Untuk membunuh rasa bosan (baca : nganggur), saya memutuskan untuk melakukan Tour the Jakarta. Karena semua teman saya sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing (baca: Kerja). Partner satu-satunya yang paling bisa diandalkan siapa lagi kalau bukan Pratiwi Dayang Buana a.k.a Daboe!
Ya. Mumpung dia lagi “mampir” berlibur di Jakarta, dan akan balik ke Hong Kong minggu ini, saya sudah pasti mengajak dia menemani Tour the Jakarta ini. Sebenarnya ga tour-tour amat sih. Cuma pengen maen ke beberapa tempat di Jakarta yang belum pernah saya kunjungi aja.
Jadi, tujuan utama Tour the Jakarta ini adalah Monumen Nasional atau lebih ngetop dengan sebutan Monas. Saya harus menanggung rasa malu karena seumur hidup saya belum pernah menginjakkan kaki di atas monumen itu. NEVAH!*jeduk2in pala, malu*
Setelah tinggal di Depok selama 4,5 tahun dan merasa betah sekali dengan kota belimbing itu, saya akhirnya memutuskan untuk tinggal di Jakarta 1,5 tahun yang lalu. Benar. 1,5 tahun dan belum pernah naik ke atas Monas. Mmm.. ada kata lain selain MEMALUKAN?? Ah, KASIAN DEH LO mungkin lebih tepat. (Heh, ga usah ketawa2 lo bacanya!)
Tunggu, tunggu.. saya bukannya ga pernah usaha, tidak pernah mencoba untuk naik ke atas Monas loh. Oh, oh, oh.. percayalah, saya sudah mencobanya (well, cuma satu kali sih). Entah kenapa, usaha saya itu selalu saja gagal.
Dan kali ini, saya bertekad! Saya HARUS bisa naik ke atas Monas!!
Sehabis mengajar, saya dan Dabu sepakat untuk bertemu di Plasa Senayan dan langsung pergi ke Monas. Takut kesorean.
Kami pun segera menuju Halte Transjakarta di depan Ratu Plasa (Maaf, lupa nama haltenya).
Uhuy! Sampe Monas. Wah.. keliatannya mau ujan. Mendung. Padahal tadi pagi panasnya kaya di Arab (Kayak yang udah pernah ke sana aja!) sekarang jadi mendung deh.
Ga pikir lama-lama, Daboe langsung mengeluarkan tripod-nya. NIAT banget, dab!! Hahaha.. bagooos!!
Yah.. kami cuma sebentar dan sedikit foto2nya karena tiba-tiba ujan turun. Untung Daboe cewe yang selalu mengutamakan keselamatan : bawalah kondom ke mana pun kamu pergi! Err.. maksud saya, bawalah payung ke mana pun kamu pergi, karena ini sudah mulai musim hujan.
Sementara menunggu hujan reda, kami terus berjalan menuju pintu masuk Monas, menuju ke atasnya. OH NOOOOO!!! Ternyata saya memang belum diizinkan untuk menginjakkan kaki di atas Monas itu. Lagi-lagi nasib saya tidak beruntung. Loket tiket menuju ke atas Monas sudah ditutup. *menangis-lari sambil ujan2an-teriak2 gaya film India*. Gagal lagi usaha saya untuk menghilangkan predikat KASIAN DEH LO. Hiks.. :’(
Tidak mau berlama-lama bersedih, kami pun bertekad untuk melanjutkan Tour the Jakarta ini. Tak apa, lain kali saya akan datang pagi-pagi. Sebelum melanjutkan ke tujuan selanjutnya, kami sempat berdiam diri dulu di pelataran Monas. Melihat dan memoto semua hal yang menarik. Ada keluarga yang sedang berlibur, ada tukang jualan makanan, ada yang bermain bola,
ada kereta mobil buat keliling Monas, dll.
Setelah puas ceprat-cepret foto, kami beranjak menuju tempat selanjutnya. Langit Jakarta masih saja murung. Kami tidak berkeluh kesah. Tak apa lah.
Demi merasakan sensasi asli Tour the Jakarta, kami memutuskan untuk naik Bajaj ke tempat selanjutnya. Di depan kami sudah berjajar dengan rapih bajaj2 yang siap mengantarkan penumpang ke mana pun tujuannya.
5 menit perjalanan dari Monas, dan sampailah kami di tempat ini :
Yes. Sekarang kami ada di Katedral. Sudah lama sekali saya ingin datang dan melihat dari dekat gereja yang punya bangunan super keren macam di Roma sana. Awalnya kami ragu masuk ke sana, karena sepertinya sedang ada acara Misa sore atau apalah. Tapi saya tetep berkeras hati kali ini harus bisa masuk dan melihat ke dalamnya. Sore itu, kami berhasil melihat keindahannya.
