Empat tahun sudah saya jadi lebih dekat dengan kendaraan beroda 3 ini. Apalagi semenjak saya bekerja dan tinggal di kemang. Bajaj adalah kendaraan favorite saya untuk mobilisasi ke tempat2 ngajar, selain ojek di saat2 darurat tentuny. Selain karena murah meriah, naek bajaj juga kurang lebih rasanya kaya naik becak. Cuma, bajaj goncangannya lebih dahsyat. Kalo diibaratin gempa, bajaj kira-kira 5 skala richter lah..
Intinya saya suka naek bajaj. Selain rambut ga jadi berantakan seperti yang selalu terjadi kalau saya naik ojek, saya juga bisa bertouch-up ria di dalam bajaj sebelum sampai tempat tujuan. Terus naik bajaj menghindari (setidaknya) bau atau aroma tidak sedap seperti kalau saya naik kopaja. Walaupun kadang2 saya juga suka sebelnya setengah mati kalo diasepin bajaj di tengah jalan or lagi di trotoar. Duh asepnya bikin engap-engapan kaya difogging. Maar goed. Nah si bajaj ini bener2 jadi penyelamat saya ketika saya harus melewati daerah blok M yang luar biasa dahsyat polusinya. Saya sebel banget deh kalo harus turun dari transjakarta di Blok M dan harus nunggu bus 605a ke arah kemang. Selain nunggunya yang butuh waktu luamaaa, saya juga ga suka sama aura Blok M. kotor. Duh. Ujung2nya saya nanti pasti menyesali diri dan mengeluh macam “kenapa ya gw ada di sini. Kenapa gw harus ngalamin ini. Kenapa gw bla bla bla..” saya paling malas kalau saya udah ngeluh sama diri sendiri. Jadinya ga asik. Hehe.. oke, kembali ke bajaj. Kemaren waktu saya baru pulang jalan sama Iboy, kami memutuskan buat naek bajaj dari blok M ke kosan saya.
Lalu di dalam bajaj kami seperti biasa tetep ngobrol dengan volume ditinggikan satu oktaf, tentunya. Di tengah perjalanan, pas bajaj lagi di lampu merah, saya tiba-tiba terdiam. Mikir. Terlintas satu pertanyaan tentang bajaj, padahal kami sedang tidak berbicara tentang bajaj. Saya kemudian bertanya ke Iboy “Boy, bajaj kalo isi bensin di pom bensin juga ya?” Iboy yang ditanya jawab “mmm.. di mana ya? Ga tau gw. Iya ya. Di mana ya?” lalu saya melanjutkan lagi “seumur-umur gw di sini, belum pernah gw liat ada bajaj di pom bensin. Bajaj bahan bakarnya bensin apa minyak tanah sih?” tanya saya dengan bego. “Bensin, nda. Tapi mungkin mereka emang ga isi di pom bensin. Beli di pinggir jalan kali. Yang di dirigen2 itu loh. Gw juga belum pernah liat bajaj di pom bensin sih.” Kata Iboy yang kemudian diem, membenarkan pertanyaaan saya lalu terlihat berusaha mengingat apakah dia pernah melihat bajaj di dalam pom bensin mengisi bahan bakar. Saya juga jadi ikutan diem. Mencoba mencari jawaban sendiri pertanyaan saya itu. Hmm.. isi bensin di mana ya si bajaj2 sayang ini??
Tau ga sih?!?! Hari ini, waktu Divi nganterin saya pulang dari rumah Dista, sebelum sampai ke kosan saya, kami mampir dulu ke pom bensin kemang selatan buat isi bensin. Pom bensin di kemang emang ga sekeren pom bensin yang ada di Mampang , Tendean atau pom bensin besar lainnya. Tempatnya kecil dan petugasnya sudah lumayan berumur. Cuma ada satu mesin pengisi. Jadi kalaupun mengantri, cuma ada dua sisi. Di kiri atau kanan mesin pengisi bensin. Mobil Divi langsung belok ke sebelah kanan karena di sebelah kiri ada motor. Setelah motor selesai saya meminta si bapak petugas pertamina buat isiin sejumlah puluhan ribu. Pas udah selesai dan mau bayar, saya sempet nengok ke sebelah kiri mesin pengisi bensin. Dan tebak apa yang saya liat??
“Diviiii.. ada BAJAJ!!!” teriak saya di dalam mobil. Divi yang ga tau apa-apa, kebingungan. Saya ga sempet merhatiin dia karena sibuk nyari kamera saya di dalam tas dan langsung mengabadikan gambar yang langka ini sebelum semuanya terlambat dan lewat begitu saja (Nda, overdrijven deeeh!).
Gila, senengnya bukan main saya melihat bajaj tadi. Walaupun saya ga liat langsung proses pengisian bensin ke tangki bensin bajaj (yang saya juga ga tau ada di mana, dan masih PR buat saya buat nyari tau lokasi tangki bensin bajaj), tapi saya cukup puas sudah melihat dengan mata kepala sendiri bajaj isi bensin di pom bensin seperti sewajarnya kendaraan beroda lainnya. Senyum saya mengembang begitu melihat dua foto yang berhasil saya ambil ini. Terjawab sudah pertanyaan saya. Tidak dari mulut orang. Tidak dari buku, bacaan atau informasi tertulis lainnya, tapi langsung dijawab dengan bajaj di depan mata sendiri mengisi bahan bakar di pom bensin. Huhuhuy, mangstab cuy!
“Boy, ternyata mereka ke pom bensin ko. Ga beli di pinggiran jalan pake dirigen. Kalo ga percaya, lo tongkrongin aja pom bensin yang di depan Amor, kemang. Kalo lo beruntung, lo akan melihat satu atau bahkan dua bajaj yang keausan minta minum bensin di situ. Jangan nungguin di pom bensin tengah kota yang tempatnya keren. Kayaknya bajaj punya sifat low profile (baca : malu) untuk muncul di depan public, apalagi di tempat2 keren macam SPBU Shell, Total, dan dll. Hehehe.. “
Dan buat kalian yang juga pengen liat dan penasaran. Coba tengokkan kepala ke SPBU kalau sedang melewatinya. Siapa tau kalian liat bajaj yang lagi ngisi bensin. Kalau melihat, mari berbagi cerita dan jangan lupa foto!! Selamat menengok, mencari dan menunggu bajaj di SPBU2 terdekat kalian.
Eh, tapi sekarang saya punya pertanyaan baru. Kenapa sih bajaj tulisannya B.A.J.A.J ? bukan B.A.J.A.Y ?? kalo mau dibaca dengan cara baca alphabet Belanda, yang merubah bunyi J menjadi Y, harusnya kan jadi dibaca BAYAY ya? Lah ini?! Belakangnya doang yang dibaca Y. Ada yang tau kenapa? Atau mungkin biar keren aja bunyinya. Kan kata2 yang berakhiran Y lucu aja gitu. Misalnya lebaY, malaY, jijaY dan bajaY, alaY (hahaha.. untuk alaY). Gitu ga sih?!?! *muka serius, mode on :
*Karena saya baru sadar. Saya menulis kata bajay dengan bajaj dari awal tulisan dan baru menyadari hal ini ketika sudah mau selesai nulis. Hehehe..
Anda
Kemang 26th July 26, 2009
2 comments:
neng, kasi spasi apa antara paragrapnya biar ga keblinger bacanya,, hehehe
maap sayang.. hohoho, terlalu napsu nulisnya.
Akan ku perbaiki.. dank je sayang.
Post a Comment