12.10.10

Ubud Writers and Readers Festival

Biasanya saya menulis apa yang ada di pikiran saya dengan sukarela dan sesuai dengan mood. Baru kali ini, seumur-umur saya ngeblog, saya merasa dipaksa untuk bercerita. *menghela napas*

Ya, tulisan kali ini khusus didedikasikan untuk seorang teman yang sepertinya ingin sekali membunuh saya sejak saya meninggalkan Jakarta.
Mentari Meida. Sungguh nama yang cantik *beda beneur sama sosok aslinya*.
Alasan dia ingin membunuh saya karena banyak hal yang menurut dia sangat ingin dialaminya juga. Pertama, kepindahan saya dari tempat sumpek, macet, dan sumber stress : Jakarta ke tempat yang sejuk, damai, hijau, dan sumber inspirasi : Bali.

Ach, tapi saya pikir itu hanya alasan Meida yang dibuat-buat. Dia hanya bosan dan jenuh saja dengan semua yang ada di depannya. Jakarta is a great city. Banyak inspirasi yang datang dari segala macam penjuru. Buat saya, Jakarta adalah tempat untuk orang-orang kreatif, dinamik, enerjik, drama, dan segala macam hal yang dibutuhkan untuk menghidupkan hidup. Saya? well.. saya tetap termasuk orang kreatif, dinamik, enerjik, dan pastinya cantik, yang untuk sementara pergi dari Jakarta demi mewujudkan salah satu mimpi kecilnya.

Anyway, kenyataan lain yang membuat si perempuan bulan Mei ini ingin semakin membunuh saya adalah diadakannya Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) tepat di tempat saya tinggal. UWRF adalah sebuah ajang untuk kami (saya dan Meida, khususnya) para pecinta buku dan segala sesuatu tentang dunia sastra, tulis menulis, diskusi/bedah buku dan membaca, yang diselenggarakan setiap tahun. Kalau tidak salah, tahun ini adalah tahun ke-7 festival sudah berjalan. Penulis dan pembaca dari seluruh dunia berkumpul selama kira-kira 4 hari, untuk merayakan festival tahunan ini.

Saya dapet rundown acaranya langung dari ketua penyelenggara yang ternyata temannya teman saya.


Tahun lalu, kesuksesan festival ini bergema di setiap negara dengan ketenaran dan kehebohan salah satu  buku yang diluncurkan saat itu, yang katanya sensasional : Eat, Pray and Love. Sang penulis, Elizabeth Gilbert, yang memang (kadang-kadang) tinggal di Ubud berhasil mengajak pelancong2 dari seluruh dunia untuk singgah dan merasakan "Love of Ubud". And she did a great job.
Intermezo tentang Elizabeth Gilbert. Suatu pagi, saya iseng jalan-jalan ke pasar untuk beli tomat segar, waktu saya mau nyebrang, tiba-tiba ada seorang wanita bule paruh baya mengkring-kring sepedanya ke arah saya, saya refleks minggir, dia kemudian lewat dan mengayuhkan sepedanya ke depan. Hmm.. ni orang ko mukanya familiar beneur, batin saya dalam hati.
Lalu, 2 hari yang lalu, ketika saya sedang berada di salah satu event UWRF bernama Street Party, saya sedang asik berjoget regge, di samping saya joget-jogetlah si wanita pengkring-kring sepeda itu. Saya yang lagi asik joget-joget, jadi merhartiin dia. Saya liatin baik-baik. Lalu, Yaaaa AMPLOP, Mas Booooy... ternyata doi Elizabeth Gilbert aja loh!! Boooo... mau teriak2, sendirian! Mau minta poto, tengsin! Mau diem aja juga yaaa aga susah yaaah!!
Duh, langsung kebayang, kalo ada salah satu anak-anak belanda, siapa pun, saya pasti berani nyamperin dia, minta tanda tangan (he? Masih jaman???) dan foto. Trus langsung deh diupload ke FB, Twitter, BB, aaah pokonya di semua jejaring sosial yang heboh itu lah. Sayang, kekuatan rasa ga tau malu saya terletak di setiap anak-anak belanda 04. Kalo ada mereka, sebiji aja. Dijamin, tingkat kepercayadirian saya meningkat tajam dari 5% ke 900% (lebeey!) Jadilah malam itu saya cuma cengar cengir dan sok asik joget2 deket2 dia. Booo.. dia mikir gw aneh ga ya?? Haha, jangan ampe dia nulis buku "Dance, alone, deh!"




