5.4.12

Akhirnya..salju!

Ola..

Semoga kalian yang sedang membaca posting ini dalam keadaan sehat wal afiat tidak kurang satu apapun. Marilah kita bersama-sama mengucapkan basmalah sebelum kita (saya menulis, dan kalian akan membacanya) melanjutkan apa yang harus dilanjutkan -Ini apaan sih maksudnya, Nda?!-

Hah.
Harus saya akui, paragraf di atas bukanlah suatu paragraf pembuka yang layak, baik lagi menarik. Ga jelas arah dan tujuannya ke mana. Abis saya bingung mau mulai dari mana, saya asal ketik aja dan membiarkan jari-jari ini ngetik seenaknya.


Baelah sodara-sodara sekalian. Saya mulai saja tulisan kali ini dengan menceritakan kenorakan saya yang seumur-umur baru liat salju tadi pagi.


Sebenernya saya udah diperingatin sama beberapa orang di sini kalo saya kemungkinan akan liat salju dalam beberapa hari ke depan. Peringatan itu tentu ga dateng dengan sendirinya dan tanpa fakta. Mereka yang kalo dalam bahasa kita (londo2) geboren en getogen di sini, udah apal beneur sama cuaca mereka yang ga jelas. Sehari bisa terang benderang dengan cahaya matahari bagai di musim panas, lalu besoknya bisa berubah 180 derajat, jadi grey dengan angin dingin yang menusuk2 tulang.  


Nah dari kemaren, sempet tersebar isu bahwa akan turun salju di hari paskah minggu ini. Saya yang sedang enak-enaknya menikmati cahaya mentari dan yang lagi sok-sok-an berani pake kaos tipis or top dan cuma berbalut kardigan or jaket biasa, tentu saja mencibir berita soal datangnya salju itu. Lah wong spring alias musim semi udah di mulai dari minggu lalu ko, mana mungkin akan turun salju?!


Aaaah, saya ga percaya sama si weather man! Selalu begitu kalimat yang terucap dari bibir manis saya ketika Heather dan Simon "menakut-nakuti" saya kalau udara akan berubah drastis menjadi super dingin-minus derajat- dan akan turun salju.


Walaupun dalam hati saya sebenernya aga ngarep juga sih bisa ngeliat salju dengan mata kepala sendiri, ya iya lah, masa pake mata dan kepalanya si Iboy! Hahaha entah kenapa gw kepikiran lo, boy.
Jadilah berita soal turun salju itu bergulir dari hari ke hari semenjak senin kemarin. Toh, setiap saya buka mata di pagi hari tidak terjadi apa-apa. Dari hari senin kemarin, matahari masih dengan riang gembira menyinari jendela kamar saya.


Etapi moso yaaaa. Para pembaca.. bapak-bapak, ibu-ibu, semua yang ada di sanaaaa.....
Pagi ini. Ketika saya membuka mata, saya melihat ada yang ganjil dan aneh di jendela kamar saya. Ada serpihan kecil, putih macam kapas yang dirobek kecil-kecil dan tipis-tipis melayang2 di sekitar kaca. Awalnya saya pikir itu bulu burung2 yang rontok. Tapi ko banyak ya... ?!


Masih dalam keadaan setengah sadar dan mata keriyep-keriyep, saya mencoba bangun dan mendekatkan mata dan badan ke jendela.


Booooooooooooooooooooooooooook.. salju!!  Snow!! Sneew!!
Ah, saya langsung menempelkan muka saya di kaca jendela demi melihat lebih jelas dan memastikan apakah itu benar-benar salju. Loh iya dong, mana saya tau kalo itu beneran salju. Bisa aja itu rontokan bulu burung masal yang lagi terbang melintasi di atas rumah kami. Toh?

Kedap-kedip. Kucak-kucek. Lalu saya akhirnya memutuskan dan berpendapat bahwa yang saya lihat dan saksikan dengan mata dan kepala saya sendiri, ya iya lah, masa pake mata dan kepalanya si Iboy! PENGULANGAN, Nda. Tadi udah ditulis!!!
Maap, lanjut...

adalah benar adanya : salju.

Horaaaay.. mari berjoget-joget dulu. Merayakan satu mimpi masa kecil untuk bisa melihat salju dengan mata dan kepa.. ah, never mind... Terwujud saat ini.


Merasa seluruh nyawa sudah terkumpul, saya bergerak gesit mengambil kamera di dalam tas saya. Merekam momen nan mengharukan ini dan mengambil beberapa photo dari jendela kamar saya. Pas lagi ceprat-cepret, eh tiba2 mamake Mat muncul dan berkata "It's snow, Andaaaa....!! Lets get out and let yourself feel the snow"


He!!!!?!!


Saya langsung jiper ditembak kaya gitu. Boooow, emang sih, saya seneng liat salju untuk pertama kalinya, dan ini yang saya tunggu2 dari dulu, tapi kalo harus segera keluar dan bersentuhan langsung dengan si salju beneran saya mengkerut juga. Ga kebayang dinginnya kaya apa di luar. Brrr.. bergidik saya ngebayanginnya.


