NIH,
PERHATIAN BUAT CEWE-CEWE :
Kalo kalian pikir cowo-cowo suka cewe-cewe yang kulitnya putih bersih bak buah bengkoang. Dan kalian berusaha berbagai macam cara buat bikin muka atau badan buat jadi lebih putih, dengerin cerita saya baik-baik tentang masa kecil saya.
DAN,
PERHATIAN BUAT COWO-COWO :
Kalo kalian selalu mengidam-idamkan sosok cewe cantik berkulit putih mulus sebagai cewe idaman, silahkan renungkan akibat dari apa kalian idam-idamkan berdasarkan cerita tragis saya.
DUS...
Semua orang tau, saya ga akan pernah bisa jadi putih. Saya sadar itu. Walaupun kadang-kadang saya suka tergoda untuk nyobain beberapa produk yang menawarkan wajah menjadi cerah (baca : PUTIH). Toh produk-produk itu tetap saja ga pernah ngubah kulit saya menjadi putih. ok, menjadi lebih cerah atau bersih, memang. Tapi tidak menjadi putih sekali ya. Saya belum pernah tuh pake kosmetik yang bilang akan mencerahkan muka dalam 3 minggu pertama, dan berhasil.
Setelah 3 minggu pemakaian, kayaknya ga ada perubahan deh di muka saya yang memang sudah cantik ini *JANGAN PROTES! Terserah gue mau bilang gw cantik, ini blog gw!*. Muka saya masih saya berwarna coklat (baca : hitam). Oh iya, ngomong-ngomong tenang pendeskripsian orang Indonesia tentang warna kulit, saya jadi inget omongan dosen saya, Mba Lina. Dia benci banget kalau ada orang yang bilang/mendeskripsikan seseorang berkulit hitam.
“Hitam itu ban! Kita, orang Indonesia itu berkulit coklat. Bukan hitam!” begitu katanya suatu hari di kelas luisteren.
Saya, yang merasa berkulit hitam, um.. maksud saya coklat, tentu saja menyambut statement Mba Lina dengan senyum lebar dan sumringah. YES, aku tidak hitam, aku coklat. Aku coklat. Aku coklat. Terus2an saya ulang kata itu demi menghibur diri. Yang, walaupun dalam kenyataannya orang-orang kebanyakan masih saja suka bilang “hitam”. Alhamdulilah dalam kasus saya, biasanya orang akan menambahkan kata manis di belakang kata hitam. Hehe, misalnya :
“Eh, lo kenal sama Anda ga?” kata X,
“Anda? Anda mana?” jawab Y,
“Itu loh, Anda, Belanda 04. Yang item manis.” Kata X,
“oooh.. Anda yang itu. Iya, gw tau.” Jawab Y.
HE HE HE HE *cengar cengir sendiri*
Kembali ke cerita.
Selama ini saya sudah terbiasa menjadi orang yang berbeda dengan kawan-kawan saya yang rata-rata berkulit putih. Dulu, waktu saya kecil, saya selalu sedih kalau ada yang ngeledekin saya di sekolah : “Neng item.. neng jelek.. neng pesek” SIALAAAN tu anak-anak kampung!! Mereka ga tau aja sekarang gue udah cantik. *walaupun itemnya ga ilang, mmm coklat maksudnya*.
Dulu, yang menguatkan dan menjadikan saya terbiasa dengan olok-olokan orang-orang yang ga bisa menerima perbedaan dan keanekaragaman, adalah teman dekat saya. Namanya Nia. Gadis manis yang baik hati sekali. Saya selalu sedih dan marah sekali kalau saya mendengar atau tau ada orang yang mengolok-olok dia. Waktu itu saya adalah gadis kecil yang masih berumur 8 tahun, dan berani melawan sekelompok laki-laki berumuran 10 tahun, karena mereka mengejek Nia. “Wooi.. ada si buntung. Hahahaha…”
:( Jahaaaat!!!
Iya, Nia lahir tidak sempurna. Tangan kirinya hanya tumbuh setengah. Hanya sampai siku. Dia tidak punya jari seperti tangan kanannya. Ke mana pun dia pergi, dia selalu memakai lengan panjang dan memasukkan tangan kirinya ke saku, karena dengan begitu, orang-orang tidak bisa melihat kalau dia bertangan setengah.
