
Rencananya hari ini saya mau pulang ke Jakarta untuk mengurusi tabungan saya yang bermasalah sedikit dan ingin bertemu dengan beberapa teman yang sudah lama tak dijumpai. Kangen sekali rasanya.
Tapi, keinginan saya batal. Saya ga jadi berangkat pagi ini. Alasan? Klise. Malas.
Jadi, batallah rencana bertemu dan berenang bersama Dabu dan Vera. Oh iya, bicara tentang Vera, saya jadi ingin bercerita sedikit tentang dia. Kangen sekali rasanya sudah lama tak bertemu dengan dia. Dia sudah saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Entah kenapa, saya merasa dia seperti diri saya. Kurang-lebih.
Kira-kira dua tahun yang lalu, dia mulai datang ke kehidupan saya. Masuk dengan keadaan jiwa yang rapuh. Sangat hancur, bisa dibilang. Betapa hidupnya tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Dia kecewa, dia marah, dia sedih, dia (hampir) hancur. Lalu, dia mulai membuka diri, berusaha sana sini untuk memulihkan diri. Saya tidak banyak membantu. Saya hanya berada di sana saja. Menemaninya. Melewati masa-masa beratnya. Sedikit menyakinkan dia bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa Tuhan akan membayar ini suatu hari nanti dengan sesuatu yang lebih indah. Entah bagaimana saya bisa berkata seperti itu kepada dia, sampai dia pun memegang teguh apa yang akhirnya dia yakini itu.
Dua tahun berlalu, Tuhan menunjukkan kuasanya. Dia membayar kontan airmata dan kesedihan wanita cantik ini. Dia menggantinya dengan tawa dan kebahagiaan yang rasanya bisa menembus hati saya. Saya tentu saja ikut bahagia. Walaupun sampai saat ini saya masih belum percaya, Tuhan begitu baiknya mendengarkan doa kami, dua gadis yang saling menguatkan.
Sekarang, rasanya saya adalah gadis dua tahun yang lalu. Saya merasa ada di posisi kakak saya. Tidak merasa diri hancur, seperti yang dirasakannya. Hanya saja, saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan di masa depan. Saya tidak hancur. Saya hanya tidak berbentuk. Apa yang hancur kalau bentuknya saja tidak ada?
Pagi ini, kakakku mengsms dan mengajak untuk bertemu. Aku kangen, katanya. Sejenak saya merasa ingin segera pergi ke tempatnya dan ingin segera bercerita banyak hal. Semua hal yang sedang saya rasakan saat ini. Perasaan kosong dan tak berbentuk yang sedang saya alami ini. Sungguh perasaan aneh. Saya tidak sabar melihat dan mendengar reaksi dia. Saya menerka-nerka apa yang akan dia ucapkan nanti. Ah, tapi sayang sekali. Saya memutuskan untuk tidak pulang ke Jakarta hari ini. Jadi saya harus menunggu mungkin sampai minggu depan untuk bertemu dan berbicara dengannya. Tak apa.
Saya punya rencana untuk mengunjungi tempat kerjanya suatu hari di minggu ini. Dia pasti senang.
No comments:
Post a Comment