Puas mengelilingi gereja dan mengabadikannya dalam kamera, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini tidak perlu naik bajaj atau taxi. Cukup jalan kaki, karena tempat selanjutnya yang akan kami kunjungi berada tepat di depan Gereja Katedral.
Yes, it’s Masjid Istiqlal Jakarta .
Ini bukan pertama kalinya saya masuk ke dalam Masjid yang terbesar di Asia Tenggara. Saya sudah beberapa kali datang ke tempat ini. Terakhir, beberapa bulan yang lalu, ketika saya menjadi pendamping pengantin teman saya yang menikah di Masjid ini.
Kebetulan, waktu kami sampai, kami belum sholat Ashar. Jadi kami pikir, kami akan sekalian istirahat sebentar dan menikmati setiap detail tempat ini. From church to mosque, these places have been taught us the beauty of God’s colors.
Hari sudah mulai gelap ketika kami keluar dari halaman depan Masjid Istiqlal. Sebelum kami meninggalkan dua tempat yang berdekatan ini, kami menyempatkan waktu untuk memfoto mereka dalam cahaya.
Lapar!! Sudah waktunya memanjakan perut. Kami memutuskan untuk pergi ke tempat yang enak buat duduk-duduk santai sambil menikmati makanan ringan. Sebenarnya saya ngidam baso, teman-teman. Tapi dari tadi saya ga liat tempat baso L
Yasudah. Kami pun berjalan menyusuri trotoar. Hujan sudah berhenti, tapi jalanan masih basah. Kami menikmati basahnya Jakarta. Di jalan, kami sempat berhenti waktu melihat ada beberapa orang yang berdiri di sepanjang jalan, sambil menyodorkan tangan mereka ke mobil-mobil yang lewat. Benar sekali. Mereka adalah joki-joki 3 in 1. Saya tentu saja langsung membuka lensa kamera dan memoto mereka. Dan pastinya, sang model Daboe, ga mau kalah ikutan bergaya juga seperti mereka. Para joki.
Tempat “dadakan” yang akan kami tuju adalah sebuah tempat yang menjual es krim khas Italia. Yes. It’s Ragusa.
Wah.. banyak banget pilihan es krim-nya. Kami jadi bingung.
Akhirnya pilihan saya jatuh pada Rum Raisin Ice Cream, dan Daboe memilih Stawberry Ice Cream. Dan untuk cemilannya, kami memesan otak-otak yang ada pas di depan Ragusa, satu porsi dengan harga yang sempet bikin saya ketawa ngenes. Mahal booo!! *20rb untuk 10 biji otak2 seukuran jari kelingking L *
Menunggu pesanan tiba, saya dan Daboe membunuh waktu dengan foto-foto. Saking hebohnya foto-foto, orang-orang yang ada di situ sampe geleng-geleng kepala liat kelakuan kami. Hehehe..
YAY!! Es krim dan otak-otak sudah datang. Woo hooo… eet smakelijk!
Waaah… ternyata sudah malam!! Kami harus segera pulang. Sudah cape juga seharian jalan dan berburu foto. Seru!
Tapi.. err.. umm.. sebenarnya kami masih lapar. Pengen makan yang lebih berat. Tapi ga tau harus ke mana. Di perjalanan menuju halte Transjakarta, kami melihat ada warung kecil di samping stasiun Cikini. Wah.. ada Soto Ayam. Kami pun tersenyum sambil melangkah ke sana. Cakep! Perjalanan ini ditutup manis dengan hangatnya soto ayam pinggir jalan stasiun cikini. Mantaf!!
End of tour.




2 comments:
nandaaaa...kayaknya byk bagian yg terlewati deh, seperti: abang gorengan yg pelit cabe (dengan alasan abis neng cabenya), cowo2 ababil yg poto2 (yg lo sangka mereka anak jkt...pdhal mah...beeeh...bukan!), kita ga jadi naik kereta (apa sih nda sebutannya? mobil? tapi kok panjang ya?), nah yg paling menjengkelkan: kejadian di istiqlal!!! (mulai dari lo dimuntahin bocah ingusan, pengurus mesjid yg sok "peduli", sumbangan yg tadinya sukarela jadi ga rela), perjalanan kita menuju Ragusa (masyaalloh, menantang mauuuut ndaaa...sepi, byk alay).
tapi gw tetep suka ma postingan lo :D
ps: musim hujan? jgn lupa bawa kondom, eitsss...payung! hahaha... (cari tuh iklan yg gw bilang di youtube).
cheers, daboe x)
dabuuu... i like u now and here.. kurusan boook..
ekh tapi ya es krim ragusa udah ga terlalu enak lagi katanya.. hohoho..
tapi aku yakin pengalaman kalian kemarin enak rasanya..
haaa, kalian tau wat i mean laah.. hehe.. *peluk cium for both of you*
Post a Comment