17.7.09

Mata satu seperti Pirate!

Dengan perasaan sedikit takut dan deg-degan, saya berjalan ke ruang operasi. Tentu saja saya tidak boleh menunjukkan mimik muka takut sama sekali di depan Mamah. Bisa-bisa nanti saya ditarik pulang lagi gara-gara beliau panik. Situsasinya tidak jauh berbeda dengan hari sabtu kemarin. Tapi saya tidak melihat dokter -centil yang kemarin memeriksa saya. Hari ini saya lihat ada dua dokter beda. Yang satu dikelilingi oleh para mahasiswa kedokteran dan yang satu sendiri saja, sibuk dengan pasiennya sendiri. Kenapa dia ga dikelilingi mahasiswa-mahasiswa ya? Diam-diam saya jadi memperhatikan. Bapak dokter itu terlihat pendiam dan ganteng di usianya yang saya perkirakan mungkin menginjak 55 tahun. Saya nanti ditangani siapa, sus? Tanya saya langsung ke suster yang sedang sibuk mencatat status saya.
“sama dokter itu” katanya sambil menunjuk dokter ganteng-pendiam itu. Hehehe asik! Teriak saya dalam hati.
“Neng, itu namanya dokter Muntur. Itu yang lagi dikerubutin mahasiswa itu” jelas Mamah tanpa saya tanya. Ooh, jadi itu dokter yang selalu Mamah bicarakan? Hm, lumayan ramah. Saya lihat dia dengan asik sedang menjelaskan sebuah nama penyakit kepada mahasiswa-mahasiswanya.
Kemudian, saya sudah berhadapan dengan dokter ganteng-pendiam ini.
“kunaon neng?” tanyanya dalam bahasa sunda.
“ieu dok” balas saya dengan bahasa sunda juga, sambil menunjuk mata sebelah kanan.
“eleuh bintit. Kudu dibersihkeun eta mah.” Katanya lagi dengan senyum pepsodent. Ganteng sekali ^.^
“Sok atuh dokter. Saya siap.” Jawab saya dengan tidak mau kalah. Juga dengan memamerkan senyum terbaik saya.
Mendengar jawaban saya yang cepat dan singkat, si dokter tidak lagi bertanya macam-macam. Dia hanya tersenyum dan kemudian menuliskan atau menggambar, tidak terlalu saya perhatikan, sesuatu di kertas kosong dan meminta saya menyerahkan kepada suster tadi.

Saya diminta untuk menunggu sebentar. Kira-kira 5 menit. Saya lihat mereka sedang mempersiapakan kamar operasi/tindakan untuk saya. Dalam hati saya berdoa, mudah-mudahan nanti dokter saja yang mengoperasi saya. Tidak usah dengan mahasiswa-mahasiswa itu. (Haha.. tetep usaha, *ngarep mode : on)
Ternyata doa saya tidak terkabul. Ternyata di dalam ruang operasi, yang tidak terlihat seperti ruang operasi sama sekali, sudah ada seorang dokter perempuan yang berseragam khas rumah sakit berwarna hijau muda mengunggu saya. (Yah..* kecewa mode : on)
“Nurul yah?” tanyanya ramah.
“Saya dok” jawab saya sopan.
“Mangga yu neng, naek ke sini.” Katanya yang juga dalam bahasa sunda mempersilahkan saya naek ke tempat tidur.

Sebelum lampu operasi dinyalakan, dia memanggil seorang mahasiswa laki-laki, wahyu, kalau saya tidak salah namanya. Ibu dokter itu meminta dia mengasisteninya. Saya pasrah. Dua keinginan saya tidak ada yang terkabul  sudahlah.

Operasi berjalan kira-kira sepuluh sampai lima belas menit. Meski saya hanya disuntik bius lokal, saya masih bisa merasakan dokter itu memotong bagian dalam kelopak mata saya. Rasanya perih, seperti digigit semut merang (kami orang sunda menyebutnya semut rangrang) sebesar kupu-kupu. Sakit! Saya mengaduh ketika dokter untuk edua kalinya memotong di bagian yang lain.
Beliau hanya berkata, “sakit kitu neng? Masa.. engga ah. Jangan dirasain atuh”. Wah, membantu sekali dok,s arannya. Saya rasanya ingin langsung berteriak dan berlari ke arah dokter ganteng-pendiam tadi untuk meminta perlindungan (sungguh ini khayalan berlebihan saya :P )

Setelah operasi akhirnya benar-benar selesai, saya kemudian digiring ke meja dokter gantang-pendiam tadi. Hah, batin saya. Kenapa baru sekarang saya digiring kembali ke tempat dia setelah saya selesai dioperasi dengan perban menempel di mata sebelah kanan. Persis seperti bajak laut.
Si dokter ganteng-pendiam itu menyambut saya dengan senyum kumis-manisnya.
“Kumaha, neng? Nyeri teu?” Tanyanya masih dalam bahasa sunda. Saya hanya menjawab dengan senyum dan gelengan kepala saja.
Pertanyaan macam apa itu? Ya sakitlah! Secara mata saya tadi disuntik dan digunting-gunting. Duh, sumpah jangan dibayangin. Saya jadi inget lagi gimana rasanya gunting (atau apapun alat itu, yang pasti rasanya seperti disilet…ssssss, sakit gila!) itu di mata saya. Sudahlah, yang penting sekarang saya sudah dioperasi. Kotoran dan lemak itu sudah diangkat dari mata indah saya. Saya jadi bisa menggunakan mata ini dengan maksimal lagi. Untuk membaca, menonton, melirik, dan menggoda tentunya. Hahaha.. teteup, ganjen! Eniwei, saya senang. Walapun sakit itu masih terasa. Foto ini diambil oleh mamah saya tercinta ketika saya sedang berbicara dengan dokter ganteng-pendiam itu. Eh, si dokter itu ternyata aga banci kamera juga. Masa dia cengar cengir juga pas saya berpose.
Udah1 dulu yah, saya cape liat layar monitor hanya dengan sebelah mata. Nanti saya bercerita lagi. Cerita lain tentunya.
Sekarang saya mau tidur saja lagi.
Semoga ini operasi yang terakhir. Amin. Dengan ini ku kutuk kau agar menjauh dari ragaku selamanya. TING!


Anda
Serang, 8 June 12, 2009

No comments: