Gusti.. Dia benar-benar pergi.
Kedekatan saya dengan sastrawan muda berbakat ini memang tidak sekuat hubungannya dengan Meida. Saya mengenalnya lebih baik justru lewat Meida yang sangat concern dengan keadaan Mas Asep semenjak beliau sakit. Saya bahkan ga ngeh sampai akhirnya Meida menulis sesuatu yang menceritakan bahwa Mas Asep sedang sakit keras. Sekarat.
Dari situ, saya (secara tidak langsung) mengikuti perkembangan keadaan beliau dari Meida, beberapa teman, dan dosen di situs jaringan sosial.
Di sini, di blog saya, saya ingin bercerita banyak tentang beliau.
Sebelumnya, saya tidak pernah tau atau mendengar cerita bahkan karya dari dirinya. Anggap saja saya saat itu masih sangat lugu, kurang mengeksplor "harta karun" di depan mata. Padahal, saat itu karya dan namanya sudah terdengar di seputar kampus.
Jadi, ceritanya saya yang saat itu sedang mencari mata kuliah di luar kuliah wajib, tertarik mengambil mata kuliah yang selalu ingin saya pelajari dari dulu : Tulis menulis.
Waktu itu, saya tidak sendiri. Bersama beberapa teman, kami mendaftarkan diri mengambil mata kuliah yang ditawarkan Departemen Sastra Indonesia : Penulisan Populer.
Dari awal, saya memang sudah sangat tertarik untuk mengambil mata kuliah ini. Dan bukan karena embel-embel "gampang nilai".
Mata kuliah ini memang terkenal dengan kemurahan hati sang dosen yang gampang sekali memberi nilai A. Teman-teman saya (dan saya, tentu saja) sangat tergiur oleh kabar yang disampaikan burung-burung di kampus.
Sekali mendayung, dua tiga nilai bagus (akan) terkantongi.
Maka, di sanalah saya. Bersama teman-teman seperjuangan. Mereka yang juga mencintai sastra, dan dunia tulis menulis seperti saya.
Saya ingat, kelas pertama kami di gedung 9. Kelas kami tidak terlalu penuh. Bukan karena peminat mata kuliah ini sedikit, tapi karena jumlah yang sudah dibatasi oleh jurusan prodi Indonesia. Kalau tidak salah, mayoritas di kelas kami saat itu adalah anak-anak sastra Belanda. Ya, saya dan teman-teman.
Seperti biasa, kami anak-anak belanda, selalu saja membuat suasana lebih meriah (baca : HERI - Heboh Sendiri). Kesan pertama saya pada beliau bisa dikatakan sesuatu yang membuat kenangan tersendiri.
Sebelum mengambil mata kuliah Mas Asep, saya memang selalu suka mengambil mata kuliah belanjaan dari prodi Indonesia. Salah satunya mata kuliah yang diberikan Mas Ibnu. Saya bisa dan betah berjam-jam mendengarkan dia berbicara tentang apa saja. Saya bahkan tidak keberatan kalau dia harus memperpanjang waktu kuliahnya barang 10-15 menit. Saya selalu suka.
Dengan Mas Ibnu, saya sudah terdoktrin oleh beberapa teman yang sebelumnya pernah mengambil mata kuliah beliau, jadi saya sudah tau bagaimana karakter dan bayangan seperti apa beliau akan mengajar.
Berbeda dengan Pak Asep. Sebelumnya saya belum pernah mendengar apa-apa tentang beliau. Jangankan karya-karyanya. Melihat batang hidungnya saja saya belum pernah.
Sambil menunggu beliau masuk kelas, saya ingat kami sempat bercanda-canda. Lalu ketika dia mengetuk pintu dan masuk kelas. Saya yang masih dalam mood bercanda, terkejut melihat wujud beliau.
"Loh, ko ada suaminya Mba Inul ya?" batin saya.
"Boooo..mirip Mas Adam! Ga nahan kumisnya." bisik saya ke teman-teman saya. Mereka, yang juga masih dalam suasana bercanda. Kontan melihat ke arah Mas Asep dan seketika cekikikan.
![]() |
| Selalu ceria dan bercerita |
Jadi begitulah. Semenjak itu, kami (saya lebih tepatnya) biasa memanggil beliau suaminya Inul karena kemiripan kumisnya dengan Mas Adam Suseno-suaminya Mba Inul Daratista. Semenjak itu pula lah kami merasa ada semacam kecocokan canda dan tawa. Beliau sungguh dosen yang baik hati, murah senyum, lucu (walaupun kadang-kadang jayus), sangat membimbing, dan murah nilai.
