7.6.10

They called it Bali, i called it Love (part 1)


Saya tidak tau harus mulai cerita dari mana. Bingung sangat. Mungkin terlalu banyak cerita yang ingin saya bagi. Saya jadi bingung sendiri. Mereka sepertinya berebutan ingin keluar satu demi satu. Seperti antrean panjang yang ingin keluar dari stadion besar. Keluar bebas.

Ok. Biar saya coba.

Hari pertama :

Hmmmmm. Tarik napas dulu. Baiklah.

Kenapa selalu saja, perjalanan saya diawali dengan permainan jantung yang super dahsyat. Bikin jantung rasanya mau jatuh dan dengkul lemas.
Di tiket tertulis jam penerbangan Jakarta-Denpasar jam 14.25 dan saat itu jam 11.20, saya masih duduk di depan pool Damri. Bersama Oneng. Menunggu satu perempuan yang bisa dibilang dewi penyelamat kami. Bunga Nizam.

Ya. Karena satu dan banyak hal. Partner in crime saya, Iboy dan Dabu, ga bisa ikut. Mereka "memaksa" saya untuk tetap pergi dan menikmati liburan kali ini.
Jadilah pengganti mereka Oneng dan Bunga. Berkat bujuk busuk saya, berhasil juga saya mengajak mereka berdua. Dan ternyata memang busuk! Mereka benar-benar partner in crime yang dahsyat dari awal. Mari saya lanjutkan ceritanya.

Kriiing.. Kraaang.. Krriiingg.. Telepon udah berkali-kali bunyi. Nanyain di mana posisi si Bunga ini. Setiap di telepon suara dia lemah, lesu, tak berdaya, seperti habis bercinta. Kami pun jadi serba salah. Mau marah, tapi kami tau dia juga pasti usaha untuk cepat sampai. Tidak marah pun, kami kesal dan takut tertinggal pesawat. Dilema.
Setelah berpikir agak lama, membicarakan hal-hal yang mungkin terjadi kalau kami terlambat, dan hasil diskusi dengan kondektur bus Damri, yang meyakinkan kami kalau bus akan selalu berangkat setiap 25menit sekali, kami akhirnya memutuskan untuk berangkat lebih awal.
Dalam pembicaraan di telepon, Bunga sempet mengeluarkan suara bernada putus asa, katanya kalau pun dia tidak bisa mengejar pesawat, dia akan tetap menitipkan kami ke tangan keluarganya di sana. Kami pun berharap-harap cemas. Berdoa supaya jalanan tidak macet agar kami bisa mengejar waktu check-in dan Bunga bisa sampai tepat waktu.
Di dalam bus, sepanjang jalan kami terdiam. Berdoa. Deg-degan.

Perkiraan macet ternyata salah. Alhamdulillah lancar. Sampai di bandara, kami langsung masuk. Ini lagi hal yang bikin kami (saya lebih tepatnya) deg-degan. Perlu saya ceritakan, kenapa jantung kami masih aja berolahraga setelah lewat permainan kejar-kejaran waktu dari pool Damri ke bandara.

Perjalanan kami ke Bali ini bisa dibilang ilegal. Karena kami beli tiket orang lain. Yang artinya, kami harus pake identitas palsu. KTP mereka-si pemegang tiket-yang sudah sejak dua hari sebelum keberangkatan ada di tangan saya, sekarang udah berpindah tempat ke tangan Oneng. Kenapa saya deg-degan? Karena menurut cerita beberapa orang, kalau ketauan, kami harus bayar tiket dua kali lipat, atau bahkan bisa-bisa ga diberangkatkan.
Haduuuuh. Amit-amit.
Di antara kami bertiga, ga ada satu pun yang mukanya nyerempet apalagi mirip. Tapi selalu ada keajaiban dalam setiap mimpi. Kalau diliat dari (agak) jauh, ada satu KTP yang potonya agak-agak terlihat seperti oneng. Poninya. Ya, saya ulang PONINYA.
Waaaah, penyelamat sekali, bukan?
Jadilah si Oneng yang bertugas buat check in. Lutut saya kembali lemas. Saya akhirnya disuruh duduk saja. Sementara Oneng  check-in.

Lolos.
Phew.. rasanya. Seperti bisul pecah.
Beres. Sekarang tinggal nunggu Bunga. Saya sms dia. Dia menenangkan saya dengan memberitahu bahwa dia sudah hampir sampai. Tidak macet.
Saya bernapas lega, sedikit.

