6.6.11

Sanur pagi hari


Olllaaaaa….

Anda datang, semua senang. 

Ahahay, saya lagi senang. Saya lagi semangat. Saya lagi bergairah.
Banyak hal yang membuat saya senang belakangan ini, tapi yang paling fresh adalah saya baru saja pindah ke “rumah” baru yang letaknya dekat sekali dengan pantai. Hanya butuh waktu 2-3 menit jalan kaki. One of my dream à tinggal dekat pantai.


Kalau dihitung-hitung, sudah hampir 9 bulan saya tinggal di Bali dan saya tidak pernah benar-benar tinggal di dekat pantai. Kira-kira 6 bulan di Ubud, dan yang paling dekat waktu saya tinggal di daerah Jl. Danau Tempe-Sanur, yang masih butuh waktu sekitar 5-10 menit naik motor ke pantai. Sekarang  saya ga perlu repot-repot bawa motor ke pantai. Tinggal lenggang kaki, nyampe deh. Mantap.


Saya juga baru sadar kalo pantai sanur ternyata indah juga. Ga kalah cantik sama pantai favorit saya : Seminyak. Pindah ke sini membuat saya melihat dan memperhatikan hal-hal yang dulu saya lewatkan.
Sebelumnya, saya selalu berpendapat bahwa Sanur itu membosankan. Semua tempat rata-rata berisi turis-turis lanjut usia yang kerjaannya duduk-duduk di pinggir pantai, berjemur, minum, baca, atau santai. So boring.


Tapi hampir seminggu ini saya melihat Sanur jelas dengan pandangan yang berbeda. Seperti pagi kemarin misalnya, saya menyempatkan diri jalan-jalan di pantai di pagi hari. Sekedar ingin melihat pantai dan membeli susu di Circle K yang adanya tepat di pinggir pantai. Wah, saya terpesona sendiri.


Saya ga tau apakah sekarang musimnya air laut pasang atau tidak, yang pasti pantai (dan laut) yang saya liat sekarang jauh lebih indah dari yang biasa saya liat. Air pantainya lebih jernih dan ombaknya lebih besar. Sangat kontras dengan apa yang biasa saya lihat sebelum-sebelumnya saya datang ke pantai Sanur.


Tadi pagi.. saya niat banget liat sunrise (Jd inget Iboy : sun rise boy, bukan sun shine. Hehe). Begitu alarm saya bunyi jam 5.30, saya langsung ganti baju dan jalan ke pantai. Ga lupa bawa kamera dong.


OH IYA.. Intermezo. Saya sempat (merasa) kehilangan kamera selama sebulan. Saya udah sedih banget, saking sedihnya keilangan kamera, saya sampe ga bisa nangis. Hanya bisa menatap nanar chargeran yang selalu tergeletak di meja. Hiks.. sedih. Sampe akhirnya saya mengikhlaskan kamera hilang. Ya sudahlah. Mungkin jodoh saya dengan kamera itu cuma 6 bulan. Saya ikhlas. (IKHLAS?!?!? BO’ONG BANGET!!!). Kalian tau kan, saya cinta mati sama kamera. Selain suka difoto, saya juga suka mengambil/menyimpan banyak kenangan lewat foto. Saya bahkan lebih sedih ketika kamera pertama saya rusak dibandingkan waktu saya kehilangan handphone. Kamera buat saya bagai pakaian dalam. Kehilangan itu membuat saya merasa telanjang (analogi yang aga ga nyambung sebenernya. Tapi kalian ngerti kan maksudnya.) Intinya, kamera sangat penting buat saya. Rasanya beraaaaaaat banget waktu orang-orang nanya, “Ga bawa kamera, Nda?” atau “Tumben ga moto, kamera lo mana?”. Bahkan waktu saya di rumah, Mamah nanya, “Kamera kamu ketinggalan di Bali ya Neng?” Dengan senyum pahit saya jawab “Iya… “ ß Menghibur diri. Dalam hati saya meraung-raung… Engga Maaaah, kamera teteh ilang!! ILANG! Hikss.. :’(
Dan kalian tau, sekembalinya saya ke Bali. Saya lupa persisnya hari ke berapa, tapi waktu itu saya baru saja selesai menunaikan solat Isha. Ga seperti biasanya, saya merebahkan diri dulu di sajadah sambil menatap ke kolong meja tivi di samping kanan saya. Kemudian mata saya menangkap sebuah benda hitam kotak di pojokan kolong meja. Dalam hati saya bertanya, apaan tuh?. Penasaran, saya memanjangkan tangan saya dan meraih benda itu. Ketika tangan saya menyentuh benda itu, jantung saya berdebar kencang sekali. Ya allah. Mimpikah saya?? Saya sangat hafal dan tau benar apa yang sedang saya sentuh, bahkan tanpa melihat. Itu kamera saya!!! Dengan cepat saya menarik tangan saya. Tidak percaya dengan apa yang saya lihat, saya berteriak memanggil kekasih hati yang saat itu ada di luar kosan. “Sayaaaaaaaaaaaaaaaaaang… look what I’ve found!!”
WOW.. magic! Bahagianya hati saya tak bisa diungkapkan dengan teriakan. Saya senang bukan kepalang. Saya loncat-loncat kaya anak kangguru. Saya joget-joget dangdut dan jaipong. Saya ketawa-ketawa sampe terkentut-kentut (masih memakai mukena-->tolong jangan sambil dibayangkan). Aaaah, saya senang pokonya. Bokin sampe geleng-geleng liat kelakuan saya yang menemukan kamera (yang ternyata tidak hilang) di bawah kolong meja. Mungkin dalam hati dia membatin "God, why i have her in my life?!"  Hehe, rasain lo! Terima saja karma baikmu -- > Anda Suranda. Huahahaha...


Anyway..

Ini beberapa foto yang berhasil diambil saya dan bokin pagi ini ketika menantikan matahari muncul di pantai Sanur.
Selamat menikmati











 PS : Sebenernya masih banyak foto yang kami ambil, tapi belum sempat saya pindahkan dari kamera ke laptop. Menyusul deh edisi khusus sunrise ini.
Cheers.

No comments: