19.10.10

Cubit-cubitan

Saya merasa seperti ditampar. Hmm, mungkin kata 'ditampar' terlalu keras. 
Ok, saya koreksi. Saya merasa seperti dicubit.

Beberapa hari yang lalu saya ditanya seseorang. Teman baru yang lumayan bikin kesel. Sebut saja namanya Mr. Waves

Saya ga nyangka kalo si Mr. Waves ini adalah orang yang akan menampar (ops, i mean mencubit) saya dengan pertanyaan sederhana seperti ini :
Apa bahasa Indonesia yang baik dan benar-nya "I Love You A Lot" ?
Sebelum saya refleks menjawab, dia menahan saya. Meminta saya untuk berpikir sejenak sebelum memberikan jawabannya.


Apa?? Dia becanda?? Saya tertawa dalam hati.
Saya pura-pura berpikir dan yakin dengan jawaban yang akan saya berikan.
"Aku cinta kamu banget" atau bisa juga "Aku sayang kamu sekali." "Tergantung konteks LOVE untuk siapa." jawab saya.


Dia dengan entengnya bilang "salah."
Saya lagi-lagi tertawa. Kali ini tidak dalam hati, saya tertawa di depan mukanya. Sotoy banget ni orang, batin saya.

"Salah? Oh, ya? Okey. Jawaban yang benar apa?"
Jawab dia : "Saya sangat cinta kamu."

DOEWEEEWEENG!!!
Doooooooooh, cape deh. Saya memutar mata dan menghela napas. Lalu dengan muka serius saya menodong dia penjelasan.
Dan dia menjelaskan dengan muka lebih serius dari saya.
Secara penjelasan, dia benar. Dan saya setuju dengan jawaban dia. Tapi jawaban yang saya berikan juga benar. 'KAN??

Tentu saja benar. Dan baik. Oh, tunggu. Coba bantu ingatkan saya, apa pekerjaan saya beberapa bulan lalu di Jakarta?

Ini Mister ngajak ribut.

Saya jelaskan bahwa selain memakai kata "sangat", kita juga bisa menggunakan kata "sekali" atau dalam ragam tidak formal "banget" untuk mengekspresikan A LOT dalam bahasa Inggris.
Dia tetap bersikeras. "Kamu tidak memberikan jawaban yang benar. Kamu tidak bicara bahasa Indonesia yang baik dan benar."

*tarik napas*


Baiklah. Cubitan pertama. Tidak sakit, saya hanya merasa sedikit "kalah" karena (memang) seharusnya saya bisa saja tadi menjawab "Saya sangat mencintai kamu" dan bukannya "Aku cinta kamu banget" Hmm, jawaban saya memang terdengar "Jakarta" sekali. Bukan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesungguhnya.


Entah kenapa, saya merasa dia meragukan saya bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Dia tidak benar-benar bilang, tapi saya bisa melihat dari matanya. Sial, cubitan kedua.


Dan karena merasa tidak terima, saya menantangnya lagi.
"Ok, give me another question"
"Fine. I've got two more for you."

Heeeeuuuhh, saya tambah gemes! Nyolot banget dia.

"Apa bahasa Indonesianya 'I trust you but i dont believe you"
Brengsek!! Dalam hati saya memaki diri sendiri. Pertanyaan yang entah sudah berjuta kali ditanyakan oleh murid-murid saya dulu. Dan seingat saya, dulu saya selalu bisa menjawab dengan baik. Entah kenapa, saat dia menanyakan itu, saya panik.
Saya kesal, karena saya tau saat itu saya lupa jawaban apa yang harus diberikan. Ach!
Mungkin karena sisi defensif saya yang berlebihan, yang menjadikan memori yang sudah tersimpan rapi di otak saya selama kurang 4 tahun lalu terbang entah kemana. Ohh.. saya malu!


"Ok." Jawab saya. Dan bahkan sebelum saya meneruskan untuk menjawab, dia sudah menyunggingkan senyum liciknya.

"I'm waiting" Dia bilang.
"Saya percaya kamu, tapi tidak benar-benar percaya. Atau kamu bisa bilang : Saya percaya kamu, tapi tidak percaya sepenuhnya" jawab saya.


"Hmmm, so far you are the one who gave me the best answer",  jawab dia.


WTF?!?!?


"And then, what's the other question for me?" Tanya saya mulai bete.
"Uuu, wait. Ok, i have another one for you. I want to buy a candle and a wax (saya lupa pertanyaan persisnya, intinya ada kata Candle and Wax)"


DOUBLE CAPE DEH.


Karena saya udah malas dan ga mau kepancing emosi jadi berantem gara-gara ngebahas pertanyaan yang "basi" ini, saya cuma senyum aja dan ga mau jawab.


Dia kemudian membahas tentang tidak konsistennya bahasa Indonesia. Bahwa tidak ada orang yang benar-benar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sehari-hari. Ok, saya setuju kalau untuk hal itu. Dan ketika saya bilang, semua pengguna bahasa di dunia juga pada dasarnya tidak menggunakan bahasa mereka secara baik dan benar, dia tidak setuju. Dia bilang, bahasa Inggris dipakai dan digunakan sesuai dengan aturannya. Tidak seperti bahasa Indonesia.

Sebenarnya kalau ada Treen di dekat saya waktu Si Mister Waves ini berkata seperti itu, saya pasti akan 100% dibantu dan didukung bahwa dia tidak benar. Tapi saya waktu itu sendiri dan mood saya terlalu indah untuk dirusak. So, saya memilih diam saja. Dalam hati sih rasanya seperti ditampar-tampar, jelas. Tapi saya mencoba untuk bersikap tenang.


Ini bukan pertama kalinya saya ditembak dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Saya selalu suka ditanya dan bertanya. Saya hanya tidak suka kalau saya ditanya tidak punya jawabannya.
Jadi kemarin saya meninggalkan dia dengan pertanyaan yang belum dijawab sampai sekarang.

"Hey, Mister Waves, apa perbedaan imbuhan Me-kan dan Me-i? Here i give you example sentences :

* Ibu menidurkan anaknya di ayunan.
* Tony meniduri gadis yang disukainya sejak dulu.  (Not really 'a good sentence'. Anyway.)

I have another question for you! I'll give it after you answer my question."


Saya ingin tau, apa dia bisa menjawab pertanyaan saya. Mudah-mudahan saya bukan satu-satunya orang yang merasa dicubit.


PS : Dan maaf kepada pembaca/teman yang berprofesi sebagai guru Bahasa, jika saya tidak bisa membawa nama baik. Saya harap tidak ada yang tersinggung dengan tulisan saya kali ini. Kalau ada yang ingin disalahkan, mungkin itu salah saya. Kurang belajar.


Anda.

3 comments:

Anonymous said...

hmm, interesting..

Anonymous said...

'KAN' when the action falls on the object. Kami menaikkan bendera. Object(flag) is raised up(action) and the subject stays in place(us).

'I' when the action falls on the subject. Kami menaiki gunung.
Subject(us) go up(action) and the object stays in place(the mountain.)

--Mr Waves...Am I correct?

Anda said...

You are good, Mr. Waves.

(DAMN!)