Selalu saja, saya marah dan feel sorry kepada orang-orang itu. Orang-orang yang entah kenapa menganggap ejekan itu hal yang lucu.
Nia juga yang selalu menghibur saya dulu, kalau saya diledek: hitam, jelek, pendek, bla bla bla.. Dia selalu bilang “Aku suka kok warna kulit kamu. Bagus, kaya coklat ayam (jajanan zaman SD). Biarin aja kamu jelek sekarang, ntar kalo udah gede, pasti kamu cantik. Lagian kamu kan pinter, ngapain mikirin omongan orang-orang bego kaya mereka.” Oh, kalau ingat omongan yang datang dari mulut seorang gadis cilik yang tidak sempurna secara fisik seperti Nia, saya selalu ga bisa nahan tangis. Sungguh dia adalah orang beruntung karena hati dia yang indah melengkapi kekurangan fisiknya. Masa saya harus mengeluh hanya karna warna kulit saya berbeda sementara dia menerima kekurangannya dengan bersikap positif yang membuatnya bahkan lebih sempurna dari orang yang sempurna secara fisik?!?
Sejak itu, saya berusaha untuk bisa mengontrol diri dan menerima bahwa, saya memang berbeda. Saya dilahirkan dengan warna kulit yang tidak sama seperti orang kebanyakan. Dan saya percaya, Tuhan punya alasan untuk itu. Menjadikan saya, orang yang bisa melihat perbedaan adalah hal yang indah.
Tapi pernah, waktu saya melewati masa-masa paling labil : SMP. Saya mulai mempertanyakan lagi, kenapa saya terlahir berbeda. Kenapa semua warna kulit temanku putih dan aku coklat? Pernah, saya naksir cowo di sekolah. Saya mulai mendekatinya. Mudah saja. Saya cukup populer di SMP, karena pintar dan jago main basket –Hahaha, pamer gila gw-. Dan dia pun mulai merespon saya, tapi akhirnya saya tau bahwa dia sebenernya ga benar2 suka saya, dia cuma mau deket saya biar dia lebih dikenal aja.
–sinetron banget ga seeeeh?! Tapi ini beneran loh-
Dan kalian tau, apa kata seorang teman yang dulu saya tugaskan sebagai detektif cinta? Dia bilang “Dia ga suka kamu karena kamu item.”
Huuuaaaa… hancur, hancur hatiku. Hancur, hancur hatiku.. *lagu Olga bencong*
Hiks. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya waktu itu, saya sedih. Saya kecewa. Saya marah. Saya kesal. Aaaah, laki-laki macam apa dia?? Menilai saya hanya sebatas warna kulit! PICIK! Tidak pantas sama sekali untuk menjadi lelakiku!
Iya, waktu itu saya rasa marah saya melebihi rasa sedih saya karena memilih cowo yang salah untuk disukai. Tapi ada semacam rasa ingin membuktikan bahwa, saya juga bisa menjadi putih seperti teman-teman saya. Lalu, saya mulai memakai semua produk pemutih kulit. Dari mulai handbody sampai pelembab wajah. Semua saya coba. Dan seperti yang sudah saya bilang, tidak berhasil. Tentu saja! Tapi dulu saya naïf, saya berpikir saya bisa jadi putih setelah memakai semua produk itu untuk menarik perhatian laki-laki.
Pengalaman dan waktu mengajarkan saya banyak hal tentang hidup. Saya belajar melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Saya belajar melihat perbedaan. Dan saya mulai menyukai perbedaan ini. Toh tanpa menjadi putih, saya tetap dicinta, mencintai, saling jatuh cinta dan memadu kasih dengan beberapa laki-laki. Hanya saja, saya memang benar-benar harus memilih dengan baik, laki-laki mana yang pantas saya sukai. Hanya mereka yang mengerti dan menerima indahnya perbedaan. Dan tentu saja yang mengerti jalan pikirin saya.
Sebenernya, saya bukan mau cerita itu aja. Saya mau cerita hal yang aga-aga menyedihkan.