20 menit kemudian, saya berlari-lari kecil ke depan menjemput Bunga. Ya tuhan.. Melihat wajah dia seperti melihat oasis di padang pasir *lebeeey*.
Kami pun berpelukan seperti teletubies. Dasar wanita-wanita labil!



Kalau kalian pikir jantung saya sudah bekerja dengan normal, kalian salah. Jantung saya masih aja doyan olah raga. Kali ini, pas boarding. Booooo.. Rasanya beneran kaya mau copot. Maklum, pertama kali naik pesawat. Yeah.. Yeah.. Silahkan tertawa!
Tapi sungguh, waktu boarding, tangan saya beneran gemeteran. Mata saya ga berani saya buka. Takuuuut.
Baru bisa narik napas pas bener-bener udah di atas dan posisi pesawat stabil. Phew.
Eits. Tunggu.. Gym jantung belum selesai.
Landing.
Kurang lebih sama deh kaya boarding deg-degannya.
  




Sampai akhirnya menginjakkan kaki di pulau dewata. Saya merasa benar-benar baru bisa bernapas seperti orang normal.

Bali oh Bali. Akhirnya saya sampai juga di pulau yang diidolakan banyak orang. Pulau dewata. Pulau yang menawarkan sejuta imipan dan pengalaman.
Saya memeluk udara panas Bali dengan senyum kering Jakarta. Saya punya firasat baik. :)


Setengah Hari Pertama di Bali :

Keluar dari bandara, tujuan pertama : Discovery Mall-kejar sunset. Langsung kami telepon Blue Bird Bali. PENTING! Jangan pernah naek taxi dari dalem bandara kecuali lagi buru-buru banget. pesen Blue Bird pun ga bisa dari dalem bandara. Kita harus keluar bandara dulu, dan tunggu di sekitar luar bandara. Soalnya semua taxi di dalam matok harga yang lumayan mahal. Bisa buat makan seafood enak banget tuh harganya.
Kebodohan pertama : LUPA nyatet no tlp Blue Bird Bali. Panik dan bingung, bebe lemot banget. Ga bisa diandelin. Saya pun teringat Dabu nun jauh di HK sana. Cepat-cepat saya buzz dan tanya no tlp Blue Bird. Begitu dapet, langsung tlp dan jalan keluar bandara. Kami jalan dengan kecepatan maksimal (sampe lupa bilang makasih ke Dabu. Maaf ya dab..) karena para tukang taxi di dalem “nyerang” kami dengan tawaran2 mereka. Kami pun menolak halus dengan berjalan lurus tanpa memperdulikan mereka *itu termasuk “halus” ga?*.

Beberapa saat kemudian. Taxi datang. Saya dan Oneng masuk. Bunga langsung balik ke rumah karena dijemput kakaknya yang naik motor. Ga mungkin dong, kami ber4 naek motor bareng. Mau sirkus, mba??
Lagian saya penasaran banget sama si Discovery Mall ini. Konon katanya kewreen gitu deh.
Ah, ternyata. Emang kalo soal mall, jakarta tak tertandingi. Ini mall cuma tai kukunya PS atau Sency kali. B banget. Biasa, maksudnya.





Kelaperan. Kami makan sampe kenyang. Abis itu jalan-jalan sampe gila di sepanjang jalan kuta. Ga tau arah. Yang penting jalan aja. Kalo ada objek foto yang bagus, tentu saja kami berhenti dan berfoto.

Oh iya.. Saya mau cerita sedikit.
Waktu keluar discovery mall, kami jalan ke arah kiri. Oneng yang waktu itu alert sama keadaan, nanya : "Nda.. Ada yang baru nikah. Tuh ada janur kuning"
Saya langsung melihat ke arah Oneng menunjuk.
"Oh, iya!" kata saya.
Tapi, saya ga sengaja liat ke arah depan dan seberang. Loh kok banyak banget janur kuning yang lain??
"Neng.. Ini orang Bali lagi ada kawin masal ya? Ko di sana sini ada janur kuning juga?" tanya saya.
Oneng : "mmmm..." bingung dia mau jawab apa.
Ternyata oh ternyata. Selidik punya selidik, janur2 itu emang ada di semua tempat. Sisa ngerayain Galungan kemarin. Bukan karena lagi ada kawin masal di Bali. Hahaha..

Setelah kami keabisan tenaga, keliling sana sini, dari ujung ke ujung tanpa tau arah, kami menyerah. Kecapean dan pengen cepet-cepet balik ke rumah Bunga buat istirahat dan simpen tenaga, karena besok pagi-pagi buta harus udah berangkat ke Singaraja. Yes. We're going to Lovina to see the dolphins!! YAY.

Sesampainya di rumah Bunga, kami disambut dengan keramahan keluarganya. Dan tentu saja kami juga dikejutkan dengan beberapa fakta yang baru terungkap JELAS tentang junior kami ini.
Saya merasa déjà vu.
Rumah dan keluarga Bunga sangat.. Umm, bagaimana ya mendeskripsikannya, sangat kaya akan cita rasa.. INDIA. Yes. India, baby. *godek-godek-pala*
Nanti. Saya belum mau ceritakan semuanya di awal. Pelan-pelan. *huahahaha,,, rasakan kau, Bunga! Akan ku buka pelan-pelan semua rahasiamu di sini*.

Makan malam dan perkenalan singkat dengan anggota keluarga sudah selesai. Beres-beresin barang juga sudah. Tinggal istirahat dan bangun pagi-pagi buta.
Zzzzz…zzz..





Hari kedua :

Kriiiiiinggg… jam menunjukkan 2.30 pagi. Kami bergegas, menyiapkan barang-barang yang harus dibawa. Agenda kami hari ini :
·         Lovina = Liat lumba-lumba
·         Tanjung Benoa = water sports : Flying fish, dll.
·         Ke mana aja = ngabisin waktu sampai makan malem di rumah Bunga.

Jam 3 pagi pas, mobil beserta supir yang sudah kami sewa dari Jakarta datang. Kami berkenalan dengan sang supir. Bapak Ngurah, namanya. Bunga sendiri yang mengecek apakah si bapak ini kira-kira bisa dipercaya atau tidak membawa kami ke Singaraja. Begitu dengar logatnya, Bunga pun langsung memberikan kode : AMAN! Dia orang Bali beneur!! Asli ga pake campuran. 100% murni Bali, cyiin.


Pas banget kami jalan, ujan tiba-tiba mengguyur Denpasar. Yaaah.. Kami berdua harap-harap cemas. Berdoa mudah2an di Singaraja, cuaca ga ujan. Biar kami bisa liat lumba-lumba di tengah laut.
Setengah perjalanan, hujan semakin marah. Lebat ke arah badai. Saya pun hampir lemas. Tuhan, tolong dengarkan doa dua anak ngarep ini. Tujuan utama kami ke pulau dewata adalah melihat lumba-lumba. Sungguh. Setelah itu kami pasrah, akan menerima apa saja yang akan Engkau beri. Apa pun, kami siap. Tapi jangan beri kami kekecewaan karena tidak bisa melihat lumba-lumba. Tolong…

Saking cemasnya, kami pun tertidur di jalan. Entah karena masih capek atau memang udara dingin yang membius mata kami.
Mesin mobil tiba-tiba berhenti dan Pak Ngurah keluar dari mobil. Oneng membangunkan saya, "Nda, udah sampe". Saya celingukan melihat ke luar jendela kaca mobil. Di mana ini?? Kok gelap sekali.

Saya melihat jam di handphone. Masih jam 4.15 waktu Jakarta. Berarti sekarang jam 5.15 waktu Bali. Wah, perjalanannya cepat sekali. Ga sampe 3 jam. Dan hal yang paling melegakan, di sini ternyata tidak hujan. Senangnya. Kami pun memutuskan untuk kembali tidur di mobil menunggu matahari muncul sedikit.
Setengah jam kemudian, kami keluar mobil. Brrr.. Dingin. Dan sepi. Ga ada orang sama sekali kecuali kami bertiga dan beberapa nelayan yang mulai mau mengeluarkan jukungnya untuk kami sewa ke tengah laut agar bisa melihat lumba-lumba.

Satu demi satu bule-bule lain bermunculan. Entah dari mana. Tanpa adegan tawar menawar, mereka langsung naek ke jukung(perahu kecil yang hanya muat 4 orang) yang sudah disiapkan. Saya dan Oneng celingak-celinguk. Waduh, nasib kami gimana nih?! Harus tanya/tawar menawar pada siapa tentang penyewaan jukung ini? Setelah menemukan seorang bapak yang sedang bersiap2 mengeluarkan jukungnya, saya pun bertanya dan memberanikan untuk bernegosiasi dengan si empunya jukung.

