Cavin Rubenstein Manuputty. Pria berbadan besar, berdarah Ambon ini resmi menjadi “lelakiku” sejak kurang lebih 5 tahun yang lalu. Saya kenal dia karena kami sama-sama tinggal di asrama kampus. Waktu itu saya juga baru ngeh kalau dia ternyata adalah senior saya di jurusan Sastra Belanda, satu tingkat di atas. Ketika kami masih tinggal di asrama, dia memacari sahabat saya. Gadis Bali bernama Inge.
So, hubungan dia dan sahabat saya tidak berjalan lancar. Mereka putus setelah satu tahun menjalin cinta karena alasan klise : perbedaan agama.
Putusnya hubungan mereka sama sekali ga membuat hubungan saya dan Cavin merenggang. Kami justru menjadi semakin dekat. Pernah, seorang teman curiga kalau saya ada hubungan special dengan Cavin dan bahkan ada beberapa yang menyangka kami pacaran. Hihi, kalau ingat itu, saya geli sendiri. Saya memang kadang-kadang nakal. Suka menggoda laki-laki, tapi tidak dengan mantan sahabat.? It’s a big N to the O! NO WAY,man.
Kami tidak tertarik untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih jauh. Dia berpacaran dengan wanita lain, saya pun menjalin hubungan “tidak resmi” dengan banyak pria. Tidak pernah berpikir untuk menjadikan status menjadi pacar. Iiieeuuwwh!! Lagipula, Cavin selalu bilang, “You are not my type, Da.” (-_-“) yeah, yeah, yeah, Ndut.. whatever!
Singkat cerita, kami terus menjaga kedekatan kami. Saya yang selalu drama ini, tentu saja jatuh cinta padanya. Sebagai teman. Teman di waktu senang dan susah. Sebagai sahabat dan sebagai kakak uhmm.. atau sebagai adik? (sebenarnya dia lebih muda) Well.. guess I will always be his “little sister”, karena dia adalah orang yang sabar dan mau menerima sifat manja saya yang *ehem* kadang-kadang menjengkelkan. Pembelaan diri : aku ga manja ko. Aku hanya kadang-kadang butuh banyak bantuan.
Walapun saya lebih tua satu tahun, dia selalu saja bisa membuat saya merasa 5 tahun di bawahnya. Sial. Saya mulai berhenti memanggil dia Cavin, semenjak dua atau tiga tahun belakangan ini. Entah kenapa, saya lebih suka memanggil dia dengan sebutan Ndut. Ya, diambil dari kata GENDUT. Hehehehe.. Cavin GENDUUUUT!! Perut buncit, pipi tembem. My Nduuuut.
Si Ndut ini yang menginspirasi saya memakai nama PudingMocca. Dulu, suatu hari, dia pernah bercerita dia sedang suka seorang perempuan. Saya lupa namanya, tapi dia bilang, dia memanggil perempuan itu Pudding, karena dia chubby dan putih. Berbeda dengan saya yang diberkati kulit eksotis (baca : gelap), dia berinisiatif memberi saya nama PudingMocca. Mocca karena kulit saya coklat dan seperti rasa Mocca, saya manis (haha yes, once you said that, Ndut. Admit it!). Waktu itu saya masih gendut, kenyal-kenyal persis seperti pudding. Sekarang aku udah ga gendut. *Pamer body sexy*. Saya memakai nama PudingMoca kebanyakan untuk internet things. Friendster, Twitter, Facebook (dulu), Skype, email, dll.
Dia juga yang dari dulu sampe sekarang tetep manggil saya dengan nama NANDA!! Arrggghh.. awalnya saya benci dipanggil Nanda, karena itu bukan nama saya. Tapi sekarang saya udah terbiasa.
Ceritanya, waktu saya masih kuliah, seorang dosen linguistik, Mevrouw Andrea-namanya, selalu salah memanggil nama saya.
Mv. Andrea : Ya, coba Nanda.. tolong baca halaman 149.
Saya : Anda, mevrouw.
Mv. Andrea : Oh, ya. Anda. Maaf. Silahkan dibaca..
Saya : (membaca… sampai selesai). Sudah, Mevrouw.
Mv. Andrea : Ya. Terima kasih, Nanda.
Jadi…bla bla bla bla..
Saya : (-_-“) *saya frustrasi. Ambil kamus dan mukul-mukulin ke kepala sendiri*
Sudah berkali-kali saya ingatkan, tetap saja dia memanggil saya dengan nama Nanda. Kalau sekali dua kali salah, wajar. Masalahnya hal ini terus terjadi selama 4 tahun!! Ya tuhaaan, dosa apa saya kepada Mv. Andrea itu. Dan entah kenapa, menurut Ndut, itu lucu sekali. Jadilah dia memanggil saya dengan Nanda, sampai sekarang. Dan beberapa teman saya juga sering ikut-ikutan memanggil Nanda, untuk ngeledek saja. Dem yu, guys!
Pertemanan saya dengan si Ndut ini ga selalu mulus dan seneng-seneng aja. Kadang-kadang kami juga ngambek *mmm, actually gw sih yang kebanyakan ngambeknya* atau sebel-sebelan. Soalnya, jelas. Menurut dia saya labil, cengeng, emosian, meluap-luap, centil, genit, suka ketawa-ketiwi ga jelas, kalau ngakak ga liat-liat tempat, manja minta ampun, suka ngambek, cranky, dan lain-lain. Menurut saya dia juga suka menyebalkan, sok sibuk, tinggi hati, jayus akut, suka ngerokok deket-deket saya, dan banyak deh pokonya.
Walaupun begitu,
Cuma si Ndut ini, yang bikin saya ketawa terbahak-bahak di mana pun, menceritakan sesuatu yang bodoh atau sekedar nyampah ga jelas.
Cuma si Ndut ini, yang bisa bikin saya nangis sesenggrukan di Oh Lala Cafe, suatu sore karena harus nunggu dia yang datang terlambat hampir 3 jam!
Cuma sama si Ndut, saya bisa cerita apaaaa aja. Tanpa merasa malu atau terhakimi.
Cuma si Ndut ini, yang bisa bikin saya bela-belain manjat pager kosan pagi-pagi buta setelah kami menghabiskan waktu keliling kampus tengah malam.
Cuma sama si Ndut, kami bisa menghabiskan hari sabtu yang bosan jadi menyenangkan dengan memasak indomie rebus dan menonton dvd sambil makan tiramisu dari Starbucks, di kamar dia. Sampai kami jatuh tertidur.
Cuma si Ndut ini, yang bikin saya merasa selalu ada seseorang yang perduli ketika saya merasa sendiri dan sepi.
Cuma si Ndut ini, yang tau hampir semua detail apa yang (sudah) pernah saya lakukan dengan semua laki-laki itu. Hehehe.. saya tidak pernah bisa bohong di depan si Ndut ini untuk hal “kenakalan” seorang Anda.
Cuma si Ndut ini, yang biasa menelepon tengah malam atau bahkan pagi, menggangu tidurku hanya untuk sekedar bercerita. Mengeluarkan isi hati dan akhirnya berkata : Welterusten *selamat tidur*
Cuma si Ndut ini, yang dulu, ketika dia masih berkelana keiling pulau Jawa sebagai backpacker dan menetap di Bali selama 6 bulan, rela menelepon saya dengan sisa pulsa yang sekarat hanya untuk berbagi cerita dan bilang.. “langit Bali bagus banget, Nda..” Membuat saya iri setengah mati.
Cuma si Ndut ini, yang bisa membuat saya merasa bersyukur bahwa saya selalu punya bahu untuk bersandar. Dan selalu memberikan pelukan aman seorang teman waktu saya ingin menangis tanpa sebab.
Cuma si Ndut ini, yang selalu bikin saya kesel kalau dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai wartawan handal sebuah majalah ternama itu. Dan lupa bahwa saya merindukan sosoknya.
Cuma si Ndut ini, yang bisa dengan mudah dan tidak malu menangis di depan saya seperti anak kecil. Lalu saya akan memeluknya dan bilang.. “Ndut, everything will be fine.”
Cuma si Ndut ini, yang bikin saya uring-uringan kalau dia keasyikan pacaran dengan pacar baru yang sangat dicintainya. Iya, saya cemburu. Oh, bukan karena pacarnya. Tapi karena waktunya untuk saya harus dibagi bersama kekasih hatinya. See, im such a spoil girl!!
Cuma si Ndut ini, yang buat saya merasa sangat bersalah karena saya melupakan ulang tahunnya. Ooooh, I’m a BAD FRIEND!!!
Iya, saya mengaku. Teman tidak bagus! --harus dibaca gaya Tarzan ngomong--
Tahun ini, saya melewatkan (uhmm.. okey, melupakan. Puas?!) hari ulang tahunnya. Lebih parahnya lagi, dia lah yang memberitahu bahwa saya melupakan ulang tahunnya!! Perfect!
Padahal, waktu saya ulang tahun, dia orang pertama yang menelepon saya, TEPAT jam 12 malam. Membangunkan saya dari tidur dan mengucapkan selamat ulang tahun lengkap dengan harapan-harapannya. Great, now I feel even worse!! :'(
Malem itu, dia menelepon saya. Dengan suara riang dan tanpa merasa bersalah, saya berbicara seperti biasanya. Menceritakan ini dan itu. Becanda dan ketawa-ketawa.
Tapi tiba-tiba dia diam dan bertanya, “Nanda.. gw boleh nanya ga?”
“Kenapa, Ndut?” tanya saya polos.
“Lo beneran temen gw , ’kan?” tanya dia dengan suara datar.
SHIIIIIIIIIIIIT! Ada apa ini, dalam hati saya langsung berkata dengan keras. Saya udah hafal di luar kepala, kalau ada sesuatu yang salah, atau saya lupa, pertanyaan macam ini lah yang selalu Ndut ucapkan. Otak saya berusaha keras mengingat dan menanyakan : okey Anda, what have you done lately?? What did you miss? Cmon, think! Think!!
Dan waktu itu, mata saya pas sekali melihat kalender bulan Juli. FAAAK!!! Bulan ini Ndut ulang tahun! Cepat-cepat saya melihat tanggal hari ini. Oh, sial! Saya melewatkan ulang tahun dia!
“Nduuuuut…” jawab saya memelas.
“Ya?” Balas dia.
“Maaf….” Suara saya benar-benar lemas.
“Kenapa?” jawab dia pura-pura bego.
“Nduuut…. “ Saya pun pelan-pelan menahan tangis. Merasa bersalah sekali. Ingin pergi ke kantornya saat itu juga tapi ga mungkin karena sudah jam setengah satu malam. Saya menyerah. Saya tau saya salah. :(
Begitulah. Saya malam itu sukses menjadi seorang sahabat yang buruk.
“Ga papa, Da.” Dia bilang.
Saya diem aja. Di kaca, saya meliat muka saya udah ga berbentuk. Merengut sedih, nyesel, marah sama diri sendiri, kesel, semua campur jadi satu!
“Maafin gw ya, Ndut.. im such a bitch” kata saya ke dia.
“It’s OK, Da..” denger suara dia bikin saya merasa semakin berdosa.
Malam itu, total pembicaraan kami di telepon kira-kira dua jam. Saya berulang kali bilang maaf ke dia. Dan dia berkali-kali bilang ga papa. Yang tentu saja membuat saya merasa tidak lebih baik.
Saya berjanji padanya untuk menebus dosa ini. Kapan, saya belum tau. Tapi pasti akan saya lakukan secepatnya. Lagi-lagi alasan saya tidak punya waktu. Klise. Beberapa hari setelah itu, saya memaksanya untuk bertemu. Sekedar ngopi-ngopi menebus dosa sedikit demi sedikit. *bribing is always work* haha.
Jadi, lewat blog ini, saya ingin mengakui dosa. Saya mengaku salah, saya bukan sahabat yang baik. Dan saya berjanji akan menebus dosa kepadanya dalam waktu dekat ini. Aku janji, Ndut.
I know.. this is so lame. Maar ik will je echt nog een keer zeggen : Happy (very) belated birthday, My Ndut. I love you, you always know that. Wish you nothing but happiness and always success with everything you’re dreaming of. You’re my best, Ndut!!













3 comments:
Hahahahaha..... Ini ditulis tanpa konfirmasi. Bisa disomasi nih..
*But anyway, makasih ya nda (you still owe me though !)
Cavin
mm... maaf, kamu siapa ya?? Saya ga kenal Cavin.
Mungkin Anda salah orang, bung. Teman saya itu namanya Gendut Rubenstein Manuputty.
;)
You are very welcome, Ndut.
Yeah, damn you! Next week yah, kita ketemuan. spending our old time together. Ah.. should i bring my vodka??
;)
*keep dreaming boy!*
Vodka elo akan diterima dengan lapang dada dan tangan terbuka Da !!
Cavin
Post a Comment