Saya suka banget anak kecil.
*ini foto sepupu saya, Khansa*
Beberapa taun yang lalu, saya sempet kepengen cepet-cepet punya anak. Itu otomatis artinya sama dengan pengen cepet-cepet nikah juga. Keinginan itu hampir sempet jadi obsesi kira2 dua taun lalu.
Entah harus disyukuri atau disesali, dalam kurun waktu itu ternyata saya belum dipertemukan dengan pasangan jiwa saya. Wallahualam.
sebelum saya cerita tentang pengen punya anak, saya mundur sedikit dulu ke cerita pengen cepet-cepet nikah.
Setelah akhirnya menyerahkan diri untuk berpasrah, dan menyerahkan masalah perjodohan dan keinginan punya anak cepet ke yang maha pemegang hidup, saya menjadi gadis yang bebas. Dulu saya selalu memikirkan pikiran-pikiran atau prasangka orang tentang saya yang belum juga punya kekasih yang settle, yang bener, yang komitmen menuju jenjang pernikahan. Dan itu menyiksa saya.
Kurun waktu setahun ini, saya berdamai dengan diri sendiri. Menyatakan kepada diri saya sendiri, bahwa saya saat ini tidak punya seorang kekasih hati. which is not easy to addmit it!
Ternyata saya baik-baik aja sekarang. dan kalau boleh jujur, saya ngerasa biasa-biasa aja. Ga ada keinginan buat cepet-cepet nikah lagi. Perasaan biasa-biasa aja itu, tentu aja bukan berarti saya ga mau punya pacar lagi. Saya tetap membuka hati untuk yang satu itu. Toh saya juga gadis normal yang kadang-kadang butuh "sentuhan"
Ditambah lagi, saya bertemu dengan beberapa orang baru yang secara ga langsung ngasih saya another point of view of thoughts. Tentang banyak hal. Dan itu membuka pikiran saya lebih luas lagi tentang segala sesuatu. Mungkin bisa dibilang, saya menjadi skeptis tentang beberapa hal. Termasuk pernikahan dan mempunyai anak.
**kembali ke cerita pengen cepet punya anak**
Kemarin, saya pergi ke rumah sakit anak. Mau nengok keponakan, anak sepupu dekat saya, yang lagi dirawat. Dulu kami, saya dan sepupu saya itu, deket banget. Kami udah kaya adik-kaka, selalu berbagi semua cerita dan benda. Semua. sebelum dia akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran laki-laki yang tidak dicintai,tapi disayangi atau mungkin dikasihani karena perjuangannya yang keras untuk menikahi sepupu saya itu. Sejak itu, saya kembali sendiri lagi. Tidak punya saudara perempuan lagi. Waktu itu saya sempat menangis diam-diam. Mengutuki pilihan dia untuk segera menikah. Tapi saya ga mau sepupu saya sedih. Dia cuma mau cepet nikah dan punya anak. Jadi saya berpura-pura senang.
sekarang udah lebih dari 5 tahun usia pernikahan mereka. Dari perjalanan panjang untuk memperoleh seorang anak, sepupu saya ini harus melewati 2 kali keguguran. Dia dulu sempat hancur. Tapi tidak putus asa. Kemudian Tuhan berbaik hati memberikan dia seorang bayi perempuan yang cantik bernama Khansa. Itu keponakan saya.
Tadinya saya pikir saya hanya akan menengok dan berkangen-kangenan aja sama sepupu dan keponakan saya itu, ternyata hari itu pas ketika mereka mau meninggalkan rumah sakit. Jadi saya sekalian saja membantu "pindahan" itu. Sebenarnya, Khansa belum begitu fit. Tapi dia terus2an merengek. udah ga betah sepertinya ada di rumah sakit. dia pengen pulang. Maka sepupu saya meminta dokter untuk memberikan perawatan jalan saja. Berobat di rumah. Dokter pun setuju.
Di jalan, Khansa terus merengek. Nangis tanpa air mata. Kami menyebutnya "rungsing". Anak kecil, kalau abis sakit biasanya rungsing banget. Ngerengek-rengek ga jelas. Ga mau makan, ga mau minum, ga mau diajak ngomong, maunya cuma satu : merengek. Itu kurang lebih definisi rungsing.
Hari udah hampir siang, ketika sampai waktunya buat Khansa minum obat. Sepupu saya lalu membujuk dia untuk makan sesuap dua suap bubur. Dia menolak. Malah memuntahkan apa yang dimasukkan bundanya.
Sepupuku despret. Dia ga tega liat buah hatinya nangis terus. Ga mau makan, ga mau bobo. Kasian. Dengan sabar, sepupuku tetap berusaha menyuapi makanan untuk Khansa. Tapi bayi kecil ini justru tambah rungsing. Sementara obat harus segera masuk, tapi Khansa tetap ga mau makan apa pun.
Tampaknya kesabaran sepupu saya udah abis. Dia kesal. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia menyerah. Lalu dia pergi, menyerahkan putrinya ke Ua (panggilan saya ke ibunya sepupu saya).
Sekitar 10menit kemudian, saya lalu mencari2 kemana sepupu saya pergi. Ga ada di kamar atau dapur. Karena saya pikir dia pasti pergi ke sana. Lalu, tanpa sengaja, saya mendengar suara tangisan dari kamar mandi dapur. Itu suara tangis sepupu saya. Suaranya sendu sekali. Pelan tapi dalam. Saya terdiam mematung di depan pintu kamar mandi itu. Tiba-tiba hati saya diliputi rasa sedih yang entah dari mana. Suara tangis seorang ibu...
saya mengetok pintu dengan pelan dan memanggil nama sepupu saya. Tiba-tiba dia terdiam. Ga ada suara. Lalu beberapa menit kemudian, suara tanggis itu pecah lagi. Dan saya kembali mematung.
Saya tempelkan kuping ini di daun pintu, agar bisa mendengar lebih jelas. Ingin memastikan sepupu saya hanya menangis dan tidak melakukan hal yang tidak-tidak. Saya khawatir..
setelah saya berhasil membujuknya untuk membuka pintu, dia muncul dengan muka merah, penuh air mata. Matanya terlihat lelah. Sambil tetap menangis, saya memeluknya. Berkata, semuanya akan baik-baik saja. Dia tidak berkata apa-apa kecuali menangis.
Saya merasakan kesedihan yang sangat di dirinya. Kesedihan dan kekecewaan atas rasa putus asanya menjadi seorang ibu yang baik. Yang tidak menginginkan apa pun di dunia ini selain melihat putrinya kembali sehat dan tersenyum lagi.
Rupanya sepupuku ini merasa beban menjadi ibu tidak semudah yang seperti ia bayangkan. Dia ingin marah pada putri cantiknya, tapi itu tidak mungkin dilakukannya. Lalu perasaan marah itu berubah menjadi perasaan kesal pada diri sendiri dan pada sang suami yang juga tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi yang paling besar adalah perasaan bersalah tidak menjadi ibu yang baik..
Butuh waktu beberapa jam untuk akhirnya sepupu saya kembali menggendong Khansa dan "berdamai" dengan dirinya sendiri. Selama beberapa jam itu pula pikiran saya pergi ke mana-mana. Saya masih terjebak dengan perasaan bersalah dan putus asa yang baru saja diperlihatkan sepupu saya dengan tidak sengaja itu. Otak saya dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan saya alami seandainya saya ada di posisi sepupu saya.
Kemudian saya teringat dengan keinginan saya beberapa tahun lalu tentang cepat menikah dan punya anak. Dan saya terdiam. Rasanya Tuhan baru saja menjawab keinginan saya.
Tuhan... Sungguh Engkau Maha Tahu kemampuan setiap umatMu.
Serang 23.08.09
No comments:
Post a Comment