13.1.11

Suku-sukuan? Suka-suka deh!

Dalam beberapa hari ke depan ini, saya sudah memutuskan untuk tinggal sendiri. *SOK JAGOAN*.

Tinggal sendiri maksudnya ga tinggal bareng keluarga mijn baasje lagi. Jadi ceritanya saya  mau mandiri. Mau nyobain hidup tanpa bantuan mereka, misalnya : soal makan, yang selalu disediain. soal tidur dan istirahat, yang selalu disiapin. soal kebersihan (baju), yang selalu diurusin. Intinya, saya mau keluar dari comfort zone. Menjauh dari hal-hal yang memanjakan.

Belum tau gimana nanti jadinya, tapi saya optimis saya bisa ngejalaninnya sampe (setidaknya) pertengahan tahun. Mudah-mudahan ya boo..
Anyway..
Sehubungan dengan misi saya hidup mandiri di Ubud ini, sejak beberapa hari yang lalu, saya rajin sekali melakukan percakapan basa-basi dengan penduduk lokal. Biasanya sih sama orang-orang yang saya temui di jalan, toko atau tempat makan. Percakapan biasanya di mulai dengan basa-basi senyuman menggoda saya. *NYENGIRLEBAR* "Malam, Belih... " atau "Pagi, Mbok.."
Selanjutnya, biar mereka yang melanjutkan. Hehe.. 
Ini yang saya suka banget dari orang-orang lokal di sini. Mereka colek tanggep. Dicolek dikit, ditanggepnya banyak banget. Senyum dikit, langsung ditanya namanya siapa, tinggal di mana, bla bla bla. Nyapa dikit, langsung diminta no tlp, ditanya udah punya pacar belum, boleh maen ga ke rumah, bla bla bla. 
Secara saya orangnya suka banget dengan prinsip "Peace, Love and Gaul", santai-santai aja ditanggepin gitu. Kebeneran saya lagi perlu informasi juga dari mereka, jadi ya kesempatan lah ya. Dia jual, Saya tawar laaaah.

Biasanya, di awal-awal mereka yang belum mendengar saya mengucapkan kata atau kalimat dari bibir manis saya ini, pasti akan mengira saya orang Bali. Ga sekali dua kali mereka bahkan langsung nanya saya pake bahasa Bali yang-sumpah-deh-ga-boong-lucu-banget-logatnya tentang dari Bali bagian mana saya berasal. Mereka biasanya berkata "Oooo" yang panjang setelah mendengar jawaban saya. Mungkin dari jawaban yg saya ucapkan ("Bukan, saya bukan orang Bali. Saya dari Serang/Jakarta), mereka tau dari logat bicara saya yang memang ga bisa mirip. Jangan salah, sudah saya coba loh menirukan logat mereka, tapi ko setiap saya coba, muka mereka langsung mengkerut keheranan ya? Oh, saya tau. Mungkin karena mereka pikir saya masih keturunan raja Ubud, logatnya susah dimengerti. Langka sekali (maksud lo ANEH, Nda?!).


Btw, ngomongin soal dari mana saya berasal atau suku. Saya punya cerita seru. Jadiiiii.. kan si bokin ceritanya dulu waktu jaman PDKT pernah nanya, saya dari suku apa. Saya jawab saya dari Serang, dan Serang itu (dulunya) termasuk Jawa Barat, which is termasuk daerah pesundan. Jadi ada beberapa orang menyebut kami (orang-orang dari Serang dan sekitarnya) urang sunda. Dia sih awalnya manggut-manggut aja. Saya berasumsi karena dia memang ga tau apa-apa soal suku-sukuan di Indonesia. Mungkin suku yang dia tau sampe sekarang cuma 3 atau 4. Dan waktu itu saya mikirnya dia nanya itu cuma sekedar basa-basi aja. Beberapa waktu yang lalu, dia tiba-tiba kembali membawa tema ini ke permukaan. Katanya, dia beberapa kali mendapatkan reaksi yang "mengejutkan" dan "simpati" (baca : prihatin) dari beberapa orang yang diberitahu oleh dia bahwa bokinnya ini orang sunda. DOOOOH, capcay deh. Emang kenapa sih sama orang sunda????
Ya, ya, ya, ya.. saya tau. Wanita-wanita sunda memang terkenal dengan stereotip yang ... Hmm, bisa dibilang "berbeda". Bijvoorbeeld : Karena cewe-cewe sunda rata-rata cantik-cantik, mollig-mollig, dan putih-putih, mereka dikenal sebagai penggoda dan penakluk laki-laki. Entah benar atau tidak. Dari tiga ciri-ciri itu, saya membenarkan dua di antaranya. Kecuali satu. Dan kalian tau yang mana itu. *gamaungaku*.
Selain dari kategori pisik, eh maap, maksud saya Fisik, cewe-cewe sunda juga suka dibilang matre dan suka morotin kekayaan pasangannya. Nah, kalo yang ini, benar-benar kebangetan engga benernya --> di diri saya. Tau deh di diri cewe-cewe lain.

Tapi ya.. peliiis deh. Saya paling sebel kalau orang maen pukul rata nilai seseorang cuma dari suku atau etnisnya aja. Hiiih sebel deh gw. 
Salah saya kalau saya cantik dan disukai banyak lelaki? Yaaa.. kasian deh idup lo pada yang ngerasa ga cantik dan sirik. Hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiyyh! 

Lagian, kalau dirunut-runut sebenarnya saya bukan sunda tulen. Papah saya lahir dan besar di Jakarta. Mamah saya asli orang Serang. Serang sendiri sampe sekarang masih dipertanyakan apakah termasuk suku sunda atau jawa. Karena memang di daerah kami, kami memakai dua bahasa : Sunda dan Jawa Serang. Saya sendiri lebih fasih berbahasa sunda ketimbang bahasa Jawa Serang. Dan saya merasa saya orang Serang, bukan orang Sunda. Seandainya bisa, saya ciptain sendiri deh suku Serang. Terdengar lebih eksotis. Iya ga?!? *maksa*.
Lagian, kalau iya saya orang sunda, emang kenapa deh? Kalau saya orang jawa, emang kenapa deh? Kalau saya orang Jakarta, emang kenapa deh? Saya toh tetep saya. Cantik, pintar, lucu, manis, mempesona, bersahabat, dan suka menabung di bank Mandiri. SO WHAT!?

Lagian, saya ga mau ambil pusing. Stop. Berenti sampe sini cerita soal suku-sukuan.

Kembali ke cerita misi hidup mandiri.

Iya, jadi gitu deh. Besok kalau saya ga terlalu cape. Saya ingin melanjutkan pencarian tempat baru. Sekalian menjalin hubungan lebih dekat dengan orang-orang lokal. Seperti biasa, saya akan menggunakan kekuatan bulan untuk menghukummu. Hmm, salah line. Saya ulang deh. Seperti biasa, saya akan menggunakan kekuatan pikiran dan mimpi untuk mewujudkan misi saya hidup mandiri di tempat perantauan ini. Saya yakin seyakin-yakinnya, saya akan diberikan yang terbaik. Karena niat saya emang ga macem-macem. Insyaalloh lancar.

Doakeun yaaa.. 
Untuk posting yang ini, saya ga punya foto yang bisa dipamerin. Nanti, kalau saya sudah benar-benar menemukan tempat tinggal baru. Saya pasti kembali. Dengan cerita dan gambar dari kamera.

Ciao.
Anda





1 comment:

Anonymous said...

Sangat posting baik..