Waktu saya bilang ke Heather "Yes.. It's snow. Woohoooo.. finally! But i am afraid it will be too cold for me to get outside and touch the snow."
Tau ga doi bilang apa ?
"Oh, dont be such a chicken!"


Terbakaarrrrlah diri ini mendengar pernyataan beliau. Dengan gigi gemeratukan dan dada yang dibusungkan (meskipun dada ini tak sebusung dahulu, hiks) saya berkata "Fine, let play outside!!!" <--- pernyataan bunuh diri si Suranda!


Heather cekikian liat saya jalan di depan doi. Simon cuma geleng-geleng kepala liat kami berdua kaya orang gila. Sebenernya saya tau mereka lagi mempermainkan saya, tapi saya ga mau dan ga terima dibilang ayam. wong mereka biasanya manggil saya bebek ko. Lah, ini apa lagi?!?


Kamera sudah di tangan Heather dan kami berjalan keluar rumah, saya cuma "dibolehin" pake jaket satu (biasanya saya pake 3 lapis jaket) dan ga pake sarung tangan. Dalam hati saya mengutuki diri, dan menyesali pernyataan saya. Damn it, seharusnya saya terima aja dibilang chicken!!


Begitu pintu dibuka. Wuuuussshhh.. angin dingin langsung menonjok2 muka saya yang cantik nan jelita ini. Oh, my poor beautiful-excotic face. Niat saya untuk berlari, langsung terbaca oleh Ibu kekasih saya. Dia menarik jaket saya dan berkata "where are you going.. stay here. Standing properly and feel the snow falling to your head and body!"
Booooooooooooook! Ampun deh, ini sih penyiksaan sebelum bunuh diri namanya. Minus 3 aja dulu, udara saat itu.


Saya nurut aja daripada nanti malah jadi panjang urusannya dan saya harus berlama-lama di luar. Setelah beberapa menit merasakan salju turun di atas kepala saya, kami beranjak ke garasi untuk "bermain" salju. Mamanya Mat bilang, mereka sering main snowball di sini. Itu loh, maen lempar2an bola salju kaya yang kita sering liat di pelem-pelem.
Ga banyak cingcong, saya langsung mengiyakan dan mengikuti permainan yang beliau maksud. Awalnya saya cuma nurut jadi korban timpukan bola salju Heather, tapi lama-lama berontak juga diri ini. Kalap ditimpukin, saya langsung ngambil salju yang menggunduk di atas mobil dan membentuk bola lalu menimpukkannya ke Heather. HAHAHA!!


Saking semangetnya saya nimpukin beliau, saya ga ngeh kalo jari-jari tangan saya memerah dan terasa perih beberapa saat kemudian. Saya langsung merengek kesakitan dan meminta kami segera masuk ke rumah. Mamanya iba melihat saya dengan muka memelas lalu menggiring saya kembali ke dalam rumah. YESSS, tipuan saya berhasil. Biasa... pake ekspresi muka lebay, demi ga usah berlama-lama di luar.  HAHAHA lagi.


Waktu kami bermain lempar-lemparan bola salju, Heather sempat mengambil beberapa photo dan membuat video. Ini tidak lain dan tidak bukan untuk nanti diperlihatkan ke Mat. Supaya dia tau betapa noraknya kekasih hatinya ini ketika pertama kali liat salju dan jadi korban timpukan mamanya.




masih pake celana tidur, dan dipaksa keluar. Pake bootsnya Simon pulak. I am so not in style for my first snow yah. HA!




Begitu sampai di rumah sakit, saya langsung membombardir Mat dengan cerita saya pagi ini. Dari awal saya bangun tidur sampe soal saya sibuk ceprat-cepret ngambil photo di perjalanan dari rumah ke rumah sakit. Dia dengan seksama dan sabar (oh, bless him!) mendengarkan ocehan saya dan berkedip-kedip sambil menggerak-gerakkan mulutnya, seperti ingin mengatakan sesuatu. Ah, sayang.. I know what you'd say to me. Setelah puas bercerita, saya lalu membiarkan dia bercerita lewat tatapan mata. Saya diam menatap matanya yang bergerak-gerak. Saya mencoba memahami dan mengerti. Mudah-mudahan saya ga salah mengartikannya. Mudah-mudahan dia tau saya mendengarkan dia berkata lewat tatapannya.


Jadi, ya begitu lah cerita kenorakan saya, teman-teman. Saya masih belum ngantuk sebenernya. Sekarang jam 1 lewat 14 pagi. Saya masih pengen "ngobrol" sama Sang Pencipta hari ini. Ingin menyampaikan doa-doa untuk sang kekasih. Hey, apakah kalian masih menyelipkan nama Mathew-ku di setiap doa kalian? Ayo, ayo.. jangan lupa ya. Anda titip doa buat Mat. Supaya dia lebih baik setiap harinya, supaya dia ditunjukkan jalan pulang. Supaya dia kembali kepada kami, kita, kalian. Supaya kami diberikan yang terbaik.


Makasih ya teman-teman tersayang.
Aku sayang deh sama kalian. Muuuaaah xxx



Salam salju,
Suranda.

No comments: