat buat ketemuan di daerah Jimbaran. 25 menit perjalanan ke sana.
Sekarang aja baru masuk rumah. Belum mandi, belum makan, belum ngobrol-ngobrol. Huaaaa.. mana keburu?!!?!
Saya pun panik. Segera mengsms dia dan bilang kalau saya masih di Denpasar dan kemungkinan harus mengundur jam pertemuan. Itu pun kalau dia tidak keberatan. Kalau dia tidak bisa, ya berarti belum jodoh. Wah, ternyata dia tidak masalah.
Sedikit tenanglah saya.

Mandi, makan, ngobrol-ngobrol dikit, selesai. Langsung tancap gas minta anterin Bunga menuju sebuah warung di daerah Jimbaran. Wusssh…
Walaupun awalnya agak kesulitan menemukan tempat yang disepakati, akhirnya ketemu juga. Campuran antara niat, usaha dan takdir, saya pikir.

Dan di sana lah saya. Bertemu dengan dia. Berjabat tangan. Berbincang-bincang. Berbagi cerita. Tertawa. Selayaknya teman lama yang sudah lama baru bertemu kembali. Awalnya saya pikir Oneng akan merasa “tersisihkan”. Tapi untunglah semuanya berjalan lancar. Oneng sepertinya juga menikmati pertemuan ini, sama seperti dia menikmatinya.
Saya senang.

Berbicara satu setengah jam sepertinya tidak cukup. Warung tempat kami bertemu sudah bersiap-siap menutup tempatnya. Kami pun harus segera pindah. Mencari tempat baru untuk melanjutkan pertemuan ini. Entah saya atau dia yang bersikukuh untuk tetap bersama menghabiskan malam terakhir saya di Bali. Saat itu, saya tidak bisa begitu saja meminta Bunga menjemput dan mengantar saya ke tempat baru. Terlalu merepotkan. Kendaraan yang ada di depan kami saat itu adalah motornya. Dia pun mengajak saya dan Oneng untuk naik motornya saja. Bali style, katanya. Haha.. dan perduli setan, saya pun akhirnya setuju untuk tumpuk 3 dalam 1 motor.

Lucu sekali. Di sepanjang jalan. Kami tertawa karena menurut saya pribadi ini adalah hal bodoh yang biasa saya tertawakan kalau saya lihat di mana pun. Naik motor bertiga??? So alay!! Big No No.
Tapi malam itu, kami tidak perduli. Jimbaran malam hari pun terasa akrab bekerja sama. Sepanjang perjalanan, terngiang-ngiang lagu “I’ve got a feeling. That’s tonight gonna be our good night. That’s tonight gonna be our good good night…

Setelah menemukan tempat parkir motor, dan masih belum tau harus duduk-duduk di mana. Kami nekat untuk tetap jalan. Menyusuri sepanjang pantai Jimbaran di malam hari.
Sebelumnya saya pernah bilang, saya membayangkan pantai Jimbaran akan terlihat cantik sekali pada malam hari. Dan ternyata saya benar. Cantik dan romantis. Dengan suara debauran ombak dan lampu-lampu kerlap kerlip di sepanjang pantai yang berasal dari hotel-hotel dan rumah-rumah penduduk.

Bertiga kami berjalan. Mengobrol apa saja yang muncul di kepala kami. Berbicara tentang hidup. Tentang hal-hal kecil dan impian.

Malam itu saya berharap waktu berjalan pelan. Malam itu saya berharap matahari tidak akan pernah muncul. Malam itu saya senang sekali. Menghabiskan malam terakhir di Bali di tempat favorite bersama dua orang yang menyenangkan. Oneng dan dia.


Kami berhenti dan memutuskan untuk duduk di kursi panjang milik hotel setempat. Berharap tidak akan ada yang menegur kami atau meminta bayaran karena kami memakai kursi hotel mereka. Hihihi.. lucu.
Kami beruntung karena kami bisa duduk-duduk tenang di sana sampai pagi. Kira-kira jam 1. Saya lupa diri. Saya lupa waktu. Saya tidak mau ingat apa-apa.
Saya dan Oneng memutuskan untuk pulang naik taxi saja. Karena akan merepotkan Bunga kalau dia harus menjemput kami kembali. Lagi pula, dia berjanji akan mengantar kami sampai ke tempat yang mudah mendapatkan taxi. Kami merasa tenang.

Di sela-sela obrolan kami, saya mengundurkan diri dari pembicaraan bertiga. Maju ke depan, ke bibir pantai. Lalu menengadah ke atas. Memandang langit bali yang berbintang tapi malu-malu tertutup awan. Indahnya.
Lalu saya mengucap syukur. Berterimakasih pada pulau indah ini. Atas semua yang sudah diberikannya pada saya selama 4 hari ke belakang. Sejak awal saya menginjakkan kaki di bandara yang letaknya di ujung mata kanan saya, sampai akan berakhirnya malam ini. Ditutup dengan pertemuan yang singkat tapi manis. Sempurna sekali.