Betapa siyoooknya saya mendengar harga yang diberikan oleh bapak itu. 100ribu untuk 1 orang, berarti kami harus membayar 200ribu untuk sekali perjalanan. Wah, mahal sekali. Huhuhu padahal kami mengira biayanya hanya 30ribu per orang. Menurut informasi di internet yang kami cari dalam perjalanan, harganya memang sekitar itu. Makanya saya terkaget-kaget. Kok mahal sekali. Saya sampe ga tega mau nawarnya. Lalu, demi, sekali lagi DEMI tujuan utama kami melihat si lumba-lumba liar cantik itu, kami pun berhasil menawar dengan harga yang alhamdulilah ga bikin bangkrut. Setelah setuju dengan harganya, kami langsung naek ke atas jukung. Hiiiiiy.. Pas pertama naik, saya masih parno. Takut tiba-tiba di tengah laut kenapa-kenapa. Tapi kan DEMI niat, kami pun berbismillah dan berangkuts.

Suasana waktu itu masih gelap gulita. Jukung dengan kecepatan sedang membelah pantai menuju lautan. Saya masih bisa merasakan bau dan angin laut yang menerpa wajah saya. Dingin dan menyegarkan. Bau laut. Saya selalu suka.
Betapa kagetnya kami begitu sampai di tengah laut, ternyata bukan hanya kami yang ada di situ. Bukan 5 atau 10 jukung, tapi mungkin sekitar 30an jukung sudah berkumpul di tengah-tengah lautan. Entah datang dari mana. Menurut si bapak, mereka diangkut dari hotel-hotel sepanjang pantai dan akan berkumpul di tengah sini untuk menanti lumba-lumba beraksi. “Oooo…” jawab saya dan Oneng.

FYI. Hari ini, di antara semua orang yang datang mau melihat lumba-lumba, hanya saya dan Oneng yang berambut hitam alias pribumi. Selebihnya buleleng. Bule.

Jantung saya kembali berdag-dig-dug ria. Menunggu dengan tidak sabar, kedatangan si lumba-lumba pujaan hati. Rasanya seperti ingin bertemu dengan Brad Pitt :)
Dengan harap-harap cemas, sambil memegang kamera yang sudah saya siapkan dalam posisi stand by, saya celingak celinguk liat kanan kiri. Tidak terlihat seekor pun.
Tiba-tiba.. Seseorang, entah siapa berteriak, "there..!". Saya langsung berdiri. Berlari ke depan jukung, berpegangan pada tiang dan memandang ke arah yang dituju. Oooh… itu dia!! Lumba-lumba yang saya, kami, tunggu!!


Saya berteriak-teriak kesenangan. "Oneeeeng… liat ga?? Liat ga? Liat ga??"
Belum selesai girang saya, tiba-tiba ada suara orang lagi sambil menunjuk arah yang berbeda. Oooh, saya tambah kalap. Girang tak terkira. Lompat-lompat di jukung yang cuma cukup buat duduk manis 4 orang. Oneng pun ikut terbawa dalam euforia ini. Sibuk mengabadikan moment itu dengan kamera kami.

Saya baru tau, ternyata lumba-lumbanya banyak sekali. Bukan Cuma satu, dua, atau lima. Tapi puluhan. Tersebar di segala arah. Masalahnya kami tidak pernah tau kapan dan di mana lumba-lumba itu akan muncul ke permukaan dan loncat untuk menyapa kami.
Oooh.. Suaranya lucu sekali. Saya mau gila dengernya. Kalau ga inget bawa kamera orang, saya udah nyemplung ke laut. Pengen langsung berenang. Siapa tau malah dideketin. Huaaaa…

Heboh foto sana-sini, rekam depan-belakang, saya tiba-tiba punya ide. Saya inget dulu saya pernah nonton film tentang lumba-lumba. Di film itu, salah satu pemain menepuk2kan air laut dan bersugesti seolah-olah bisa berkomunikasi dengan lumba-lumba di bawah sana untuk datang mendekat ke perahu.
Saya pun dengan sugesti tingkat tinggi, mulai melakukan adegan di film tersebut, sambil duduk dan menjatuhkan diri ke sisi kanan perahu, saya menepuk-nepukkan jari ke air dan sesekali ke kayu perahu dan memanggil-manggil si lumba-lumba. Berharap mereka mendengar sugesti saya.

DAN!! Ga beberapa lama kemudian. Mereka tiba-tiba muncul di samping kanan perahu kami. PAS dan DEKAT sekali. Saya yang biasanya heboh ngeliat lumba-lumba lagi loncat di kejauhan beberapa meter, tiba-tiba terdiam dan ternganga. Masih setengah ga percaya, saya langsung "memasukkan" mereka ke dalam kamera. Menyimpannya baik-baik.
Mereka seperti sedang melambai kepada saya dan bilang "kami mendengar kamu"
Oh.. It was unreal!

Saya ingin memperlihatkan videonya, tapi sepertinya ga bisa diposting di sini ya?
Kalau bertemu dengan saya, minta saya menunjukkan videonya ya. Pasti saya kasih liat.


Awalnya, saya mengira bermain petak umpet dengan lumba-lumba ini hanya akan makan waktu beberapa puluh menit saja, tidak sampai satu jam. Ternyata lebih dari dua jam sudah kami terombang ambing di tengah laut. Udara pagi yang dingin tadi sudah tergantikan panas teriknya matahari Singasari.
Karena lumba-lumba sudah mulai masuk ke rumah mereka masing-masing, kami pun harus bergegas kembali ke daratan. Lagipula panasnya ga kuat. Bikin kulit terbakar.


PUAS rasanya hati ini. Beribu kata syukur saya ucapkan diam-diam dalam hati pada Tuhan dan semesta yang menjadikan ini semua nyata. Tidak lupa saya juga berterima kasih banyak kepada the dolphin chaser : Mr. Bloyo a.k.a Belih Bloyo. Pengemudi jukung paling top markotop seantero Singaraja deh pokonya. Sebelum pergi, tidak lupa saya berfoto dulu dengan beliau. Huuu.. Intermezzo, walaupun sudah berumur, body bapak Bloyo ini masih oks banget loh. Seksoy. Sayang mukanya kurang napsuin. Hahaha.. becanda pak
.


Next destination : Tanjung Benoa.

Seharusnya sebelum sampai di Tanjung Benoa, kami bisa singgah sebentar di Danau Batur buat sekedar foto-foto dan melihat pemandangan hijau pulau bali dari atas. Tapi sayang, waktu kami keluar daerah Singaraja, hujan kembali mengguyur. Kabut pun menutupi pandangan. Pak Ngurah harus berhati-hati menyetir karena jarak pandang yang pendek bisa berbahaya buat mobil kecil seperti yang kami pakai ini. Harapan pupus sudah ketika sampai di Danau Batur. Semua tertutup rapat oleh kabut. Tidak berlama-lama, karena bisa menghabiskan waktu, kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke Tanjung Benoa. Di perjalanan, kami tertidur dan baru terbangun ketika hampir sampai. Kami sempat terkena macet juga. Hehehe.. ga di Bali ga di Jakarta. Macet cyiiin.


Begitu sampe di Tanjung Benoa, Oneng langsung kalap. Memesan dua permainan. Flying fish dan balon raksasa mirip donat yang maennya di tarik pake speed boat ke tengah laut. Namanya lupa. Donuts apa gitu deh.

Saya? Hehe saya ga berani naek apapun. Saya duduk manis aja di pinggir pantai, sibuk memoto Oneng dan jerit-jeritan waktu Oneng dibawa melayang-layang di tengah laut. Booo.. HERI banget gw. Heboh Sendiri. Bule-bule yang ada di samping saya sampe ngeliatin saya dengan tatapan takjub (baca : aneh).
Eh, intermezzo lagi. Masa ya.. di samping saya ada bule yang mirip banget sama Ayang. Sungguh!! Tapi ini versi ceking-nya. Hahaha.. tapi mirip banget. well, gantengan Ayang aku sih. Hehehehe.. *nyengir kuda*

Selesai bermain watersports, kami baru ngeh, kalo kami belum makan dari tadi pagi. Buset. Kuat amat ni perut kalo lagi seneng. Saking senengnya ga kerasa kalo cacing-cacing udah hampir mati kelaperan. Maka kami sepakat untuk menutup perjalanan kali ini dengan makan seafood di daerah Jimbaran. YUM!!
Capcus, cyooong.

