Dalam dua minggu kemarin, saya sudah dua kali bolak-balik ke kampus Depok. Pertama kali datang lagi setelah berbulan-bulan (atau 1-2 tahun lalu?!) tidak menginjakkan kaki di Depok yang selalu membuatku jatuh cinta.
Dengan dandanan yang sengaja dibikin terlihat remaja –ko kesannya gw udah tua banget ya?- saya datang sendiri dengan tujuan rektorat. Legalisir ijasah dan transkrip nilai. Aduh, saya pikir dandanan saya yang udah total ini akan membantu kepercayaan diri saya ketika memasuki lingkungan kampus. Ternyata engga. Bukannya merasa PD saya malah merasa sangat asing.
Turun di Kober, saya kebingungan dan tercengang-cengeng sendiri. Buset, kenapa jalan jadi selebar lapangan futsal begini? Tanya saya sambil geleng-geleng kepala. Jadilah saya setengah jam berusaha sendirian nyebrang Kober-Sawo. Ditambah pula perubahan suasana yang menurut saya sudah kehilangan suasana “mahasiswa”-nya. Perasaan saya saja atau memang daerah Kober menjadi sangat gersang ya? Kemana pohon-pohon gede di depan MariPro? Ah, saya sedikit kecewa. Tapi tetap berjalan menyusuri jalan Sawo.
Beribu kenangan menyerang saya setiap saya melewati dan melihat sudut-sudut di jalan itu. Ya allah, betapa waktu tidak pernah kompromi dan berbaik hati untuk jalan pelan-pelan saja. Semua terasa asing sekaligus familiar. Sudut-sudut itu tetap sama. Hanya muka-muka itu saja yang membedakannya.
Saya berhenti sejenak ketika melewati kosan saya dulu : Ayunda. Saya mengintip dari luar. Masih sama. Kamar saya yang di atas dan di bawah. Kosan dengan sejuta cerita.
Saya melanjutkan perjalanan. Di depan rel, saya berhenti lagi. Teringat dulu, saya tidak pernah bisa menyebrangi rel ini tanpa memegang tangan seseorang dan berlari terbirit untuk menyebranginya secepat mungkin. Iya, saya memang takut rel kereta. Ga tau kenapa. Parno aja. Sekarang saya harus menelan ludah dan menyadari kenyataan bahwa saya sendirian. Saya menatap ke depan, kiri dan kanan. Aman, Nda. Kata saya dalam hati meyakinkan diri. Walau pun begitu saya masih berdiri di depannya, berharap ada orang yang menyebrang bersama saya. Tapi tidak ada satu orang pun yang saya liat mau nyebrang. Duh, saya harus lari nih. Jangan sampe saya berlama-lama di sana – berdiri saja – seperti mahasiswa stress, mau bunuh diri karena ga lulus-lulus (hiiiy, serem amat omongan gw). 1, 2, 3… saya pun mantap berlari terbirit dengan gaya loncat-loncat pasang muka parno. Saya liat muka si abang yang jual komik di depan saya, dia geleng-geleng kepala. Mungkin dalam hati dia bilang, kasian tu anak. Bodo. Yang penting saya berhasil nyebrang sendiri. YAY. Tunggu. Saya mau tepok tangan dulu buat diri sendiri. [Plok-plok-plok]
Kaki ini terus melangkah. Tadinya saya mau naik bikun aja. Tapi saya tergoda untuk jalan kaki menembus balhut. Wuusss.. rasa kangen yang tak tertahankan membuat saya berhenti di tengah balhut. Duduk di tangga kecil dan melihat ke rusa-rusa yang ada di sebelah kanan saya. Aduh, saya kangen teman-teman seperjuangan!!! Rasanya ingin menangis, tapi malu sama rusa. Pengen teriak, takut disamperin satpam. Jadilah saya duduk saja di sana. Sekalian mengistirahatkan punggung yang mulai berontak karena dari tadi harus menanggung beban ras backpack segede gedebong.
