Saya sih sebenernya ga masalah sama ukuran badan. Selama saya merasa sehat, saya senang-senang aja. Bahkan buat saya, orang-orang yang memiliki kelebihan berat badan, atau aga ndut dikit, terlihat lebih bahagia dari orang-orang yang bertumbuh selembar atau pas-pasan.
Semenjak pake behel, berat badan saya turun drastis. Bentuk muka saya yang dulunya hampir mirip menyerupai bakpao, perlahan-lahan berubah menjadi tirus dan panjang. Umm.. better be careful, Tyra Banks! Anda is gonna take your sit! *hiyaaak, mulai meracau.*
Kalau semuanya lancar, saya akan melepas behel ini bulan depan. YAY! senangnya. Itu artinya "Hello again, yummy foods!"
Harus diakui, selama pake behel, kenikmatan dunia saya, terutama dalam urusan surga duniawi (baca : makanan) sempat tertahan. Ga bisa makan enak ini dan itu karena sakit yang tak tertahankan dengan kehadiran behel di mulut saya. Butuh waktu kira-kira 1 tahun untuk terbiasa dengan behel dan aktivitas lain (hmmmm, kasih tau ga ya aktivitas yg lainnya...) bisa tetap dilakukan dengan normal. Tapi sebenernya aga bertanya-tanya juga sih nanti rasanya gimana ya tanpa behel ? Maklum, sudah benda ini sudah melekat erat selama dua tahun. Meskipun sakit, rasa sakitnya nagih. (Sakit jiwa, nih anak!)
Dan beruntungnya lagi, Saya tinggal dengan keluarga si bos yang punya koki sendiri di rumah. Kenikmatan tiada tara. Kalau jaman tinggal di Depok, setiap malam jalan ke depan buat cari makan sama temen sekosan, dengan menu utama : Pecel lele, Ayam bakar, atau kalo lagi apes keabisan or kemaleman ga kebagian makanan apa-apa, ya Nasi Goreng dihajar lah. Sekarang ini saya dimanjakan dengan berbagai makanan a la internationale, temans.
Lucky bitch hey.
| all pictures from google image |
Anda.
Ubud, November 2010


No comments:
Post a Comment