Ehem, maaf. Kembali ke UWRF.
Tahun ini, saya berusaha mengikuti, event demi event yang mereka adakan. Sayang karena waktu yang tidak memungkinkan saya untuk datang ke acara itu, membuat saya hanya bisa menyaksikan acara2 "hiburan" saja. Saya baru bisa mendatangi tempat-tempat diadakannya bedah buku, pelucuran dan seminar-seminar di atas jam 7 malam, dan akhir minggu saja. Tidak banyak memang, tapi saya puas.

Salah satu acara peluncuran buku yang saya datangi adalah peluncuran buku seorang penulis palestina bernama Suad Amiry dengan bukunya yang berjudul "Nothing to Lose but Your Life". Dari pertama datang saya sudah terpukau dengan cara dan gayanya bercerita tentang Palestina dan Israel. Hampir 1,5 jam saya berdiri mendengarkan dia bercerita. Iya, semua tempat peluncuran buku selalu penuh sesak oleh pengunjung. Dari warna kulit dan rambut yang berbeda, kami berbaur. Pembaca, penulis, wartawan, volunteer, pengisi acara, artis, semuanya tumplek jadi satu. Menyenangkan!




Saya sengaja mengosongkan jadwal tidak ke mana-mana atau ngedate (he?? sama sape?!?) minggu ini khusus buat mengikuti acara demi acara dari pagi sampe malem. Saya beruntung, di sini saya punya parter in crime baru *nguahahaha*
Well, sebenernya ga baru-baru banget sih. Dia temen satu kampus dulu, cuma beda jurusan. Dulu pernah kerja satu kantor. Trus di Jakarta sempet kerja di Kedutaan Inggris, sekarang dia kerja di konsulat Inggris. Dan bulan depan dia mau berangkat ke Inggris. Aduh, tenggorokan saya gatel. Tunggu sebenar. Ehem, uhuk, uhuk. TAH*********K!!!! Gw iri!

Hah, sudahlah. Kalo ngomongin temen saya ini, saya bawaannya pengen ngeracunin dia obat tidur selama dua minggu. Trus gantiin dia training di London deh. *gila, otak gw kriminal abis*
Namanya Nilna In Shofa. Panggil saja, Iin. Nama sebenarnya. Saya dan dia sudah berkomitmen akan menjalin hubungan intim setiap akhir minggu tiba. Secara sini jomblo situ juga kosong, jadilah kami klop. Sehati, sepikiran, sejalan, semisi, seperantauan, sedrama. Pokonya kami SE deh. Satu. *apa sih, Nda?!*


Sabtu itu, Iin lagi2 dengan gagah berani membawa motor beat-nya dari Sanur ke Ubud. Saya harus menyembah salut sama dia waktu pertama kali nyamperin saya ke Ubud. Tanpa peta dan bertanya, dia bisa nyampa aja loh dari Sanur ke Ubud. Padahal dia ga tau jalan dan belum pernah ke Ubud naek motor sebelumnya. Perjalanan dari Sanur ke Ubud juga lumanyun deh. Sejam naek motor. Itu kalo ga pake nyasar. Jangan tanya saya, mungkin kalau saya jadi dia, berangkat sabtu pagi, nyampe senin siang. Nyasar dulu kali saya ke Lombok.