Sekitar 10menitan saya ngaso di balhut. Gitta telepon dan sudah menunggu di rektorat, saya berkata akan segera sampai rektorat dalam waktu 10 menit, saya mau mampir dulu ke kopma sebentar untuk beli minum dan isi pulsa.
Sampai di Kopma, saya langsung berteriak heboh “Saaaaaaaaaaaam!!!” Sam yang lagi sibuk ngelayanin mahasiswa yang beli the botol terkaget, kaget. “Eh, ngapain lu di sini????” katanya sambil nyenyir kuda. Hehe.. saya sungkem dulu sama Mas Yo dan Sam, baru bercerita sedikit kenapa saya beredar di kampus hari ini. Ga berlama-lama karena saya tau Gitta sudah menunggu di rektorat, jadi saya pamit sama orang-orang Kopma. Sebelum pulang tentu saja saya menyempatkan photo-photo (Teteuup). Pas waktu saya melangkah keluar, Sam dengan sedikit berteriak “Ga maen ke Kansas, Nda?”
Duuuuuuuuh, kangen. Kangen. Kangen. Kangen. Kangen. Kangen. Kangen. Kangen.
Rasanya saya ingin belok ke Kansas. Berharap anak-anak ada di sana. Di Kansas. Di meja hijau lagi makan sambil becanda-menghina-tertawa. Oh how much I miss those old good times with you, jongens. Saya ga kuat. Saya memutuskan ga mampir ke Kansas. Ntar yang ada saya malah tambah ngerasa kangen dan ga bisa ngapa-ngapain. Di selasar gedung 9 saya menyempatkan foto-foto tempat favorit saya dan teman-teman nongkrong kalo lagi ga ada kuliah, nunggu kuliah, atau lagi ada pertunjukan teater. Gusti, saya kangen teman-teman saya!
Di rektorat, saya langsung mengurus apa yang harus diurus. Saya pikir semua urusan bisa saya selesaikan hari itu juga ternyata saya harus datang lagi minggu depan. Yah. Berabe beneur deh. Alamat pengulangan nostalgia lagi dong. Yasudahlah, saya toh ga punya pilihan. Saya akan kembali minggu depan. Sekitar 20-25 menit saya ngobrol dan bertukar cerita dengan Gitta yang dengan baik hati membantu dan menyempatkan diri kabur dari kerjaan untuk menemui saya. Je bent echt lief, Gittje.
Puas ngobrol dan nyulik Gitta dari rektorat, saya memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah Dabu. Saya duduk-duduk sendiri dulu di pinggir danau depan Balairung. Saya berdecak kagum melihat bangunan baru di depan mata saya. Itu perpustakaan baru, Nda. Gitta memberi tahu saya ketika memandangi gedung itu sejak pertama melihatnya. Bambang! Kenapa baru dibangun pas saya udah keluar kampus??? Sirik, iri, dan dengki langsung menyelimuti hati. Aaaah, saya juga kan ingin merasakan dan menikmati gedung itu. Membaca di sana. Mencari buku dan sumber kuliah di sana. Aduh, mupeng.
Lama saya terdiam menatap gedung itu. Mimpi itu diam-diam keluar, ikutan mengintip. Saya ingin sekolah lagi. Ya, saya mau. Mungkin tidak di sini, tapi saya akan sekolah lagi.
Anyway. Gedung itu cantik sekali terkena sinar matahari sore dan bertepatan dengan melantunnya suara adzan ashar yang berkumandang dari gedung di sebelahnya, MUI.
Saya tersenyum sendiri. Bangga. Bahagia. Bersyukur. Saya beruntung bisa mengecap pendidikan dan bertemu banyak orang besar dan hebat di sini. Di kampusku tercinta. Universitas Indonesia.
2 comments:
gw juga ngerasa asing ada di kampus, berasa "tua" walaupun gw sadar muka gw imut bgt :)))
aku jugaaa kangen kampusss... mau mewek bacanya deh...
terakhir kesana juga berasa asing, apalagi pertama kali liat jalanan kober stelah sekian lama, gw aja turun bus smpe kebablasan krna ga kenalin jalannya.. :(
Post a Comment