Oh iya, setelah dikecewakan oleh pantai kuta, tanjung benoa dan legian yang menurut saya BIASA banget. Ga ada cakep-cakep apalagi indah-nya sama sekali. Begitu liat pantai Jimbaran yang panjang dan sepi. Saya terpukau. Wah, ini baru lumayan cantik. Saya pun jatuh hati pada Jimbaran sore itu.

Makanan tiba. Kalap makan. Diiringi pengamen romantis pula. Oh.. so sweet. Sayang samping saya Oneng. Bukan cowo, kalo cowo udah saya cipok! *seeet, bahasa Nda!*
Makan beres, pantai yang puanas terik mulai meredup. Pemandanganya bagus. Sebelah kanan kami Bandara Ngurah Rai dan sebelah kiri, daratan yang menjorok ke laut, berwarna hijau. Saya bisa membayangkan cantiknya pantai ini kalau malam hari. Pasti kelap kelip oleh lampu-lampu hotel sepanjang pantai. Oh.. lagi-lagi romantisnya. Saya ga mau menengok ke Oneng. Bisa membuyarkan khayalan saya.

Saya memutuskan untuk mencelupkan diri di pantai Jimbaran ini. Sementara Oneng hanya mau berperan sebagai photographer saya saja :)


Cuma sekitar 15menitan saya bermain air. Ga berani ke tengah, karena ombaknya gede banget. Di sepanjang pantai kami menemukan beberapa pasangan sedang memadu kasih. Duuh, cemburunya hati kami. Mupeng dot com. Kami cuma cengar cengir ngenes liat sebuah pasangan sedang asik bercumbu di bibir pantai. Asoy. Bikin iri dengki. Hiks. Nasib jomblowati. Ah sudahlah. Kami pun bergegas pulang ke rumah Bunga dengan perasaan puas. Lovina, checked. Water sports, checked. Makan seafood, checked.



Di depan rumah, Bunga sudah menyambut kami dengan pertanyaan “Gimana?” kami pun hanya menjawab dengan senyum lebar dan dia pun mengerti, artinya kami berhasil melewatkan hari dengan sakses!

Sebelum makan malem, kami beres2 diri dulu. Mandi dan saya langsung asik mindah2in semua hasil jepretan kamera hari ini. Sambil tentu saja senyum-senyum puas.

Makanan tiba. Kami kalap. Makan nasi goreng Malaysia. Eh apa nasi goreng india ya? Pokonya nasi goreng enak deh rasanya. Hehe emang dasar lagi laper.
Kami pun berbincang-bincang sambil menghabiskan makan malam. Hangat sekali. Saya merasa betah. Keluarga Bunga benar-benar tuan rumah yang baik.

Perut kenyang, badan bersih, tinggal mata yang ga kuat melek. Ngantuk banget karena saya semalem cuma tidur 2  jam. Malam ini saya mau bales dendam. 
Kali ini saya sengaja mematikan handphone dan laptop. Karena kalo tetep nyala, saya pasti tergoda buat sekedar chating sama beberapa orang dan liat-liat foto yang beratus-ratus jumlahnya. Yang ini saya ga hiperbol.
Jadi, saya langsung membunuh diri sendiri. Zzzzzzzzzzzzzzzz….


Sepertinya kalau saya lanjutkan ceritanya, akan terlalu panjang untuk satu posting.. saya sambung di posting berikutnya ya...



3 comments:

daboe said...

nandaaaaaa...panjang tak terkira. diawali dengan adegan nunggu2an (jgn sampe kyk kejadian kita nungguin boyke, keluarga nurul harap segera naik bis). hahaha...
gw kira si cowok itu dah muncul di part-1 ini, saya menanti-nanti :)

daboe said...

hmmm, ada yg kelupaan nih nanda. ttg india *uhuk, uhuk*
makanya lo jgn ngatain orang!!! kena deh. hahaha, rasakan keberadaan india dmn2. gw ma pengganti gw (baca: Bunga) sama2 penggemar india, malah bunga lebih parah tuh...
मैं भारत से प्यार!

Anda said...

buseeeeeeeeeeeet.. ampun Daaab. Kaga ngerti juga gw tulisan dewa India lo itu. haduuuh.. karma oh karma.