Jadi, beberapa bulan ini, saya menyadari bahwa stuktur muka saya sedikit berubah karena pengaruh behel. Dan saya juga baru sadar, saya kurang memperhatikan muka saya. Saya ga pernah pergi ke salon buat treatment kaya facial, mandi susu, or what so ever. Saya lupa bahwa saya harus bersikap adil dan baik buat si muka ini.
Kemudian, datanglah kabar dari seorang teman. Yang bilang bahwa dia sukses mengubah mukanya yang kusam, kotor, dan sudah lama tak terurus menjadi muka yang sehat, segar, kencang dan terlihat lebih putih! AHA. What a coincidence.
Bertemulah saya dengan dia untuk membicarakan mujarabnya obat ini. Saya pun terbujuk rayuannya untuk mencoba obat muka itu. Alasannya jelas bukan buat mutihin muka, karena itu udah ga mungkin. Jadi saya cuma berharap obat ini bisa (setidaknya) membuat muka saya yang sudah lama tak terurus, menjadi lebih segar, kencang, dan sehat.
Singkat cerita, belilah saya obat muka ini.
Hati senang, membayangkan dalam waktu sebulan ke depan, mukaku akan terlihat lebih kinclong. Woo hoo!!
Hari pertama :
• Malem-malem, sebelum tidur, saya pake krim malam sesuai petunjuk pemakaian. Lancaarr..
• Besok paginya, saya pakai krim lagi yang harus dipakai di siang hari, karena mengandung sun block dan pelembab yang berfungsi membantu meremajakan kulit. Lancaarr..
• Malamnya, sebelum tidur, saya kembali bersiap menggunakan krim malam itu lagi. Tapi… HWAAAAAAA.. apa yang terjadi!?!?!?! Waktu saya selesai memakai krim itu, tiba-tiba kulit muka saya rasanya seperti disiram air panas dan terbakar. Perih plus gatel banget.:(
Hari kedua :
• Paginya, saya merasa lebih baik. Tapi ko masih gatel-gatel yah?? Hmm, mungkin ini efek kecil aja, kata saya dalam hati. Lalu saya kembali memakai krim siang hari. OOOOOOOHHH.. lebih sakit, perih dan gatel dari tadi malam.:(
• Malamnya, saya berpikir untuk menghentikan pemakaian obat itu kalau saya masih juga merasa sakit. Pelan-pelan saya usapkan krim malam pada muka saja. Aah.. lumayan, sudah tidak terasa sakit seperti malam sebelumnya.
• Paginya, waktu saya bangun, saya terkejut melihat muka saya di kaca. YA ALLAAAH, kenapa ini muka sayahhhh??? Kulit-kulitnya ngeletek, mengelupas. Huaaa.. saya rasanya ingin menangis.
Hari ketiga sampai hari ke 7 saya jalani dengan rasa silih berganti : sakit, perih, panas, dan gatal.
Tentu saja saya berpikir untuk menghentikan pemakaian obat yang katanya bisa membuat muka saya terlihat lebih bagus ini. Tapi saya juga tidak begitu yakin, karena menurut teman saya, keluhan2 yang saya alami itu adalah reaksi yang normal dari pemakaian obat itu. Hmm.. baiklah. Saya kembali mempercayakan obat ini bekerja di muka saya.
Sampai akhirnya, tadi malam, saya menyerah. Saya ga kuat. Masa bodo dengan menjadi cantik dan putih. Perduli setan dengan krim-krim yang bikin saya merasa di neraka ini.
IK HEB GENOEG. ENOUGH. CUKUP!!
Sekarang, liat apa yang obat ini buat ke muka saya :Saya rasanya ingin menangis.
Bukan karena saya ga jadi akan menjadi cantik dan putih, tapi saya merasa bersalah pada kulit muka saya yang sudah saya dzolimi. Yang sudah saya siksa dengan obat keras ini. Dan membiarkan ego saya yang tidak seharusnya muncul. Saya bisa saja menjadi cantik dan sehat dengan cara yang benar. Banyak makan buah-buahan, jus, olah raga yang cukup, dan memakai kosmetik yang benar. Yang cocok dan sesuai dengan ketahanan kulit muka saya.
Mungkin sebenarnya obat ini memang ampuh dan berhasil di beberapa orang. Karena mungkin orang-orang itu mempunyai kulit yang lebih kuat dari kulit saya. Kenyataannya, kulit muka saya sensitive. Tidak bisa menerima sesuatu yang keras atau frontal. Salah saya karena memaksakannya.
Kebetulan, saya lagi ga punya pacar. Jadi saya tidak harus memperlihatkan dan membagi rasa bersalah saya dengan pacar saya. Coba bayangkan, hey kalian laki-laki, kalau pacar kalian melakukan hal yang sama dengan saya, memakai obat yang keras hanya untuk terlihat lebih cantik. Kalian rela melihat kami menderita? Apakah itu sepadan? Cantik tapi tersiksa, atau biasa tapi bahagia. You choose, boys!
Pesan moral apa yang saya dapat dari cerita ini?
SAYA KAPOK!
Jadilah cantik dengan apa yang sudah ada pada dirimu. Syukuri apa yang ada dan jaga supaya tetap atau lebih baik. Saya juga yakin saya akan bertemu dengan laki-laki yang menerima saya apa adanya. Tanpa saya harus menjadi putih dan secantik Dian Sastro. I have a faith.
Dan yang tidak kalah penting : PAKAILAH KOSMETIK YANG SESUAI/COCOK DENGAN KEADAAN KULIT!!
Satu lagi, saya hanya ingin jadi saya sendiri saja. sudah cukup. :)
PS : untuk Kinan, aku sama sekali ga nyalahin kamu ya. Ini semua ga ada hubungannya sama kamu. Beneran deh. Please jangan merasa bersalah *PD gilaaa* hehehe, okey! xoxo


8 comments:
O My God meis.. I thot efeknya ga separah ini.. but hey, look at the good side, kulit mu ga lagi hitam, tapi merah sekarang.. *LOL*
Inget muka gue dulu kaya apa kan? Trust me, mine is worse than urs now.. semoga cepat sembuh nda..
enengg... ke dokter.. cepet sembuh yaaaa itu. COklat itu eksotis.. jangan diputihin muka dan badanmu. Knapa tiba2 pengen putiiiih? biasanya kamu mensyukuri semua yang ada pada dirimu :)
ya amplooop nanda, gw merinding disko liat poto2 lo.
tau gitu, gw kasih nih krim malem gw, ga ada efeknya, ga gatel2, tapi proses agak lama. hmmm...lo dah ga perlu lagi ya?
btw, kalo lo suka bermasalah ma kulit, gw bermasalah ma si titik hitam di hidung gw (baca: tahi lalat). waktu sma, ada temen gw yg bilang ini 'tombol kiamat'. gw sih anggep itu lucu2an doang. berarti kiamat ada di tangan gw donk ya? tinggal gw klik. hahahahahaha...
cepat sembuh nanda :D
Makasih ya teman-teman. Huhu.. Jadi terharu aku.
Iyah, intinya. Aku udh ga mau nyoba macem2 lagi deh. Cukuuuup.
Mudah2an pacar di masa depan nerima aku apa adanya.
Misi.. Saya mau naburin bedak dulu. Gatel booo.
Bwaaaahahahaha,, *maapjahatnumpangketawa*
jadi gara2 itu, Nda? Yang tabah ya menerima cobaan ini,, ckckck ada-ada saja..
Anyway gw setuju kalo kita emang harus jaga apa yg udah ada. Kita sebagai cewek emang wajib jaga muka, badan dan kawan-kawannya. At least ngejaga supaya tetap bersih dan enak dilihat. Intinya ga perlu berlebihan. (sotoy padahal pernah pake obat muka juga,hehehe)
Van harte beterschap, schatje... *cups*
Kulit gue gak putih! Gue gak cantik! Kulit gue coklat! tapi gue bangga!!! soalnya cowo@ gue ganteng2 dan gue gak perlu jadi putih untuk ngedapetin mereka! Karena I got the brain and i got the attitude!
mataolo noe, kenapa jadi begitu? tumben aja gw denger lo pengen jadi putih? apa kabar dengan si coklat?? syukur deh lo menyadari sebelum semuanya semakin bertambah parah..
get better soon hun
Post a Comment