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Oh, sudah terlalu lama rupanya obrolan kami. Saya merasa hanya baru beberapa menit yang lalu. Dengan berat hati, kami harus segera berpisah L
Seperti janjinya, dia akan mengantarkan kami ke tempat di mana kami bisa menemukan taxi dengan mudah.
Sambil berjalan menuju parkiran motor, dia bertanya, “Hal apa yang belum kamu lakukan dan ingin kamu lakukan di Bali?”
Saya menjawab “naik motor”.

Lalu begitulah. Dia membiarkan saya membawa motornya pagi itu. Membonceng dia dan Oneng. Oh, betapa senangnya perasaan ini. Tidak apa lah saya tidak bisa berenang hari ini. Tak apa. Itu terbayar dengan saya mengendarai motor di malam terakhir saya di Bali.
Sempurna.
Hmm, sebenernya ada satu kejadian bodoh dalam perjalanan motor kami. Pertama, kami sempat mau digigit anjing yang lagi asik nongkrong di pinggir jalan Jimbaran. Waktu motor kami melewati anjing itu, tiba-tiba anjing itu menggonggong dan berlari ke arah kami. Oneng panic dan berteriak. Saya setengah mati menahan tawa dan keseimbangan motor. Lucu sekali. Kami tertawa.

Lalu, sampailah kami di sebuah jalan yang hampir mencelakakan kami. Tanjakan.
Ya. Tanjakan yang berliku-liku.
Saya memang jago naek motor, tapi kalau medannya seperti ini. Jalan berliku, tanjakan tajam, ditambah jalanan yang gelap?! Great!. Sebagai pacarnya Valentino Rossi pun, saya belum tentu sanggup melewatinya.

Belokan tanjakan pertama lolos, itupun sudah dibantu dengan petunjuk dia yang meminta saya untuk memindahkan gigi motor. Entah karena saya masih merasa senang sekali, saya santai saja. Merasa bisa melewatinya dengan mudah. Huhuhu ternyata tidak. Motor berpenumpang tiga orang ini rasanya berat sekali. Belum lagi saya harus bisa mengontrol motor dengan gigi manual.
Sampai akhirnya di sebuah tanjakan yang cukup tinggi. Saya tidak sanggup membawa motor ini tetap berjalan. Sudah saya tancap gas paling pol, tapi motor ini tetap tidak mau menanjak. Kami pun berteriak-teriak. Teriakan tawa dan panik.

Dengan sigap dia loncat dari motor dan menahan dari belakang. Saya dengan paniknya tidak bisa menginjak rem, malah sibuk memegang kuat rem tangan, yang sepertinya tidak berfungsi. Damn.
Tenang. Dia bilang. Kami pun diam. Lalu dengan itungan ke tiga, saya mencoba lagi menancapkan gas. Kali ini berhasil. Motor pun menanjak. Rasanya lebih ringan. Mungkin karena dia tadi turun dan hanya Oneng yang saya bonceng. Fyuuh. Selamat.

Saya berhenti beberapa meter di depan. Di jalanan yang sudah rata, bukan tanjakan. Lalu langsung menengok ke bawah, melihat dia berlari-lari kecil menghampiri kami. Saya tersenyum dan kembali tertawa. Duh, saya bodoh sekali. Saya hampir saya mencelakakan Oneng dan dia.
Saya pun meminta maaf, dan menyerahkan kemudi kembali padanya. Hehehe..
Sebelum kami meneruskan perjalanan, kami berniat memesan taxi terlebih dahulu. Dan kebodohan lainnya : LUPA MENYIMPAN NO TLP BLUE BIRD!!! Doooh.
Lagi-lagi saya teringat dan mengandalkan Dabu. Saya yakin dia pasti masih online jam segini. Saya langsung bertanya lewat YM. Setelah dapat, kami langsung menelepon taxi. Aman.
LAGI, saking seneng atau paniknya, saya lupa berterimakasih pada Dabu. Bad friend! :( maaf Dabu sayang.


Kami pun sampai di tempat yang sudah kami tentukan ketika memesan taxi lewat telepon. Dan itu artinya saya harus segera berpisah. Mengucapkan kata selamat tinggal padanya.
:(
Ada rasa sesal sedikit. Seandainya kami bertemu lebih awal. Seandainya dia tidak sibuk. Seandainya.. seandainya.. seandainya.. kami pasti, ah. Sudahlah. Saya cukup bahagia. Saya merasa cukup.
Saya tidak bisa meminta lebih dari ini. Ini sudah cukup sempurna untuk saya.