Sekitar jam 11 dia sudah ada di depan rumah. Cengar-cengir ceria. Saya sengaja memintanya menginap karena malamnya akan ada Street Party yang akan diramaikan oleh pembacaan puisi, fire dance, regge, hip hop, dan atraksi lainnya. Setelah menaruh barang2, kami kemudian meluncur ke tempat pertama : Uma House. Hanya sebentar kami di sana, karena ternyata acaranya dialihkan ke tempat lain, kami pun memutar motor dan menuju ke venue berikutnya Ary's Warung. Kali ini kami ingin melihat peluncuran buku "Memories of the Sacred". Waktu sepertinya berlari cepat sekali hari itu, kami sudah berada di tempat ketiga peluncuran buku selanjutnya "Nothing to Lose but Your Life". Lapar dan cape pun ga saya rasain. Semua rasanya ilang melihat orang-orang di sini begitu bersemangat dan menyambut setiap acara dengan antusias. Aaaah, lagi-lagi rasanya tersiksa hidup tanpa kamera. *mata-membesar-berlinang-air mata-berharap-ada-yang-kasih-kamera*.
Jadilah saya hanya bisa nyuri-nyuri foto memakai handphone saya. Malu sih, karena di kanan-kiri semua pake kamera yang lensanya bisa dibuat toa. Sial, bikin sirik aja!

si Iin mejeng di depan Ubud Palace


salah satu venue yang dipakai untuk peluncuran dan pembukaan UWRF. Lotus garden.

Setelah seharian reli dari peluncuran satu ke peluncuran lainnya, malam minggu kami berakhir di sebuah jalan panjang bernama Jl. Gaotama dengan event pamungkas bernama Street Party. Acaranya ga usah ditanya. Sakses bikin jalanan sesek-mepeuk gara-gara semua orang sibuk joget-joget sendiri. Saya yang tadinya males joget-jogetan, ga kuat iman juga. Poco-poco lah saya akhirnya bersama para volunteer dari Jakarta dan bule-bule yang ga tau malu sok-sok nyoba joget poco-poco tapi jadinya malah gaya robot gedek. Aaaah, perduli setan. Yang penting joget, ma men!


salah satu penulis muda Indonesia yang membacakan puisi karyanya.


fire dance. Bule-bule pada norak deh, kaya baru liat api aja! Padahal gw juga heboh sendiri liatnya. hehe

disusul dengan penampilan grup hip hop dari Ausie membawakan lagu2 tentang Gaza dan Palestina. Free Gaza!!

diakhiri dengan joget regge bersama. Yo man!!


dua gadis yang berbahagia :)

Ini yang saya suka dari Ubud. Mau yang dateng orang penting kek, mau keturunan raja kek, mau anak dewa kek, ga perduli. Semua acara di Ubud harus berhenti setelah jam 11. Kafe, restoran, panggung, dan semua yang mengeluarkan suara, harus dihentikan menjelang jam 12. Beda banget sama di Kuta, Legian, atau daerah2 turis lainnya. Kebijakan Ubud memang sangat dihormati dan dijalani dengan konsistensi yang kuat. Saya juga ga liat para orang asing itu mengeluh. Mereka sangat menghormati peraturan yang dibuat untuk memelihara kebudayaan lokal ini. Saya pulang dengan gigi kering. Gara-gara nyengir seharian. Hiiiiiiiiiii :D

Besok paginya, saya ga kuat. Tepar dan memutuskan bersantai saja di rumah sambil membaca buku pinjaman Iin. Buku yang saya baca sangat menarik. Judulnya "What Do We Do Now? -- Smart Answers to Your Stupid Relationship Questions". Sangat (tidak) direkomendasikan untuk jomblo2 seperti saya. Bahaya!! Mau tau kenapa? Ke toko buku gih, liat blurp-nya. Hehehe..