Nilai penulisan Populer saya dan teman-teman sukses menaikkan IP kami. Mantaf! Kami pun langsung jatuh hati pada si Mas Adam ini.
Lalu, muncullah keinginan untuk melanjutkan misi berikutnya : ambil Penulisan Populer II. Hahaha.. yes, demi meningkatnya dan menaikkan IP. Juga, karena kami memang menyukai pribadi dan mata kuliah yang diberikan beliau di semester yang lalu.
Akhirnya kami bersatu dan berkumpul lagi di kelas yang sama semester selanjutnya. Kali ini, benar-benar didominasi oleh teman-teman saya dari prodi Belanda. Yeah, kami memang penjajah!
Beliau memang bukan salah satu dosen favorit saya, bukan juga salah satu sastrawan yang saya kagumi seperti saya mengagumi Sapardi Djoko Darmono. Tapi saya merasa beruntung pernah menjadi salah satu muridnya. Pernah "menjalin hubungan" dengannya untuk sepenggal waktu.
Sangat amat senang dan bangga pada diri sendiri dan teman seperjuangan di Penpop ketika Mas Asep meminta kami mengumpulkan salah satu karya tulisan kami tentang Munir dan Marsinah untuk kemudian dibukukan. Oh, rasanya seperti terbang tanpa sayap.
Menulis untuk dibaca diri sendiri saja saya sudah senang. Apalagi ini. Diminta untuk berpartisipasi memberikan satu karya dan akan diterbitkan. Berlebihan memang, tapi saat itu saya benar-benar merasa seperti teman dekat Ayu Utami, Dee Lestari dan penulis2 kelas kakap lainnya.
| sebuah mimpi kecil terwujud di sini |
Semenejak itu, saya lumayan "dekat" dengan beliau. Seperti yang sudah saya bilang, saya jadi mengikuti perkembangan karya-karya beliau dari FB dan blog-nya melalui teman baik saya, Meida.
Sebenarnya, saya sedikit tidak percaya dan merasa benar-benar kehilangan waktu saya mendengar berita kepergiannya. Mungkin karena saya tidak benar-benar melihatnya. Mungkin karena saya berpikir dia masih ada. Mungkin karena saya berpikir dia tidak benar-benar pergi.
Sampai akhirnya saya membuka profile dan blog-nya. Melihat dan membaca rentetan cerita-ceritanya. Saya baru merasakan kesedihan itu. Tidak berlebihan. Tik. Menyentuh tepat di hati dan kepala saya untuk beberapa saat. Rasanya.. ganjil. Sedih tapi lega.
Berbicara dengan beberapa teman juga sedikit membantu. Saya tau teman-teman saya yang merasa pernah mempunyai hubungan seperti saya, akan merasakan hal yang sama. Hampir semua mengatakan kalau beliau lebih baik pergi.
"Kasian, Nda.. kurus dan keliatan sakit banget" kata salah satu teman saya.
![]() | ||
| Pejuang sejati |
Lihatlah. Bahkan dia tetap menulis dan berkarya ketika badannya memintanya untuk berhenti. Dia tetap saja melawan. Berkawan dengan penyakitnya dan terus berusaha mengeluarkan semua yang ada di kepala, hati , dan pikirannya. Saya jadi berpikir, apakah dia tau kalau dia akan pergi?
Sekarang dia sudah tenang. Saya berdoa untuknya dan keluarganya. Saya mencintai dan menyayangi beliau dengan kata yang tidak terucap lewat ucapan. Saya mencintai beliau dengan semua kata yang saya kenal dan saya gunakan untuk menulis. Saya bangga padanya. Saya beruntung pernah bertemu dan berguru dengannya.
Selamat jalan, Mas Asep.. Selamat berkarya di dunia lain. Tetaplah menulis. Jangan khawatir. atau merasa sendiri Kami semua pasti akan menyusul ke tempat kau berada. Pasti. Hanya waktu saja masalahnya. Semoga Allah menempatkanmu di tempat yang mulia. Amin.
![]() |
| Selamat Jalan, Mas Asep. |
Anda
10 Des 2010



3 comments:
Andaaaa, aku jadi sedih lagi. :((
Nti gw kirimin deh puisi2 yg gw kumpulin dari temen2 Pak Asep yg buat Puisi saat pak asep meninggal.
bukannya program studi sastra indonesia ya? Hehe, merusak deh..
I like it..
Merusak suasana deh si ibu tiri ini..
Post a Comment