Saya memandang dia untuk sesaat. Memberikan senyum terbaik dan akhirnya mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih untuk penutupan yang manis ini.

Kami pun berjabat tangan. Berpelukan. Berpisah.


Sesampainya di rumah Bunga. Walaupun capek, saya tidak bisa tidur. Saya menyibukkan diri dengan menge-pack barang dan bersms dengan dia di ujung Bukit sana. Besok pesawat saya boarding jam 9 pagi. Sekarang sudah jam 2 lewat. Hanya tinggal beberapa jam lagi saya di Bali. Rasanya tidak ingin menyia-nyiakan setiap menitnya.
Tidak akan pernah tau, apakah saya akan bisa kembali lagi ke sini. Saya ingin menghabiskan setiap detik, menit, dan jam-nya bersama malam Bali dan bersama dia, walau hanya lewat sms.
Sampai akhirnya saya terjatuh tidur. Zzzz…


Hari keempat :

Pagi-pagi saya mandi dengan perasaan bercampur. Sedih karena harus meninggalkan Bali, lalu ada perasaan senang yang menyembul karena menyadari bahwa saya baru saja mengalami malam yang indah tadi malam. Juga perasaan bingung karena dia meminta saya untuk tetap tinggal lebih lama lagi. Beberapa hari lagi saja. Ah, saya terlalu rapuh untuk menentukan pilihan sekarang. Hati saya sudah terlalu banyak mengalami berbagai macam perasaan belakangan ini. Dan saya tidak bisa lagi mengandalkan hati saya. Saya hanya bertumpu pada akal pikiran sehat saya, dan itu bilang bahwa saya harus pulang ke Jakarta. Back to real life.


Beberapa kali dia mencoba menyakinkan saya untuk tetap tinggal. Tapi saya tau saya tidak bisa berkata iya. Saya harus tetap berjalan. Saya tidak bisa berhenti di sini. Walaupun saya sangat ingin. Sekali.
Akhirnya saya memutuskan untuk berkata “I’ll be back someday.” Pada diri sendiri dan pada dirinya. Dan i wish, i hope universe will meet up us again somehow, somewhere, someway, somehow...

Pagi itu, Bali cantik sekali.
Dan saya pulang dengan perasaan damai.

Terima kasih, Bali.

7 comments:

daboe said...

Woooohoooo...akhirnya terkuak juga misteri dibalik cowok yg merebut hati nanda. ternyata BUKAN Tommy *uhuk, uhuk...ikut2an batuk*

hmmm...tapi masih penasaran nih, siapakah DIA? apakah dari dia? hehehe...ngerti kan lo nda?

gw bisa ngerasain serunya malem terakhir lo di bali, naik motor ber-3. totally idiot!!!
coba lo bilang, hal yg belom pernah lo lakukan di Bali: berciuman di pinggir pantai!!!! aaaah nyesel kan lo?
kalo gw bakal gw jawab: digendong sampe rumah bunga. hahaha :p

yes, someday u'll back (with me maybe). hmmm, tp klo sama gw, ga bisa naik motor ber-3 nda. suruh DIA beli mobil lah ;)

Anda said...

huahahahaa..

you really read my mind!! Sebenernya, gw pengen bilang ke dia, hal yang paling-dan pengen-gw lakuin di Bali adalah BERCINTA dengannya! hahahaha.. tapi ntar kasian Oneng. Mupeng lagi dia ntar liatin gw. Iseng, bisa2 dia video-in gw dan DIA lagi bercinta. Bisa kesaing Ariel-Luna!!

yes,,yes,, let's go back there. Ntar aku kenalin ^.^

Rizky Amelia said...

hwaaaaa.. mau nangis bacanya! keren neng!! aku suka tulisanmu...
gw jadi ngebayangin film dear John :)

Anda said...

mmm...
Kenapa lo jadi ngebayangin film Dear John??

Gw ga ketemu tentara boy. Dia BUKAN tentara! hahaha..

anyway, my pleasure. Happy to know you liked it :)

Next journey, harus ikut yah. I bet the story would be even more KEWREEEN (baca : ANCUR) hhehehe

Rizky Amelia said...

adegan perpisahannya ndaaa..
waktu elu memandang si pria lekat2.. lalu memeluknya.
hwaaaaaaaa...romantis!
trus pertemuan singkat, lalu dipisahkan jarak.. itu dear john bgt. bedanya dulu surat2an skrg sms2an..

Anda said...

Psssstt... hij kan wel begrijpen een beetje Indonesisch hoor. Dus, dia pasti cengar cengir baca komen lo. Aduuh.. ik schaam me dood nih.

Hij vindt myn blog leuk, dus daarom wil hij mn blog lezen.

Te zoet!!!

:)

Anonymous said...

hi, new to the site, thanks.