Setelah mengumpulkan kekuatan, malamnya saya tetap berjuang ke acara Closing Party UWRF yang bertempat di Museum Antonio Blanco. Secara tempatnya tinggal ngegelinding dua putaran, nyampe. Saya santai berangkat ditemani si Mba. Hehehe, iya. Saya paksa si Mba buat nemenin, karena Iin sudah pulang ke Sanur siang harinya karena besok hari senin dan dia harus bekerja. Walaupun awalnya si Mba ga mau, saya memaksanya dengan mengiming-imingi kalau di sana banyak makanan. Hehehe.. berhasil! Memang dahsyat kekuatan kata "Food".
di dalem Museum Antonio Blanco tiba-tiba muncul si Gaban. BTW, liat tuh di belakang gw, ada stalker!! hahaha




Dan di sanalah saya, bersama kurang lebih 135 orang penulis, dan entah berapa banyak pembaca, saya salah satunya, berkumpul menutup acara dengan penampilan band jazz lokal yang kualitas pentasnya sungguh internasional. Saya hampir pingsan denger suara si vokalis. Dahsyat menyihir magis. Merinding disko deh. Bodohnya saya lupa menanyakan apa nama band itu! Padahal saya mau banget beli album mereka. KEWL!!

halaman depan Antonio Blanco







Aaaaahhh... i have to find out who they are!!



Ya... maka, dengan kebodohan saya lupa menanyakan nama band itu, berakhir pula lah event UWRF 2010. AKU SENAAANG, NOK*!

Nah kepada manusia bernama Mentari Meibrut, sudah puaskah dirimu dengan ceritaku ini?? Kalo belum, taun depan mendingan lo kabur aja dari Jakarta dan dateng ke acara ini. Dijamin, puas dan lemas.

Wokey, saya pamit dulu ya. Mau nerusin baca buku yang sangat menarik ini. *wink-wink, sok bikin penasaran*

 Ciao!!



*Nok itu bahasa gaulnya anak-anak Bali. Ga ada artinya, sama seperti Deh, Dong. 







3 comments:

Anonymous said...

Pertama,, ehem.. ehem.. *batuk dulu ceritanya*

Terkutuklah dirimu setaaaaaaaaaannnnnn.....!!!! Gw mau, gw mau, gw mau....!!! Huaaaaaa *nangis se-ember* eh salah.. Se-waduk jatiluhur,, hahaha.. *lebaaaaayy*

Kedua,, emang tuh.. Waktu jij joget2 sama bule ngetop itu, harusnya emang ada anak londo barang sebiji aja, sumpah, sebiji aja, dan itu GUEEEEE!!!

Ketiga,, gw mau baca bukunya yang "what do we do now?" Walaupun gw gak jomblo kaya lo,, wkwkkwkwkwkwk... :D

Keempat, emang gw udin empeeet sama jakarta yg hectic dan sekarang macetnya udh semakin kronis, akut, ga tertolong lagi lah nyawanya... Brengseeeeeekkk... Dr kantor ke rumah 4 jam... Heloooooo???!!! *maap jd curhat*

Kelima,, puaas puaas puaas *gayanya tukul*! Sukses gw baca tulisan lo smbil cekakak cekikik sendirian di busway dan orng2 ngeliatin gw smbil berfikir "cantik2 kok gila*

Duuuh,, gw emang cantik.. Tapi saya ga gila kaleeeee... Sumprit deh! Hahhaa

Keenam, udin dlu nyeeeeettt... Gw udh mau smp kantor..

Anda said...

ucapan terima kasih yang aneh (-_-')

udah aneh, gila lagi. Ketawa-ketawa sendirian di bus. Jangan2 lo emang beneran udah gila, Me. Gw cerita serius, lo ketawa. Gw cerita sedih, lo ngamuk2. Gw ga cerita, lo mau bunuh gw.

*sighs*


Udah aaaaaaaaa.. mau mandi dulu. Baru bangun nih *hehe, pamer hidup santai*



weeeeeeeeeee!!

Meida said...

iiiiiihhh... perempuan serang yang aneh juga..